
Red masih diam menunggu Black yang saat itu masih berusaha mencari kalimat yang tepat untuk mulai bercerita.
"Jadi begini akan ku mulai dengan kondisi bumi saat ini," ujar Black lalu meminum air mineral milik Nevi. Nevi tidak berkomentar tanda kalau saat itu dia juga sedang serius.
"Beberapa tahun lalu para ilmuwan mulai lelah dengan kondisi bumi saat ini. Bencana alam terus terjadi dan pemanasan global yang terus meningkat. Hingga muncullah gagasan bahwa manusia perlu planet baru untuk tempat tinggal. Setelah gagasan itu muncul dan teknologi semakin canggih. Mereka pun mulai berlomba-lomba mencari planet baru dan salah satu dari 'mereka' itu adalah Mira HQ," Black berhenti lalu menumpu kan dagunya di tangan. Terlihat sekali bahwa dia sedang bingung.
"Ini minum dulu," kata Nevi sambil memberikan botol minumannya dan Black dengan cepat meneguknya sampai habis.
"Mira HQ membuat pesawat luar angkasa yang diberi nama The Skeld. Jumlahnya sekarang sudah mencapai ribuan dengan nomor seri masing-masing. Beberapa sedang menjelajahi luar angkasa, beberapa nya lagi ada di sini sedang di perbaiki atau sedang menunggu di gunakan. Tapi yang kali ini akan ku bicarakan adalah The Skeld 301, pesawat yang hilang 1 bulan yang lalu," Black berhenti lagi lalu mengambil minuman Red dan menghabiskan nya lalu kembali bercerita.
"Para kru The Skeld 301 menemukan planet yang memiliki kriteria yang cocok untuk ditinggali dan mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sana untuk menjelajah planet itu. Jika mereka menemukan sesuatu yang baru, mereka akan melapor ke sini. Tapi mereka menemukan banyak sekali spesies aneh yang tidak bisa di teliti jadi mereka memutuskan untuk kembali ke Mira HQ karena fasilitas di sini lebih lengkap."
"Black di mana kau menyi..."
Plakk...!!!
Sebuah botol plastik terbang dan mengenai kepala seseorang yang baru muncul di cafetaria.
"Jangan berisik, barang yang kau cari ada di laci ku," kata Black kesal. Dia lah yang tadi melempar botol itu.
"Iya baiklah," jawab orang itu sambil mengusap kepalanya lalu berbalik, "Biasanya kan kau sendiri yang selalu berisik," gerutu orang itu sambil berjalan pergi.
"Huft, ku teruskan. Sampai di mana aku tadi?" Tanya Black membuat Nevi menepuk jidat.
"Fasilitas di sini lebih lengkap," jawab Red.
"Nah iya. Saat mereka dalam perjalanan kemari mereka tidak pernah sampai di sini. Sudah selesai," kata Black menutup ceritanya.
"Tunggu berikanlah penjelasan rinci pada endingnya. Aku tidak mengerti," protes Red
"Kami kehilangan kontak dengan mereka. Kami tidak bisa menghubungi mereka dan mereka tidak bisa menghubungi kami. Satu-satunya kontak terakhir kami adalah kode S.O.S yang mereka kirim sebelum hilang dan itu cukup membuat kami yakin ada sesuatu yang buruk terjadi. Sekarang kau paham?" Jelas Black dengan cepat dan sedikit lelah.
"Hey kau menunggu lama Red?" Tanya pak Junaidi yang muncul di pintu.
"Tidak juga," jawab Red.
"Ayo pergi, atasan sudah menunggu," ajak pak Junaidi.
"Oh baiklah," Red berdiri lalu menghampiri pak Junaidi, "Terima kasih kalian berdua karena sudah menemani ku," kata Red sebelum pergi.
"Bukan masalah," jawab Nevi.
"Hey Red!" Panggil Black. Red menatap Black, "Jika kau sudah selesai datanglah ke kantorku. Di depan ruang loker, di dekat medbay dan di dekat lorong kaca itu. Aku ingin mengobrol banyak denganmu," ujar Black.
"Aku akan datang," kata Red lalu pergi bersama pak Junaidi.
Mereka berjalan melewati banyak lorong, ruangan dan orang. Hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang lebih luas dan di sana tidak terlalu ramai. Mereka mendekati 2 orang yang duduk di kursi depan salah satu ruangan dengan tulisan "Ruang atasan". Yang satu berpakaian penjaga dan satunya lagi wajahnya tidak terlihat jelas tapi sepertinya dia lah orang yang di pindahkan ke sini bersamanya. Ketika sudah semakin dekat akhirnya semua terlihat jelas.
"Tunggu, Blue? Kenapa kau di sini?" Tanya Red pada orang itu.
"Justru aku yang harusnya bertanya, mengapa kau di sini? Bagaimana mungkin orang payah seperti mu bisa di pindahkan ke sini?" Tanya Blue balik yang membuat Red jengkel.
"Heh jangan sembarang ya!"
"Wah kalian saling kenal ya?" Tanya si penjaga.
"Sepertinya ada api di sini," kata pak Junaidi.
"Aku tidak kenal dengannya," jawab Red ketus.
"Apalagi aku," jawab Blue juga tidak mau kalah.
Mereka masuk ke ruangan yang sangat besar. Ruangan itu dipenuhi rak-rak buku, dan sebuah meja kecil. Ada 3 kursi di dekat meja itu.
"*I*ni lebih mirip perpustakaan umum daripada kantor," batin Red sambil terkagum-kagum.
Di salah satu kursi, ada seorang pria berpakaian rapi duduk sambil menatap kedatangan mereka. Ketika mereka sudah dekat, pria itu berdiri.
"Kalian berdua boleh pergi," kata pria itu. Pak Junaidi dan temannya pun pamit
"Sampai jumpa Red," pamit pak Junaidi lalu keluar dari ruangan itu.
"Silahkan duduk," Red dan Blue duduk.
Pria itu membuka lacinya dan mengeluarkan beberapa berkas, "Apa kalian sudah tahu mengapa kalian di sini?" Tanyanya membuka pembicaraan.
"Tidak," jawab mereka bersamaan lalu saling bertatapan dengan wajah kesal.
"Jangan bohong Red," kata pria itu sambil tersenyum pada Red.
"Eh?" Red bingung karena ternyata orang itu tahu dia sedang berbohong, "Apa maksud anda? Saya tidak berbohong," dalih Red.
"Kau pembohong yang buruk," kata pria itu lagi.
"Sudah jelas, dia sangat payah dalam berbohong," ejek Blue dan dibalas tatapan tajam Red.
"Berbohong bukan sesuatu yang bagus," balas Red sengit.
"Tenang saja, aku tidak akan menghukum orang yang telah memberitahumu. Meski sebenarnya aku tidak tahu siapa orangnya," kata pria itu membuat Red lega.
"Sebelum menjelaskan, ijinkan saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya Leonardo, kalian bisa memanggil saya pak Leon. Saya bukan yang mengurus Mira HQ, tapi saya yang mengurus pusat penjelajahan luar angkasa. Jadi kalian berdua adalah tanggung jawab saya," jelas pak Leon yang di jawab anggukan oleh Red dan Blue.
Pak Leon mulai menceritakan tentang pesawat yang hilang itu hingga ide untuk membentuk tim khusus untuk mencarinya. Ceritanya kurang lebih sama dengan cerita Black, hanya saja ada beberapa yang baru diketahui Red. Salah satunya adalah fakta bahwa yang mengajukan mereka berdua adalah pak Junaidi.
Blue terlihat terkejut sedangkan Red biasa-biasa saja. Mengetahui bahwa Black dan Nevi tidak akan dihukum membuat Red tenang. Hanya saja yang membuat dia heran adalah bagaimana pak Leon bisa tahu kebohongannya.
"Sekarang kalian paham kan?" Tanya pak Leon setelah selesai bercerita. Mereka berdua mengangguk.
"Jadi bagaimana? Apa kalian setuju menerima tugas untuk mencari The Skeld 301?"
"Ya," jawab Red.
"Setuju," jawab Blue.
"Baiklah terima kasih banyak. Mohon bantuannya," kata pak Leon lalu bersalaman dengan mereka.
Mereka berdua keluar dari ruangan itu lalu pergi menghampiri penjaga mereka masing-masing.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋 selamat tahun baru 2022