Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 55: Penyambutan?



Hari itu, para Crewmate sibuk membersihkan Polus. Menyingkirkan salju yang sudah menumpuk di atap bangunan dan sampai menjalar masuk ke dalam, memperbaiki benda-benda yang rusak, dan membagikan denah Polus.


Mayat Profesor Andromeda dikuburkan agak jauh dari permukiman. Sedangkan Profesor Zero tidak pernah ditemukan dan mereka tandai sebagai pembunuh dari Profesor Andromeda.


Sementara itu, Lime sedang sibuk mengotak-atik komputer yang ada di comunication. Dia hanya ingin memastikan kalau tidak ada kerusakan dan kondisi benda itu masih baik.


KLIK! KLIK! KLIK!


Lime mengelap keringat yang mengalir ke keningnya. Tangannya bergerak tanpa henti di dalam benda itu.


"Masih bisa dipakai?" Tanya Black yang berdiri di samping meja karena tidak ada kursi.


"Masih bisa. Hanya saja ada beberapa yang komponen nya sudah berkarat. Harus diganti dengan yang baru," jawab Lime lalu berdiri.


"Di storage mungkin ada benda-benda yang kau cari. Kau bisa kesana saja untuk mencarinya," saran Black.


"Baiklah kalau begitu," jawab Lime lalu berjalan keluar.


"Kau bisa istirahat dulu jika mau," kata Black lagi ketika melihat Lime yang sedikit limbung ketika berjalan.


"Tidak apa, ini juga agar kita cepat untuk menghubungi Mira HQ. Mereka pasti sedang khawatir tentang kita yang tidak bisa dihubungi," jawab Lime.


"Baiklah kalau begitu, tapi kuharap setelah ini kau langsung tidur saja. Kau sudah sibuk dari tadi pagi," kata Black lalu ikut berjalan keluar.


BUK!


"Astaga! Blue, untung saja kau tidak menimpa ku," kata Lime sambil mengusap dadanya karena terkejut melihat Blue yang jatuh dari atap dan nyaris mengenainya.


"Paling tidak kau menanyai kondisi ku," kata Blue lalu duduk dengan salju masih menempel di punggung dan rambutnya.


"Kau jatuh di salju, jadi sudah pasti kau baik-baik saja," komentar Black.


"Hati-hati, Blue! Atapnya licin," seru Yellow dari atas atap bangunan yang disebelah mereka.


"Aku sudah jatuh begini baru kau ingatkan," gerutu Blue lalu berdiri sambil memegang sekopnya.


Red dan Yellow tertawa terbahak-bahak. Begitu juga dengan Black dan Lime. Blue cemberut lalu naik lagi ke atap comunication menggunakan tangga.


"Kukira durian jatuh tadi," ledek Black sambil terkekeh.


"Diam kau," kata Blue dengan ketus.


Setelah 3 hari, akhirnya Polus siap untuk dihuni. Mereka sudah mendapatkan kamar masing-masing dan akan segera tidur karena besok mereka sudah mulai mengerjakan task.


"Huft, akhirnya selesai," kata Black sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.


Dia baru saja selesai menyiapkan task yang akan dikerjakan oleh para Crewmate termasuk dirinya. Sekarang dia merebahkan dirinya di atas kasur.


Black menatap langit-langit kamarnya sambil melamun. Dia teringat dengan White dan mulai merasa rindu pada temannya itu.


"Mohon bimbingannya, Kapten,"desis Black lalu tidur lelap.


Keesokan harinya, para Crewmate sarapan di cafetaria. Black membagikan task mereka masing-masing setelah selesai sarapan.


"Denah sudah ku bagikan di tablet masing-masing," kata Black setelah task sudah selesai dibagikan.


"Kau sendiri tidak mengerjakan task?" Tanya Lime setelah semua orang pergi.


"Aku akan mengerjakannya nanti setelah selesai menghubungi Mira HQ, mereka harus tahu kondisi kita secepat mungkin," jawab Black sambil menunjuk kertas task nya yang ada di meja.


"Baiklah kalau begitu, kukira kau tidak mengerjakan karena sekarang kau sudah jadi Kapten," kata Lime.


"Aku hanya pengganti dan juga karena aku sudah tobat," jawab Black.


Mereka berpisah dan Black bergegas pergi ke comunication. Dia menyalakan komputer dan segera menghubungi Mira HQ. Tidak lama kemudian, panggilan terhubung.


"Black, kalian baik-baik saja?" Tanya Pak Leon. Dia adalah orang yang wajahnya pertama muncul di komputer. Sepertinya dia sudah menunggu-nunggu panggilan dari mereka.


"Kami baik-baik saja. Tapi pesawat kami meledak karena sabotase, jadi sekarang kami hanya bisa menunggu bantuan dari kalian," jawab Black tanpa berbasa-basi.


Pak Leon mengangguk, "Aku akan segera mengirimkan bantuan ke sana. Tapi sebelum itu, dimana White?" Tanya Pak Leon. Itu karena selama ini Black akan menyambungkan komunikasi ke White ketika panggilan terhubung.


Black terdiam. Agak berat sebenarnya memberitahu hal itu kepada Pak Leon. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan pertanyaan orang tua itu, meski dia tahu orang itu menyembunyikan sesuatu dari mereka.


"White tidak selamat dari ledakan itu," jawab Black dengan nada berat.


Pak Leon terkejut, "Kau serius?" Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Iya," jawab Black singkat.


"Tapi, bagaimana bisa?"


"Impostor menyerangnya hingga dia terluka parah. Kami berusaha membawanya pergi, tapi dia menolak. Sampai setelah pesawat itu meledak, aku tidak tahu dia meninggal karena ledakan atau kehabisan darah karena kami sudah meninggalkan pesawat saat itu. Tapi sebelum kami pergi, dia mengangkat ku menjadi Kapten pengganti untuk Crewmate The Skeld 385, jadi saat ini aku lah yang bertanggung jawab atas kru ini," jelas Black.


"Baiklah kalau begitu," Pak Leon menerima semua penjelasan Black.


"Oh iya, satu lagi. Apa kalian menemukan Profesor Andromeda dan Profesor Zero?" Tanya Pak Leon.


"Profesor Andromeda sudah tewas dan kami curiga Profesor Zero lah pelakunya."


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Karena kami tidak menemukan Profesor Zero dimana pun. Kami hanya menemukan jenazah Profesor Andromeda di comunication ini. Sepertinya dia hendak menghubungi kalian sebelum akhirnya tertangkap dan dibunuh oleh Profesor Zero. Kami sudah memakamkan nya agak jauh dari permukiman agar tidak mengganggu."


"Apa kalian sungguh-sungguh tidak menemukan nya? Apa kalian sudah menyusuri semua tempat disana?"


"Begitu ya," Pak Leon manggut-manggut.


Setelah selesai melaporkan semuanya, Black pergi untuk mengerjakan task nya. Sementara itu, Red tiba di office. Dia akan mengerjakan task fix wiring nya.


Tapi tatapannya tertuju pada lubang yang letaknya tidak jauh dari tempat fix wiring. Dia ingat kalau sebelumnya Black pernah mengatakan bahwa lubang itu adalah vent untuk Impostor.


Seketika perasaan Red menjadi tidak nyaman. Dia mengerjakan task dan posisinya saat itu membelakangi lubang. Dia sangat takut jika ada sesuatu yang muncul dari belakang dan mencoba untuk membunuhnya.


Keresahan Red pun menjadi kenyataan. Sepasang bola mata memperhatikan Red lalu masuk kembali ke lubang. Setelah itu, beberapa tentakel muncul dari dalam lubang itu. Tentakel itu bergerak mendekati Red.


Tentakel itu melilit kaki Red lalu menariknya ke arah lubang. Red terkejut dan tetap berpegangan pada kabel agar tidak masuk ke lubang itu.


"Tolooongg!" Pekik Red tapi tidak ada yang mendengar suaranya karena mereka berada di tempat lain.


Sedangkan Red takut kalau dia tidak bisa bertahan lebih lama. Dia mulai memutar otak untuk melepaskan tentakel itu. Hingga dia teringat pada Cyan.


Red menarik tentakel itu menjauh dari lubang. Itu cukup menguras tenaga nya karena dia harus melawan daya tarik dari Impostor itu. Setelah cukup dekat dengan tempat fix wiring, Red memutuskan salah satu kabel lalu menempelkan kabel itu ke tentakel.


Tegangan listrik kecil muncul. Meski kecil, tapi itu berhasil membuat Impostor itu melepaskan Red dan melemparnya ke atas hingga menembus atap.


Red terlempar ke luar dan jatuh ke atas salju dengan kepala mendarat lebih dulu. Tapi kepalanya mendarat di atas batu yang tertutup salju.


BRUK!


Suara itu membuat Black terkejut. Dia keluar dari laboratorium dan mencari asal suara itu. Dia terkejut ketika melihat Red dengan kepala hingga perut terbenam di tumpukan salju.


"Red!" Seru Black lalu menghampiri Red. Dia menarik tubuh Red lalu mendudukkan nya karena Red terlihat pusing.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Black khawatir.


Red tidak menjawab. Dia memegang kepalanya yang tiba-tiba meneteskan darah. Black terkejut dan segera menggendong Red lalu membawanya ke Laboratorium.


"Brown, aku butuh bantuan mu," kata Black.


Brown terkejut ketika melihat darah yang mengalir di kening Red sampai menetes. Dia mengambil kotak obatnya lalu menghampiri Red yang sudah duduk di sudut ranjang.


"Black, ambil perban," pinta Brown tanpa menoleh.


Black mengangguk lalu pergi mengambil perban. Sedangkan Brown sibuk membersihkan kepala Red dari darah. Dia harus bekerja keras ketika mengetahui ada retakan di tengkorak Red.


"Sepertinya kau harus dibius dulu," kata Brown lalu menyuntikkan obat bius kepada Red. Tidak lama kemudian, dia tertidur.


Black kembali sambil membawa perban, "Bagaimana?" Tanya nya.


"Cukup parah, ada retakan di kepalanya. Aku akan melakukan operasi," jawab Brown.


Brown mulai sibuk dengan tugasnya. Keringat membasahi keningnya, padahal saat itu suhu cukup dingin. Black mengelap keringat Brown dengan sapu tangan agar temannya itu tidak terganggu dan bisa fokus.


Setelah satu jam, akhirnya mereka selesai. Mereka berdua duduk di kursi sambil menghela nafas lega.


"Dia akan baik-baik saja," kata Brown setelah menangkap raut khawatir dari wajah Black.


"Baiklah, kita tunggu dia bangun dan tanyakan apa yang membuat dia sampai jadi begini," jawab Black.


Tiba-tiba HP Black berdering dan terdapat panggilan dari Lime. Dia mengangkat panggilan itu.


"Kenapa?" Tanya Black.


"Black, aku melihat lubang yang cukup besar di atap bangunan office. Apakah aku boleh memperbaiki nya?" Lime bertanya balik.


"Perbaiki saja. Tumben sekali kau bertanya," komentar Black.


"Siapa tahu kau mengetahui penyebab lubang itu terbentuk," jawab Lime.


Black berpikir, "Kurasa aku tahu penyebabnya, tapi perbaiki saja lubang itu."


"Baiklah. Aku akan mencari Blue untuk membantu ku," jawab Lime lalu mengakhiri pembicaraan.


"Kenapa?" Tanya Brown setelah Black selesai menelpon.


"Sepertinya Red di lempar dari office. Kebetulan aku juga menemukan Red di dekat bangunan itu," jawab Black.


"Tapi jika dia dilempar, siapa yang melemparnya? Red itu kan cukup berat untuk dilempar oleh orang seukuran kita," kata Brown sambil berpikir.


"Yang melemparnya pasti lebih besar dari kita," jawab Black lalu mendekati ranjang Red.


"Impostor," kata Brown singkat.


"Aku juga berpikir begitu. Mungkin ini cara mereka menyambut kita. Tapi membuat Red sampai seperti ini membuatku kasihan padanya. Dia sudah mendapatkan begitu banyak serangan dari Impostor," kata Black lalu meletakkan tangannya di atas kepala Red yang diperban.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋