
Setelah selesai mengerjakan task, para Crewmate dikumpulkan di cafetaria. Semuanya hadir terkecuali Black.
"Dimana Black?" Tanya Lime.
"Aku tidak tahu, aku sudah pergi ke comunication tapi tidak menemukannya," jawab Yellow diikuti gonggongan Rugel.
"Maaf semuanya, aku terlambat," kata Black yang muncul dari pintu. Semua orang menoleh ke arah Black dan hanya bisa mendengus.
"Kau darimana, Black?" Tanya White ketika Black duduk.
"Dari toilet," jawab Black tanpa merasa bersalah.
"Ya sudah kalau begitu," kata White lalu mengalihkan perhatiannya kepada para Crewmate, "Aku mengumpulkan kalian disini karena kita akan menjalani pemeriksaan. Saat ini ada 2 Impostor yang tersisa di antara kita dan pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan yang dua itu."
Blue mengangkat tangannya, "Pemeriksaan seperti apa yang akan kita jalani? Apakah ini efektif untuk menemukan Impostor di antara kita?" Tanyanya.
"Pemeriksaan ini akan menggunakan alat scan. Ini tidak akan rumit dan 100% pasti berhasil karena ini berfungsi untuk mendeteksi bagian dalam tubuh kita. Kita semua sudah tahu kalau Impostor itu memiliki anatomi tubuh yang berbeda," jawab White.
"Siapa pun yang pertama kali melihat Impostor sudah pasti akan langsung berkesimpulan itu bukan manusia," bisik Black yang hanya didengar oleh Red.
Setelah itu, mereka semua berangkat ke medbay yang tidak jauh dari cafetaria. Meski pernah melewati ruangan itu, tapi ini adalah kali pertama Red benar-benar memperhatikan ruangan itu.
Medbay di Mira HQ memiliki ukuran ruangan yang tidak terlalu besar dengan 6 tempat tidur dan sebuah alat scan. Bahkan menurut Red, medbay di The Skeld lebih besar dari ini.
Disana sudah ada dua orang Ilmuwan yang akan membantu mereka, Pak Leon serta seorang penjaga yang dari wajahnya saja sudah bisa membuat Black berkesimpulan kalau orang ini tidak ramah.
"Cara kerja alat ini sederhana. Kalian hanya cukup berdiri saja dan dia akan menscan otomatis. Hasilnya akan muncul di layar itu," jelas salah satu Ilmuwan.
"Sekarang, siapa yang akan maju terlebih dahulu?" Para Crewmate saling bertatapan. Hingga akhirnya White yang maju terlebih dahulu.
Ketika White sudah berdiri di atasnya, dari alat itu muncul sebuah lingkaran hijau yang bergerak perlahan ke atas tubuh White disertai dengan suara yang unik. Setelah lingkaran itu sampai di kepala White, lingkaran itu turun lagi hingga kembali ke alat scan. Hasilnya pun muncul di layar.
"Kapten White aman, sekarang siapa lagi?" Tanya Ilmuwan itu saat White turun dari alat itu.
Satu persatu dari mereka maju untuk di scan. Black, Brown, Lime, Cyan, Pink, Yellow, semuanya di scan dan hasilnya aman. Hingga Red lah yang terakhir.
"Sekarang sisa Red," kata Ilmuwan itu lalu menatap ke arah Red.
Red membalas tatapan Ilmuwan itu lalu menatap alat scan. Padahal tidak ada yang berbahaya, tapi dari tadi Red terus gemetaran dan berkeringat dingin. Dia merasa seolah-olah alat scan itu adalah sesuatu yang menakutkan.
"Ayolah, Red. Maju saja, kau kan bukan Impostor," batin Red.
"Tentu saja dia tidak mau maju, itu pasti karena dia takut identitas nya terbongkar," komentar penjaga itu. Di dada kanannya terdapat nametag, disitu tertulis namanya adalah Gregory.
"Apa maksudmu?" Tanya Black tidak terima.
"Apa lagi? Kalian semua yang di scan terbukti aman terkecuali dia ini. Tanpa scan pun, jika dari logika nya berarti sudah jelas dia lah Impostor nya," jawabnya.
"Tapi kita belum melihatnya langsung," bela pak Leon.
"Ayo Red, maju saja. Ini tidak akan menyeramkan jika kau percaya pada dirimu sendiri kalau kau bukan Impostor," bujuk Ilmuwan itu.
Red menarik nafas panjang lalu berjalan ke alat scan itu. Saat berjalan, Red merasa kakinya begitu berat untuk melangkah. Bahkan dia juga merasa begitu lemah saat berdiri di atas benda itu.
Lingkaran hijau muncul dan mulai memindai tubuh Red. Semuanya berdiri tegang, tapi cuma Black yang Red lihat ekspresi tegangnya.
Ketika lingkaran itu sampai di perut Red, tiba-tiba perut Red diserang rasa sakit yang amat menusuk sampai-sampai dia tersungkur dan alat itu berhenti memindai.
"Ugh," keluh Red sambil memeluk perutnya yang sangat sakit.
"Red!" Panggil Black panik lalu dia menghampiri temannya itu.
Black merangkul Red dan mengusap-usap pundaknya untuk memberikan sedikit rasa tenang. Beberapa orang disitu merasa panik, tapi ada juga yang bingung.
"Dia ini kenapa? Alat itu tidak akan bisa memindai nya jika dia seperti itu," kata salah satu Ilmuwan.
"Hey nak, kau baik-baik saja?" Tanya Ilmuwan yang satu lagi lalu menghampiri Red dan ikut menenangkannya.
"Kalian pernah bilang kalau Impostor memiliki mulut di perutnya kan?" Gregory berjalan mendekati mereka bertiga. Sementara yang lainnya mulai bersiap untuk mendengarkan kalimat pedasnya.
"Saat di scan, anak ini merasakan sakit diperutnya yang artinya alat ini menimbulkan rasa sakit di bagian itu," kata Gregory sambil menunjuk Red yang berkeringat dan gemetaran karena sakit.
Black menepis tangan Gregory lalu berdiri sehingga mereka sejajar sekarang, "Hentikan omong kosong mu itu. Belum di scan berarti keterangan nya belum jelas. Kau jangan asal mengambil kesimpulan jika kau sendiri belum pernah melihat Impostor."
"Alat scan juga tidak menimbulkan rasa sakit," kata salah satu Ilmuwan.
"Aku sependapat dengan Black. Lagipula diantara mereka ini ada 2 Impostor, aneh rasanya jika semuanya aman terkecuali Red," balas pak Leon.
Tiba-tiba Red berdiri, menghentikan perdebatan di antara Black dan Gregory.
"Red, perutmu masih sakit?" Tanya Black khawatir lalu mendekati Red.
"Aku tidak apa-apa. Biasanya aku akan seperti ini jika ketakutan. Mungkin aku terlalu paranoid," jawab Red pelan.
"Kau sudah siap untuk di scan?" Red mengangguk, "Baiklah, kita lanjutkan yang tadi."
Black dan Ilmuwan itu menyingkir. Lingkaran itu muncul lagi dan mulai memindai. Tidak ada gangguan, scan kali ini berjalan lancar. Ketika sudah selesai, semua orang menunggu dengan tidak sabar untuk hasilnya.
Hasil scan itu pun muncul dan membuat mereka tercengang. Hasil nya menyatakan kalau Red aman, mereka semua saling berpandangan.
"Lihat? Jangan asal bicara lain kali," balas Black sehingga tercipta kekesalan di hati Gregory.
"Ini aneh sekali, harusnya alat ini berhasil menemukan Impostor di antara mereka," kata salah satu Ilmuwan sambil mengusap dagu.
"Terkecuali jika alat ini rusak," balas yang satunya lagi.
"Rusak? Kami sudah menjaga ini semalaman, bagaimana bisa rusak?" Tanya Gregory tidak terima.
"Iya lagipula kudengar kemarin kalian menemukan tumor di dalam tubuh salah satu astronot. Lalu juga alat ini sudah dijaga sejak mereka datang," kata pak Leon pula.
"Tapi alat ini kelihatan seperti baik-baik saja, kalian ingin membongkarnya?" Tanya Lime.
"Kita harus memastikan nya terlebih dahulu, aku akan memanggil Farah kesini," kata salah satu Ilmuwan itu sambil berjalan keluar.
"Farah? Untuk apa?"
"Beberapa bulan yang lalu, Farah menjalani operasi pengangkatan ginjalnya yang artinya sekarang ginjalnya sisa 1. Jika di scan dan ginjalnya masih ada 2 berarti alat ini benar-benar rusak," jelasnya. Temannya mengangguk mengerti.
Beberapa saat kemudian, Ilmuwan itu kembali sambil membawa seorang wanita yang bernama Farah itu.
"Ada apa?" Tanya Farah bingung.
"Tidak ada apa-apa, bisakah kau berdiri di situ sebentar? Kami ingin memastikan sesuatu," pinta Ilmuwan itu.
Farah mengangguk lalu berdiri di atas alat scan. Benda itu mulai memindai tubuh Farah. Ketika hasilnya muncul, kedua Ilmuwan itu menganggukkan kepalanya.
"Benar ternyata," komentar mereka berdua.
"Ginjal ku ada dua? Bagaimana mungkin? Aku benar-benar operasi waktu itu, apakah mereka menipuku? Berarti apakah sekarang aku sudah mati?" Tanya Farah panik.
"Tenanglah, alat ini cuma rusak. Kami tadi hanya ingin memastikannya terlebih dahulu sebelum diperbaiki," jawab Ilmuwan itu.
Farah menghela nafas lega, "Astaga kukira apa tadi. Jika sudah selesai diperbaiki, aku ingin mencobanya lagi," katanya lalu berjalan pergi.
"Dia terlalu over thinking," komentar Black.
"Hush," tegur White lalu mengibaskan tangannya di depan wajah Black. Membuat laki-laki itu terkejut dan mendengus kesal.
"Jadi, tadi malam apa yang kalian lakukan?" Tanya pak Leon kepada Gregory untuk memastikan sesuatu.
"Tentu saja kami berjaga," jawab Gregory.
"Lalu kenapa alat ini bisa rusak?" Pak Leon bertanya lagi.
"Kami... Kami tidak tahu. Malam itu kami berjaga dan kami sangat yakin tidak ada yang masuk ke medbay," kata Gregory berusaha membela diri. Dia sendiri juga bingung kenapa ini bisa terjadi padahal memang jelas mereka berjaga di depan pintu dan tidak ada yang masuk ataupun keluar.
Black menganalisis ucapan Gregory, lalu dia memandang ruangan itu dan tatapan nya tertuju pada vent yang di sebelah kiri.
"Itu ulah Impostor, sepertinya dia sudah tahu kalau kita akan diperiksa," kata Black.
"Bagaimana bisa? Aku hanya memberikan informasi ini kepada Black dan Brown, tidak ada yang lain," kata White pula. Black menelan ludah dan mengalihkan perhatiannya kepada Red. Red juga memberikan reaksi yang sama.
"Ngomong-ngomong, apa lagi yang kau tahu tentang Impostor?" Tanya pak Leon. Dia berusaha mengorek informasi lebih lengkap.
"Mereka menjadikan vent sebagai jalur pergerakan mereka. Berbeda dengan engineer yang tidak mampu berlama-lama didalam vent, Impostor bisa didalamnya sampai berhari-hari," jawab Lime.
"Lalu bagaimana dengan IQ mereka?"
"Kalau yang itu, kami masih belum pasti juga. Tapi sepertinya mereka punya kepintaran dalam berbaur di antara Crewmate. Terbukti dia juga bisa merusak alat itu," jawab White.
Tiba-tiba Gregory teringat sesuatu, "Tunggu sebentar, bukankah kalian ada memakai gelang pelacak itu? Kita bisa mendeteksi mereka dari benda itu."
"Kami sudah mengecek alat itu, tapi hasilnya tidak ada yang mencurigakan. Semuanya bergerak seperti biasa," jawab salah satu Ilmuwan.
Pak Leon terdiam, agak lama dia berpikir hingga akhirnya dia mendapatkan satu kesimpulan.
"Pemeriksaan ini kita akhiri sampai disini saja dulu. Gregory, kau pergi dan panggil lah salah satu engineer untuk memperbaiki ini. White, aku berharap banyak padamu untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang Impostor agar kita bisa mendapat titik terang tentang makhluk itu. Aku berharap banyak padamu," katanya.
Gregory mengangguk lalu pergi untuk menjalankan perintahnya. Begitu juga dengan seluruh Crewmate yang pergi dari ruangan itu.
Sementara itu, Impostor yang saat itu sedang berbaur diantara mereka tersenyum licik.
"Rencana ku berhasil," Batinnya.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋