
Setelah Orange bunuh diri, semua Crewmate memutuskan untuk fokus ke Green. Tapi pada akhirnya dia harus menghembuskan nafas terakhirnya karena kehabisan darah.
Sebelum meninggal, Green menyerahkan Rugel kepada Yellow. Meski kelihatannya aneh memberikan hewan kesayangan kepada orang yang hampir membunuhnya, tapi sebenarnya Green tetap percaya kepada Yellow.
Sekarang semua Crewmate berkumpul di cafetaria. Tidak ada percakapan di antara mereka. Brown juga bersama mereka setelah membungkus jenazah Green dan Purple.
Yellow menangis terisak-isak. Rugel duduk di lantai sambil menunduk sedih. Yang lainnya juga ikut menunjukkan ekspresi berkabung.
"Aku mau ke kamar," kata Blue pelan lalu pergi meninggalkan cafetaria.
Beberapa Crewmate juga ikut berdiri lalu pergi ke kamar masing-masing, termasuk Red. Tersisa Black dan White yang duduk saling membelakangi.
Saat sedang berjalan, Red menangkap gelagat aneh dari Cyan. Lorong menuju kamar tidur mereka itu berada di kanan, tapi Red mendapati Cyan yang berbelok ke kiri.
Red penasaran dengan Cyan, jadi dia memutuskan untuk mengikutinya. Cyan terus berjalan tanpa menyadari kalau ada yang membuntuti nya.
Setelah sampai di tempat sepi dan agak jauh dari para Crewmate, Cyan berhenti. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat. Red yang bersembunyi di balik dinding merasa sedikit tidak nyaman.
Tidak lama kemudian, terdengar isak tangis dan Cyan langsung memukul dinding. Tubuhnya semakin bergetar, bersamaan dengan suara tangisnya yang semakin besar.
"Orange... Ugh," kata Cyan terisak-isak.
Red terkejut. Dia tidak menyangka kalau Cyan begitu terpukul atas kepergian Orange. Dia sebenarnya ingin menghampiri Cyan untuk menenangkannya, tapi dia terlalu takut jadi dia hanya terus bersembunyi.
Agak lama Cyan menangis, perlahan-lahan dia sedikit tenang. Di hapus nya air mata yang membasahi wajahnya.
"Aku tahu kau bersembunyi disitu, Red. Keluarlah!" Perintah Cyan.
Ucapan Cyan berhasil membuat Red gelagapan dan salah tingkah. Dia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya karena dia tahu, tidak ada gunanya kabur dari seorang Cyan.
Cyan menoleh kearah Red. Ditatapnya Red dengan wajah sembab nya lalu dia berjalan menghampiri Red. Tangan Cyan terangkat lalu mendarat di kepala Red. Diusapnya rambut Red sampai berantakan.
"Jangan beritahu hal tadi kepada siapapun," larang Cyan lalu berjalan pergi ke kamarnya.
"Kau bisa percaya padaku," jawab Red tegas lalu berjalan pula ke kamarnya.
Sementara itu di cafetaria, White dan Black masih tetap saling membelakangi. Tidak ada kalimat yang keluar dari mulut mereka. Sampai akhirnya Black bersuara.
"Rasanya baru kemarin aku memakan masakannya," kata Black melamun.
"Jadi hanya itu yang kau pikirkan?" Tanya White.
"Tentu saja. Saat kau kehilangan seseorang, sesuatu yang sering dilakukannya lah yang akan membuatmu rindu padanya," jawab Black.
"Aku tidak pernah merasakan yang namanya kehilangan, tapi kematian Purple, Green dan Orange cukup membuatku sedih," kata White.
"Semua ini tidak akan terjadi jika kita lebih berhati-hati saat itu," balas Black.
White menoleh, "Saat itu? Jadi sampai sekarang kau masih menentang perintah dari atasan?" Tanya White tidak percaya.
"Jawaban jujurnya adalah iya. Kau sendiri sudah tahu kan kalau mereka menyembunyikan sesuatu dari kita?" Tanya Black.
"Aku memang sudah menduga itu, tapi aku tidak akan menentang mereka," jawab White.
"Manusia punya hak untuk menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan mereka, lebih baik kau berhenti menjadi boneka atau semuanya akan jadi lebih buruk," ujar Black.
"Memangnya kau tahu apa? Selama ini kau kan hanya duduk di depan komputer," komentar White.
"Aku seorang Comunicator dan kau seorang Kapten. Kau mendapatkan pengalaman dan aku mendapatkan informasi. Saat ini kau menghadapi situasi yang berbeda dengan misi-misi mu sebelumnya. Tapi informasi yang ku punya selalu bisa membuatku memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya," jelas Black.
"Pengalamanku bisa membuatku tahu apa yang harus kulakukan saat ini, tapi apa maksudmu dengan informasi bisa membuatmu memprediksi yang akan terjadi?" Tanya White lalu mengubah posisinya dan kini berhadapan dengan Black.
"Menurutmu sudah berapa banyak informasi yang kudapatkan selama ini?" Tantang Black.
Bola mata White bergerak ke atas, "Tunggu sebentar, apa selama ini kau menyadap setiap pembicaraan yang melalui komputer mu?" Tanya White tidak percaya. Black mengangguk.
"Eh tidak, aku rasa aku salah. Maksudku dengan informasi yang ku punya dan pengalaman milikmu, kita pasti bisa mengakhiri ini," ralat Black.
"Bagaimana caranya?" Tanya White tertarik.
"Caranya adalah kita semua harus bersatu. Kita semua menjadi seperti ini karena kita telah terpecah belah dan tidak percaya pada satu sama lain lagi. Kondisi kita inilah yang dimanfaatkan oleh Impostor untuk membunuh kita semua," jelas Black.
"Tapi sepertinya itu akan sulit," komentar White.
"Memang, tapi itulah saatnya kita beraksi. Impostor ingin bermain dengan kita, tidak salahnya kita ikut bermain juga kan?" Tanya Black meminta saran.
"Jadi apa rencana mu?" Tanya White.
"Kepercayaan? Apa hubungannya dengan rencana mu?" Tanya White tidak terima.
"Tentu saja itu saling berhubungan. Apa kau ingat saat di navigation waktu itu? Saat itu kau berkata kalau kau percaya padaku. Tapi setelah kejadian yang menimpa Brown, sikapmu langsung berubah dan kau mencurigai ku sebagai pelakunya. Asal kau tahu saja, White. Aku bukan orang baik jadi aku tidak akan diam jika diperlakukan seperti itu," jawab Black panjang lebar.
"Cih, ternyata kau terang-terangan juga mengatakan kalau kau bukan orang baik," komentar White sinis sambil menumpukan dagunya di tangan.
"Tentu saja, tidak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini. Karena orang baik tidak akan mengatakan dirinya baik. Ngomong-ngomong, kau lebih baik mempertimbangkan semua itu karena sebentar lagi aku akan selangkah di depan mu," kata Black lalu pergi meninggalkan cafetaria.
Black masuk ke kamarnya lalu duduk di kursinya. Dia mengusap wajahnya dengan penuh rasa lelah. Lalu dia membuka laci meja dan mengeluarkan beberapa berkas surat, foto para Crewmate, dan data pribadi mereka.
Mata Black menatap tajam pada foto-foto itu, "Siapa berikutnya?"
Sementara itu di tempat lain, Red dengan malas berbaring telentang di ranjangnya. Dirinya merasa begitu lelah atas semua yang terjadi akhir-akhir ini. Dia tidak menyangka misi pertama nya akan berakhir seperti ini.
"Kenapa semua ini bisa terjadi?" Gumam Red sambil menutup wajahnya.
Ini semua dimulai dari mana? Dari saat mereka berhasil menemukan The Skeld 301? Tidak, ini dimulai saat dia dipindahkan ke Mira HQ. Entah kenapa dia merasa menyesal telah menerima misi ini. Kalau saja dia tahu hal ini akan terjadi, dia pasti akan menolak. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan selalu datang di akhir.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Red bangun dengan malas lalu menekan tombol yang ada di samping pintu untuk berbicara dengan orang yang di luar.
"Siapa?" Tanya Red.
"Ini aku," jawab orang yang di luar yang ternyata adalah Black.
Red membuka pintu dan mengijinkan Black masuk. Black langsung duduk di kursi, sementara Red kembali berbaring.
"Kau sedang sibuk?" Tanya Black berbasa-basi.
"Tidak, kau mau apa?" Red bertanya balik.
"Aku mau berbicara sebentar denganmu," jawab Black.
"Kau mau bicara apa?" Red mengganti posisinya menjadi duduk.
"Aku ingin tahu tentang orang tuamu," jawab Black gamblang.
"Apa kau tidak pernah diajarkan untuk meminta ijin terlebih dahulu jika ingin bertanya hal seperti ini?" Tanya Red dengan kening mengkerut.
"Tidak pernah, memangnya kenapa?" Tanya Black dengan wajah polos.
"Karena aku yatim piatu dan kau tidak memikirkan perasaan orang-orang yang sepertiku," jawab Red kesal.
"Maaf kalau begitu. Tapi, apa aku boleh tahu tentang masa lalu mu?" Black masih berusaha.
"Kau ini kenapa tiba-tiba begini?" Red bingung.
"Aku ingin tahu lebih banyak tentang mu," jawab Black.
Red bersandar, "Ya sudah kalau begitu," kata Red pasrah. Sementara Black mulai memasang sikap antusias.
"Baiklah, aku akan mulai. Saat itu aku ditemukan oleh seorang wanita didepan pagar rumahnya. Wanita itu mengurus sebuah panti asuhan, jadi dia membawaku dan membesarkan ku di panti asuhan itu. Aku tinggal di panti asuhan itu sampai aku mendapatkan uang dari hasil kerja paruh waktu ku untuk tinggal di kos-kosan. Meski sekarang aku sudah menjadi astronot, aku akan selalu mengunjungi mereka saat sedang libur," kata Red sambil sedikit melamun.
"Jadi, apa wanita itu juga yang memberikanmu nama?" Tanya Black.
"Ya, dia memberikan ku nama "Red" sesuai dengan rambut dan mataku yang berwarna merah," jawab Red.
"Hmm, begitu ya," gumam Black sambil mengusap dagunya.
Lalu Black berdiri dan berjalan ke pintu, "Terima kasih untuk cerita mu Red," lalu dia keluar dari ruangan itu dan kembali ke kamarnya.
"Dia mau aku menceritakan kisah ku, tapi tidak menceritakan dirinya juga," protes Red dalam hatinya.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋