Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 47: Lembaran yang Hilang



Hari-hari dijalankan seperti biasa oleh para Crewmate. Red mengerjakan task, Black cemburu pada Righty, White mengobrol dengan Righty, Blue dan Lime menjelajahi pesawat, Pink dan Yellow menyendiri, dan Brown yang sibuk menyiapkan obat-obatan.


Hari ini Red sedang berada di record setelah mengerjakan task. Dia penasaran dengan buku-buku dan surat-surat yang ada di ruangan itu. Dia menjelajahi satu-persatu rak yang ada di ruangan itu.


Dia juga membuka lemari kabinet dan melihat surat-surat yang berjejer rapi didalamnya. Dia mengambil random dan mulai membaca.


"Toppat Klan?" Gumam Red pada dirinya lalu duduk di meja baca.


Dibukanya sampul dokumen itu dan mulai membacanya. Disitu tertulis bahwa Toppat Klan adalah sebuah organisasi kriminal yang sering membuat masalah sehingga mereka begitu dicari oleh pemerintah.


Red bingung karena belum pernah mendengar hal itu. Dia cukup update soal berita, apalagi berita kriminal. Tapi dia sendiri tidak pernah mendengar berita yang membicarakan tentang organisasi itu.


"Apa mungkin dirahasiakan oleh pemerintah?" Tanya Red pada dirinya sendiri.


Isi dokumen itu tidak panjang. Hanya berisi deskripsi tentang Toppat Klan dan sepak terjang mereka yang membuat pemerintah kewalahan. Red mulai merasa penasaran dan memutuskan untuk mencari lagi dokumen yang berhubungan dengan organisasi itu.


Dapat! Red menemukan dokumen berisi daftar anggota Toppat Klan. Dia segera membuka sampulnya.


Dimulai dari pemimpin Toppat Klan yang bernama Reginald Copperbottom. Dia adalah seorang pria dengan ciri-ciri kumis melintang berwarna coklat, memakai kalung rantai emas berbentuk simbol dolar emas bertatahkan berlian yang terlihat sangat mahal. Dia juga mengenakan topi yang entah kenapa menurut Red itu mirip dengan milik Righty. Tapi topinya ada dua dengan posisi bertumpuk. Yang paling atas berwarna hitam dan yang paling bawah berwarna abu-abu.


"Dia lebih mirip pelawak di mataku," kata Red lalu membuka lembaran berikutnya.


Tapi Red terkejut karena menemukan lembaran kedua sudah di robek. Dia memperhatikan bekas robekan itu dan menyimpulkan kalau itu di sengaja.


"Sepertinya lembaran ini berisi data wakilnya mungkin, sangat disayangkan," gumam Red lalu membuka lembaran berikutnya lagi.


Hampir satu jam Red membaca dokumen itu hingga selesai. Tapi Red masih belum puas karena lembaran yang hilang itu. Sekarang dia benar-benar penasaran dan mungkin saja bisa mati karena rasa penasarannya itu.


"Red, kau sedang apa?" Tanya Pink yang baru tiba di ruangan itu.


Red menoleh, "Oh, kau rupanya. Aku sedang melihat-lihat isi dokumen yang ada di dalam lemari kabinet ini."


Pink mendekati Red, "Apa kau menemukan sesuatu yang menarik?"


Red mengangguk lalu menceritakan tentang Toppat Klan yang baru saja diketahuinya tadi. Pink mendengarkan dengan seksama.


"Itu kedengarannya sangat menarik," komentar Pink.


"Memang, tapi dokumen yang ada daftar anggotanya tidak lengkap. Membuatku kesal saja," keluh Red.


"Yang mana dokumennya?" Tanya Pink lalu mendekati lemari kabinet itu.


Red mengambil kembali daftar itu lalu diberikannya kepada Pink. Pink membuka-buka lembaran demi lembaran yang ada. Hingga terpaku pada bagian yang dirobek itu.


"Ini terlihat sangat mencurigakan. Seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan," kata Pink.


"Aku juga berpikir begitu," balas Red.


Mereka berdua terus berbicara sambil diawasi oleh kamera cctv. Lime memandangi layar monitor dan terus mengawasi kedua orang itu sambil ditemani segelas kopi.


"Sepertinya pikiran ku tidak salah," seseorang tiba-tiba muncul di belakang Lime dan membuatnya tersentak kaget.


"Ya Tuhan! Kau mengejutkan ku, Black," bentak Lime sambil memukul bahu Black.


Black tidak bereaksi. Dia hanya menatap Lime lalu ikut menatap layar komputer.


"Bagaimana menurutmu tentang hal ini?" Tanya Black.


"Tidak bisa dipungkiri, aku juga memikirkan hal yang sama. Tempat ini benar-benar misterius dan terasa sangat aneh. Rasanya Righty seperti menyembunyikan sesuatu dari kita," jawab Lime.


"Dan kau juga menyembunyikan sesuatu dari ku," Lime terkejut mendengar perkataan Black.


"Apa maksudmu?" Tanya Lime bingung.


Black duduk di samping Lime, "Kita sudah kenal cukup lama dan ini pertama kalinya kita bisa sedekat ini. Aku selalu memperhatikan orang-orang dan aku tahu bagaimana membaca niat seseorang dari bahasa tubuhnya. Biasanya gestur tubuh orang yang sedang berbohong itu adalah yang paling jelas dan sangat menggangu di mataku."


"Jadi?" Lime masih tidak mengerti.


"Aku tiba-tiba teringat kejadian saat di comunication waktu itu. Kau sepertinya tahu sesuatu dan tidak mau memberitahu ku," jawab Black.


Lime pun teringat, "Oh, saat aku memperbaiki salah satu komputer yang dirusak oleh Impostor."


"Betul. Kau pasti tahu kenapa pundak ku terasa berat saat itu, kan?" Tanya Black dengan penuh curiga.


Lime melirik ke arah lain untuk mengalihkan pandangannya dari Black. Tapi Black tidak bergeming dan terus menatap Lime yang membuat orang itu salah tingkah.


"Jika ku beritahu, apa kau akan percaya dan tidak menertawakan ku?" Lime bertanya balik.


Lime menghela nafas, "Akan ku pegang janjimu itu."


Flashback setelah kejadian penyerangan terhadap Black...


Lime POV ON...


Aku duduk di lantai comunication sambil sibuk memperbaiki komputer yang dirusak oleh Impostor dan berakhir membuat makhluk itu tersetrum. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat.


"Apa masih bisa diperbaiki?" Tanya Black di belakangku.


"Masih bisa," jawabku singkat tanpa menoleh.


Black berjalan ke mejanya, "Kau ini ternyata serba bisa," pujinya.


Aku mendengus bangga lalu menoleh, tapi sedetik kemudian aku terbelalak dengan apa yang kulihat. Aku melihat sesosok makhluk berpakaian putih dan berambut panjang duduk di bahu Black. Bau amis tercium di hidung ku dan berhasil membuatku sesak. Wajah makhluk itu sudah hancur lebur dan terdapat banyak belatung.


"Lime, kau kenapa?" Tanya Black bingung melihatku yang gemetaran.


Aku menarik nafas panjang, "Black, apa kau merasa pundak mu berat?" Tanya ku berusaha untuk tenang.


Black mengusap tengkuknya, "Iya, aku merasa sangat pegal. Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Black membuatku terkesiap.


Seketika aku merasa salah tingkah, "Err, karena kau terlihat agak bungkuk," jawabku cepat.


Black pun tersadar, "Benar."


Aku menghela nafas lega, "Lebih baik kau istirahat saja, kau kan belum pulih benar."


Black mengangguk lalu pergi meninggalkan ku sendirian di ruangan ini. Karena makhluk itu, aku jadi merasa merinding di tempat ini.


Lime POV END...


Flashback END...


Wajah Black memucat, "Kau bercanda kan?"


"Tidak," jawab Lime singkat.


"Tapi, bagaimana kau bisa melihatnya? Apa kau sedang sial?" Tanya Black.


"Lebih tepatnya ini kutukan. Aku bisa melihat hantu sejak kelas 1 SMA. Hantu pertama yang kulihat adalah seniorku yang bunuh diri dan itu terus berlanjut sampai sekarang. Meski sudah lama, aku masih tidak terbiasa," jelas Lime.


Black pun terpikir sesuatu, "Kalau begitu, itu artinya kau pasti bisa melihat hantu keempat teman kita."


"Sayangnya, tidak. Sejak Green, Purple dan Orange meninggal. Aku rela bangun tengah malam hanya untuk mencari mereka, tapi yang kutemui justru hantu-hantu lain yang menyeramkan," jawab Lime sedih.


"Kalau kru The Skeld 301?"


"Yang itu juga sama. Padahal mereka tahu sesuatu, tapi yang kulihat justru lebih menyeramkan," keluh Lime lalu menggolek kan kepalanya di meja.


Black memandang sekelilingnya, "Apa disini juga ada?"


"Ya, ada satu di pintu. Kepalanya sudah hancur," jawab Lime.


"Uaaahhh!" Pekik Black lalu memeluk Lime.


"Heh! Lepaskan aku," bentak Lime sambil berusaha melepaskan pelukan Black.


"Aku takut, Lime. Tidak melihatnya saja sudah membuatku merinding," jawab Black.


"Ya, aku juga takut," kata Lime lalu balas memeluk Black.


Bagi Lime, punya teman yang sama-sama takut dengan hantu itu lebih baik.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋