Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 56: Paciente 0



Red membuka matanya perlahan. Dia merasa matanya begitu berat dan penglihatannya buram. Tapi setelah itu penglihatannya kembali normal.


Dia bingung sedang berada dimana saat ini ketika melihat langit-langit ruangan yang berwarna putih. Brown muncul di sampingnya lalu menatap wajahnya.


"Red, kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?" Tanya Brown.


Red memicingkan matanya, "Kepalaku pusing," jawabnya dengan suara serak.


Brown menganggukkan kepalanya lalu dia menghilang dari pandangan Red, "Kau berbaring saja agar tidak terlalu pusing."


"Baiklah," jawab Red pelan.


Dia mulai mengingat-ingat penyebab dia bisa terbaring di laboratorium. Tapi rasa sakit menyerang kepalanya. Red mengaduh lalu memegang kepalanya yang ditutupi perban.


"Jangan terlalu dipaksakan, aku beritahu kenapa kau disini," kata Black lalu muncul di sampingnya.


Black duduk di sampingnya. Brown melihat ke arah Black lalu kembali sibuk pada kegiatannya.


"Aku menemukan mu terbenam di salju, dari kepala sampai perutmu. Barusan aku baru tahu kalau itu adalah batu yang tertimbun salju. Kepala mu berdarah, jadi aku segera membawamu kesini. Kau sudah pingsan selama seminggu dan untungnya kau sadar sekarang," jelas Black.


Red terkejut, pantas saja dia merasa matanya begitu berat. Ternyata karena tidak terbuka selama seminggu. Dia pun ingat kenapa dia bisa terbenam di salju seperti yang diceritakan oleh Black.


"Kau bisa istirahat dulu. Aku tidak akan memaksa mu untuk menceritakan semuanya," kata Black lalu berdiri hendak pergi.


Tapi tangan Red menahannya. Black menoleh lalu menatap Red yang juga menatapnya.


"Jangan pergi," kata Red pelan tapi masih terdengar oleh Black.


Dari perkataan Red, Black menebak kalau terjadi sesuatu yang begitu buruk pada temannya itu. Black duduk lagi di kursinya. Brown datang lalu memberikan obat pada Red.


Selama beberapa hari, para Crewmate diminta Black untuk bergantian menjaga Red. Tapi hanya Black, Lime, dan Blue. Setelah Black berpikir bahwa ini ada hubungannya dengan Impostor.


Keadaan Red berangsur membaik dan dia sudah siap untuk memberitahu semuanya. Mereka berkumpul di laboratorium, mengelilingi ranjang Red.


"Aku akan langsung menceritakan nya," kata Red lalu menatap wajah mereka satu persatu.


"Ini terjadi saat kita sedang mengerjakan task. Waktu itu aku mendapatkan task fix wiring di office. Apa kalian ingat dengan lubang yang ada di depan tempat fix wiring itu?"


"Maksudmu yang di dekat ruang cafetaria itu? Ya kami ingat," jawab Blue diikuti anggukan kepala dari mereka.


"Saat aku sedang mengerjakan task. Tiba-tiba muncul tentakel dari lubang itu. Benda itu mengikat ku lalu menarik ku masuk ke lubang. Tapi aku berpegangan pada kabel jadi aku tidak sampai masuk."


Black terkejut, "Apa tentakelnya seperti tentakel milik Impostor?"


"Benar, itu seperti tentakel Impostor. Aku meletakkan kabel pada tentakel itu sehingga dia tersetrum dan melempar ku ke atas hingga menembus atap lalu aku jatuh ke batu yang ditutupi salju."


"Pantas saja ada lubang di atap saat itu. Kalau dipikir-pikir, sepertinya dia melempar mu begitu keras sampai atap berlubang," komentar Blue.


"Hey, Black. Bagaimana jika aku tutup saja semua lubang kecil yang ada di sini agar tidak terjadi lagi kejadian seperti Red ini?" Tanya Lime.


"Bisa saja, tapi itu juga tidak akan berguna. Tentakel itu kira-kira setengah kemampuannya dari Impostor sendiri. Di tutup pakai apapun juga tidak akan berguna. Kecuali untuk kotak-kotak yang ada di storage itu. Tapi kotak-kotak itu untuk menyimpan bahan bakar pesawat, tidak bisa digunakan juga," jelas Black.


Brown teringat sesuatu, "Kalau tidak salah, kau sudah menghubungi Mira HQ. Apa yang kau katakan pada mereka?"


"Aku melaporkan kejadian yang kita alami. Tapi aku belum melaporkan yang ini. Oh ya, aku juga meminta bantuan pada mereka," jawab Black.


"Bantuan seperti apa yang kau minta?" Tanya Lime.


"Pesawat. Pesawat untuk membawa kita pergi dari sini. Tapi itu akan sangat lama karena jarak Polus dan Bumi yang jauh."


"Tapi kita belum menemukan Impostor," Kata Pink dan diikuti anggukan dari Yellow.


"Di waktu 5 tahun inilah kita akan menemukan nya. Tapi aku yakin dia juga tidak akan membiarkan kita pergi dengan selamat dari sini. Dia ada disini saat ini, jadi sudah pasti akan terjadi sesuatu pada kita 5 tahun ke depan," jelas Black.


Para Crewmate saling berpandangan. Mereka mulai merasa tegang dan berharap mereka baik-baik saja sampai bantuan tiba. Brown menatap Black yang juga menatapnya.


"Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?" Batinnya.


Mereka mengakhiri meeting itu lalu pergi untuk urusan masing-masing. Black kembali ke kamarnya lalu mulai sibuk dengan pikirannya. Dia memperhatikan foto para Crewmate yang ditempelkan di papan kecil. Dia juga mengumpulkan rekaman suara yang direkam sejak munculnya tulisan "Tiga Impostor". Dia membuka rekaman itu satu-persatu lalu mencatat yang menurutnya mencurigakan di catatannya.


Tangannya berhenti bergerak. Black menyadari kalau ada yang janggal. Dia membuka rekaman itu lagi. Rekaman nya itu sudah canggih, jadi suaranya tidak akan berubah. Dia tahu persis itu suara siapa.


Black bersandar. Sekarang dia sudah tahu siapa yang pantas dicurigai kali ini. Tapi dia akan mengantongi nama itu sampai menemukan bukti kuat untuk melemparnya ke lava.


Dia memperhatikan foto teman-temannya, "Sepertinya beberapa dari kita tidak akan pergi dengan selamat."


Setelah lewat beberapa hari, Red akhirnya sembuh. Tapi dia tidak diperbolehkan mengerjakan task, jadi dia hanya jalan-jalan untuk peregangan setelah berminggu-minggu terbaring di ranjang.


Red masuk ke admin dan mendekati meja admin. Di situ dia menemukan kejanggalan. Dia ingat persis berapa jumlah Crewmate saat ini, ditambah dia bertemu dengan mereka saat berkeliling tadi.


"Di laboratorium ada Brown, Black di weapon, Yellow di comunication, Blue dan Pink di O2, lalu Lime di electrical. Tapi siapa yang ada di specimen room?" Tanya Red sambil memperhatikan meja admin.


Dia mengangkat kepalanya lalu menatap pintu decontamination. Jantungnya berdetak kencang. Dia merasa kalau yang di specimen room itu adalah Impostor.


"Tapi jika itu Impostor, bagaimana cara dia kesitu?" Gumam Red.


Dia takut tapi juga penasaran. Akhirnya setelah lama terdiam, Red menyiapkan diri lalu pergi ke specimen room. Dia merasa dirinya sudah sehat jadi tidak apa jika terlibat pertarungan sedikit. Itu pun kalau yang di tempat itu benar-benar Impostor.


Red tiba di pintu specimen room, tapi dia tidak masuk. Dia hanya memperhatikan kondisi tempat itu yang sepi. Red mulai berpikir kalau akan ada sesuatu yang muncul lalu mengagetkan nya. Tapi dia justru dikagetkan oleh sebuah suara.


UHUK! UHUK! UHUK!


Red masuk ke dalam lalu melihat seorang pria berpakaian panjang berwarna hijau terduduk di lantai sambil menutup mulutnya. Dia terus-terusan batuk hingga badannya bergetar.


Red tidak kenal siapa orang itu. Tapi dia merasa kasihan, jadi dia menghampiri pria itu.


Red memegang tangan orang itu. Dia merasa dingin yang teramat sangat pada tangannya. Tapi pria itu tidak menjawab dan terus batuk. Lama-kelamaan batuknya semakin keras dan terlihat darah yang mengalir keluar dari sela-sela jarinya.


Red mulai panik, "Pak, ayo saya bawa anda ke laboratorium. Di sana ada teman saya yang seorang dokter, dia bisa mengobati Bapak."


Tapi pria itu menggelengkan kepalanya. Dia berhenti batuk lalu melepaskan tangannya dari mulutnya. Terlihat darah yang mengalir di sela-sela bibirnya.


"Per...gi," katanya dengan suara serak.


Red menggelengkan kepalanya, "Bapak juga harus ikut saya. Saya tidak bisa tinggalkan Bapak dengan kondisi seperti ini."


Pria itu menarik nafas dalam-dalam, "Bawa... saja temanmu itu kesini. Aku... tidak...bisa kemana-mana."


Red mengerti, "Baiklah. Bapak tunggu disini saja, secepatnya saya akan kembali."


Red berdiri lalu keluar dari specimen room menuju laboratorium. Tapi baru saja keluar, lampu tiba-tiba mati. Membuat Polus jadi gelap gulita. Red terhenti.


"Malah mati lampu," gerutu Red lalu menyalakan senter dan lanjut berlari.


Setelah lama berlari, Red mulai merasa aneh. Entah kenapa dia merasa kalau lorong ini lebih panjang dari sebelumnya. Malah dia juga tidak bertemu dengan jeruji besi yang menampakkan lava di bawah lorong itu.


Selain itu, dia juga merasa suhu di lorong itu sangat dingin. Padahal harusnya suhu di lorong itu lebih hangat daripada di luar. Tapi Red tidak menyerah dan terus berlari.


"Kenapa mati lampu ini lama sekali?" Gumam Red sambil menyeka keringat yang mengalir di keningnya. Dia berkeringat dingin.


Lama-kelamaan Red merasa tidak nyaman. Dia merasa kalau ada suara orang berlari di belakangnya. Lututnya juga terasa berat, dan bulu kuduknya berdiri. Jantungnya berdegup kencang. Lama-kelamaan suara orang berlari itu bertambah banyak dan seperti sedang mengejar Red.


"Astaga, apa aku sedang dikerjai oleh makhluk halus? Tapi kenapa harus disaat ada yang sedang membutuhkan pertolongan?" Batin Red resah.


Tepat setelah dia berpikir seperti itu. Jeruji besi itu terlihat. Red merasa tenang lalu mempercepat larinya. Kakinya menapak di atas jeruji besi hingga menimbulkan bunyi.


Tapi ketika dia sudah melewati jeruji, tiba-tiba terdengar suara tapak kaki lain yang menapak di jeruji besi.


TANG! TANG! TANG! TANG! TANG! TANG!


Suara itu sangat ramai dan berisik. Itu seperti ada ribuan orang yang menapak di situ atau ada satu orang yang sengaja menghentak-hentak kan kakinya.


Itu sukses membuat Red merinding. Dia sudah tiba di pintu decontamination dan membukanya. Setelah pintu terbuka, dia segera masuk. Sebelum pintu tertutup, dia berbalik dan menatap ke luar.


Red melihat mata berwarna hijau yang menatapnya sebelum pintu tertutup. Meski cuma sebentar, tapi itu benar-benar membuat Red ketakutan.


Asap decontamination memenuhi tempat itu dan lampu menyala kembali. Red bernafas lega lalu keluar setelah pintu tertutup. Dia terduduk di samping pintu decontamination.


"Kau kenapa, Red?" Tanya Brown dan berhasil mengejutkan Red.


"Oh, kak Brown rupanya. Begini, tadi aku menemukan seorang pria yang terluka di specimen room. Dia bukan kru kita, tapi dia sakit-sakitan. Jadi aku kesini mau meminta kak Brown untuk mengobatinya," jelas Red.


"Lalu mana dia?"


"Dia masih disana. Dia meminta agar kak Brown saja yang kesana," jawab Red sambil menunjuk ke arah specimen room.


Sebenarnya Brown ingin bertanya lebih banyak, tapi diurungkan nya dan memutuskan untuk mengikuti Red ke specimen room. Sebelum pergi, dia membawa kotak obat dan sebuah foto lalu pergi ke specimen room.


Ketika pintu decontamination terbuka, Red menghela nafas lega karena tidak melihat makhluk bermata hijau yang dilihatnya barusan. Mereka berjalan cepat ke specimen room karena Red juga khawatir dengan kondisi orang itu.


Setibanya di specimen room, Red terkejut karena tidak melihat siapa pun di tempat itu. Dia celingukan mencari orang itu, tapi tidak menemukannya.


"Dimana orang yang kau maksud itu, Red?" Tanya Brown.


"Aku tidak tahu, sebelumnya dia terduduk di situ. Aku masih ingat kalau dia juga mengenakan pakaian lengan panjang berwarna hijau dengan nametag di dada kirinya," kata Red.


"Apa yang tertulis di nametag itu?"


"Di situ tertulis Paciente 0," jawab Red.


Brown tertegun. Dia tahu betul apa arti nama itu. Dia mengeluarkan foto yang dibawanya lalu ditunjukkan kepada Red.


"Apa ini orang yang kau maksud?"


"Iya, itu dia. Darimana kak Brown mendapatkan foto itu? Apa kak Brown kenal dia?" Tanya Red.


"Iya, aku kenal dia dan aku tahu dimana kita bisa menemukan nya," jawab Brown.


"Dimana?"


"Ayo kita ke cafetaria, kita akan tahu setibanya disana," jawab Brown lalu pergi ke cafetaria diikuti Red.


Dia sangat penasaran kenapa Brown bisa seyakin itu dengan perkataannya.


Bersambung


.


.


.


.


Halo semuanya ini author. Doakan moga author bisa update pas tanggal 25 nanti biar bisa ucapin selamat hari natal ke kalian semua.


Sampai jumpa 👋