Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 18: Impostor vs Crewmate



Black menekan tombol emergency meeting. Semua Crewmate berkumpul. Mereka saling bertatapan, terutama White. Dia penasaran kenapa Black mengumpulkan mereka.


"Kenapa kau memanggil kami, Black?" Tanya Orange.


"Aku mengumpulkan kalian disini karena ada sesuatu yang ingin kukatakan," jawab Black.


"Apa itu?" Tanya Purple.


"Red hilang, kemungkinan besar dia diculik," jawab Black lagi.


Mereka semua terkejut lalu saling berbisik satu sama lain. Red diculik? Siapa yang melakukan nya? Kurang lebih seperti itulah pikiran mereka.


"Woi kau bercanda kan? Memangnya apa istimewanya Red sampai-sampai ada yang menculiknya?" Tanya Blue tidak percaya.


"Apakah ekspresi ku ini terlihat seperti sedang bercanda?" Black bertanya balik dan menatap Blue dengan tatapan serius membuat Blue ciut.


"Jika Red tidak diculik, katakan. Apa kalian melihatnya?" Tanya Black lagi.


Mereka diam tidak bisa menjawab. Karena memang tidak ada satupun yang bertemu dengan Red.


"Oh iya, Black. Aku ingat ada sesuatu yang ingin kukatakan," kata Pink. Black memandang nya.


"Apa itu?"


"Saat akan mengerjakan task, aku sempat mampir ke ruang security dan iseng-iseng melihat cctv. Aku melihat Red masuk ke admin lalu disusul Blue. Tidak lama kulihat Blue berlari keluar. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena setelah itu aku meninggalkan security," lapor Pink.


Mereka semua serentak melihat ke arah Blue. Blue yang ditatap berkeringat dingin, dia sadar saat ini dia sedang dalam masalah besar.


"Apa itu benar, Blue?" Tanya White.


"Iya, itu benar Kapten," jawab Blue sambil menunduk tidak berani melihat wajah mereka yang seperti akan memakannya.


"Apa yang membuat mu lari dari admin?" Kali ini Black yang bertanya.


Blue menelan ludah lalu menceritakan semua kejadian yang sebenarnya terjadi. Jujur dia merasa bersalah dan tidak menyangka candaan nya malah berakhir dengan hilangnya Red.


"Tapi, belum tentu Red hilang karena ulah ku. Bisa saja dia hilang saat meninggalkan admin. Pink sendiri tidak tahu apa yang terjadi setelah aku meninggalkan admin," Blue masih berusaha membela diri.


"Red hilang di admin. Aku menemukan topi dan kertas task nya didekat vent," jawab Black lalu mengeluarkan kedua benda itu, "Belum ada satu task pun yang diselesaikan nya. Oh iya satu lagi, ada bercak darah dilantai dekat kedua benda ini."


Semua Crewmate tidak bisa berkata apa-apa. Mereka terkejut setelah mendengar semua pernyataan Black, terutama Blue.


"Ngomong-ngomong soal hilang, apa kalian sadar disini tidak ada Green dan Lime?" Tanya Yellow memecah keheningan.


"Kau benar, aku juga tidak melihat Cyan," balas Orange.


"Aku meminta Cyan untuk membersihkan bagian kosong. Kalau untuk mereka berdua, aku tidak tahu," kata White.


"Aku sempat melihat Green mengejar Rugel. Aku rasa dia pasti bertemu dengan Lime dan sekarang pasti sedang bersama," kata Purple.


Black menatap White, "Jadi bagaimana menurutmu, White? Apa keputusan mu?"


White tampak berpikir, "Dari laporan mu, Black. Aku rasa Red ditarik masuk ke vent. Didalam vent itu sudah pasti sesak, jadi dia pasti keluar disalah satu tempat di pesawat ini bersama orang yang menculiknya," lalu dia menatap semua kru nya, "Cari Red. Cek semua ruangan di pesawat ini dan semua tempat yang memiliki vent. Pergi berdua-dua!"


Semua Crewmate mengangguk lalu mulai mencari Red. Mereka mencari di setiap ruangan, termasuk kamar mereka karena kamar mereka memiliki vent.


Tapi setelah semua di cek, mereka tidak menemukan Red ataupun petunjuk hilangnya orang itu. Itu membuat Black cemas.


Sementara itu di tempat lain...


Green dan Lime berhenti berlari. Mereka berjalan pelan sambil terengah-engah.


"Cepat sekali peliharaan mu itu lari, Green," kata Lime sambil mengusap keringat di dahinya.


"Iya, sekarang dia dimana ya?" Tanya Green. Mereka kehilangan jejak Rugel.


Tapi ketika mereka sampai di salah satu belokan, mereka melihat Rugel berdiri menghadap salah satu pintu ruangan.


"Eh, itu dia," tunjuk Lime lalu berlari ke arah Rugel bersama Green.


"Rugel!" Panggil Green.


Tapi Rugel tidak menjawab. Dia hanya menggeram menatap pintu itu.


"Dia kenapa?" Tanya Lime bingung.


"Biasanya jika seperti ini, artinya Rugel merasa ada sesuatu yang berbahaya didekatnya. Aku rasa ada sesuatu yang berbahaya di balik pintu ini," jawab Green.


"Berbahaya? Kalau begitu kita harus pergi dari sini. Aku juga mendengar emergency meeting tadi, kita harus kembali," ajak Lime.


Tiba-tiba Green menutup hidungnya, "Ugh aku mencium bau darah yang sangat kuat."


Lime terkejut, "Darah? Dari mana?"


Green mengendus sekelilingnya lalu mengendus pintu itu. Tapi dia sedikit menjauh sambil menutup hidung, "Bau nya dari ruangan itu," katanya.


"Begitu ya, tapi ruangan ini tidak pernah dipakai dan juga dikunci. Jadi siapa yang bisa masuk ke ruangan yang dikunci?" Tanya Lime.


"Pasti bukan sesuatu yang bagus," jawab Green lalu mendekati pintu itu dan mencoba membukanya.


Lime akhirnya tergerak untuk membantu Green, "Biar aku yang membukanya. Pintu ini menggunakan kode angka, kau tidak akan bisa."


Green mempersilahkan Lime untuk melakukan nya. Sementara itu Lime mulai memasukkan angka-angka untuk membuka pintu. Tapi ketika akan memasukkan angka terakhir, tiba-tiba Green menahannya.


"Ada sesuatu yang berbahaya dibalik pintu ini. Lebih baik kita mencari benda untuk berlindung jika tiba-tiba benda itu menyergap kita," jelas Green.


Lime mengangguk lalu mengeluarkan kunci Inggris nya dan Green mengambil sebatang besi untuk melawan.


Angka terakhir selesai dimasukkan dan pintu terbuka, mereka bersiap siaga dan Rugel semakin keras mengeram. Ruangan itu gelap gulita karena memang tidak ada yang memakai nya.


Mereka tetap siaga meski tidak ada yang menyergap mereka.


"Hey Green, ruangan itu gelap sekali. Aku ingat ada sakelar lampu disamping pintu ini, bisa kau nyalakan?" Pinta Lime.


Green mengangguk lalu menyalakan sakelar lampu. Tapi karena sudah lama tidak dipakai, lampu nya pun berkelap-kelip sebelum menyala dengan normal. Tapi saat kelap-kelip itulah, Green merasakan bahaya.


"Lime, awas!" Pekik Green lalu berlari menabrakkan dirinya sendiri ke Lime.


SRET!


Tubuh mereka berdua menghantam lantai dengan keras. Lime meringis kesakitan lalu melihat ke arah Green untuk mempertanyakan tindakan nya, tapi yang dilihatnya justru membuatnya terkejut.


Dia melihat Green terbaring di lantai dengan kaki terluka. Green meringis dan Rugel semakin menggeram marah.


"Green, kau tidak apa-apa?" Tanya Lime khawatir sambil mendekati Green.


Green duduk dibantu Lime, "Lihat apa yang didepan kita, Lime."


Lime melihat ke depan dan terkejut. Dia melihat sosok yang menyerang mereka saat di The Skeld 301, kini telah berdiri di hadapan mereka. Yang membuat Lime semakin terkejut adalah karena sekarang ukuran orang itu sudah bertambah besar dari pertama dia melihatnya.


"Jadi dia bahayanya. Tapi bagaimana dia bisa kesini ?" Batin Lime.


Tatapan Lime tiba-tiba tertuju pada sesosok tubuh yang terbaring telungkup di lantai dengan tubuh penuh luka. Meski tidak melihat wajahnya, tapi Lime tahu siapa itu.


"Itu Red? Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Lime marah.


"GAAARRRR!!!" Monster itu berteriak.


"Guk! Guk!" Gonggong Rugel meski itu tidak terlalu seram. Tapi keberanian nya patut diapresiasi.


"Hey Green, kau masih bisa bergerak kan?" Tanya Lime.


"Iya, aku masih bisa."


"Kalau begitu, mundur lah! Biar aku yang mengurusnya."


Green terkejut, "Tapi itu berbahaya, aku tidak akan mundur."


"Kau sedang terluka sekarang. Jangan jadikan dirimu sendiri sebagai beban ku," kata Lime yang mungkin kalimatnya terdengar menusuk.


Green terdiam lalu melihat kakinya dan akhirnya mengerti, "Baiklah, aku serahkan semuanya padamu," lalu mengesot mundur.


Tapi belum jauh Green mengesot, Lime menghentikannya lalu mengikat lukanya dengan sehelai kain. Setelah itu pergi dan memasang kuda-kuda untuk bertarung.


Monster itu mengeluarkan tentakelnya lalu menyerang Lime. Tapi Lime yang hanya menggunakan kunci Inggris, tetap bisa menghindari nya dengan mudah.


Mau seberapa banyak pun tentakel yang dikeluarkan monster itu, tetap tidak ada satupun yang berhasil mengenai Lime. Ketika ada satu tentakel yang hampir mengenai Lime, Green melempar batang besi nya untuk menghalanginya. Sekarang monster itu benar-benar marah, dia seperti sedang melihat Black dalam diri Lime.


Itu pun Lime kesulitan menghindar karena sekarang bukan hanya tentakel itu yang menyerangnya, tapi dia juga harus menghindari cakar yang bisa membuatnya terpotong.


Rugel tidak mau kalah. Dia bergerak ke arah belakang monster itu lalu melompat dan menggigit kepalanya. Monster itu berteriak kesakitan lalu berusaha menjangkau Rugel.


Karena Rugel menggigit nya, gerakan tentakel itu menjadi tidak terkendali. Tiba-tiba ada dua tentakel yang mengenai tubuh Lime hingga membuatnya rubuh dan melepaskan senjatanya.


Akhirnya monster itu berhasil mendapatkan Rugel lalu melemparnya ke dinding dengan keras.


"Rugel!" Green benar-benar panik dan berusaha menjangkau pet nya yang saat itu pingsan.


Monster itu membuka mulutnya lalu menyerang Lime dengan lidahnya yang panjang dan runcing. Lime tidak sempat menghindar karena ada tentakel yang menahannya agar tidak pergi. Lidah itu dengan cepat meluncur untuk menembus kepala Lime.


TANG!


Tiba-tiba terdengar suara hantaman besi dan lidah itu ditarik mundur oleh monster itu. Lime membuka matanya karena tadi menutupnya, takut untuk melihat benda itu menembus kepalanya. Tapi kali ini yang dilihatnya adalah sebuah ember aluminium yang penyok disalah satu sisinya.


"Aku belum membersihkan tempat ini," terdengar suara yang dikenal Lime sedang berbicara dibelakang nya. Lime menoleh.


Terlihat Cyan berdiri dengan tangan kanan yang terulur ke depan, yang sepertinya tadi dipakai untuk melempar ember itu. Dan tangan kiri yang memegang pengepel lantai.


Lime terkejut sekaligus senang. Dengan begini dia tidak akan kesulitan.


"Oh iya ngomong-ngomong, aku membawa bala bantuan," kata Cyan.


Terdengar langkah kaki yang semakin dekat dengan mereka, dan dari belakang Cyan muncul semua Crewmate. Mereka berdiri di samping Cyan.


"Besar sekali," komentar Blue.


"Aku melihat Red, dia disana," tunjuk Black.


Mereka melihat ke arah yang ditunjuk, terlihat Red yang masih diposisi nya. Tubuhnya sama sekali tidak ada pergerakan, mereka kesulitan memastikan kondisi nya.


"Darahnya banyak sekali, apa dia baik-baik saja?" Tanya Pink khawatir.


"Apapun itu, kita harus membawanya ke medbay," jawab Black.


"Itu sangat sulit. Monster itu menghalangi kita untuk membawa Red," kata Green.


Brown segera menghampiri nya setelah melihat kondisi kakinya. Dia membantu Green berdiri lalu memapahnya.


"Aku dan Crewmate perempuan akan menunggu di medbay," kata Brown.


White mengangguk membiarkan mereka pergi karena ini berbahaya untuk mereka. Brown memapah Green dibantu Purple. Sementara Yellow menggendong Rugel yang belum sadar. Pink mengikuti mereka.


Setelah kepergian para Crewmate perempuan, mereka semua memegang senjata masing-masing. Termasuk Orange yang memakai alat penggepeng adonan, tidak terlihat berbahaya tapi cukup membuat sakit.


Mereka pun menyerang secara bersamaan. Karena jumlah mereka yang banyak, mudah untuk mendekati monster itu. Orange sendiri berhasil melayangkan pukulan ke kepala monster itu yang merupakan bekas gigitan Rugel.


Karena merasakan sakit, monster itu menangkap Orange lalu melemparnya ke dinding. Blue menyerang dari depannya, tapi berhasil dihindari dan malah berakhir ditendang oleh monster itu.


Black menyergapnya, tapi monster itu melompat menghindarinya sambil melayangkan tembakan ke arah Black. Tapi Lime muncul dan menangkis peluru itu.


Cyan melempar ember nya ke monster dan menyerangnya dengan pengepel. Tapi monster itu merampas pengepel nya lalu melemparnya ke arah White. Tapi White menangkap nya dan mengembalikannya kepada Cyan.


Mereka mengeroyok monster itu hingga dia tidak bisa menyerang sedikit pun. Bahkan Black memegang tentakelnya lalu melemparnya ke arah lain hingga menghantam lantai. Black benar-benar marah saat itu.


Mereka tetap menyerang nya meski sekarang monster itu tidak punya kesempatan. Karena tidak bisa menyerang, monster itu berniat melakukan sesuatu untuk kabur.


Tiba-tiba White merasakan sesuatu yang membuat nya berhenti bergerak dan mundur.


"Semuanya, mundur!" Perintah White dengan berteriak.


Mereka semua terkejut lalu melompat mundur menjauhi monster itu, dan benar saja.


DUAR!


Monster itu meledakkan dirinya sendiri. Ledakan nya tidak terlalu besar tapi cukup membuat mereka hampir terlempar. Saat itu pun tidak akan disia-siakan oleh monster itu.


Krieet... Blam!


Terdengar suara vent yang dibuka lalu ditutup. Karena asap sudah menghilang, mereka bisa melihat kalau monster itu berhasil melarikan diri. Mereka mendekati vent itu.


"S*al, dia melarikan diri. Aku akan mengejarnya," kata Black lalu berniat membuka vent. Tapi White menahannya.


"Jangan Black, disana berbahaya. Kau akan kesulitan bergerak jika didalam vent dan dia akan dengan mudah membunuhmu," larang White sambil memegang tangannya Black.


"Tapi, kita tidak bisa membiarkan nya kabur begitu saja," protes Black.


"Biarkan saja dia, kita harus mengurus Red terlebih dahulu," kata White lalu meninggalkan nya.


Black pun teringat, "Iya, kau benar," katanya lalu berlari menghampiri Red.


Mereka semua mengelilingi Red dan Black membalikkan posisi badannya. Terlihat darahnya masih mengalir keluar, terutama dari kepalanya.


"Apa dia masih hidup?" Tanya Orange.


Black menempelkan kedua jarinya ke leher Red untuk merasakan denyut nadi nya.


"Dia masih hidup, tapi detak jantungnya lemah. Aku akan membawanya ke medbay," kata Black lalu menggendong Red dan berlari ke medbay.


Semua Crewmate juga ikut berlari menyusul nya dari belakang.


"Padahal harusnya hari ini aku selesai membersihkan tempat ini," keluh Cyan yang dijawab tepukan punggung oleh Orange.


Sementara itu didalam vent, monster itu menggeram marah karena tujuannya telah digagalkan oleh para Crewmate.


Sementara itu sesampainya di medbay, luka-luka di tubuh Red langsung diperban dan Red sendiri diperiksa Brown untuk memastikan tidak luka lainnya.


"Ada beberapa tulangnya yang patah, tapi masih bisa diobati. Untung saja kita datang cepat jadi dia masih bisa diobati," kata Brown.


Semua Crewmate bernafas lega. Mereka segera keluar karena masih ada yang harus dilakukan oleh Brown. Mereka menghampiri Green yang sedang duduk di cafetaria sambil mengelus Rugel dipangkuan nya.


Tapi Blue langsung menjauh dan duduk di kursi lain. White dan Black melihatnya lalu menghampiri nya.


"Kenapa kau tidak bersama mereka?" Tanya White.


"Saya masih merasa bersalah, Kapten. Karena saya lah Red jadi seperti ini," jawab Blue tanpa melihat White.


"Ternyata kau bisa merasa bersalah juga," sindir Black membuat Blue terkejut karena tidak menyadari Black ada disitu.


"Tentu saja, aku kan manusia," jawab Blue.


Black mendekati Blue lalu menepuk bahunya, "Aku tidak marah padamu. Justru aku berterima kasih, karena kau jujur jadi kita bisa menemukan Red," katanya.


Blue mengangkat wajahnya dan menatap Black. Dia tidak menyangka orang yang dikiranya sebagai orang yang menyebalkan ternyata bisa baik juga. Akhirnya dia berdiri lalu menghampiri Crewmate lain.


"Hey aku punya ide, bagaimana kalau kita memberikan monster itu sebuah nama," saran Pink.


"Nama? Tapi untuk apa?" Tanya Lime.


"Karena kalau "Monster" menurutku itu kurang tepat," jawab Pink.


"Dan kalau "Alien" juga kurang tepat," balas Cyan.


"Begitu ya? Aku setuju. Tapi nama apa yang akan kita berikan?" Tanya Green.


"Aku tahu, bagaimana kalau "Impostor"?" Saran Yellow.


"Impostor? Apa maksudnya itu?" Tanya Orange.


"Impostor artinya penyamar atau penipu. Itu sesuai dengan monster itu yang bisa meniru wujud Kapten William dari The Skeld 301 yang sudah meninggal," jelas Yellow.


Mereka saling berpandangan lalu menganggukkan kepala. Akhirnya mereka sepakat untuk menamakan monster itu Impostor.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋