Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 48: Tiga Lime?



Malam itu, semua orang sudah terlelap. Kecuali White yang masih bertahan di kursi kemudi. Malam yang sunyi dan sejuk untuk istirahat itu sama sekali tidak membuatnya mengantuk sedikit pun.


"Kau masih disini?" White menoleh dan terlihat Black yang berdiri di pintu dengan mengenakan piyama.


White memicingkan matanya. Dia mulai terasa aneh ketika melihat Black. Mungkin karena selama di Airship, mereka sudah jarang berkomunikasi satu sama lain.


"Iya," jawab White singkat lalu kembali fokus ke depan.


Terdengar langkah kaki Black yang mendekat. Tiba-tiba kedua tangan Black mendarat di bahu White. Membuat orang itu terkejut.


"Kenapa?" Tanya White.


"Bahu mu kaku sekali. Apa kau kurang istirahat akhir-akhir ini?" Black bertanya balik.


"Tumben sekali kau peduli padaku," komentar White.


"Aku bukan peduli padamu, tapi aku peduli pada Brown. Istrimu itu curhat dengan ku tadi dan berhasil membuatku tidak bisa tidur. Bisakah kau tinggalkan kemudi itu malam ini saja? Aku yakin benda itu punya autopilot," balas Black.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapi. Kembalilah ke kamarmu dan minta Brown untuk memijat bahu mu! Ngobrol lah dengannya! Belum punya anak saja sudah tidak peduli dengan istri, apalagi kalau sudah punya," ceramah Black.


"Aku tidak mungkin bisa punya anak," kata White pesimis dengan nada sedih.


"Pasti bisa. Kalau tidak bisa, adopsi saja," saran Black.


"Tapi itu berbeda dengan yang punya sendiri," jawab White.


Black menghela nafas, "Kalau begitu, bicaralah dengan istrimu. Jangan biarkan dia kesepian. Aku tidak suka jadi tempat curhat untuk orang yang sudah menikah."


White terdiam. Dia menatap tangannya yang memegang kendali pesawat sambil merenungkan perkataan Black.


"Huft, baiklah. Aku akan melakukannya. Terima kasih atas nasihatnya, Black," kata White lalu pergi setelah menyalakan autopilot.


"Sama-sama," jawab Black lalu berjalan bersama White dan berpisah di persimpangan.


Black berhenti di depan pintu kamar Lime yang terlihat ada cahaya lampu yang menembus bagian bawah pintu. Dia pun teringat dengan pengakuan Lime saat di security waktu itu.


"Bagaimana dia bisa tahan selama itu?" Gumam Black pada dirinya sendiri.


"Kau sedang apa, Black?" Tanya Lime yang muncul dari depan.


Black terkejut, "Tidak, aku baru saja berbicara dengan White."


"Oh, begitu," kata Lime lalu berhenti di depan Black.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau membiarkan lampu kamarmu menyala sedangkan kau sendiri tidak ada dikamar?" Tanya Black.


Lime menelengkan kepalanya, "Maksudmu?"


"Aku melihat ada cahaya lampu di bawah pintu kamar mu," jawab Black.


Lime menunduk, "Tidak ada."


Black terkejut, "Ada, coba kau lihat di bawah," Black ikut melihat kebawah tapi dia lagi-lagi terkejut ketika sudah tidak ada lagi cahaya lampu.


"Tapi tadi benar-benar ada," bela Black lalu mengangkat kepalanya. Tapi Lime sudah tidak ada lagi didepannya.


"Dia kemana?" Tanya Black sambil celingukan.


"Kau bicara dengan siapa, Black?" Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan terlihat Lime yang melongok keluar.


Black terkejut, "Bagaimana kau bisa didalam kamar?"


"Bagaimana? Tapi aku sudah lama dikamar. Aku terbangun karena mendengar suara mu," jawab Lime.


Seketika wajah Black pucat pasi. Tubuhnya gemetaran dan bulu kuduknya berdiri.


"Uaaahhh!!!" Pekik Black lalu berlari ke kamar Red dan mengetuk pintunya dengan keras.


TOK! TOK! TOK!


"Red! Buka pintunya!" Seru Black panik.


Pintu terbuka lalu Black langsung menghambur masuk dan memeluk Red yang membukakan pintu.


"Kau kenapa?" Tanya Red bingung sekaligus kaget karena pelukan tiba-tiba.


Black tidak menjawab. Dia membenamkan wajahnya ke dada Red dan tubuhnya masih gemetaran. Red memutuskan untuk tidak bertanya dulu dan membawa Black ke ranjangnya. Tidak lupa pintu ditutup.


Red mendudukkan Black ke ranjangnya lalu memberikan air minum dari botolnya.


"Minum dulu," kata Red.


Red duduk di sampingnya dan mengusap punggung Black untuk memberikan perasaan tenang. Perlahan-lahan, Black sudah kembali normal. Dia menoleh kearah Red dan menatap matanya dalam-dalam.


Tangan Black terangkat dan mendarat di pipi Red dengan lembut. Seketika Red teringat dengan kejadian di kitchen saat itu. Rasa geli pun memenuhi rongga dadanya.


"Black, k-kau m-m-mau apa?" Tanya Red gagap sambil menjauhkan tangan Black dari wajahnya.


Tapi Black justru mendekatkan wajahnya ke wajah Red. Sontak Red mundur dan punggungnya menghantam dinding.


"Kau benar-benar Red kan?" Tanya Black.


"Iya, ini aku," jawab Red.


"Benarkah?" Black bertanya lagi.


"Benar," jawab Red singkat, "Sebenarnya kau ini kenapa? Tiba-tiba datang dan main peluk-peluk?"


Black menundukkan kepalanya, "Red, bolehkah malam ini aku tidur di kamarmu?" Pinta Black.


Red mengernyitkan dahinya lalu menatap ranjangnya yang hanya muat satu orang itu.


"Boleh. Kau tidur di ranjang ku. Nanti aku pindah ke lantai pakai kasur," jawab Red lalu berdiri untuk mengambil kasur. Tapi Black memegang lengannya.


"Kita tidur seranjang saja," saran Black lalu menatap mata Red dengan tatapan memelas.


Red terdiam lalu akhirnya mengalah. Malam itu mereka tidur seranjang. Black di dalam dan Red di luar. Red membelakangi Black, tapi Black justru memeluk Red dari belakang dan memendam wajahnya ke leher Red.


Black tertidur pulas, tapi Red kesulitan karena helaan nafas Black yang menyentuh tengkuknya. Dia sangat bingung sekali dengan tingkah Black yang tiba-tiba aneh itu.


Keesokan paginya, mereka berdua berjalan menuju meeting room untuk mengambil task. Black sudah mengganti pakaiannya dan kini berjalan sambil memeluk lengan Red. Membuat temannya itu semakin risih.


Mereka bertemu dengan Lime di engine room yang juga menuju meeting room. Black tiba-tiba berjalan lebih cepat dari Red dan menghampiri Lime.


BUK!


"Aduh!" Black tiba-tiba memukul belakang kepala Lime membuat laki-laki itu kesakitan.


Red terkejut lalu segera menghampiri mereka berdua. Dia tidak mau ada perkelahian.


"Black, kenapa kau tiba-tiba memukul kepalaku?" Tanya Lime kesal sambil memegang belakang kepalanya. Red memegang bahunya untuk menenangkan Lime.


"Kau benar-benar Lime, kan?" Tanya Black.


Lime mengernyitkan dahinya, "Tentu saja ini benar-benar aku," jawabnya lalu menoleh ke arah Red, "Temanmu ini kenapa?"


"Aku tidak tahu, tadi malam dia juga menanyakan hal yang sama," jawab Red.


Black masih menatap Lime, "Kau dimana tadi malam?"


"Aku? Tadi malam aku bermain kartu di kamar Blue hingga tidak sengaja ketiduran. Tadi aku bangun subuh untuk kembali ke kamar," jawab Lime.


"Jadi tadi malam bukan kau ya?" Tanya Black lagi.


"Aku tidak bertemu dengan mu setelah makan malam," jawab Lime.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Black?" Tanya Red.


Black menghela nafas lalu menceritakan kejadian menyeramkan yang dialaminya tadi malam. Sontak Red dan Lime merinding mendengar cerita Black.


"Pantas saja kau sampai gemetaran tadi malam," komentar Red sambil mengusap lengannya.


"Apalagi aku yang bisa melihat mereka," batin Lime.


Mereka bertiga berjalan bersama ke meeting room sambil mengusap lengan masing-masing. Berusaha mengusir perasaan ngeri.


Bersambung


.


.


.


.


Bonus



Dapat ucapan selamat dari mereka berdua. Author pengen buat yang kelelawar, tapi susah bet😔 jadi bikin tanduk aja untuk Black.


Sampai jumpa 👋