
Para Crewmate berkumpul kembali di depan pesawat. Mereka sudah mengumpulkan informasi-informasi yang akan diberitahukan dalam rapat kecil itu.
"Seperti yang kau katakan, Black. Bangunan itu adalah cafetaria. Tidak hanya cafetaria, disana juga ada ruang admin dan office. Lalu ada satu pintu yang menuju ruang bernama specimen room. Itu juga terhubung ke pintu yang ada di laboratorium," jelas Red.
"Kami menemukan laboratorium. Di dekat pintu masuk ruangan itu, ada satu tempat dengan roket dan lubang besar ditengahnya. Di sebelah tempat itu adalah laboratorium. Lalu ada 3 toilet di kanan laboratorium. Tapi 1 toilet sudah rusak. Sepertinya pintu yang kau bicarakan itu adalah pintu yang didekat toilet. Kami tidak masuk ke sana," jelas Blue.
"Kami menemukan electrical. Di sana juga ada ruang security dan O2. O2 di tempat ini memiliki 4 ruang. Ruang pertama adalah pintu masuk yang ada di bawah. Ruang kedua memiliki pohon dan cermin, kurasa itu adalah sumber oksigen ditempat ini. Ruang ketiga tempat pengisian tabung oksigen. Dan yang terakhir adalah pusat air ditempat ini,"jelas Lime.
Mereka manggut-manggut mendengarkan penjelasan Lime. Lalu Red menyadari kalau Black diam saja dari tadi. Dia menepuk pundak temannya itu.
"Kau kenapa?" Tanya Red.
Black tersentak, " Kenapa?"
"Apa kau tidak mendengarkan penjelasan kami barusan?" Tanya Blue dengan wajah cemberut.
"Maaf. Aku tidak mendengarnya," jawab Black.
"Astaga. Sampai berbuih mulut kami memberitahu informasi yang kami dapat," komentar Lime sambil mengusap dada.
Black menggaruk belakang kepalanya, "Maaf."
"Apa kau sakit, Black? Wajah mu terlihat pucat," tanya Brown.
Black menghela nafas resah. Dia merasa dadanya sesak, tangannya menyentuh dadanya berharap sesak itu pergi. Red khawatir pada temannya itu lalu mendekatinya.
"Black, kau bisa duduk dulu di pesawat jika kau merasa tidak enak badan. Biar kami saja yang membersihkan tempat ini," tawar Red sambil merangkul pundak Black.
Black melepaskan rangkulan Red, "Aku tidak apa-apa, Red. Hanya saja, ada sesuatu yang kutemukan tadi dan akan ku beritahu itu pada kalian sekarang juga."
Ekspresi mereka berubah penasaran, "Apa itu?" Tanya Lime.
Black menghela nafas panjang lalu menatap wajah mereka, "Profesor Andromeda sudah tewas," jawab Black.
DEG!
Suasana hening menyelimuti mereka semua. Hanya terdengar deru salju yang turun dari langit. 4 kalimat Black sukses membuat mereka bungkam.
"Darimana kau mengetahui hal itu?" Tanya Brown setelah beberapa saat terdiam.
"Aku menemukan jenazah nya di comunication. Bangunan yang memiliki satelit kecil itu. Tubuhnya sudah membeku karena suhu dingin dan dibelakang kepalanya ada bekas tembakan," jelas Black.
"Lalu bagaimana dengan rekannya?" Tanya Yellow.
"Aku tidak menemukannya di dua bangunan yang ku telusuri. Bagaimana dengan kalian?" Tanya Black.
"Kami juga tidak menemukan tanda-tanda kehidupan atau apalah itu," jawab Lime.
"Satu-satunya tempat yang tersisa hanya specimen room. Hanya tempat itu saja yang belum kita selidiki," sambung Red.
"Ayo kita selidiki tempat itu sekarang juga. Saat ini kita hanya punya 2 kemungkinan. Pertama, rekannya tewas juga. Kedua, Profesor Andromeda dibunuh oleh rekannya ini," kata Black.
Mereka mengangguk lalu segera pergi ke specimen room melalui laboratorium karena tempat itu yang lebih dekat dengan posisi mereka.
Mereka membuka pintu lalu masuk ke dalam ruang berbentuk persegi empat. Tiba-tiba asap mengepul dari segala arah dan memenuhi ruangan kecil itu.
"Ini decontamination," komentar Brown.
"Oh, seperti yang di lorong menuju laboratorium Mira HQ itu," balas Blue.
"Ini agar kita steril saat masuk ke laboratorium. Tapi sepertinya specimen room memiliki fungsi yang tidak kalah penting dengan laboratorium," kata Lime.
Pintu terbuka dan mereka dihadapkan dengan lorong panjang. Mereka merasa suhu di lorong itu lebih hangat daripada yang diluar decontamination.
Mereka terhenti di sebuah jeruji yang ada di tengah lorong. Jeruji itu tepat dibawah kaki mereka dan menembus ke luar.
Red memicingkan matanya, "Apa itu?" Tanya Red berusaha menebak benda merah kekuningan dan menimbulkan suara aneh yang terlihat di balik jeruji itu.
"Itu lava," jawab Lime.
"Pantas saja disini hangat," timpal Blue.
Mereka berjalan lagi dan akhirnya tiba di ruangan yang tidak terlalu besar tapi cukup membuat mereka terpana.
"Jadi ini specimen room?" Tanya Pink lalu masuk diikuti yang lainnya.
Specimen room memiliki ruangan yang tidak terlalu besar. Di dalamnya ada satu meja panjang yang terdapat lima tabung berisi air, dua kotak berwarna putih merah, dan satu meja yang terdapat tempat untuk task start reactor dan unlock manifolds.
Di saat yang lainnya terpana dengan ruangan itu. Hanya Red yang reaksinya berbeda dengan teman-temannya.
"Bukankah ini ruangan yang muncul di kepala ku saat aku di laboratorium lantai 97 saat itu?" Batin Red.
Tubuhnya gemetaran dan mulai berkeringat dingin. Dia mulai bertanya-tanya sekarang. Apakah itu ramalan masa depan? Atau ingatan masa lalunya? Jujur dia cukup percaya dengan teori reinkarnasi.
"Kau kenapa, Red?" Tanya Black ketika menyadari kalau temannya itu terlihat aneh. Yang lainnya pun juga ikut melihat Red.
DUG!
"Akh!" Red memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Red, kau kenapa?" Tanya Black khawatir lalu menghampiri Red.
Red terduduk ke lantai sambil tetap mencengkeram kepalanya yang sakit menusuk-nusuk. Yang lainnya pun juga ikut mendekati Red
Brown memijat puncak kepala Red. Sedangkan Black mengusap punggung Red untuk memberikan perasaan nyaman pada temannya itu. Tidak lama kemudian, sakit kepalanya pun menghilang.
"Sudah baikan?" Tanya Brown lembut.
Red mengangguk disusul dengan helaan nafas lega dari semua orang. Black menepuk-nepuk pundak Red.
"Kau terlihat sering sakit-sakitan akhir-akhir ini, Red," komentar Blue.
"Iya. Ini membuatku teringat dengan pemeriksaan saat di Mira HQ waktu itu," sambung Yellow.
"Lebih tepatnya, ini sudah yang ketiga kalinya. Sakit kepala ini menyerang ku tiga kali dan selalu tiba-tiba muncul," jawab Red setelah merasa tenang.
"Kapan-kapan saja itu?" Tanya Black.
"Saat aku di rumah, itu ketika kita dipulangkan. Saat di Mira HQ dan terakhir disini," jawab Red tanpa memberitahu tentang laboratorium lantai 97.
"Apa kau punya penyakit bawaan?" Tanya Brown.
"Tidak aku sehat."
Kini mereka semua terdiam. Tapi beberapa orang masih menatap Red.
"Red, apa kau menyembunyikan sesuatu?" Tanya Pink.
Mereka semua terkejut lalu menatap Pink. Termasuk Red dengan ekspresi bingungnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Red.
"Saat kita tiba disini tadi, kulihat hanya kau yang berbeda reaksi ketika melihat tempat ini. Aku sulit menjelaskannya, tapi kau seperti sedang berpikir "tempat ini benar-benar ada?" Seperti itu," jelas Pink.
Red terdiam. Dia menundukkan kepalanya karena tidak nyaman ditatap oleh teman-temannya.
"Jika ku beritahu, apa kalian akan percaya?" Tanya Red.
Pertanyaan Red membuat Black dan Lime merasa deja vu. Mereka berdua saling bertatapan.
"Kau bisa percaya pada kami," jawab Black diikuti anggukan kepala dari yang lainnya.
Red menghela nafas, "Saat aku mendapatkan sakit kepala ini, aku juga mendapatkan sebuah penglihatan aneh. Aku tidak tahu apakah ini penglihatan masa depan atau ingatan masa laluku."
"Bisa kau jelaskan itu dengan rinci?" Pinta Pink.
"Di salah satu penglihatan ku itu. Aku mendapati diriku berada di ruangan ini bersama dua orang Ilmuwan. Kami berdiri di seberang meja itu dan mereka sedang membicarakan makhluk yang ada di dalam tabung itu," jelas Red.
Mereka serentak melihat makhluk hitam yang ada di kelima tabung itu.
"Kalau penglihatan mu yang satu lagi bagaimana?" Tanya Yellow.
"Kalau yang itu aku sedang berada di laboratorium. Barusan aku sadar kalau itu adalah laboratorium Polus. Aku sedang berdiri di atas tempat scan dan banyak orang berpakaian Ilmuwan mengelilingi ku. Wajah mereka juga menunjukkan ekspresi ketakutan ketika melihat ku."
"Kurasa itu adalah tanda kalau Mira HQ akan mengirimkan lebih banyak lagi Ilmuwan kesini," tebak Lime.
"Atau tanda kalau sebelumnya Mira HQ sudah pernah mengirimkan Ilmuwan kesini," balas Black lalu berdiri.
"Maksudmu Crewmate The Skeld 301? Tapi mereka kan hanya punya 2 Ilmuwan," kata Brown.
"Tapi ini juga tidak bisa menjelaskan tentang ekspresi para Ilmuwan yang ketakutan," sambung Yellow.
Setelah agak lama berdebat, mereka pun memutuskan untuk keluar dari tempat itu sambil terus memikirkan pernyataan Red.
Black berjalan di belakang mereka. Dia menatap punggung Red. Dia tahu apa maksud dari perkataan Red itu.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋