
Mereka berempat menghabiskan waktu bersama hingga malam hari. Pukul 9 malam, mereka pun memutuskan untuk pulang.
Blue sudah tertidur sehingga terpaksa Lime menggendongnya. Dia akan menginap di rumah Lime untuk satu malam ini. Sedangkan Black mengantarkan Red pulang ke rumahnya. Atau lebih tepatnya dia akan menginap di sana.
Selama di perjalanan pulang, Red diam saja dan memandang ke luar jendela. Sedangkan Black asyik bermain game di HP nya. Tiba-tiba, kepala Red mendarat di bahu Black.
Ternyata laki-laki itu tertidur karena kelelahan. Black tersenyum dan membiarkan temannya itu menggunakan bahu nya untuk tidur.
Mereka akhirnya sampai di halte. Black segera membangunkan Red dengan mengguncang tubuhnya.
"Red, ayo bangun. Kita sudah sampai," kata Black sambil mengguncang Red pelan.
Red terbangun sambil mengusap matanya, "Benarkah?" Dia melihat ke luar jendela lalu menatap Black dan tersadar, "Astaga! Maafkan aku Black, aku tidak sengaja tertidur dan memakai bahu mu," Red benar-benar merasa bersalah sekarang.
Black terkekeh, "Tidak apa-apa."
Mereka segera turun sambil membawa belanjaan. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka berjalan dengan diam.
Ketika sudah hampir dekat dengan rumah Red, mereka berdua dibingungkan dengan keramaian yang ada di rumah Flo dan sampai merambat ke rumahnya juga. Di sana ada mobil polisi dan ambulans yang membuat mereka berfirasat buruk.
Black mendekati salah seorang polisi, "Permisi, ada keramaian apa ini?" Tanya Black dengan sopan.
Polisi itu menoleh, "Maaf, sedang terjadi sesuatu disini. Mohon anda putar balik," kata polisi itu.
Red mendekat, "Tapi saya tinggal disini," Red menunjukkan rumahnya.
"Anda tinggal disini? Apa anda mengenal pemilik rumah ini?" Tanya polisi itu sambil menunjuk rumah Flo.
Red mengangguk. Lalu polisi itu membawa Red ke dalam mobil ambulans. Black tidak diijinkan masuk jadi dia menunggu di samping mobil.
Polisi itu membuka kain yang menutupi sesosok jenazah. Red terkejut bukan main ketika melihat wajah dari orang yang dia kenal.
"Flo?" Red benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Jadi anda mengenal wanita ini?" Polisi itu mencoba menginterogasi Red.
"Tentu saja. Kami sangat dekat karena dia selalu membantu menjaga tanaman saya ketika saya pergi," jawab Red.
Polisi itu mulai menanyai Red pertanyaan-pertanyaan biasa sampai ke pertanyaan pribadi. Red menjawab dengan jujur, terkecuali untuk pertanyaan tempat kerjanya sekarang.
"Apakah selama ini almarhumah mempunyai musuh?"
"Tidak saya rasa. Almarhumah orang yang baik dan ramah, sangat tidak mungkin jika memiliki musuh."
Polisi itu mengangguk mengerti, "Baiklah, terima kasih atas waktunya," kata polisi itu.
Red segera keluar lalu menghampiri Black yang masih menunggunya. Sudah tidak ada lagi kerumunan karena mereka semua sudah dibubarkan. Ambulans itupun pergi ke rumah sakit untuk mengautopsi jenazah Flo. Mobil polisi juga sudah pergi, menyisakan garis polisi yang mengelilingi rumah Flo.
"Jadi bagaimana hasilnya?" Tanya Black sambil ikut berjalan ke rumah Red.
"Flo dibunuh. Aku sangat yakin itu," jawab Red lalu berhenti di depan rumahnya dan merogoh sakunya untuk mencari kuncinya.
Tiba-tiba Red terdiam, dia menyadari kalau pintunya sudah tidak terkunci lagi. Dia langsung membuka pintu dan mendapati rumahnya dalam keadaan berantakan.
"Kenapa bisa begini?" Tanya Red lalu masuk sambil melihat sekelilingnya.
Black menaruh belanjaan Red ke meja tamu dan ikut memandang sekeliling.
"Red, coba kau cek. Apakah ada barang mu yang hilang," saran Black.
Red segera memeriksa setiap sudut dan ruangan lalu bernafas lega, "Tidak ada di hilang."
"Entahlah. Kurasa bukan harta ku yang dia cari. Kemungkinan ini orang yang sama yang sudah membunuh Flo," balas Red.
Black teringat sesuatu. Dia segera keluar lalu mendekati rumah Flo, tapi masih diluar garis polisi. Red pun ikut keluar dan mendekatinya.
"Kenapa kau keluar?" Tanya Red.
Black tidak menjawab dan justru menyalakan senter HP nya lalu menyoroti darah yang belum dibersihkan oleh petugas. Depan dan samping rumah Red tidak memiliki penghuni, jadi tidak ada yang melihat mereka berdua.
"Red, apa kau teringat sesuatu ketika melihat ini?" Tanya Black.
Red mulai membongkar ingatannya untuk mencari sesuatu yang berhubungan dengan pertanyaan Black. Hingga akhirnya ingatannya mendarat ke kejadian saat mereka menemukan mayat Fred.
"Ini persis seperti pola darah Fred yang ada di dinding," jawab Red.
Black menoleh lalu menatap Red tepat di matanya, "Red, dimana kau melihat luka di tubuh Flo yang membuatmu menyimpulkan dia dibunuh?" Tanya nya lagi.
Mata Red terbelalak, "Di keningnya."
Keheningan menyelimuti mereka berdua. Black langsung menyambar tangan Red dan membawanya masuk ke rumah lalu menutup pintu. Red duduk, sedangkan Black mondar-mandir.
"Ini gawat, Red. Korban dari Impostor bertambah dan sekarang bukan Crewmate korbannya," kata Black resah.
"Kau benar. Aku adalah sasarannya. Tapi Flo adalah korban salah tempat dan waktu," kata Red pula.
"Aku harus segera menghubungi White dan memberitahu semua ini," Black mulai menghubungi White.
Red terdiam di sofa dengan syok. Dia benar-benar tidak menyangka Impostor itu sampai membunuh orang yang tidak ada hubungannya dengan kejadian ini.
Panggilan terhubung ke White. Mulai terdengar percakapan antara Black dan White. Black menyalakan speaker agar Red juga bisa mendengar. Red tetap diam di sofa.
Lama kelamaan, percakapan mereka semakin memanas. Black akhirnya menutup pembicaraan lalu menatap Red yang juga menatapnya.
"Ini tidak akan ada habisnya," kata Red.
"Kau benar. Lebih baik kita rapikan dulu rumah mu ini. Besok aku akan kembali ke Mira HQ untuk mendiskusikan ini lebih lanjut dengan White," kata Black pula.
Red berdiri lalu mulai merapikan rumahnya, dengan dibantu oleh Black. Mereka selesai bersih-bersih rumah tepat setelah waktu menunjukkan pukul 11 malam.
Mereka mandi bergantian dan Black meminjam pakaian Red untuk satu malam itu saja. Lalu mereka segera tidur, Red di kamarnya dan Black di kamar tamu. Black langsung tertidur, tapi tidak dengan Red yang baru tidur saat tengah malam.
Keesokan paginya, mereka bangun saat matahari belum nampak. Red harus mengantar Black sebelum ada yang melihat mereka. Mereka sampai di tempat yang merupakan tempat Red dijemput oleh Vio dan Liu.
"Red, kau harus ingat ini. Jangan katakan siapa pelaku dari pembunuhan Flo. Katakan saja kalau kau tidak tahu apa-apa. Tidak ada yang boleh tahu hal ini selain kita bertiga," pesan Black dengan serius.
"Tenang saja, kau bisa percaya padaku," jawab Red sambil mengangkat tangan kanannya tanda perjanjian.
Black mengangguk lalu masuk ke dalam hutan dengan berlari. Red sendiri segera mengawali harinya dengan joging. Dia sengaja berpakaian olahraga agar tidak ada yang curiga saat dia pulang nanti.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋