Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 6: Keberangkatan



"Kenapa anda tidak memberitahu bahwa anda lah yang mengajukan saya untuk misi ini?" Tanya Red setelah dia berpisah dengan Blue dan penjaganya.


"Maaf tapi kau tidak bertanya," jawab pak Junaidi terkekeh.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi bukankah anda bilang pak Leon yang memindahkan saya ke sini?"


"Leon bukan orang yang mengurus Mira HQ."


"Eh? Kalau begitu siapa?"


"Di tempat ini ada 2 orang lagi selain Leon yang mengurus beberapa bidang. Jika di ibaratkan, itu seperti sekolah dengan kepala sekolah dan para guru mata pelajaran. Para guru itu akan bertanggung jawab pada bidang mereka masing-masing," jelas pak Junaidi.


"Jika pak Leon yang bertanggung jawab atas para astronot, lalu yang dua lainnya bertanggung jawab atas apa?" Tanya Red.


"Para ilmuwan dan keamanan," jawab pak Junaidi, "Beberapa dari orang-orang yang ada di sini tidak memiliki tempat tinggal. Jadi dengan adanya ketiga pengurus ini, hidup mereka akan terjamin."


Red terdiam lalu memperhatikan seluruh tempat itu dengan seksama, "Orang itu pasti sangat kaya," katanya.


"Tentu saja."


"Tapi kenapa orang itu membuat Mira HQ untuk tempat penelitian? Tempat ini sangat luas, mungkin lebih cocok untuk hotel atau yang lain."


"Karena dia sangat peduli dengan kondisi bumi saat ini, jadi para ilmuwan yang ada di sini direkrut untuk memperbaiki bumi. Sedangkan yang astronot, dia juga merupakan salah satu orang yang mendukung ide planet baru," jelas pak Junaidi sambil berusaha membunuh nyamuk yang terbang didekat telinganya.


Mereka tidak berbicara lagi setelah itu hingga Red teringat sesuatu.


"Oh iya Black meminta saya datang ke kantornya sekarang tapi saya tidak tahu kantornya di mana, bisakah anda mengantar saya?" Pinta Red.


"Bukankah dia sudah memberitahumu lokasinya?"


"Iya, tapi saya tidak tahu dimana tempat-tempat yang dikatakannya. Memangnya dimana ruang loker dan medbay itu? Yang ada saya akan tersesat di sini," kata Red.


Pak Junaidi tertawa geli, "Hahaha, bukankah kau sudah melewati ruangan itu bersama Nevi tadi?"


"Nevi sama sekali tidak berbicara, jadi saya tidak tahu."


"Baiklah akan ku antar kau."


Mereka berjalan kembali melewati lorong kaca dan berhenti di ujungnya.


"Akan ku beritahu. Yang sebelah kanan ku ini adalah ruang loker. Lalu yang didepan yang ruangannya dekat belokan tajam itu adalah medbay," pak Junaidi berhenti lalu memandang Red, "Sekarang kau tahu kan di mana kantor Black?"


Red terkejut lalu melihat ke ruangan yang dindingnya dijadikan sandaran oleh pak Junaidi, "Itu kantornya."



(keterangan: tanda panah hitam arah ke kantor Black, kuning ke medbay (lebih tepatnya ruangannya dekat situ) dan biru ke loker.)


Mereka berdiri di depan ruangan itu melihat Black yang asyik bermain game di komputernya.


"Bermain game saat bekerja lagi, Black?" Tanya pak Junaidi.


Black terkejut lalu mem pause gamenya, "Sudah berapa lama kalian di sana?"


"Tidak lama juga. Ngomong-ngomong, aku membawa tamu mu," jawab pak Junaidi sambil menunjuk Red.


"Oh terima kasih."


"Ya, ku titipkan dia padamu. Aku akan bertugas lagi, sampai jumpa Red," kata pak Junaidi lalu pergi.


Red masuk ke ruangan itu. Sementara itu, Black mematikan gamenya dan membuka doorlog di komputernya. Doorlog adalah sensor yang terpasang di lantai. Sensornya akan menyala jika ada yang melewatinya dan fungsinya sama seperti cctv.


"Duduklah dulu," kata Black sambil memberikan sebuah kursi pada Red.


Red duduk dan mulai memperhatikan ruangan itu. Ruangan itu dialasi dua karpet hijau yang terpisah, tiga meja dan sebuah lemari besar.


"Apa kau satu-satunya petugas komunikasi dan informasi di sini, Black?" Tanya Red.


"Tidak, kami ada banyak mungkin sekitar ratusan," jawab Black.


"Lalu kenapa kau punya kantor sendiri. Kau bukan bosnya kan?"


"Memang bukan, hanya saja aku lebih suka sendiri."


"Oh ya Black, aku ingin mengatakan sesuatu," Black menoleh, "Aku minta maaf tentang yang tadi di cafe."


"Yang mana?"


"Yang aku memaksa mu untuk bercerita. Padahal kau tidak mau tapi aku malah memaksamu."


"Oh itu tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak marah," kata Black santai membuat Red lega.


"Jadi bagaimana menurutmu dengan misi itu?"


"Menarik."


"Itu bagus, kukira kau akan takut lalu menolak."


"Sekalipun takut aku tidak akan menolak," jawab Red dengan penuh percaya diri.


"Ngomong-ngomong kau tidak akan sendiri," kata Black mengalihkan pembicaraan.


"Ya aku tidak sendiri. Ada satu orang yang dari tempat yang sama denganku jadi aku tidak akan sendiri," jawab Red dengan nada mengejek. Black terkekeh.


"Bukan itu tapi ini," kata Black sambil memberikan sebuah foto berisi seorang pria berambut putih. (Bukan uban ya guys).


"Siapa ini?"


"Itu White, temanku. Dia seorang Kapten dan dia akan menjadi Kapten mu nanti. Aku sudah memberitahu nya tentangmu jadi kau tidak perlu merasa asing padanya."


"Kau tidak perlu sampai harus melakukan ini," kata Red merasa tidak nyaman.


"Tentu saja harus kau kan temanku," jawab Black sambil tersenyum menatap Red. Red pun tersenyum juga dan mereka mengobrol banyak saat itu.


"Sepertinya aku harus memaksa atasan," batin Black.


Keesokan harinya, setelah Red selesai berkemas dan menyiapkan barang yang akan dibawanya. Liu dan Vio datang lagi. Mereka seperti biasa mengantar Red ke Mira HQ. Kali ini Mira HQ kelihatan lebih ramai dari biasanya. Itu membuat Red bingung.


"Hey Red kesini!" Panggil Black dari keramaian.


Red menoleh dan berlari menghampiri Black. Agak sulit karena kerumunan ini menghambatnya.


"Kenapa disini ramai sekali?" Tanya Red.


"Tentu saja karena kita akan pergi," jawab Black.


"Kita? Bukankah kau tidak pergi?"


"Hehehe..."


Black cengengesan. Dari belakang Black, muncul pria berambut putih seperti yang ada di foto.


"Jadi ini yang namanya Red?" Tanyanya pada Black. Black hanya mengangguk.


"Nah mulai sekarang Red, aku adalah Kapten mu. Mohon kerjasama nya," kata White lalu berjabat tangan dengan Red.


Pak Leon berdiri di sebuah podium, berpidato di atas sana tentang misi tersebut.


"Di sini akan ku perkenalkan pada kalian semua orang-orang terpilih untuk misi ini," kata pak Leon lalu melihat ke arah White.


"Ayo naik," kata White lalu pergi ke podium.


"Eh?" Red bingung tapi Black menarik tangannya dan mengikuti White.


Selain mereka bertiga, masih ada beberapa orang lagi termasuk Blue yang ikut naik ke podium. Mereka berdiri berjejer. White berdiri di samping pak Leon. Mereka berdua saling berhadapan.


"Dengan ini, kau ku angkat menjadi Kapten dari kru The Skeld 385. Pimpin lah kru ini untuk misi itu dan pulanglah dengan selamat," kata pak Leon lalu berjabat tangan dengan White.


Semua orang bertepuk tangan. Mereka pergi ke pesawat yang telah disediakan dan semua orang mengikuti mereka.


"Kembali dengan selamat ya!"


"Semoga beruntung!"


Seru mereka semua. Telinga Red mulai berdenging karena seruan itu. Tapi dia terus berjalan mengikuti para kru barunya.


Pintu perlahan-lahan tertutup dan pesawat terbang rendah lalu meluncur ke atas. Semua orang yang ada di sana melambai-lambai, melepas kepergian kru The Skeld 385.


Pesawat sudah menembus atmosfer. Guncangan nya sudah berkurang. Pesawat sedang berada di luar angkasa saat itu.


Red masih duduk di kursinya lalu melihat ke arah Black yang disampingnya, "Jadi kau benar-benar ikut?"


"Ah iya," jawab Black sambil tersenyum lebar.


"Tapi bagaimana caranya?"


"Ada lah pokoknya," jawab Black lalu kembali melihat ke depan.


Red memperbaiki letak topi Fez yang dikenakan nya. Dia memandang semua orang yang ada di sana. Semuanya begitu asing. Terlihat Blue duduk di samping pria yang memakai topi terbalik. Dia menatap Red dengan sinis.


"Hisss!" Desis Red lalu memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dengan Black. Tapi dia terkejut karena ada wanita yang duduk di sampingnya tanpa sepengetahuannya.


"Astaga," pekik Red lalu lompat dari kursinya dan terduduk di lantai. Black terkejut lalu melihat Red yang duduk di dekat kakinya.


"Kau kenapa?" Tanya Black bingung.


"Pfft hahaha, pengecut sekali kau Red. Masa hanya begitu sampai jatuh hahaha," ejek Blue sambil tertawa dengan orang yang disampingnya.


"Cih diam lah," kata Red lalu berdiri.


"Maaf membuatmu terkejut," kata wanita itu dengan menyesal.


"Tidak apa-apa," kata Red ramah.


wanita itu mengenakan jepit rambut bunga di kepalanya. Dia sangat cantik, itu membuat Red gugup.


"Ada apa ini?" Black bertanya malas lalu menarik tangan Red agar kembali duduk disampingnya.


"Sudah cukup basa-basi nya. Pink kembalilah ke tempat duduk mu!" Kata Black dengan sedikit kesal.


"Wah kau cemburu ya Black?" Goda wanita lain.


"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka dia didekat kalian," jawab Black sambil cemberut.


"Maaf," kata Red merasa tidak enak dengan sikap Black.


"Tidak apa-apa," jawab wanita yang bernama Pink itu.


"Kita hampir sampai," kata White dari ruang kemudi.


Red berdiri di dekat White. Dia melihat pesawat yang begitu besar dan tetap diam di orbitnya. Blue berdiri di belakang Red bersama beberapa orang lainnya.


Saat sudah dekat, pintu belakang pesawat itu terbuka dan mereka masuk melalui pintu itu. Setelah mereka masuk, pintu perlahan-lahan turun dan terlihat dua orang. Satu wanita dan satu pria berdiri menyambut mereka.


"Selamat datang di The Skeld," sambut wanita itu dengan wajah serius.


Red menelan ludah. Di sinilah dia akan mulai.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋