
Setelah keluar dari lift, Red langsung berlari menuju kantor Black. Selama berlari, dia beberapa kali hampir menabrak orang-orang yang ada di jalan.
"Hati-hati nak!"
"Jangan lari-lari!"
"Perhatikan langkah mu!"
Tegur setiap orang yang hampir di tabrak oleh Red. Dan sudah beberapa kali juga Red meminta maaf karena ulahnya sendiri. Dia tidak sabar untuk memberitahu hal yang baru diketahuinya tadi.
"Black!" Panggil Red begitu sampai di comunication.
Black yang asyik menonton sebuah video di ponselnya seketika terkejut lalu mematikan ponselnya dan kembali fokus ke komputer. Red menyadari hal itu.
"Apa yang sedang kau tonton, Black?" Tanya Red curiga lalu mendekati Black.
"Bukan apa-apa, hanya video edukasi biasa," jawab Black gugup.
"Edukasi biasa atau tutorial membuat anak?" Tanya Red lagi sambil tersenyum licik.
Wajah Black memerah, "Heh! Jangan sembarangan. Seolah-olah kau tidak pernah menonton."
"Aku pernah, tapi tidak sampai saat kerja juga. Untung aku yang datang, kalau orang lain? Tamatlah riwayat mu," jawab Red.
Black melirik ke atas untuk mengingat, "Kenapa rasanya seperti mengenal kalimat ini? Ah mungkin perasaan ku saja."
"Sudahlah, kenapa kau kemari? Datang-datang lalu teriak di pintu. Sopan kah begitu?" Tanya Black sambil menatap komputer.
Red pun teringat akan tujuannya ke kantor Black, "Wah Black, aku mau mengatakan sesuatu. Ini berhubungan dengan Impostor," kata Red dengan semangat lalu duduk di samping Black.
Black menoleh, "Apa itu? Apa ada sesuatu yang baru saja kau temukan?"
Red mengangguk lalu menceritakan pengalamannya saat di laboratorium lantai 97. Tapi dia tidak menceritakan tentang bayangan yang didapat nya disana.
"Kita sebelumnya pernah mengatakan bahwa makhluk hitam yang didalam tabung itu adalah Impostor. Makhluk itu bisa membelah diri, yang artinya Impostor bisa membelah diri," jelas Red.
Black mengusap dagunya, "Kedengarannya sangat masuk akal. Baiklah, akan ku beritahu ini kepada White."
White yang saat itu sedang bermesraan dengan Brown dibuat kaget dengan panggilan dari Black.
"Anak ini mengganggu sekali," gerutu White.
"Angkat saja, mungkin ada sesuatu yang penting ingin dikatakannya," saran Brown.
White mengangkat panggilan itu. Black langsung memberitahukan hal yang dikatakan oleh Red kepada White. Itu membuat White tertarik.
"Jadi kalau ini dihubungkan dengan kejadian tetangga Red, ini bisa sangat masuk akal. Impostor membelah diri menjadi dua. Tubuh aslinya berbaur dengan kehidupan kalian, tapi belahannya sedang membunuh," kata White.
"Aku juga berpikir begitu," jawab Black diseberang.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya Black," kata White.
"Sama-sama," jawab Black lalu panggilan di akhiri. White menatap Brown yang disampingnya.
"Berarti benar kan ada kemampuan Impostor yang tidak kita ketahui?" Tanya Brown memastikan.
"Itu benar. Masih banyak dan harus kita korek satu persatu," jawab White.
Sementara itu, Black selesai berbicara dengan White lalu menatap Red, "Ngomong-ngomong Red, bagaimana kau bisa sampai ke laboratorium lantai 97?"
"Aku sedang berjalan-jalan lalu tidak sengaja menemukan tempat itu. Karena penasaran, jadi aku masuk," jawab Red.
"Apa tidak ada yang melarang mu?"
"Tempat itu kosong."
"Sudah lama sekali aku ingin masuk ke tempat itu, tapi selalu dihadang," kata Black sambil melamun.
"Kau tidak punya ijin," jawab Red singkat.
"Benar. Tapi tempat itu sangat mencurigakan dibandingkan dengan laboratorium yang lainnya. Aku sangat senang karena kau berhasil masuk dan melihat isinya," kata Black lalu menepuk bahu Red dengan bangga.
Red beranjak lalu berpamitan dengan Black untuk pergi ke kamarnya. Mereka berpisah saat itu juga. Setelah Red pergi, Black tidak melanjutkan tontonan nya barusan. Melainkan lanjut kerja tapi dengan pikiran melalang buana.
"Tapi bagaimana caranya Impostor bisa membelah diri sampai sebanyak itu?" Gumam Black pada dirinya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu yang membuatnya tersenyum, "Ya ampun Red. Kau ini ceroboh sekali."
Dari cerita Red, dikatakan bahwa dia melihat banyak sekali tabung berisi Impostor. Tapi jika Ilmuwan langsung tahu kalau makhluk itu bisa membelah diri, harusnya cukup satu saja untuk mengetahuinya dan pasti tidak sebanyak yang dikatakan Red.
Black tersenyum sinis, "Benar-benar bukan tempat yang cocok untuk mengabdi dengan setia," katanya pada dirinya sendiri.
Sementara itu...
White langsung menghadap Pak Leon setelah menyelesaikan kegiatannya dengan Brown.
"Kenapa anda memanggil saya?" Tanya White. Saat ini mereka berdua saja di kantor pak Leon.
"Kita tidak perlu terlalu formal, Kapten. Kau lebih tua dari ku jadi panggil nama saja," kata pak Leon sopan.
Mereka duduk di sofa. White meminum air yang disajikan lalu meletakkan gelas kaca yang sudah kosong itu di meja.
"Jadi kenapa kau memanggilku?" Tanya White lagi.
"Ini berhubungan dengan tempat kerja yang baru," jawab pak Leon.
"Tempat kerja baru? Apa kami akan dipindahkan?" White bingung.
"Tidak bukan itu. Lebih tepatnya babak baru untuk melawan Impostor."
Tiba-tiba perkataan Black kembali muncul di ingatan White. Perasaan gelisah dan takut memenuhi rongga dada White, "Apa kau ingin mengirim kami ke Polus?" White langsung saja mencetuskan isi kepalanya.
Pak Leon bisa menangkap raut gelisah di wajah orang tua itu, "Tidak bukan itu."
Perasaan White sedikit tenang, "Jadi apa?"
Pak Leon menyodorkan sebuah foto pesawat yang sangat besar kepada White. White terkejut karena tahu pesawat itu.
"Apa rencana mu terhadap kami dan pesawat ini?"
"Ini adalah Airship. Pesawat yang kami temukan di Padang gurun sekitar seminggu yang lalu. Kami sudah selesai memperbaiki dan membersihkannya. Rencananya pesawat ini akan jadi pesawat pengangkut korban bencana alam," jelas pak Leon.
"Apa kau ingin aku mengendarai pesawat ini?" Tebak White.
"Lebih tepatnya kalian. Kalian akan jadi tim yang membawa korban-korban itu kemari."
"Tapi diantara kami masih ada Impostor, kau pasti masih ingat itu kan?" White memastikan.
"Benar. Tapi ini juga untuk mengisolasi kalian dari Mira HQ dan dunia luar. Jarak tempat itu sangat jauh yang kemungkinan kalian akan menghabiskan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan di pesawat itu."
"Kenapa kau tiba-tiba berencana seperti itu?"
"Karena peristiwa yang menimpa tetangga Red itu sudah terdengar sampai disini, jadi aku harus memutuskan tindakan yang akan diberikan kepada kalian," jawab pak Leon.
"Jadi apa hubungannya dengan kami?" White berusaha tenang meski dia sendiri juga kaget.
"Kalian pasti lupa kalau gelang pelacak itu juga bisa mendengar suara. Aku mendengar percakapan kalian."
White menghela nafas lalu melihat pergelangan tangan kirinya, "Sepertinya aku terlalu lengah."
Pak Leon hanya tersenyum, sedangkan White sudah pasrah, "Jadi apa rencana mu terhadap kami untuk dilakukan saat di Airship?"
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋