Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 62: Riot



"Black! Kita tidak bisa seperti ini terus. Mereka semakin banyak!" Seru Red sambil tetap memotong tentakel-tentakel itu.


Black tidak menjawab. Dia juga sebenarnya memikirkan hal yang sama. Sudah setengah jam mereka seperti ini. Tenaga mereka perlahan-lahan terkuras.


Monster-monster itu hanya diam di tempat dan terus memperhatikan mereka berdua. Sepertinya mereka sengaja memperbanyak jumlah tentakel itu untuk melihat seberapa lama mereka berdua bisa bertahan.


Black mulai frustasi, "Ugh, ARRGGHHHH!!!" Black mengerang keras lalu berlari ke depan sambil memotong tentakel-tentakel yang menghalangi jalannya dengan cepat.


Setelah cukup jauh berlari, Black pun rubuh karena kelelahan.


"Black! Kau bodoh, apa yang kau lakukan?!" Seru Red panik lalu berusaha menghampiri Black. Tapi tentakel-tentakel itu membuat gerakannya terhambat.


Sementara itu, dua tentakel bergerak cepat hendak menyerang Black yang sudah tidak mampu lagi mengangkat pisaunya. Tapi tiba-tiba...


DUAR!


Red, Black, dan monster-monster itu terkejut melihat bola api yang muncul lalu meledakkan kumpulan tentakel yang hendak menyerang Black. Bahkan tentakel yang awalnya bergerak liar juga ikut berhenti ketika melihat ledakan itu.


Mereka semua menoleh ke belakang dan melihat Lime yang memegang sebuah senjata besar di bahunya. Terdapat kepulan asap dari lubang senjata nya itu.


"Maaf membuat kalian menunggu," kata Lime. Lalu dia mengeluarkan pistol dari sakunya dan melemparkannya ke arah Red.


Red menangkap pistol itu lalu menembak tentakel yang masih melongo karena ledakan. Suara tembakan Red menyadarkan para Impostor.


Mereka semua menggeliat marah dan seketika itu juga, beberapa Impostor berukuran besar muncul dan menghampiri ketiga Crewmate itu.


Lime menarik Black ke belakangnya. Red pun bergabung dengan mereka berdua dan kini mereka saling membelakangi satu sama lain.


Black berdiri, "Bagaimana dengan Brown?"


"Dia masih di O2. Dia ingin kita meledakkan tempat ini, apa kau setuju?" Tanya Lime sambil terus menembak Impostor yang mendekat.


"Aku setuju, tapi bagaimana caranya?" Black bertanya balik.


"Kita bisa menggunakan dua menara energi yang di dekat pesawat kita itu. Dua menara itu ibaratnya seperti reactor di The Skeld," jawab Lime.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo ledakkan tempat ini," ajak Black.


Lalu mereka bertiga pergi ke storage untuk mengambil peralatan. Sementara itu di O2, Brown dan Rugel memotong tentakel-tentakel yang berhasil masuk. Dia ingin menunjukkan kalau dia bisa melindungi dirinya sendiri.


Mereka bertiga tiba di depan storage, tapi tiba-tiba muncul Impostor berukuran besar yang menghadang mereka. Ukurannya sama dengan yang mereka lawan saat hendak menyelamatkan Red waktu itu.


Tanpa basa-basi, Lime langsung menembak Impostor itu ke arah kepalanya sampai hancur. Impostor itu pun rubuh. Black mengangkat tubuhnya lalu melemparkannya ke kumpulan tentakel agar tidak menghalangi jalan.


Lime masuk ke dalam storage dan mengambil beberapa benda lalu keluar. Kali ini tujuan mereka adalah menara yang di dekat electrical.


Tapi dalam perjalanan, senjata Lime kehabisan peluru sehingga dia membuangnya dan beralih ke pisau dan pistol.


Mereka tiba di dekat menara itu. Lime langsung naik, sedangkan Black dan Red berjaga di depan menara. Ketika sedang naik, Lime melihat ke bawah dan terkejut melihat begitu banyak tentakel.


Tapi Lime tidak mau membuang-buang waktu dan mulai melakukan kegiatannya. Beberapa benda yang diambilnya dari storage, dibagi lalu dirakit.


Setelah yang di menara itu selesai, Lime melanjutkan dengan menara yang satunya lagi. Setelah selesai, dia berkumpul lagi bersama dengan Red dan Black.


"Kapan pesawat bantuan itu akan tiba?" Tanya Lime tidak sabar.


"Aku tidak tahu," jawab Black jujur.


"Black, kami sudah tiba," sebuah suara muncul di headphone Black.


Black terkejut lalu mengangkat kepalanya. Terlihat pesawat The Skeld yang terbang cukup dekat dengan Polus. Lime dan Red juga ikut melihat ke atas.


Sementara itu di The Skeld, salah satu kru menyambungkan sambungan komunikasi ke navigation agar Kaptennya berbicara langsung dengan Black.


"Baik, Kapten," jawab Black lalu mematikan sambungan komunikasi, "Sekarang kita harus menjemput Brown dari O2."


"Siapa yang akan kita kirim ke sana?" Tanya kru yang memegang kendali pesawat.


"Kita akan mengirim Tan ke sana," jawab Gray.


"Baik," jawab Kru itu lalu menekan beberapa tombol untuk memanggil Tan.


Tapi tiba-tiba, Gray membelokkan pesawat itu kesamping. Tapi karena caranya salah, pesawat itu juga ikut miring sehingga barang-barang yang ada di dalam pesawat itu mulai bergeser.


Kru itu segera mengambil kendali dan mengembalikan pesawat ke posisi semula. Lalu dia menatap Gray dengan geram.


"Apa yang Kapten lakukan?!" Serunya dengan marah. Meski seorang bawahan, dia sangat tidak suka jika ada yang mengambil kendali pesawat tanpa tahu bagaimana caranya mengemudi.


Tapi Gray tidak menjawab. Dia justru menunjuk ke depan dengan wajah terkejut, "Lihat itu!"


GRRRAAAAAAA...!!!


Black, Lime dan Red terkejut. Mereka hendak pergi menjemput Brown, tapi mereka dikejutkan oleh auman yang sangat keras. Bukan hanya mereka, bahkan tentakel dan Impostor yang sebelumnya bergerak liar juga berhenti ketika mendengar auman itu.


Mereka semua melihat ke atas yang merupakan sumber auman itu. Ketiga Crewmate itu terkejut dengan apa yang mereka lihat.


"Apa itu?!" Tanya Lime terkejut.


"Riot," mereka bertiga terkejut melihat Pink sudah berada di atap bangunan sambil menatap ke atas.


"Siapa Riot?" Tanya Black sambil menatap Pink dengan tajam.


Pink balas menatap Black lalu tersenyum,"Penguasa galaksi."


Sementara itu di The Skeld, dua orang kru datang ke navigation. Yang satu pria dan satunya lagi wanita.


"Ada apa ini?" Tanya salah satu dari mereka. Tapi mereka juga ikut terdiam ketika melihat di depan.


Kru yang memegang kendali pesawat itu mulai berbicara dengan terbata-bata, "Bu... Bukankah se... sebelumnya i..itu..." Gray menepuk punggungnya, "Itu masih utuh?"


Gray setuju dengan ucapan kru itu. Sebelumnya agak jauh di depan mereka ada planet berwarna biru. Tapi kini planet itu sudah hancur dan terbelah.


"Sebelumnya aku melihat sesuatu mendekati pesawat kita dari belakang. Itu lah kenapa aku membelokkan pesawat ini, tapi aku tidak menyangka benda itu bisa menghancurkan sebuah planet," jelas Gray.


"Semuanya, lihat itu!" Seru wanita itu sambil menunjuk ke arah planet.


Planet yang sudah hancur itu membuat bagian-bagiannya berpencar dari orbitnya. Ketika semua bagian sudah menjauh satu sama lain, itu menampakkan gigi-gigi besar di balik planet itu.


Setelah semuanya tersingkir, barulah terlihat jelas pemilik gigi-gigi besar itu. Mereka semua membeku melihat monster seukuran planet itu tepat di depan mereka.


Monster itu berwarna merah dan dia tidak memiliki wajah. Hanya ada deretan gigi tajam dan besar. Dia juga memiliki 4 benda seperti sirip paus di bawah tubuhnya. Melihat dari ukurannya saja, mereka sudah tahu kalau The Skeld bisa ditelan dengan mudah oleh monster itu.


Para Crewmate di Polus menelan ludah. Sepertinya mereka tidak bisa pergi dengan mudah dari Polus.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋