Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 46: Suara Hati Black



Setelah menyelesaikan task nya, Red pergi ke kitchen untuk memasak makan siangnya. Dia tiba di kitchen yang saat itu dalam kondisi sepi. Semua peralatan dan perlengkapan masak sangat lengkap di tempat itu.


"Jika Orange masih ada, ini pasti adalah surga untuknya," gumam Red lalu tertunduk sedih karena mengingat temannya itu.


Red menggelengkan kepalanya untuk mengusir perasaan sedihnya lalu memulai aktivitas nya. Dia membuka lemari dan mendapati banyak bahan-bahan makanan.


Dia mengenakan celemek lalu mengambil beberapa sayuran dan lauk untuk diolah. Setelah diolah, dia menyalakan kompor dan memasaknya. Aroma masakan memenuhi ruangan itu.


"Kau bisa masak?" Seseorang mengejutkan Red. Dia menoleh dan melihat Righty yang berdiri di pintu.


"Eh, iya. Saya bisa masak," jawab Red setelah dia menguasai keadaan.


Righty mendekati Red lalu melihat apa yang dimasaknya, "Aku jadi merasa lapar. Apa kau keberatan jika kau membaginya sedikit dengan ku?"


"Saya tidak keberatan. Ini memang untuk diambil jika ada yang lapar," jawab Red.


Righty tetap berdiri di samping Red dan memperhatikannya. Red sebenarnya risih diperhatikan terus-menerus, tapi dia berusaha tenang agar tidak menyinggung Righty.


Aroma masakan itu juga sampai tercium di ruangan lainnya. Black terpancing dengan aroma itu dan segera ke kitchen karena dia juga merasa lapar.


Mood Black sudah membaik setelah tidak bertemu dengan Righty selama mengerjakan task. Tapi ketika tiba di kitchen, moodnya menjadi buruk lagi ketika melihat Righty didekat Red.


"Apa yang kau lakukan didekat Red, Righty?" Tanya Black tidak senang sambil menghampiri mereka berdua.


Mereka berdua kaget dengan suara Black yang tiba-tiba muncul itu. Tapi mereka kembali tenang setelah tahu siapa yang datang.


"Aku sedang melihat teman mu memasak," jawab Righty santai.


Black langsung berdiri di samping Red di bagian yang berlawanan dengan Righty, "Kau sedang masak apa?"


Red yang saat itu sedang fokus, kaget lagi karena kemunculan Black yang tiba-tiba disampingnya itu. Sendok nya sampai terlepas dari pegangan nya. Righty menangkap sendok itu dengan cepat.


"Kau jangan mengejutkannya. Lihat, sendok nya sampai jatuh," tegur Righty.


Black mendengus kesal. Dia sebenarnya ingin mengambil perhatian Red dari Righty. Tapi ternyata justru menganggu konsentrasi temannya itu.


Red mengambil sendok nya kembali, "Bisakah kalian minggir dulu? Aku ingin memindahkan makanan ini," pinta Red.


"Aku bisa membantu mu," tawar Righty.


Mata Black terbelalak, "BIAR AKU SAJA!!!"


Mereka berdua terkejut, "Kau ini kenapa? Aku bisa sendiri," kata Red heran sambil mengusap dadanya.


Black terdiam. Seketika dia bingung kenapa dia tiba-tiba berteriak. Righty tersenyum sinis di seberangnya.


Setelah masakan dipindahkan, Righty mengambil bagiannya. Black diam dan terus memperhatikannya dengan tatapan tajam. Setelah mendapatkan bagiannya, Righty segera pergi karena dia ingin makan di tempat yang sepi.


Sekarang tinggal mereka berdua. Ini kesempatan bagi Red untuk berbicara dengan Black.


"Ngomong-ngomong, kau tadi kenapa?" Tanya Red hati-hati.


Black yang saat itu sedang menikmati makanannya, seketika terdiam dan gerakannya terhenti.


"Bukan apa-apa," jawabnya sambil memalingkan wajah.


Red menghela nafas, dia berusaha untuk sabar. Dia mengambil kursi lalu duduk di samping Black.


"Ayo katakanlah. Kalau tidak, nanti aku menganggap kau sebagai pengganggu," bujuk Red lembut.


Black diam sejenak lalu menoleh, "Red, boleh tidak aku romantis sebentar?"


Red mengernyitkan dahinya, "Silahkan."


Black menghela nafas lalu menatap mata Red dalam-dalam, "Sebenarnya aku tidak mau kau diambil oleh Righty."


Seketika perasaan geli memenuhi rongga dada Red. Dia sedikit menggeret kursinya mundur, "Kau bercanda kan?"


"Tidak, aku serius," jawab Black lalu mengulurkan tangannya untuk menarik kursi Red agar dekat lagi. Tapi Red salah paham dan mengira Black ingin melakukan sesuatu padanya.


"Uaaahhh!" Pekik Red sambil menepis tangan Black.


"Kau kenapa? Aku hanya ingin kau lebih dekat lagi," tanya Black bingung.


"Karena kau baru saja mengeluarkan kalimat yang membuatku merinding setengah mati. Bagaimana jika itu hanya akal-akalan mu agar bisa macam-macam dengan ku?" Tanya Red penuh curiga.


"Aku tidak akan melakukannya," kata Black lemah lalu menggolek kan kepalanya di meja, "Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Righty. Aku tidak suka dia mencari-cari perhatian mu. Aku tidak sukaaa," Black merengek seperti anak kecil.


Perasaan Red kembali tenang, "Jadi kau cemburu?" Tanyanya sambil mendekati Black.


Black mengangkat kepalanya, "Iya aku cemburu. Orang itu mengambil perhatian White dan membuat nya mengabaikan ku. Jika kau juga mengabaikan ku, aku pasti akan kesepian," jelas Black.


"Kau ini sudah besar. Apa kau kekurangan perhatian dari orang tuamu saat kau masih kecil?" Tanya Red.


Raut wajah Black berubah sedih, "Iya," jawabnya lirih.


Red menyadari perkataannya telah menyinggung perasaan Black. Dia segera mengusap punggung Black, "Maaf, Aku tidak berniat menyinggung perasaan mu."


Black mengambil tangan Red lalu menggenggamnya erat, "Tidak apa-apa."


"Aku tidak berharap melihat pelangi di siang bolong begini," komentar Lime yang baru tiba di kitchen.


Mereka berdua terkejut, "Maksudmu?" Tanya Red.


"Kenapa kalian berdua seperti pasangan sesama jenis?" Tanya Lime blak-blakan.


"Heh! Jangan sembarangan. Kami hanya mengobrol biasa," bela Black sambil sedikit menjauh dari Red.


"Benarkah?" Lime tersenyum curiga.


"Tentu saja," jawab Black kesal.


"Yah sayang sekali," Lime mengalihkan pandangannya ke panci berisi makanan, "Hey Red, boleh aku ambil juga?"


"Tentu," jawab Red.


Lime mengambil makanan lalu duduk agak jauh dari mereka berdua. Black memperhatikannya dengan ekspresi tidak senang.


"Kenapa kau makan disini?" Tanya Black.


"Suka-suka hati ku. Kau ini kenapa tiba-tiba jadi seperti wanita yang sedang pms?" Tanya Lime heran. Black menggeram.


"Dia sedang sensitif saat ini, Lime. Jadi harap maklum," jawab Red.


"Aku tidak akan heran kalau begitu," kata Lime.


"Ngomong-ngomong, apa kau melihat Kapten White? Aku tidak melihatnya selama mengerjakan task tadi," tanya Red. Sedangkan Black melanjutkan makannya sambil menyimak.


"Aku melihat nya sedang mengobrol dengan Righty. Mereka kelihatan sangat akrab," jawab Lime.


Black mengunyah makanan nya dengan kasar sambil menunduk. Lime memperhatikan hal itu.


"Sepertinya sekarang aku tahu kenapa kau begitu sensitif hari ini," komentar Lime.


"Kau perhatian sekali ternyata," ujar Red.


Lime mengangguk, "Aku sangat mengerti dengan perasaan itu. Seperti anak kecil."


"Sepertinya Kapten jadi lebih dekat dengan pak Righty daripada dengan kita," kata Red.


"Aku tidak setuju dengan perkataan mu, tapi ya aku juga berpikir begitu. Aku tidak tahu apa yang mereka omongkan, mungkin pesawat ini. Atau hal lain," Lime menyelesaikan makanan nya lalu meneguk air putih.


Dia berdiri, "Tapi apapun itu, aku ikut dengan mu Black," kata Lime lalu pergi.


"Cih sok keren," cibir Black sambil meneguk air putih. Tapi dia senang juga dengan perkataan Lime.


Red terkekeh geli. Mereka berdua meninggalkan ruangan itu. Tapi tidak ada yang tahu kalau ada sepasang bola mata sedang memperhatikan kedua orang itu.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋