Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 35: Impostor Kedua



Red dan Black sampai di cafetaria. Mereka segera menghampiri White yang saat itu terlihat gusar karena situasi.


"White, bagaimana kondisi saat ini?" Tanya Black sesampainya di cafetaria bersama Red.


"Tidak bagus. Luka orang itu cukup parah dan sekarang sudah dibawa ke medbay. Impostor benar-benar licik, bisa-bisanya menyerang di saat kita sedang gaduh," jelas White.


"Kapten, apakah anda melihat yang lainnya?" Tanya Red sopan. Sekarang orang-orang sudah tidak lagi berkerumun.


"Maksudmu kru kita? Aku melihat Brown di medbay, Yellow dan Pink diam ketakutan di pojok ruangan ini, Lime dan Blue membantu menggotong orang itu ke medbay, lalu Cyan... Oh iya, aku tidak melihat Cyan," kata White sambil melihat sekelilingnya.


Red dan Black saling bertatapan, "Sejak sabotase tadi, kami tidak melihat dia," kata Red.


"Aku merasa tidak nyaman," komentar Black.


BAM!


Tiba-tiba, lampu di Mira HQ padam dan tempat itu gelap gulita. Semua orang terkejut dan segera menyalakan senter masing-masing.


"Sabotase lagi?" Tanya Red. Tapi Black dan White hanya diam.


Keramaian itu kembali riuh. Tapi di tengah keributan itu, satu-satunya yang terdengar jelas di telinga Red hanya teriakan dari Black.


"Awas!"


Seseorang mendorong tubuh Red dan membuatnya jatuh ke belakang.


JLEB!


Benda cair memercik ke pipi Red. Bau anyir memenuhi indra penciuman Red. Lampu kembali menyala. Red terbelalak dengan apa yang dilihatnya.


Ternyata Black lah yang mendorong Red hingga jatuh. Itu dia lakukan karena ada sebuah lidah panjang yang berniat untuk menusuk Red. Tapi karena sasaran nya tidak kena, orang lainlah yang menjadi korban. Cairan yang memercik ke pipi Red adalah darah dari korban itu.


2 orang penjaga dan 1 Ilmuwan tertusuk lidah itu dan kini dalam kondisi menggantung. White jatuh di arah yang berlawanan dan ekspresi nya juga tidak kalah terkejutnya.


"Kyaaa!!!" Seorang wanita berteriak histeris dan beberapa nya lagi langsung lunglai.


Mereka semua melihat ke sumber lidah itu. Red, Black dan White benar-benar terkejut dan tidak menyangka dengan yang mereka lihat.


"Cyan?" Red tidak mampu mengeluarkan suaranya. Kerongkongan nya tercekat.


Cyan berdiri di depan pintu balcony. Dia menunduk lalu menarik lidahnya dan membiarkan orang yang tertusuk untuk jatuh ke lantai.


Dia mengangkat kepalanya lalu tersenyum sinis. Itu bukan senyum milik Cyan dan matanya juga yang semula berwarna biru muda, berubah menjadi merah darah.


Beberapa orang segera berlari keluar dari cafetaria dan beberapa penjaga segera menyerang Cyan. Tapi Cyan dengan gesit menghindari serbuan mereka dan langsung membunuh mereka dengan lidahnya.


Cyan berlari ke pintu keluar dan menghalangi orang-orang yang tersisa di tempat itu. Di sana ada Red, Black, White, Pink, Yellow dan beberapa orang lagi.


Black memasang kuda-kuda untuk berjaga dari serangan tiba-tiba Cyan. White menarik Red mundur.


"Apa itu benar-benar kau, Cyan?" Tanya Black sambil tetap waspada.


"Menurutmu?" Tanya Cyan sambil menatap Black dengan tatapan tajam.


"Menurutku tidak," jawab Black lalu langsung menyerang Cyan.


Cyan mengeluarkan lidahnya lalu balas menyerang Black. Tapi itu bukan halangan untuk Black yang tidak memakai senjata.


Pukulan menghantam wajah Cyan. Lidah Cyan menyabet pinggang Black hingga berdarah, tapi dengan cepat Black menangkap lidah itu lalu melemparnya menjauh dari pintu, sekaligus dengan Cyan.


"Semuanya keluar dari sini!" Perintah White.


Semua orang berhamburan keluar, termasuk Pink dan Yellow. Seseorang segera menekan tombol peringatan bahaya untuk memanggil penjaga ke tempat itu.


"Red, kau kenapa?" Tanya White. Tapi Red hanya diam dan bengong.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Red sontak membuatnya terkejut dan sadar dari lamunannya.


"Kapten?" Tanya Red bingung.


"Jangan bengong, nak! Black sedang melawan Cyan, apa kau tidak mau membantunya?" Todong White.


Red menunduk, "Tapi, aku tidak mau melawan teman-temanku."


"White, tidak baik menggunakan nama orang lain untuk memprovokasi orang lain," Black yang sedang bertarung masih sempat untuk berkomentar.


"Diamlah! Fokus dengan yang di depanmu," jawab White kesal.


DOR!


Sebuah suara tembakan mengagetkan mereka dan terlihat Black yang mundur sambil terhuyung.


"Ya Tuhan! Dia punya senjata," seru Black sambil mengusap lengannya yang berdarah terkena tembakan itu.


White melirik ke salah satu mayat penjaga. Dia segera mengambil senjata milik penjaga itu berupa pistol dan pisau lalu melemparnya ke arah Black.


Dengan sigap Black menangkapnya lalu berbalik sambil menodongkan pisau nya ke arah Cyan.


"Lihat! Sekarang aku punya senjata dan aku tidak takut padamu," kata Black sambil mengacungkan pisau nya.


Cyan tidak berkomentar dan langsung saja menyerang Black dengan menembaknya. Tapi Black menangkisnya dengan pisau lalu balas menyerang. Terjadi baku tembak di antara mereka berdua membuat White menarik mundur Red dan bersembunyi di balik meja yang sudah berubah posisi.


"Mereka berani sekali menembak dengan jarak sedekat itu," komentar White sambil mengintip dengan hati-hati, takut terkena peluru nyasar.


Sementara itu, Red masih berdiam diri. Ucapan White tadi cukup mengusik pikirannya. Tatapan nya tertuju pada benda yang tersandar di dinding.


Matanya terbuka lebar, "Begitu ya," gumamnya.


Pistol yang dipegang Black terlepas dari tangannya karena terkena serangan dari Cyan. Langsung saja Cyan menendang Black hingga tubuhnya menghantam dinding dengan keras.


"Black!" Panggil White tapi dia masih tetap di posisinya. Dia sebenarnya ingin membantu, tapi dia tahu kalau dia hanya akan jadi beban.


Cyan mengeluarkan lidahnya lalu lidah itu bergerak ke arah Black. Tapi belum sempat lidah itu menyentuh Black, seseorang muncul lalu menghalangi lidah itu dengan penyapu.


Plak!


Cyan terkejut dan segera menarik lidahnya. Black yang sebelumnya menutup mata pun membuka nya dan terkejut dengan orang yang berdiri di depannya.


"Red?" Tanya Black kaget.


"Majulah, Cyan! Aku tidak takut padamu!" Seru Red sambil menodongkan penyapu ke arah Cyan.


Cyan menodongkan pistol nya lalu menembak Red, tapi Red memutar penyapu nya untuk menghalangi peluru itu.


Red mendekati Cyan lalu memukul tangannya yang memegang pistol hingga benda itu jatuh. Cyan menyerang Red dengan pisau, tapi berhasil di tahan dan dipukul mundur.


Meski hanya penyapu, tapi itu berhasil membuat Cyan kewalahan. Dia mengeluarkan lidahnya lalu menyerang Red, bersamaan dengan sabetan pisaunya.


Red yang tidak bisa menghalangi serangan bersamaan itu, akhirnya terkena sabetan pisau itu di lengannya. Tidak parah, tapi cukup untuk membalikkan keadaan.


Cyan melompat dengan mulut terbuka. Dia berniat memakan Red hidup-hidup. Tapi Red menahan mulut Cyan dengan batang penyapu itu, sehingga batang itulah yang digigitnya.


Posisi Red benar-benar terjepit. Cyan yang diatas tubuhnya berhasil menahan Red untuk tidak bergerak kemanapun. Cyan mengangkat pisaunya untuk menusuk Red.


Tapi Black muncul lalu menendang tubuh Cyan hingga terlempar ke dinding. Red berdiri dengan dibantu oleh Black.


Sekarang dua lawan satu. Cyan menyadari kalau dirinya tidak akan bisa melawan mereka berdua sekaligus. Black saja sudah sangat menggangu, apalagi kalau ditambah Red.


Cyan pun menyabotase lampu sehingga tempat itu gelap gulita. Sontak Red dan Black saling memunggungi untuk menjaga diri.


Tapi sebenarnya bukan mereka yang diincar. Mati lampu itu digunakan Cyan untuk lari dari cafetaria. Black yang menyadari kalau Cyan kabur, segera mengajak Red untuk mengejarnya.


Sementara itu para penjaga yang hampir sampai di lantai atas, tertahan di tengah jalan karena mati lampu. Terpaksa mereka harus melalui tangga yang memiliki beribu-ribu anak tangga itu.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋