Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 34: Sabotase



Seperti biasa Pak Junaidi berpatroli malam itu. Hal yang lumrah untuk dia dan teman-temannya berjaga di malam ini. Pak Junaidi berpatroli sambil membawa senter dan senjata berupa pentungan untuk melindungi diri.


Lampu-lampu di koridor sudah dimatikan. Meski kelihatannya menguntungkan untuk orang jahat, tapi sebenarnya sensor alarm terpasang di tempat-tempat penting. Itu untuk mengantisipasi hal buruk yang mungkin saja akan terjadi.


TAP! TAP! TAP!


Langkahnya menggema di koridor yang sepi dan gelap itu. Padahal suhu sedang dingin, tapi Pak Junaidi merasa begitu gerah. Ia melepaskan topinya lalu mengelap keringat yang ada di dahinya dengan punggung tangannya.


Pak Junaidi sendirian di daerah itu. Teman-temannya berjaga di tempat lain. Meski begitu, itu sama sekali tidak membuatnya takut.


Saat sedang berjalan, Pak Junaidi berhenti ketika melihat pemandangan aneh didepannya.


Meski lampu-lampu di koridor selalu dimatikan, tapi masih ada lampu-lampu di ruangan yang menyala. Lampu-lampu ini menembus sela-sela dinding dan memberikan sedikit cahaya redup ke lorong. Meski tidak terlalu terang, tapi itu cukup untuk membuat bayangan.


Jaraknya memang jauh, tapi pak Junaidi sangat yakin dia melihat sesosok manusia yang berdiri di tengah-tengah koridor. Dia memang sudah cukup berumur, tapi matanya juga masih tajam untuk menangkap sosok janggal seperti itu.


Sosok itu tidak bergerak sama sekali. Pak Junaidi ingin memanggilnya, tapi dia khawatir jika itu adalah jebakan. Jadi dia memutuskan untuk mendekat dan menyoroti nya dengan senter.


Tapi baru saja satu langkah, orang itu tiba-tiba berlari menjauhi pak Junaidi. Pak Junaidi terkejut lalu segera mengejarnya.


"Tunggu! Jangan lari!" Teriak pak Junaidi.


Pak Junaidi terus mengejar sosok itu hingga akhirnya, sosok itu menghilang di salah satu belokan. Pak Junaidi berjalan perlahan sambil menyoroti senternya ke segala arah. Dia juga mengeluarkan pentungan nya untuk berjaga-jaga.


Tapi setelah dicari-cari, pak Junaidi tidak berhasil menemukan sosok itu. Padahal belokan itu adalah jalan buntu.


"Kemana perginya?" Gumam pak Junaidi sambil menyoroti senternya.


Tapi disitu hanya ada dinding dan sebuah vent di lantai. Pak Junaidi menyoroti vent itu.


"Sepertinya dia lewat sini," batin pak Junaidi.


Dia sebenarnya ingin masuk, tapi dia tahu itu juga sama dengan masuk ke jebakan. Jadi akhirnya pak Junaidi urung untuk mengikuti sosok itu.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Pak Junaidi mengangkat panggilan itu yang ternyata dari temannya yang berpatroli di tempat lain.


"Ya, ada apa?"


"Pak, ini gawat sekali. Beberapa teman kita yang bertugas di tempat lain mendapat serangan dari sosok tidak dikenal," lapor orang itu.


Pak Junaidi terkejut, "Apa mereka baik-baik saja?"


"Mereka baik-baik saja, hanya luka ringan. Beberapa dari mereka yang sudah sadar, memberitahu kalau mereka diserang secara tiba-tiba. Jadi mereka tidak melihat siapa yang melakukan itu," jelasnya.


Pak Junaidi menghela nafas lega, "Syukurlah kalau begitu. Bawa mereka ke medbay. Perlukah aku menyusul ke sana?"


"Tidak perlu. Aku melaporkan ini juga agar kau berhati-hati. Kau satu-satunya yang bertugas sendiri. Tidak akan ada yang tahu jika terjadi sesuatu yang buruk padamu. Berhati-hatilah!"


"Baiklah, terima kasih atas perhatiannya," Pak Junaidi mematikan sambungan komunikasi mereka lalu kembali memandang vent itu.


"Jangan berpikir kalau kau bisa kabur dari Mira HQ," bisik pak Junaidi untuk seseorang yang didalam vent itu. Dia segera pergi dari tempat itu dan kembali berpatroli.


Keesokan harinya...


Pak Junaidi bersantai di cafetaria sambil menyesap kopi panas dan menikmati beberapa camilan ringan. Dia memperhatikan para Crewmate The Skeld 385 yang sedang membagikan task masing-masing.


Dia terus menatap wajah Red dari balik punggung orang-orang itu. Ada perasaan aneh yang membuatnya tidak bosan untuk terus menatap wajah itu.


Black menyadari tatapan itu dan merasa tidak senang. Dia segera menggeser tubuh Red hingga tertutup oleh tubuh Lime.


"Kenapa?" Bisik Red. Dia terganggu dengan gerakan Black itu.


"Tidak ada apa-apa," jawab Black cuek.


Pak Junaidi yang menyadari gerakan tubuh Black itu, hanya mendengus senyum dan kembali menyesap kopinya.


"Mau sampai kapan kau begitu terus?"


Pak Junaidi menoleh dan melihat Gregory yang ikut duduk disampingnya.


"Entah lah, kau kenapa? Kelihatannya tidak suka sekali pada anak itu," tanya pak Junaidi sambil mengubah posisi duduknya untuk berhadapan dengan Gregory.


"Aku masih ingat dengan pemeriksaan waktu itu. Kenapa semua orang terlihat biasa saja pada mereka? Padahal jelas-jelas ada pembunuh di antara mereka," gerutunya.


"Mungkin karena mereka saling percaya," pak Junaidi memakan camilan yang ada.


"Tapi kepercayaan itu bisa mengkhianati mereka suatu hari nanti. Ngomong-ngomong, kau terlihat begitu terobsesi pada bocah itu," komentar Gregory lalu ikut makan.


"Aku bukan terobsesi pada anak itu, tapi pada seseorang yang berwajah mirip dengannya. Red mengingatkan ku padanya, orang yang kucintai," jelas pak Junaidi sambil melamun.


Baru saja para Crewmate hendak mengerjakan task, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan semua orang di Mira HQ.


TAT! TAT! TAT!


Lampu berwarna merah menyinari tempat itu. Semua orang terkejut dan panik. Beberapa orang Ilmuwan dan penjaga berlari ke suatu arah.


"Ada apa ini?" Red bingung. Tiba-tiba Black menariknya ke pinggir agar tidak ditabrak oleh orang-orang yang berlari.


"Sabotase," jawab Black singkat sambil melihat sekelilingnya.


"Sabotase? Bukankah ini persis seperti yang terjadi di The Skeld 301 waktu itu?"


"Memang. Jika tidak ditangani akan sangat berbahaya. Tempat ini bisa meledak," Suara alarm itu berhenti berbunyi dan lampu merah sudah kembali normal. Semua orang bernafas lega.


"Bagaimana cara mereka menangani nya?" Tanya Red sambil memperhatikan orang-orang yang tadi berlari.


"Pusat sabotase ini ada di reactor. Mengatasinya sangat mudah. Cukup menempelkan tangan mu di alat pemindai telapak tangan, maka sabotase ini bisa diatasi," jawab Black.


"Tapi, siapa yang melakukan ini?" Batin Black.


Tiba-tiba alarm krisis kembali berbunyi dan tempat itu kembali disinari cahaya merah. Semua orang terkejut dan bingung.


"Lagi?" Red semakin bingung.


"Ayo Red," Black menarik tangan Red dan membawanya ke Greenhouse.


Black mendekati tabung berisi tanaman itu lalu sedikit membungkuk dan memencet tombol berisi angka sesuai dengan yang tertulis di kertas. Sabotase berhenti lagi.


"Apa ini hal yang biasa terjadi?" Tanya Red kepada Black yang sudah berdiri tegak.


"Sabotase adalah hal biasa untuk sebuah tempat yang menyimpan banyak benda penting. Tapi jika sabotase nya terjadi secara berturut-turut begini," tiba-tiba Black melepaskan headphone nya dengan cepat dan tidak sempat meneruskan perkataannya.


"Kenapa?"


"Sabotase lagi."


Red terkejut, "Sabotase? Tapi alarm krisis tidak menyala."


"Ini sabotase comunication. Coba lihat tablet mu," Red menyalakan tablet nya dan mendapati layarnya yang dipenuhi semut.


"Sabotase ini juga berpengaruh dengan headphone ku. Ayo kita ke office," ajak Black lalu mereka masuk ke office yang berhadapan dengan admin.


Black mendekati salah satu meja yang diatasnya ada sebuah alat dan selembar kertas tertempel pada alat itu, persis seperti yang ada di Greenhouse.


Black menekan tombol angka sesuai dengan yang di kertas. Agak lama dia menekan angka yang sama hingga akhirnya sabotase itu berhenti.


"Kenapa lama sekali? Bukankah kau cukup menekan angka seperti yang di Greenhouse tadi?" Tanya Red.


"Ini berbeda dengan sabotase O2. Untuk memperbaiki sabotase comunication di Mira HQ, harus ada orang juga yang menekan tombol di kantor ku secara bersamaan. Jadi satu orang disini dan yang satu lagi disana. Lain lagi dengan O2 yang jika sebelah sini sudah selesai, bisa lanjut ke tempat lain," jelas Black.


Sebuah panggilan masuk dan menghentikan obrolan mereka. Black mengenakan headphone nya lagi lalu menjawab panggilan dari White.


"Ada apa?"


"Black, ini gawat. Ada yang diserang oleh Impostor," Black terkejut dengan perkataan White.


"Diserang Impostor? Bagaimana bisa? Kau dimana sekarang?" Black dan Red segera berlari keluar.


"Aku berada di cafetaria sekarang. Impostor menyerang orang itu saat kita semua sibuk dengan sabotase. Sekarang orang itu dalam kondisi tidak sadarkan diri," jelas White dan terdengar suara yang sangat berisik di seberang sana.


"Kami akan kesana," jawab Black lalu mematikan sambungan komunikasi nya.


Mereka berdua berlari ke arah cafetaria. Impostor semakin menggila sekarang. Mereka harus segera menghentikannya sebelum korban semakin banyak.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋