
Black berada di comunication Airship saat itu. Ini adalah pertama kalinya dia menggunakan ruangan itu. Dia duduk di kursi dan memperhatikan ruangan itu.
Menurut Black, Comunication Airship lebih kecil dibandingkan dari The Skeld dan Mira HQ. Di ruangan itu hanya ada 1 meja yang terdapat sebuah benda elektronik dengan 4 layar dan 1 lemari kabinet yang membatasi meja dan tempat download.
Benda elektronik itu fungsinya untuk komunikasi. Tapi benda itu hanya bisa untuk mendengarkan suara saja. Lalu ada pesawat telepon yang menggunakan kabel. Benda itu mengingatkan Black pada masa lampau.
"Hai, Black. Bagaimana dengan ruangannya?" Sapa Red yang muncul di depan pintu.
"Halo juga, Red. Seperti yang kau lihat, aku cukup suka ruangan ini. Meski kecil dan alat komunikasi nya beda," jawab Black jujur.
Red mendekatinya, "Aku tidak pernah melihat alat komunikasi seperti ini, apa kau tahu cara menggunakannya?"
"Sebelum menjadi Communicator, kami diajari mengenal sejarah alat-alat komunikasi. Mulai dari menggunakan burung merpati, sampai layar hologram seperti sekarang. Jadi sudah pasti aku tahu juga dengan yang ini, " jelas Black dengan bangga.
"Wah, itu keren sekali. Ngomong-ngomong, aku permisi untuk download," kata Red lalu pergi ke tempat download data yang ada di samping Black.
Black mengangguk lalu kembali dengan tugasnya. White meminta nya untuk menghubungi Mira HQ, tapi dari tadi panggilan nya belum dijawab. Membuat Black benar-benar harus sabar.
"Sebenarnya sesibuk apa mereka sampai tidak menjawab panggilan ku," bisik Black agar tidak terdengar oleh Red.
"Apa mereka sudah menjawab?" Tanya seseorang yang baru tiba di depan pintu.
"Belum," jawab Black lalu berbalik. Dia terkejut ketika melihat bahwa Righty lah yang bertanya.
"Kau rupanya. Kenapa kau kemari? Bukankah harusnya White yang bertanya?" Tanya Black tidak senang.
"Dia sedang sibuk di kursi kemudi karena sekarang kalian melewati daerah pegunungan. Jadi dia meminta ku untuk bertanya," jawab Righty.
"Tapi kenapa harus kau?" Black benar-benar tidak senang. Dia begitu berharap tidak melihat wajah Righty walau hanya sehari.
Righty mengabaikan Black lalu beralih ke Red yang baru selesai download, "Oh! Ada Red juga disini. Kau sedang apa, Red?" Tanyanya yang seketika itu juga membuat Black panas.
"Saya baru selesai download data," jawab Red, "Saya permisi."
Tiba-tiba Righty menahannya, "Jangan terlalu buru-buru. Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar saja?" Saran Righty sengaja untuk memanaskan hati Black.
Black berusaha untuk tenang meski hatinya panas setengah mati, "Red sedang mengerjakan task nya. Jangan mengganggunya atau kau akan diceramahi oleh White," tegur Black.
"Baiklah kalau begitu," kata Righty lalu pergi.
Red menghela nafas lega, "Syukurlah ada kau, Black."
"Aku juga cukup kesal dengan orang itu. Kenapa dia mencari-cari perhatian mu dan White? Bahkan sengaja memanas-manasi hatiku. Kalau dia menyukai mu, ku sarankan kau jangan terima dia. Dia sudah kumisan. Pilih saja aku yang tampan dan kuat ini," kata Black sambil tersenyum bangga.
Red sontak memukul bahu Black, "Aku tidak akan melakukannya dan tidak akan pernah. Aku bukan penyuka sesama jenis. Jadi hentikan itu," kata Red kesal.
"Ya, siapa yang tahu. Aku sebenarnya bingung dengan apa yang diinginkan oleh orang tua itu," jawab Black sambil mengusap bahunya yang dipukul oleh Red.
"Aku sebenarnya juga bingung. Rasanya sekarang aku mulai menilai kalau Pak Righty adalah orang yang mengesalkan. Beliau seperti tipe orang yang suka memancing emosi orang lain," ujar Red.
"Itu setengah dari penilaian ku selama ini terhadap nya. Tapi tidak apa, yang penting kau jauh-jauh saja dari nya. Dia seperti orang pedo," kata Black.
"Aku bukan anak umur 5 tahun," jawab Red.
"Ada masalah, Lime?" Tanya Red sambil menghampiri Lime. Dia tahu karena jika Lime keluar masuk dari vent, itu artinya ada sesuatu yang terjadi.
"Iya, masalah yang sangat besar. Aku menemukan lubang besar di dalam pesawat ini yang menembus hingga keluar pesawat. Untung saja tidak ada kerusakan di mesinnya," jelas Lime.
"Lubang besar? Seukuran berapa?" Tanya Red.
"Kira-kira seukuran kita-kita ini lah. Aku tidak tahu bagaimana lubang itu terbentuk, tapi aku harus memberitahu Kapten untuk berhenti sebentar agar aku bisa memperbaiki nya," jawab Lime.
"Silahkan," kata Red.
Lime segera pergi ke Cockpit untuk memberitahu White. Red mengerjakan task nya lalu pergi lagi ke tempat lain. Dia melewati kamar Righty yang terbuka sedikit.
Tapi sekilas dia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya hingga membuatnya berhenti. Kamar Righty letaknya terpisah dari kamar para Crewmate, jadi bisa dibilang daerah situ lumayan sepi jika tidak ada yang task disitu.
Red mengintip ke dalam dan mendapatkan secarik kertas yang berisi sebuah foto dan tulisan yang membuat Red teringat dengan dokumen anggota Toppat Klan. Apalagi kertas itu terlihat bekas di robek dari tempatnya.
Setelah memastikan kondisi sepi, Red membuka pintu sedikit lalu masuk perlahan-lahan dan mendekati meja itu. Tidak ada yang menarik di ruangan itu bagi Red selain secarik kertas di atas meja.
Jantung Red berdegup kencang dan nafasnya sedikit sesak. Dia sebenarnya heran kenapa dia seperti itu, mungkin karena tegang. Red mengambil kertas itu lalu terkejut.
"Bukankah ini foto Pak Righty?" Tanya Red dengan berbisik.
Di kertas itu tertulis kalau Righty adalah tangan kanannya Reginald atau biasa disebut Right Hand Man. Dia adalah orang kedua yang paling dicari setelah Reginald. Red juga mendapatkan 1 kemampuan mengerikan yang dimiliki oleh Righty.
"Aku sangat yakin kalau kau adalah anak yang tahu sopan santun, Red," Tiba-tiba Righty muncul di belakang Red dekat pintu.
Jantung Red berhenti berdetak sesaat lalu mulai berdetak lagi dengan kencang. Red berbalik, tapi kertas itu disimpan di belakang tubuhnya.
"Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja masuk karena penasaran," kata Red gugup.
Righty mengunci pintu kamar lalu berjalan mendekati Red perlahan. Red mundur, tapi tubuhnya tertahan di meja. Righty memegang kedua lengan Red lalu berbisik di telinganya.
"Panda merah yang lucu sudah masuk jebakan," bisik nya.
Tiba-tiba Righty menghempas tubuh Red ke atas kasurnya. Tangannya terangkat lalu menutup mata kirinya.
"Kau pasti penasaran kan dengan kemampuan ku itu. Dengan senang hati akan ku tunjukkan padamu sekarang juga," katanya sambil tersenyum sinis dan menatap mata Red dengan tajam.
Red menelan ludah, "Tamatlah riwayatku," batinnya.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋