
Sudah satu tahun para Crewmate melintasi ruang angkasa dengan pesawat awak. Selama itu juga mereka berusaha sebaik mungkin untuk menghemat persediaan agar cukup sampai mereka tiba di Polus.
Black berusaha menghubungi Mira HQ, tapi tidak berhasil karena tidak ada sinyal. Dia menghela nafas, sekarang mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain bersabar sampai tiba di Polus.
"Huft, ini sangat sulit," gumam Black.
Crewmate yang lain sudah tidur. Menyisakan Black dan Lime yang memegang kemudi pesawat. Lime sebenarnya sangat mengantuk, tapi dia berusaha keras agar tidak tidur.
Black menghampirinya, "Kau tidurlah! Biar aku saja yang mengendalikan pesawat ini."
"Tidak apa. Aku masih bisa bertahan lebih lama," jawab Lime.
"Tidurlah! Kita sepakat untuk satu orang satu Minggu bergantian mengemudi. Ini sudah lewat satu Minggu, jadi sekarang giliran ku," kata Black bersikeras.
Lime terdiam lalu berpikir. Dia lupa kalau sekarang sudah lewat satu Minggu. Dia mengusap kantung matanya yang hitam karena tidak tidur selama seminggu. Kepalanya juga terasa berat.
Hanya mereka berdua saja yang bisa mengemudi sehingga mereka lah yang lebih sering jadi andalan. Ini juga karena mereka adalah kru lama.
"Baiklah kalau begitu," Lime menerima perkataan Black lalu berdiri.
Black segera duduk menggantikan Lime. Dia memegang kemudi pesawat yang sudah terasa panas karena lama berada di genggaman tangan Lime.
"Ngomong-ngomong, apa kau berhasil menghubungi Mira HQ?" Tanya Lime sambil berpegangan pada dinding agar tidak tumbang karena kepalanya terasa pusing.
"Tidak. Tidak ada sinyal. Sebenarnya aku tahu disini pasti ada sinyal, tapi benda itu tidak secanggih komputer The Skeld dalam menemukan sinyal," jawab Black dengan sedikit mengeluh.
Lime menepuk bahunya, "Tidak apa. Semangat," katanya lalu berbaring di kursi.
Black menatap Lime yang sudah tertidur pulas karena kelelahan. Lalu dia kembali fokus ke depan. Tidak lama kemudian, dia teringat sesuatu yang mengerikan.
"AAAAAHHHH!!!" Pekik Black membangunkan semua Crewmate.
"Kenapa Black?" Tanya Red yang langsung berdiri diikuti Blue.
Black diam lalu menoleh dengan wajah tidak berdosa, "Aku takut," katanya sambil nyengir.
"Yaaahhh," Red kecewa mendengar pernyataan Black.
Blue duduk dan Lime tidur lagi setelah terbangun karena teriakan Black. Mereka tidak tidur lagi setelah itu, kecuali Lime. Red mendekati Black.
"Kau ada rencana apa sebenarnya membangunkan kami semua?" Tanya Red.
"Tidak ada rencana apa-apa, aku hanya bosan saja. Butuh teman ngobrol," jawab Black.
"Hanya itu? Mengganggu istirahat orang saja," komentar Blue sinis.
"Tapi ini berarti untuk aku yang tidak akan tidur selama seminggu. Coba kau lihat mata Lime, sampai hitam begitu karena tidak tidur. Seandainya kau bisa mengendarai pesawat ini, aku ingin sekali kau merasakan apa yang kami berdua rasakan," jawab Black.
"Kau ini keterlaluan sekali, Blue. Jika mereka berdua tidak ada, kita pasti tidak akan sampai di Polus lalu mati kehabisan bahan bakar dan makanan," tegur Yellow sambil menyikut bahu Blue.
"Iya iya, maaf kalau begitu," balas Blue dengan bibir monyong.
"Kalau begitu ku temani kau," kata Red lalu duduk di samping Black.
Red mulai bertanya banyak hal yang bisa mereka jadikan sebagai topik. Black akan menjawab dan mulai menimpali dengan sedikit candaan. Yellow dan Pink pun ikut dalam obrolan mereka sehingga pesawat itu kini sudah tidak sepi lagi.
Blue dan Brown memperhatikan mereka. Sedangkan Lime tetap tidur. Dia benar-benar kelelahan, bahkan obrolan mereka berempat sama sekali tidak mengusiknya.
Setelah lewat seminggu, Black melihat sebuah titik kecil dari kejauhan. Dia mempercepat laju pesawat dan akhirnya melihat sebuah planet berwarna ungu dengan lapisan salju putih diatasnya seperti kue nastar.
Mata Black yang sudah lelah pun sampai bersinar kembali ketika melihat tempat tujuan mereka telah terlihat.
"Semuanya bangun! Kita sudah sampai," seru Black membangunkan para Crewmate.
Para Crewmate terbangun mendengar seruan dari Black. Beberapa dari mereka segera melihat ke jendela ketika tahu kalau mereka sudah sampai.
"Persis seperti yang di foto," sambung Blue.
Black terbang mendekati Polus dan melihat bangunan-bangunan di planet itu. Dia celingukan mencari tempat untuk mendarat.
Lime berdiri di sampingnya, "Itu! Sepertinya tempat itu cocok untuk memarkir kan pesawat. Letaknya juga tidak terlalu dekat dengan bangunan-bangunan itu," kata Lime sambil menunjuk ke luar jendela.
Black melihat ke arah yang ditunjuk oleh Lime, "Sepertinya tempat itu dibuat memang khusus untuk parkir pesawat. Baiklah aku kesitu," katanya lalu terbang rendah.
Pesawat itu perlahan-lahan mendarat di Polus. Pintu pesawat dibuka dan mereka disambut oleh hamparan salju putih dan suhu dingin yang menusuk tulang.
"Untung aku bawa pakaian hangat," kata Red sambil mengenakannya.
Para Crewmate mengenakan pakaian hangat mereka masing-masing lalu turun dari pesawat. Tempat itu gelap, tapi mereka cukup terbantu dengan cahaya bintang di langit.
Black menyalakan senternya, "Gelap sekali. Rasanya seperti tidak ada yang tinggal disini."
"Aku sependapat denganmu, Black. Ayo kita cari electrical di tempat ini," ajak Lime.
Black mengangguk lalu melihat para kru nya, "Kita harus berpasangan laki-laki dan perempuan. Red dan Pink, kalian ke depan. Brown dan Blue, kalian ke kiri. Lime dan Yellow, kalian ke kanan."
"Kau sendiri bagaimana?" Tanya Red.
"Aku akan memeriksa dua bangunan kecil yang ada di depan itu, jadi kalian berdua periksa bangunan yang besar itu. Aku rasa disitu lah cafetaria," jawab Black.
Mereka mengangguk lalu berpencar. Black berjalan bersama Red dan Pink lalu berpisah. Dia masuk ke bangunan kecil yang pertama. Di dalam bangunan itu terdapat sebuah rak kayu besar, tabung-tabung dan kotak.
"Sepertinya ini storage," gumam Black lalu menyoroti senternya ke segala arah.
Setelah itu, dia keluar lalu pindah ke bangunan yang memiliki satelit kecil. Dari satelit itu dia bisa menebak kalau itu adalah comunication. Dia segera masuk ke bangunan itu.
Di dalamnya terdapat meja kecil berbentuk bundar, 1 lemari kabinet, 1 meja yang terdapat 2 komputer diatasnya, dan tombol-tombol yang menempel di sudut ruangan yang sepertinya terhubung dengan satelit diluar.
Black bersiul, "Boleh juga," komentarnya lalu masuk ke dalam. Tapi dia berhenti di depan komputer ketika melihat sesuatu di lantai.
Sementara itu diposisi Lime dan Yellow, mereka berhasil menemukan electrical. Yellow menyoroti senternya ke arah yang diperbaiki oleh Lime.
"Selesai," kata Lime lalu menyalakan sirkuit listrik itu.
Seketika tempat itu terang benderang. Semua orang sontak melihat ke arah lampu yang menyala.
"Kerja bagus," puji Brown sambil tersenyum kecil.
Sedangkan Blue terpana melihat ruangan yang sangat besar dan peralatan seperti tabung reaksi, pembakar spiritus, dan masih banyak lagi di atas meja.
"Ini adalah laboratorium," kata Blue sambil mematikan senternya diikuti Brown.
Sedangkan Red dan Pink menemukan cafetaria. Mereka menemukan tiga ruangan didalam bangunan itu. Ada cafetaria, office, dan admin.
Mereka semua mengeksplorasi tempat itu lalu kembali ke depan pesawat untuk melaporkan apa-apa saja yang mereka temukan.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋