Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 33: SUS



Red berbaring di ranjang nya sambil merenungkan kejadian tadi. Padahal dia sangat berharap pemeriksaan tadi bisa menghasilkan sesuatu yang penting, tapi nyatanya itu digagalkan oleh Impostor.


Selain itu, dia juga masih memikirkan perkataan Gregory tentang sakit perutnya itu. Red memang akan merasakan sakit diperutnya jika terlalu ketakutan. Tapi tadi yang dirasakan Red sedikit berbeda, dia lebih merasa terancam daripada takut.


Saat Red sedang tenggelam didalam pikirannya, tiba-tiba bel pintu nya berbunyi. Red berdiri dan mengintip ke luar. Terlihat ada Black yang berdiri didepan pintunya.


Red membuka pintu, "Ada apa?"


"Kau sedang sibuk? Aku ingin berbicara dengan mu," jawab Black.


"Aku sedang tidak sibuk. Ayo masuk, kita berbicara didalam saja," ajak Red.


Black masuk ke kamar Red. Red mengunci pintu lalu kembali duduk di pinggir ranjangnya.


Black memandang ke luar jendela, "Wah Red, pemandangan ini indah sekali. Aku sangat berharap jika saja ada pemandangan seperti ini dikamar ku," puji Black.


"Memangnya kamarmu dimana?"Tanya Red.


"Lumayan jauh dari sini dan tertutup. Ku rasa aku bisa stress jika berada di ruangan itu terus-menerus. Itulah kenapa aku lebih suka melakukan segalanya di kantorku, terkecuali mandi," jelas Black.


"Lalu kenapa kau tidak pindah kamar saja?" Saran Red lalu berbaring.


"Kamar itu sudah kudapat sejak pertama kali datang kesini. Saat itu aku masih polos dan akan menerima apa saja yang mereka perintah atau mereka beri," jawab Black.


Red mengangguk, "Oh ya, barusan kau bilang ingin membicarakan sesuatu, apa yang ingin kau bicarakan?"


Black menoleh, "Ini tentang Impostor, aku ingin mengajakmu berdiskusi lagi."


Red bangun lalu duduk, sedangkan Black menghampiri Red dan duduk disampingnya. Dia mengeluarkan tabletnya yang berisi informasi yang berhasil dia dapat.


"Apa saja yang kau dapatkan?" Tanya Red.


"Begini, kau masih ingat dengan pembicaraan kita kalau Impostor berasal dari Polus dan para Crewmate yang hilang itu? Aku mendapatkan suatu fakta baru dari itu," jawab Black lalu mulai mengotak-atik tabletnya.


Red mendekat, tanda kalau saat itu dia tertarik dengan penjelasan Black. Sementara Black dengan semangat menggesekkan jari nya ke layar tablet. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Black menunjukkan layar tabletnya ke hadapan Red.


"Aku menemukan fakta kalau Polus memiliki banyak lubang kecil di permukaannya. Menurutku lubang kecil itu memiliki fungsi yang sama dengan vent, dimana Impostor memakai nya untuk jalur pergerakan mereka."


Red memperhatikan foto permukaan dari planet Polus. Planet itu berwarna ungu dengan hamparan salju tebal diatasnya, butiran salju juga tertangkap dari foto itu. Tapi yang jadi pembicaraan kali ini adalah lubang kecil itu.


"Kenapa kau begitu tertarik dengan lubang itu?"


"Karena menurutku selain sebagai jalur pergerakan, lubang ini juga menuju ke dalam sarang mereka."


Red memijit pelipisnya, "Bisakah kau langsung ke intinya saja?"


Black terkekeh, "Baiklah."


Dia mengeluarkan sebuah foto lubang lagi, tapi yang ini ukurannya lebih besar dari lubang-lubang sebelumnya. Dan foto pria berpakaian Ilmuwan.


"Aku menemukan data-data tentang lubang ini. Jadi beberapa tahun yang lalu, seorang Profesor bernama Murry menghilang di laboratorium. Saat itu dia berkata ingin meneliti sesuatu di laboratorium, tapi beberapa saat kemudian dia menghilang ketika seseorang datang untuk menjemputnya. Hilangnya Profesor Murry juga bersamaan dengan munculnya lubang ini yang kebetulan letaknya di laboratorium."


"Mereka curiga kalau Profesor ada didalam lubang itu, jadi mereka mengutus satu orang untuk masuk kedalam lubang itu. Orang itu masuk kedalam lubang dengan tali pengaman yang mengikat tubuhnya. Ketika sudah agak dalam, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan orang itu disusul dengan hentakan keras pada tali. Mereka menarik tali itu dengan cepat, tapi yang mereka dapat hanya tali yang sudah putus diujung nya."


Red mengusap dagunya, "Tapi kenapa mereka tidak menurunkan alat-alat pendeteksi saja? Teknologi saat itu harusnya sudah canggih."


"Mereka pernah mencobanya, tapi alat-alat itu kehilangan koneksi ketika sudah masuk agak dalam. Kemungkinan besar ada yang mengacau sebelum benda itu sampai ke dasar. Tapi mereka juga mengetahui dari data seadanya yang mereka dapat kalau suhu didalam lubang itu sangat panas karena berdampingan dengan kolam lava itu."


"Harusnya lubang ini tidak jauh berbeda dengan lubang-lubang kecil lainnya, mungkin inilah alasan kenapa Impostor mampu berlama-lama didalam vent yang pengap," kata Red beropini.


"Betul, itu juga yang aku simpulkan dari ini," balas Black.


Red mengangguk, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu, "Tunggu sebentar, kolam lava? Bukankah di foto itu Polus dipenuhi salju, kenapa bisa ada lava?"


"Oh iya, aku belum bilang. Polus adalah planet yang unik. Salju lebat yang turun menciptakan suhu dingin, dan kolam lava yang memberi suhu panas. Mereka berdampingan tapi tetap terasa panas jika kau berdiri di dekat kolam itu," jawab Black.


"Tapi bagaimana caranya manusia bisa hidup disana?"


"Disana suhu yang lebih dominan adalah suhu dingin, kita cukup pakai pakaian hangat saja. Lagipula mereka juga sudah menanam pohon disana dan pohon itu tumbuh."


"Tidak ku sangka kau tahu banyak juga. Darimana kau dapati semua data itu?"


"Rahasia," jawab Black sambil menempelkan jari telunjuk nya di bibir.


Red memutar bola matanya keatas, "Data apalagi yang saat ini kau punya tentang Impostor?"


"Aku tidak punya lagi data tentang Impostor, hanya itu yang berhasil kudapatkan. Tapi aku mendapatkan seseorang yang menurutku sangat mungkin adalah dalang dari rusaknya alat scan."


Red menyondong tubuhnya, "Siapa?"


Black terdiam sejenak. Sebenarnya dia agak ragu untuk mengatakannya, tapi akhirnya dia memberitahu Red juga.


"Lime, aku curiga pada Lime," jawab Black.


Red terkejut, "Lime? Kenapa dia?"


"Dari antara kita, hanya Lime saja yang paham tentang hal-hal seperti itu. Lagipula dia sudah cukup hafal dengan jalur vent di Mira HQ, jadi menurutku dialah yang paling mungkin adalah dalangnya," jelas Black.


Red mengangguk mengerti. Mereka sepakat untuk tidak memberitahu yang lain tentang pokok pembicaraan mereka hari itu.


Keesokan harinya, para Crewmate kembali mengerjakan task seperti biasa. Mereka tidak bisa melanjutkan pemeriksaan karena ternyata alat scan itu sudah di sabotase dan sulit untuk di perbaiki.


Red mendapat task membersihkan vent di Greenhouse, jadi dia pergi ke storage terlebih dahulu untuk mengambil peralatan.


Greenhouse adalah ruangan yang terbuat dari kaca tebal. Jadi seseorang bisa melihat awan di atas, samping atau bawahnya. Di Greenhouse terdapat bermacam-macam tanaman. Salah satunya tanaman unik yang ditanam di dalam tabung silinder. Tanaman ini terletak di depan pintu masuk.


Sementara itu, Cyan sibuk mencari-cari keberadaan Red. Sebenarnya dia ingin membicarakan sesuatu kepada Red, tapi dia lupa saat mereka sedang meeting tadi.


"Bisa-bisanya aku lupa," gerutu Cyan di dalam hatinya.


Cyan mengecek meja admin dan menemukan satu orang di Greenhouse. Dia pergi ke Greenhouse dan melihat kaki Red di balik tabung berisi tanaman di Greenhouse.


Cyan berjalan ke balik tabung itu. Dia mau memanggil Red, tapi yang dilihatnya berhasil membuatnya terdiam.


Red sedang sibuk membersihkan vent, tapi posisinya itu benar-benar membuat Cyan tidak habis pikir. Red menungging dengan bagian tubuh atasnya berada di atas vent. Satu tangannya di dalam vent, sedangkan yang satunya lagi menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Bokong Red tepat menghadap ke Cyan.


Cyan menggelengkan kepalanya, "Kau sedang apa, Red?"


Red terkejut. Tangannya tergelincir dan tubuhnya masuk ke dalam vent. Tepat setelah tubuhnya masuk, penutup vent itu jatuh dan menimpa punggung Red.


"Aduh!" Pekik Red.


Cyan terkejut lalu membuka penutup vent itu dan menarik Red keluar.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Cyan.


Red mengusap perutnya, "Aku tidak apa-apa, kau mengejutkan ku."


Cyan mengernyitkan dahinya, "Aku lebih terkejut melihatmu seperti itu. Untung aku yang datang, kalau orang lain? Tamatlah riwayat mu."


"Apa maksudmu?" Tanya Red bingung.


"Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, apa yang kau sedang kau lakukan?"


"Aku sedang membersihkan vent."


"Membersihkan vent? Kau pakai apa?"


"Pakai ini," Red menunjukkan kain lap yang di tangannya.


Cyan menepuk jidatnya, "Kenapa tidak pakai pengepel?"


"Tidak ada pengepel lagi di storage."


"Coba kau tanya lagi dengan Janitor yang lain, harusnya sekarang sudah ada yang selesai mereka pakai," saran Cyan.


"Oh, terima kasih untuk sarannya," kata Red lalu berjalan hendak pergi.


Tapi Cyan memegang tangan Red sehingga dia tertahan di situ.


"Kenapa?"


"Aku mau bicara sesuatu," jawab Cyan lalu melepaskan pegangannya.


Red menatap Cyan, menunggu sesuatu yang mau dibicarakan Cyan. Tapi setelah menunggu beberapa saat, Cyan tetap diam dan menundukkan kepalanya seolah-olah sedang menghindar dari tatapan Red.


"Cyan, kau masih disini kan?" Tanya Red melambaikan tangannya di depan wajah Cyan.


Cyan memegang tangan Red lagi, "Aku masih disini," jawabnya.


Setelah berpikir beberapa saat, Cyan menghela nafas lalu mengangkat kepalanya dan menatap dalam-dalam mata Ruby milik Red.


"Jika terjadi sesuatu padaku, aku mau kau menyelamatkan ku," kata Cyan dengan serius.


"Hah? Apa maksudmu?" Red semakin bingung.


"Tidak ada," Cyan melepaskan tangan Red lalu mengusap perutnya seperti kesakitan, "Aku mau ke toilet."


Cyan berlari keluar dari Greenhouse. Beberapa saat setelah Cyan keluar, Red mencium bau yang teramat busuk.


"Eih, dasar jorok!" Pekik Red lalu berlari keluar juga untuk menghindari bau busuk itu sekaligus untuk mengambil pengepel.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋