Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 11: Suatu Hari



Sudah 2 tahun ini The Skeld 385 menjelajahi luar angkasa. Tapi mereka belum menemukan satu petunjuk pun untuk hilangnya The Skeld 301. Itu memang sulit mengingat mereka hanya menggunakan kode Morse dan jalur hilangnya pesawat tersebut untuk mencarinya.


Tapi meski begitu, paling tidak beberapa bulan terakhir ini mereka mendapatkan beberapa tanda.


Black merasa bahwa akhir-akhir ini sinyal yang dipakainya itu selalu menguat secara mendadak. Tapi ketika dia akan mulai melacak, sinyal nya tiba-tiba hilang. Itu membuat Black kesal, tapi dari situ Ia tahu bahwa sudah saatnya dia mulai serius dengan tugasnya. Waktu main-main nya sudah berkurang dan dia lebih sering di comunication.


White yang selalu mendapat kabar baru tentang perkembangan itu juga mulai mendapat secercah harapan. Dia yakin bahwa mereka pasti akan menemukan kru The Skeld 301, meski jujur dia sendiri juga tidak terlalu berharap kalau mereka akan ditemukan dalam keadaan selamat.


"Sepertinya Kapten dan Black mulai sibuk akhir-akhir ini," kata Yellow pada Green saat mereka di reactor.


"Ya, kudengar sudah ada perkembangan dari pencarian mereka jadi mereka lebih sibuk dari biasanya. Itu hal yang wajar mengingat mereka berdua adalah poin penting untuk misi ini," jawab Green.


Sementara itu, Red yang sedang mendownload data di comunication diabaikan oleh Black. Temannya itu sangat fokus pada layar monitor sehingga tidak menyadari ada yang memperhatikan nya. Tapi Red memakluminya dan tidak akan mengganggunya.


Terlihat Black mengubah posisi duduknya dan mulai mengetik di komputer, seperti menemukan sesuatu. Tapi tidak lama kemudian dia memukul meja dengan geram.


"Si*l, hilang lagi," umpat Black lalu menghubungi White.


"Hey White, sinyal nya hilang lagi. Tapi kekuatan nya semakin meningkat," lapor Black.


White menjawabnya. Black hanya mengangguk lalu mematikan sambungan komunikasi nya dan bersandar di kursinya. Red masih disitu memperhatikannya, hingga dia merasa ada yang aneh dengan Black.


Temannya itu memang duduk. Tapi jika diteliti lagi, Black terlihat gemetaran. Red mendekati nya dan ternyata dugaannya benar.


Black terduduk lemas. Nafasnya tidak terkendali dan tubuhnya menggigil hebat. Wajahnya pucat dan kantung matanya menghitam, menunjukkan bahwa temannya ini tidak menjaga dirinya dengan baik.


Red menggendongnya di punggung lalu membawanya ke medbay.


"Kak Brown," panggil Red.


Brown yang saat itu sedang membaca buku, terkejut dan mulai mengeluarkan peralatan nya. Black dibaringkan di ranjang.


"Red, ambil air hangat di dapur!" Perintah Brown tanpa menoleh.


Red mengangguk lalu bergegas ke dapur mengambil sebaskom air hangat. Orange yang di dapur bingung melihat Red yang terburu-buru.


"Kau kenapa, Red?" Tanya Orange.


"Black sakit," jawab Red lalu pergi.


Orange terkejut. Dia cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan nya lalu pergi ke medbay untuk melihat keadaan Black.


Red memberikan air hangat itu dan Brown mengompres kening Black. Brown menyuruh Red untuk memberitahu ini kepada White dan memintanya untuk ke medbay.


"Kapten!" Panggil Red sesampainya di navigation.


"Ya, ada apa?" Tanya White tanpa menoleh.


"Kak Brown meminta anda untuk ke medbay sekarang," jawab Red.


"Kenapa? Katakan padanya aku sedang sibuk sekarang," kata White.


"Black sedang sakit sekarang. Kak Brown ingin anda ke medbay sekarang! Ini serius," jelas Red.


White terkejut lalu segera bergegas ke medbay. Dia tidak akan tahu perkembangan nya jika Black tidak ada ditempatnya. Tugasnya kan hanya memantau jalur yang dilalui pesawat ini karena mereka belum pernah lewat sini. Lain lagi ceritanya jika The Skeld 301 memberikan peta jalur mereka. Tapi apa yang bisa diharapkan dari pesawat yang hilang tanpa jejak dan hanya meninggalkan kode Morse?


Sesampainya di medbay, terlihat Brown yang sedang memperhatikan tabletnya yang berisi kondisi Black saat itu.


"Apa Black baik-baik saja, Brown?" Tanya White lalu mendekati istrinya.


"Dia demam. Sepertinya karena kurang istirahat dan kurang makan," jawab Brown.


"Kapan dia akan sembuh?"


"Jika minum obat dan banyak istirahat, ku jamin dia bisa sembuh secepatnya. Tapi untuk sementara waktu dia tidak bekerja."


"Tapi bagaimana dengan misi ini? Kami sudah semakin dekat untuk menemukan mereka," kata White.


Brown mengalihkan perhatiannya dari tablet lalu memandang White, "Tapi aku juga tidak mau kau sakit. Jangan jadikan misi ini sebagai alasan untuk sakit. Kau juga manusia," balas Brown dengan nada menceramahi.


"Psst Red," panggil Orange dari balik pintu.


Red menoleh lalu menghampiri nya, "Kenapa?"


"Jangan disitu! Nanti kau jadi nyamuk," jawab Orange.


"Oh baiklah," kata Red lalu keluar dan pergi ke cafetaria.


Tapi langkah Red terhenti karena saat dia menoleh lagi, Orange masih di posisinya. mengintip ke medbay.


"Kenapa kau masih disitu?" Tanya Red bingung.


"Ssstt. Tontonan gratis," jawab Orange tanpa menoleh.


Red mendengus, "Bruh, kau suka drama?"


"Ya. Kadang-kadang aku menonton drama saat waktu luang ku," jawab Orange.


Red menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal lalu pada akhirnya bertahan disitu juga. Tapi dia duduk bersandar di dinding membelakangi medbay. Dia hanya mendengarkan perdebatan suami istri itu.


Setelah agak lama berdebat, akhirnya White mengalah. Ternyata meski kelihatan pendiam begitu, Brown adalah orang yang peduli dan cerewet jika menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan. Memang yang namanya perempuan tidak bisa disalahkan.


"Baiklah kalau begitu. Aku menyalakan chart course dulu lalu pergi istirahat," kata White lalu berbalik.


"Ayo Red," ajak Orange lalu menarik tangan Red untuk menjauh dari situ.


"Tidak perlu kabur, aku sudah tahu kalian berdua pasti menguping perdebatan kami," tegur White saat baru keluar.


Mereka berdua yang tidak jauh dari situ, berbalik sambil cengengesan.


"Maaf Kapten," kata mereka berdua bersamaan lalu pergi.


Sementara itu, kondisi Black mulai membaik. Demamnya sudah menurun dan sebentar lagi dia akan benar-benar sembuh. Semua Crewmate menjenguknya (kecuali Cyan dan Blue).


White datang menjenguknya. Black terlihat mengobrol dengan Red yang sedang mengupas kulit apel.


"Bagaimana kondisi mu?" Tanya White lalu duduk di kursi dekat ranjang Black.


"Sudah membaik. Mungkin besok atau beberapa hari lagi aku sudah bisa bekerja lagi," jawab Black lalu mengambil apel yang sudah dikupas Red. Saat sakit dia memang banyak maunya.


"Oh baguslah kalau begitu," kata White sambil merenung.


"Kau sendiri bagaimana? Apa ada yang baru dari pencarian kita?" Tanya Black sambil mengunyah apel.


"Sejak kau sakit, Brown menyuruhku untuk istirahat. Dia tidak mau aku berakhir seperti mu. Dia sangat cerewet dengan kesehatan ku," jelas White.


"Kalau begitu, berikan saja dia padaku," saran Black asal.


White dan Red tiba-tiba diam. Mereka berdua sama-sama menatap Black dengan tajam.


Black nyengir, "Hanya bercanda. Aku masih suka masa-masa keperjakaan ku, belum tertarik untuk punya pasangan."


"Lalu kapan kau akan mulai? Apa kau tidak tertarik dengan perempuan?" Tanya White sedikit mendesak. Memangnya dia orang tuanya Black?


"Aku tidak tertarik dengan perempuan," jawab Black santai.


Mereka berdua diam lagi. White menatap Black dengan horor. Sementara Red yang diseberang nya, mulai berkeringat dingin. Apakah selama ini hubungannya dengan Black lebih dari sekedar teman? Tahu sendirilah maksudnya apa.


Black yang menyadari ada yang aneh dengan dua orang itu lalu meneriaki mereka berdua, "Aku lebih suka dengan pekerjaan ku daripada perempuan. Dasar si*lan, kalian pasti berpikiran jorok kan barusan?!" Bentak Black kesal.


Mereka berdua menghela nafas lega, "Kukira apa tadi," ujar Red lalu mengambil salah satu buku dan mulai membacanya.


"Lagipula jika sudah punya nanti, pasti harus banyak perhatian pada pasangan daripada pekerjaan ku," kata Black lagi.


"Untung saja Brown tidak seperti itu," balas White.


"Ya, kau beruntung punya istri seperti dia. Sudah cantik, pintar, tidak perlu terlalu banyak perhatian lagi. Aku ingin punya istri seperti dia saja suatu hari nanti," sambung Black.


"Ehem!" Brown berdehem di belakang White. ternyata dia sudah agak lama disitu, mendengar kan cerita mereka.


Black dan White terkejut lalu suasana nya menjadi canggung. Black tidak menyadari Brown didekat mereka berdua saat sedang membicarakan nya. Sedangkan Red sendiri sudah tahu, tapi dia diberi kode untuk diam.


"Waktu menjenguk sudah habis," kata Brown.


"Oh baiklah. Aku akan pergi," jawab White lalu berjalan keluar. Jika Brown bilang begitu, itu artinya dia mau tidak ada yang menggangu istirahat pasien.


Sementara itu di upper engine, Lime sibuk mengotak-atik mesin itu. Dia benar-benar fokus dengan kegiatannya. Tapi tanpa disadarinya, Rugel yang saat itu sedang dikejar oleh Green tidak sengaja menyenggol komponen yang sedang rusak.


Tepat setelah senggolan itu, percikan listrik muncul lalu membesar dan menyambar sekitarnya. Lime yang berada didekatnya terkejut dan tidak bisa lari kemana-mana lagi.


Tapi ketika listrik itu hampir mengenainya, White muncul lalu melindungi Lime, bagian punggung nya dijadikan tameng. Sehingga listrik itu mengenai punggung White.


White tersengat listrik. Tubuhnya kejang-kejang lalu akhirnya rubuh. Lime dan Green panik. Mereka segera memanggil Brown.


Brown dan yang lainnya terkejut. Padahal mereka baru saja berbicara dengan White. Mereka bertiga termasuk Black berlari ke tempat kejadian.


"Kapten, bangun!"


"White, jawab aku. Hey!"


Mereka memanggil nya bergantian hingga terlihat pergerakan dari tubuh White. Jari-jari tangannya bergerak. Dia berusaha duduk tapi tubuhnya bergetar hebat. Mereka membantu White duduk bersandar di dinding.


"White, bagaimana keadaanmu?" Tanya Brown khawatir.


"Ugh," White tidak menjawab. Tubuhnya masih gemetaran. Dia berusaha menenangkan diri.


"Itu tidak baik untuk orang tua seperti ku," jawab White terbata-bata.


Mereka pun bernafas lega. Itu artinya White baik-baik saja.


"Green, bawa dia ke medbay," perintah Brown.


"Tidak Brown. Aku mau istirahat saja ke kamarku. Green bisa kau bawa aku ke sana saja?" Pinta White.


Green menurut lalu memapah White ke kamarnya, diikuti Brown dan Lime. Sementara Red dan Black masih di posisi mereka.


"Aku merasa ada sesuatu yang baik yang sedang terjadi," kata Black tiba-tiba.


"Sesuatu yang baik? Apa Kapten disetrum adalah sesuatu yang baik?" Tanya Red bingung.


"Bukan itu. Tapi yang lain, sesuatu yang baik sedang terjadi saat ini," jawab Black.


Red tetap tidak mengerti. Sesuatu yang baik? Apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh Black? Temannya ini memang terkadang terlihat misterius. Seperti cenayang saja.


Ternyata meski sudah disengat listrik, White masih bisa bertahan dan malahan keadaan nya sudah membaik. Tentu saja mereka bingung. White disengat listrik bertegangan tinggi dan dia selamat. Bukan mau menyumpahi nya, tapi tetap saja itu mengherankan.


"Itulah yang dinamakan Mukjizat," kata Black sebelum mereka melanjutkan pekerjaannya.


Sekarang mereka benar-benar yakin, mereka akan menemukan pesawat itu sebentar lagi.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋