Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 59: Semakin Buruk



Sudah lewat 5 tahun, tapi pesawat bantuan yang diminta oleh Black itu belum datang juga. Black tetap menunggu dengan sabar.


Sebenarnya mereka merasa tidak tenang dengan tempat itu. Beberapa kali mereka mendapat serangan dari tentakel Impostor. Red yang paling sering jadi sasaran. Membuat dia semakin lemah dan akhirnya lebih sering menghabiskan waktunya di kamar.


Kondisi itu mengubah mereka. Black yang dulu terlihat segar dan selalu tersenyum, sekarang menjadi pemurung dan lebih sering diam. Lime sudah tidak pernah marah-marah lagi, tapi dia merasa depresi berat. Yellow dan Pink jarang berinteraksi satu sama lain. Blue juga menjadi pendiam. Sedangkan Brown terlihat sudah lelah dengan situasi itu.


Hari ini, mereka akan mengerjakan task. Seperti biasa, Red tidak bersama dengan mereka. Red mulai mudah sakit-sakitan. Dia sering demam dan tidak kuat lagi dengan suhu di Polus. Brown sendiri juga tidak tahu apa obat untuk sakit Red itu.


Black berjalan gontai menuju comunication. Melakukan rutinitas wajibnya, menghubungi Mira HQ. Kali ini dia sudah tidak tahan lagi dan langsung menyerang Pak Leon dengan pertanyaan.


"Dimana pesawat bantuan yang kau janjikan itu? Ini sudah lewat 5 tahun dan aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Impostor terus-menerus menyerang kami, Red sakit, dan beberapa dari kami juga merasa tidak baik-baik saja. Lebih baik kau beritahu saja padaku yang sebenarnya!" Seru Black dengan marah. Dia meluapkan emosi nya yang selama ini dia tahan.


Pak Leon menatapnya dengan tatapan datar. Dia terbiasa menghadapi astronot yang kehabisan kesabaran seperti Black.


"Mereka mendapatkan masalah di perjalanan, jadi terlambat tiba di sana. Aku yakin tidak lama lagi mereka akan tiba," jawab Pak Leon.


Black berdecak marah lalu mematikan sambungan komunikasi secara sepihak. Ekspresi Pak Leon sama sekali tidak berubah ketika melihat layar gelap di depannya.


"Anak itu benar-benar tidak sopan. Saya sarankan anda untuk memecatnya," komentar salah satu petugas komunikasi yang usianya lebih tua dari Black.


"Tidak perlu. Saya sudah terbiasa menghadapi yang seperti ini," jawab Pak Leon lalu pergi.


Black pergi dari tempat itu lalu mengerjakan task nya. Dia berjalan dengan malas ke tempat-tempat task nya. Dia sudah melakukan rutinitas itu setiap hari dan untuk pertama kalinya dia merasa jenuh.


Dirinya mulai dihantui oleh rasa tidak percaya diri. Dia khawatir dengan nasib para Crewmate. Apakah dia berhasil membawa mereka pergi dari tempat itu?


Black tersandar di dinding storage lalu menangis. Tangisan yang selama ini ditahannya, akhirnya lepas juga.


"White, bagaimana ini? Aku tidak bisa lagi, aku sudah tidak sanggup lagi," keluh Black dengan nada tertahan.


Dia merasa punggungnya begitu berat, memikul tanggung jawab yang sangat besar. Rasanya seperti dia tidak mampu bangkit lagi.


"Black, kau kenapa?" Tanya Red yang baru masuk ke storage.


Black terkejut, "Red? Kenapa kau keluar?" Tanyanya sambil menatap Red yang pucat dan kurus itu.


"Aku tidak nyaman di kamarku, jadi aku keluar mencari mu. Apa kau... menangis?" Tanya Red sambil menatap wajah Black.


Black tidak menjawab. Ditanya seperti itu membuat air matanya mengalir lagi. Red langsung duduk hingga sejajar dengannya lalu memeluk Black. Black balas memeluknya.


"Aku minta maaf, Red. Aku minta maaf tidak bisa melindungi mu dan yang lainnya dari Impostor. Aku benar-benar pengganti Kapten yang buruk. Seandainya saja White masih hidup, ini pasti tidak akan terjadi. Kau pasti tidak akan sakit-sakitan terus dan hubungan kita semua pasti tidak akan seperti ini," kata Black dengan air mata yang terus mengalir.


"Ini bukan salah mu, Black. Kau sudah melakukan semua tugas mu dengan baik. Justru sebenarnya ini semua karena aku, muncul jarak di hubungan kita semua. Kalau saja aku lebih kuat, kalian pasti tidak perlu terlalu khawatir dan tidak akan stress karena memikirkan ku," jawab Red lalu mulai batuk-batuk.


Black memeluk erat tubuh Red untuk memberikan rasa hangat. Setelah Black berhenti menangis dan Red berhenti batuk, Black mulai berbicara lagi.


"Ini bukan salah mu, Red. Aku berjanji akan membalas dendam pada Impostor atas apa yang telah dilakukannya pada White lalu membawa kalian semua pergi dari sini," kata Black dengan sungguh-sungguh.


"Akan ku tunggu itu," jawab Red sambil tersenyum hangat.


Mereka berdua berdiri lalu Black mengantar Red ke kamarnya. Setelah itu, dia lanjut mengerjakan task. Selama mengerjakan task, dia terus-menerus memikirkan perkataan nya barusan.


Dia memiliki perasaan kalau tidak semua dari mereka akan pergi dengan selamat dari tempat itu. Tapi saat ini, prioritas nya hanya Red dan Brown.


Bukannya bersikap tidak adil dengan Crewmate yang lainnya. Tapi Black tahu kalau ada rahasia besar dibalik Red yang Red sendiri tidak mengetahuinya. Jadi rencananya sekarang adalah ingin mengungkap rahasia itu. Tapi sebelum itu, harus ada yang dipersiapkannya.


Setelah selesai mengerjakan task, Black kembali ke kamarnya lalu mengunci pintu. Dia mengeluarkan sebuah kamera yang diletakkan di meja untuk merekam dirinya. Tapi sebelum mulai merekam, dia merenung lagi. Apa-apa saja yang ingin dikatakannya.


Black menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya. Dia mulai merekam dirinya. Segala hal yang dipikirkannya sudah dituangkan nya dalam rekaman itu.


Setelah selesai merekam, Black menyimpan rekaman itu di dalam sebuah kotak kecil yang didalamnya juga ada benda-benda yang ingin diberikan kepada Red. Black teringat sesuatu lalu mengambil secarik kertas dan menulis sebuah pesan didalamnya. Setelah itu, dia melipat kertas itu lalu memasukkan nya ke dalam kotak.


"Hey, Brown," sapa Black kepada Brown yang sedang sibuk dengan sampelnya.


"Hai, Black. Bagaimana kabarmu?" Tanya Brown lalu mengalihkan perhatiannya dari tabung-tabung itu.


"Baik. Aku ingin berbicara sesuatu dengan mu," jawab Black lalu duduk.


Brown ikut duduk di sampingnya, "Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Jadi begini, aku punya firasat kalau tidak semua dari kita yang ada disini akan pergi dengan selamat. Jadi ini untuk jaga-jaga saja kalau misalnya aku adalah bagian dari yang 'tidak semua' itu."


"Tapi bagaimana kalau misalnya aku tidak selamat?" Tanya Brown.


"Kau pasti akan selamat. Aku akan menjamin itu," jawab Black sambil tersenyum yakin.


Lalu dia mengulurkan kotak itu, "Di dalam kotak ini, terdapat sesuatu yang sangat penting dan sangat rahasia. Kalau misalnya aku tidak selamat, aku ingin kau memberikan ini kepada Red. Kau tidak perlu melihat isinya karena aku akan memberitahu mu sekarang," jelas Black.


"Kenapa kau percaya sekali padaku?" Tanya Brown tapi belum menerima kotak itu.


Black menghela nafas, "Sejak kedatangan Impostor, hanya kau, Red, dan White saja yang aku percayai. Lagipula aku sudah bertekad untuk melindungi mu," jawab Black.


Brown terdiam sambil menatap kotak itu. Lalu dia menatap wajah Black. Ingatan saat dia masih SMA pun muncul kembali. Dia ingat kalau Black lah yang dulu membantu dia dan White untuk berpacaran lalu akhirnya menikah. Dia juga masih ingat betapa percayanya White pada Black, meski dia selalu bermain-main dengan tugasnya.


Brown menghela nafas lalu menerima kotak itu, "Akan kulakukan itu," jawab Brown.


Sementara itu di tempat lain...


Blue berjalan-jalan di luar sambil merenung. Dia memikirkan tentang hubungannya dengan Red yang tidak akur itu. Tapi entah kenapa dia merasa ingin memperbaiki hubungannya dengan Red.


Dia memang selalu mengganggu orang itu, tapi bukan berarti dia benci padanya. Blue hanya suka melihat muka orang yang sedang marah-marah, menurutnya itu seperti hiburan kecil untuknya.


Itulah kenapa saat di The Skeld waktu itu, ketika Purple memukul kepala Red hingga pingsan. Dia merasa khawatir dan tidak nyaman pada Red. Karena dia tahu persis batasannya.


"Harusnya ini tidak terlalu buruk kan?" Tanya Blue pada dirinya sendiri ketika dia masuk ke O2.


Tiba-tiba pintu menuju ke electrical tertutup sendiri. Blue terkejut tapi segera membuka nya dengan menggunakan tombol-tombol yang ada di samping pintu.


Tapi belum sempat dia selesai, seseorang sudah berdiri di belakangnya sambil memegang pisau.


JLEB!


Bersambung


.


.


.


.


Halo semuanya. Mohon maaf kalau tiba-tiba cerita ini tidak nyambung dengan bab sebelumnya. Sekarang aku pengen kasi pengumuman.


Jadi sekarang author udah kelas 3 SMA dan sekarang lagi fokus ujian praktek dan persiapan untuk ujian kelulusan nanti. Ini buat author gak punya waktu untuk nulis lagi. Tapi bukan berarti aku benar-benar gak bisa.


Aku bakalan nyempetin untuk nulis dikit-dikit biar bisa tetap update sampai novel ini tamat (gak lama lagi kok). Karena pikiran ku gak bisa tenang kalo masih ada utang.


Jadi aku janji novel ini bakalan tamat meski agak lama. Udah itu aja terima kasih karena telah membaca


Sampai jumpa 👋