Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 39: Jalan-jalan



Ponsel Red berdering. Red menoleh. Terlihat nama Black di layar HP nya. Dia mengangkat panggilan itu sambil tangan kirinya sibuk mengelap rambutnya yang basah dengan handuk.


"Halo?" Tanya Red.


"Halo Red, bagaimana kabarmu sekarang?" Black bertanya balik di seberang.


"Baik. Kenapa kau menelepon?" Red menempelkan HP nya di antara telinga dan bahunya, sedangkan tangannya sibuk memilih pakaian yang akan dikenakan nya.


"Kau tidak liburan?"


"Aku sedang bersiap-siap sekarang. Tidak liburan, mungkin hanya sekedar jalan-jalan keliling kota atau singgah di salah satu tempat yang kutahu."


"Kau tidak mau mengajakku?"


Tangan Red berhenti, "Aku ingin mengajak mu, tapi kau pasti sibuk."


"Siapa bilang? Sekarang coba lihat di luar jendela mu," suruh Black. Kamar Red berada di depan, jadi dia bisa langsung melihat siapa yang berada di depan rumahnya.


Red mengintip di jendela dan terlihat laki-laki yang dikenalnya sedang berdiri di halaman rumahnya. Black yang sadar langsung melambai ke arah jendela kamar Red sambil tersenyum lebar.


Red terkejut, "Bagaimana kau...?"


"Kau sudah lihat kan? Aku tunggu di depan pintu," Black mematikan teleponnya lalu berjalan ke pintu rumah Red.


Red cepat-cepat berpakaian lalu segera membuka pintu untuk Black. Temannya yang tinggi 1 cm darinya itu kini sudah berdiri di depannya.


Ini pertama kalinya Red melihat Black berpakaian kasual, tidak seperti saat dia di The Skeld atau saat di Mira HQ yang berseragam. Red mangap melihat penampilan temannya itu.


"Kau kenapa? Sampai mangap hanya karena aku semakin tampan," kata Black dengan penuh percaya diri.


"Dasar narsis. Cepat masuk!" Perintah Red kesal.


Pintu ditutup setelah Black masuk. Dia langsung duduk di sofa, sedangkan Red segera pergi ke dapur untuk membuat minuman.


"Air putih saja, Red. Aku haus sekali," saran Black sambil mengipasi dirinya dengan majalah bulanan yang ada di dekatnya.


Red berhenti memasukkan air ke dalam teko setelah mendengar perkataan Black dan beralih mengambil air minum dari dispenser. Dia kembali ke ruang tamu lalu memberikannya kepada Black.


Black meneguk air itu hingga habis, "Ah segar sekali," kata Black dengan tersenyum puas.


Red duduk di sampingnya, "Bagaimana kau bisa kesini? Apakah kau diijinkan?"


"White yang mengijinkan ku untuk libur. Tapi sebenarnya ini juga agar aku tidak diinterogasi," jawab Black sambil menyimpan gelas kosong itu.


"Interogasi? Kenapa kau diinterogasi?" Red terkejut dan heran.


"Bukan hanya aku, White dan Brown juga ikut diinterogasi. Aku tidak tahu ini untuk apa, tapi ini pasti ada hubungannya dengan Impostor. Kurasa mereka menganggap kalau ada sesuatu yang kita sembunyikan sehingga menginterogasi kami yang memegang peran penting di The Skeld," jelas Black sambil berpikir keras.


"Padahal justru merekalah yang menyembunyikan sesuatu dari kita," komentar Red.


"Kau benar, tapi apa boleh buat. White menyuruhku pergi agar aku tidak ikut diinterogasi. Untuk apa ya kan?" Tanya Black sambil meminta pendapat.


"Jadi ini juga yang membuat mu tidak mengenakan headphone mu?"


"Benar. Ini supaya mereka tidak bisa menghubungi ku," jawab Black lalu mulai memperhatikan Red, "Ngomong-ngomong, bukankah kau akan pergi jalan-jalan? Apakah kau berniat pergi dengan mengenakan kaos dan celana pendek?"


Red berdecak, "Kau datang tiba-tiba sebelum aku selesai memilih pakaian."


"Kau ini seperti wanita saja. Selalu pilih-pilih sebelum keluar," komentar Black.


"Aku hanya memilih pakaian yang nyaman untuk ku kenakan seharian," bela Red lalu berjalan masuk ke kamarnya.


"Jangan lupa pakai hair dryer untuk mengeringkan rambut mu. Lalu juga bersolek, jangan lupa ya," ledek Black.


"S*alan kau," umpat Red. Black tertawa terbahak-bahak.


Setelah berpamitan dengan Flo, Mereka berdua berjalan kaki ke halte bis. Sebuah bis berhenti dan mereka segera naik. Red duduk di dekat jendela dan Black disampingnya.


"Kita akan kemana?" Tanya Black.


"Aku berniat ke salah satu restoran favoritku. Sudah lama aku tidak ke sana," jawab Red.


"Apa yang membuat mu menjadikan tempat itu sebagai favorit mu?" Black membuka ponselnya dan mulai bermain game.


"Makanan di restoran itu enak sekali. Aku jamin kau akan langsung suka setelah mencicipinya," jawab Red antusias.


"Hm baiklah," kata Black.


Setelah melewati perjalanan selama beberapa menit, akhirnya mereka tiba di restoran yang dikatakan oleh Red. Restoran itu terlihat biasa saja, tapi terlihat begitu banyak orang yang mengantri.


Red cepat-cepat mengantri dan akhirnya mendapatkan salah satu meja yang ada di dalam ruangan. Meski tempat itu terlihat biasa saja, tapi sebenarnya bagian dalamnya begitu luas dan mewah.


"Hampir tadi kukira kita tidak akan dapat meja," komentar Black.


"Ini sebenarnya masih belum ramai. Yang paling ramai saat sudah malam. Ku jamin tidak akan dapat meja jika sudah malam," jelas Red.


"Berarti bukan tempat yang cocok untuk ngedate," kata Black lalu memandang setiap sudut ruangan.


"Ngedate? Kau sudah punya pacar?" Tanya Red heran.


"Bukan ngedate itu yang ku maksud. Ada arti tersendiri untukku dibalik kata itu," jawab Black sambil tersenyum misterius.


Red menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Baiklah kalau begitu."


Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka, "Permisi tuan, ingin memesan?"


Pelayan itu memberikan buku menu kepada mereka berdua. Red langsung menyebut menu yang diinginkan nya dan langsung dicatat oleh pelayan. Sedangkan Black masih menimang-nimang apa yang akan dipilihnya.


Setelah menimang-nimang, Black menemukan menu yang menurutnya cocok lalu segera memberitahu nya kepada pelayan. Setelah mencatat pesanan mereka berdua, pelayan itu pergi untuk melanjutkan tugasnya.


Setelah agak lama menunggu, pesanan mereka pun datang. Mereka langsung saja makan. Black mencicipi sedikit makanan itu dan tertegun.


"Wah, ini enak sekali," puji Black lalu lanjut melahap makanannya.


"Sudah kukatakan," balas Red dengan bangga.


"Rasanya aku ingin membawa ini juga untuk White. Soalnya dia hampir tidak pernah makan masakan dari luar Mira HQ" kata Black.


"Tentu saja boleh. Asal kau kirim langsung. Kalau tunggu sampai kau kembali ke sana, itu hanya akan mengurangi kualitas makanannya," jawab Red.


Black mengangguk, "Baiklah."


Dia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seorang temannya untuk mengantarkan pesanan itu kepada White karena Mira HQ adalah markas rahasia. Tidak ada yang boleh mengumbar tempat itu.


Setelah selesai makan dan pesanan di antar, mereka berdua meninggalkan restoran itu dan lanjut ke tempat berikutnya dengan menaiki bis.


Black merasa begitu puas dengan makanan yang baru saja dimakannya. Sekarang dia mulai mengantuk, tapi dia tidak mau tidur karena tidak nyaman dengan Red. Jadi dia menahan kantuknya dan memutuskan untuk mengobrol banyak dengan Red.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋