
Red keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju meeting room sambil menatap denah agar tidak tersesat. Selama berjalan, Red juga melihat-lihat ruangan yang dilewatinya karena kemarin dia tidak ikut Righty sampai selesai.
"Oh, jadi ini main hall," gumam Red sambil melihat 4 ruangan di lorong yang dilapisi karpet biru.
Ada 2 jalan di main hall. Lurus membawa Red ke engine room, sedangkan yang berbelok ke kiri membawa Red ke sebuah tangga yang menuju lantai bawah. Itu adalah electrical.
Red terus berjalan lalu berbelok ke kanan menuju Brig. Dia bertemu dengan Black yang hendak masuk ke Brig.
"Selamat pagi, Black," sapa Red lalu menghampiri temannya itu.
"Selamat pagi juga, Red," balas Black lemah sambil menoleh.
Red terkejut, "Ya ampun, Black. Matamu kenapa?"
Penampilan Black saat itu sudah rapi. Tapi tidak dengan wajahnya. Kantung mata Black menebal dan hitam tanda kalau dia kurang tidur. Black mengusap matanya yang sayu.
"Aku kurang tidur semalam. Kemarin aku mengikuti White dan Righty yang sedang membicarakan tentang pesawat ini. Aku ikut mereka sampai jam 1 malam," jawab Black. Tubuh Black limbung, tapi Red segera menahannya agar tidak jatuh.
"Kenapa kau mengikuti mereka? Bukankah kau bisa saja meninggalkan mereka seperti yang kulakukan kemarin?" Tanya Red.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, Red. Aku tidak langsung percaya dengan orang baru. Terutama Righty. Di mataku, dia sangat mencurigakan," jelas Black.
"Kau ini terlalu berlebihan, apa yang membuatnya sangat mencurigakan di matamu?"
"Segala hal tentangnya. Sikapnya, cara bicaranya, bahkan penampilannya."
Red menggeleng, "Kau benar-benar terlalu berlebihan," komentar Red lalu berjalan melewati Black.
"Eh, aku serius," bela Black lalu menyusul Red.
Mereka tiba di gap room. Di depan mereka tidak ada jalan untuk menghubungkan dengan lantai yang ada di seberang. Hanya ada sebuah lantai persegi yang muat satu orang dengan baling-baling di bawahnya. Di samping mereka ada tangga yang menuju ke atas.
"Sepertinya tangga ini membawa kita ke meeting room," kata Red.
Lalu mereka berdua menaiki tangga itu dengan Red yang naik terlebih dahulu. Sesampainya di atas, Red melihat ruangan yang cukup luas dengan sebuah meja panjang dan 12 kursi.
Di ujung meja, terlihat White, Brown, dan Righty sedang mengobrol. Black pun tiba di ruangan itu. Wajahnya langsung berubah masam ketika melihat Righty.
White menyadari kedatangan mereka berdua, "Selamat pagi, Red dan Black. Kalian duduk saja dulu. Aku akan membagikan task setelah semuanya berkumpul."
Mereka berdua menurut lalu duduk di kursi yang agak jauh dari mereka bertiga. White melihat mata panda Black.
"Kau kurang tidur, Black?" Tanya White.
"Begitulah," jawab Black malas.
"Mau kopi?" White menawarkan kopi miliknya.
Black memperhatikan kopi itu, "Bekas mulutmu?" Tanya nya.
"Belum ku minum," jawab White. Black mengambil kopi itu lalu meneguknya.
Brown mendekati White, "Lalu kau sendiri minum apa?"
"Tidak apa-apa. Aku sudah minum sedikit tadi."
Sontak Black tersedak, "Ceh, sudah kau minumlah ini," protes Black.
Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Black mengusap mulutnya kasar. Setelah berhenti tertawa, Red memperhatikan White.
"Kapten terlihat segar sekali pagi ini. Padahal kata Black, kalian masih berbicara sampai jam 1 malam," komentar Red.
"Karena orang tua punya stamina tubuh yang kuat dan mampu membuat kami bergadang," jawab White bangga.
Black mengerucutkan bibirnya, "Yang benar saja," gerutunya.
Dia langsung meletakkan kepalanya di meja lalu tertidur lelap. Tidak lama kemudian, para kru yang lainnya mulai berdatangan dan ikut duduk. Suasana mulai ramai dan berhasil membangunkan Black.
White berdiri lalu membagikan task mereka masing-masing. Black mendapatkan task yang artinya dia tidak duduk di comunication.
"Saat ini comunication belum dipakai, jadi tidak apa dibiarkan kosong," jawab White.
"Tumben sekali kau memperhatikan ini, apa ada sesuatu?" Tanya Pink.
"Bukan apa-apa," jawab Lime sekenanya.
Sebenarnya selain Red, Lime juga menyadari ekspresi masam dari Black yang membuatnya menyadari mood orang itu sedang tidak baik-baik saja. Dan sepertinya White tidak peka akan hal itu.
Setelah mendapatkan task, mereka segera pergi untuk mengerjakannya. Red dan Black berpisah di engine room. Red pergi ke main hall dan memulai task dengan fix wiring.
Setelah itu dia ke record, menyusun buku yang berantakan di meja dan download data. Lalu lanjut fix wiring di lounge. Dia juga akan membuang sampah, jadi dia mendekati tempat sampah yang ada di dekat deretan pintu WC.
Tapi ketika akan menarik sampah yang sudah di ikat didalam plastik, Red mengalami kesulitan karena sampahnya yang melebihi lubang tempat sampahnya.
"Aghh...!" Erang Red sekuat tenaga. Tapi sampah itu sama sekali tidak keluar.
"Hahaha...!" Blue yang baru muncul langsung menertawakan Red.
Red menoleh lalu menatap Blue dengan sadis, "Kenapa kau tertawa?"
"Tentu saja karena itu. Bahkan sampai kau mencret pun, sampah itu tidak akan keluar," ejek Blue yang berhasil membuat Red kesal.
Blue membuka salah satu pintu WC dan mendapati pemandangan yang berhasil membuatnya terdiam.
"Kyaaa...!!!" Suara teriakan wanita mengejutkan Red, ditambah dengan suara Blue yang terlempar keluar dari WC
"Suara apa itu?" Tanya Red lalu menoleh ke belakang dan mendapati Blue yang terkapar di lantai dengan penyedot toilet menempel di keningnya.
"Pfft hahaha...!" Red tertawa terbahak-bahak ketika melihat Blue.
Blue berdiri dengan kesal, "Jangan tertawa, lebih baik kau bantu aku melepaskan benda ini," katanya.
Red tidak lagi tertawa, tapi masih cekikikan geli. Dia menarik benda itu dengan sekuat tenaga dan benda itu pun terlepas dari kepalanya. Blue mengusap keningnya.
"Bagaimana benda itu bisa menempel di kepala mu?" Tanya Red penasaran.
Belum sempat Blue menjawab, Pink keluar dari WC yang sebelumnya dimasuki oleh Blue. Dia menatap Blue dengan tatapan tajam.
Red melongo sambil menatap mereka berdua dengan bergantian. Hingga akhirnya otaknya kembali bekerja.
"Bwahahaha...!!!" Red tertawa terbahak-bahak dengan suara keras. Dia memukul bahu Blue karena tidak kuat menahan tawa.
"Sekali lagi kau ulangi, bukan benda itu lagi yang melayang ke kepala mu," ancam Pink sambil mengacungkan sepatunya.
"Ya maaf. Aku kan tidak tahu kau ada didalam. Lagian ini juga salah mu, masuk WC, pintu tidak ditutup," bela Blue.
"Pintu WC ini rusak, jadi tidak bisa dikunci," jawab Pink.
Blue melihat task nya, "Aku yang ditugaskan untuk memperbaiki pintu WC ini (tidak ada task ini dalam gamenya). Ngomong-ngomong Red, kau sudah selesai tertawa?" Mereka berdua melihat ke arah Red yang terduduk di lantai dalam kondisi lemas.
"Ini pertama kalinya aku tertawa sepuas ini. Hehehe," kata Red terkekeh lalu berdiri, "Lain kali carilah WC yang pintunya tidak rusak," pesan Red.
Dia mendekati tempat sampah itu lagi. Kejadian tadi cukup mengobati moodnya yang rusak karena sampah itu. Dia memegang ikatan sampah itu lalu mengangkat nya dengan kecepatan sedang. Tapi ternyata itu berhasil membuat sampah itu keluar dari tempat sampah.
"Hah?" Red dan Blue pun bingung.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋