
Airship berhenti di sebuah bukit. White berhasil menemukan tanah datar yang cocok untuk mendaratkan pesawat. Lime sibuk menambal lubang yang muncul di pesawat.
"Apakah ini akan lama?" Tanya White.
"Tidak juga. Tambalan ini hanya bersifat sementara sampai kita nanti kembali ke Mira HQ. Ini juga agar lubangnya tidak bertambah besar," jelas Lime tanpa melihat White.
"Baguslah kalau begitu. Aku akan masuk, aku serahkan yang disini padamu," kata White lalu berbalik.
"Anda bisa percaya pada saya," jawab Lime.
White masuk kembali ke Airship. Dia berjalan menuju Cockpit. Tidak ada kru yang lalu lalang saat itu. Kemungkinan karena sudah selesai task. Tapi dia bertemu dengan Black yang muncul dari kiri. Tampang Black terlihat kebingungan dan dia juga seperti sedang mencari sesuatu.
"Kau kenapa, Black?" Tanya White.
"Aku sedang mencari Red, apa kau melihatnya?" Black bertanya balik.
"Tidak. Memangnya kau ada perlu apa dengan Red?"
"Aku mau memintanya untuk memasak makan siang. Terakhir kali aku mengobrol dengannya di comunication saat mengerjakan task," jelas Black.
"Apa kau sudah mencari di semua tempat?"
"Tidak. Bisa mati aku keliling pesawat sebesar ini," jawab Black.
Saat mereka sedang berbicara, Righty muncul di belakang White. White menoleh dan mendapati orang itu yang berdiri jauh dari mereka berdua. Righty diam dan menundukkan kepalanya sehingga topinya yang lebar menutupi wajahnya.
White berbalik, "Mungkin kita bisa bertanya pada Righty."
Black tidak menjawab. Dia berdiri diam dan menatap Righty dengan tatapan tajam. Dia merasakan firasat buruk dari orang itu.
"Righty! Apa kau..."
"Tunggu!" Black menahan lengan White agar dia tidak mendekati Righty.
"Kenapa?" Tanya White bersamaan dengan Righty yang mengangkat kepalanya perlahan.
Tiba-tiba Black mendorong White hingga dia jatuh. Tepat saat itu juga, muncul kilatan cahaya yang melewati mereka berdua.
DUAR!
Sebuah ledakan muncul dan membuat pesawat itu bergetar. Semua orang terkejut dan berhenti dari aktivitas nya.
"Apa itu?" Tanya Lime kaget sambil berdiri.
White syok. Dia melihat sebuah lubang besar yang muncul karena kilatan cahaya. Lalu dia melihat ke arah Righty. Sementara Black menatap Righty dengan tajam. Dia sudah menduga ada yang aneh dengan orang itu.
(Note: Author ubah bentuk kumis Righty agar tidak terlalu... you know lah :D)
"Apa yang terjadi pada setengah dari tubuh Righty?" Tanya White sambil berusaha berdiri, tapi tubuhnya gemetaran sehingga Black membantunya.
"Cyborg. Manusia dengan tubuh setengah robot. Aku sudah curiga padanya, tapi tidak ku sangka ini justru jauh lebih buruk," jawab Black.
"Kau cepat sekali. Tapi mari kita lihat, apa kau juga bisa menghindari yang ini," tangan Cyborg Righty berubah menjadi pedang.
Dia langsung menyerang Black dengan pedangnya. Black menghindar, tapi pedang itu berhasil menggores lengannya.
"Black!" White terkejut melihat pedang itu berhasil menggores Black dan menciptakan luka yang cukup besar.
"Aku tidak apa-apa, White. Pergilah! Aku tidak bisa mengurusinya sendiri," kata Black sambil memegang lengannya yang tergores.
White mengangguk lalu pergi ke meeting room. Dia menekan alarm lalu mengumumkan hal itu kepada semua Crewmate melalui pengeras suara. Mereka semua terkejut.
"Yang laki-laki, segera pergi ke engine room untuk membantu Black. Sedangkan yang perempuan, temui Brown di medical," perintah White melalui pengeras suara.
"Siap!" Jawab mereka serentak lalu mulai bergerak seperti yang diperintahkan White.
Lime mengambil kunci Inggris nya lalu bergegas masuk. Sedangkan Black masih sibuk berurusan dengan Righty. Dia kesulitan mendekati Righty karena pedang besar itu.
Righty pindah ke belakang Black dengan cepat lalu bersiap untuk melakukan serangan yang menggunakan laser dari matanya.
BUK!
Righty terlempar ke samping terkena tendangan dari Blue. Black terkejut lalu berbalik. Dia lega karena Blue datang tepat waktu.
"Aku bawakan senjata untukmu," kata Blue sambil memberikan sebuah penyapu kepada Black.
"Apakah tidak ada senjata yang lain? Batang besi misalnya?" Tanya Black.
"Hanya itu yang kutemukan saat di perjalanan," jawab Blue.
Black menghela nafas lalu menerima penyapu itu. Sedangkan Blue memegang sikat lantai panjangnya dengan erat.
"Kalian ini seperti badut," komentar Righty sambil berdiri.
"Akan kami tunjukkan kekuatan dari alat kebersihan," kata Blue sambil mengacungkan sikat nya.
"Ya ampun," batin Black.
Lagi-lagi Righty bersiap untuk melakukan serangan laser. Tapi Lime muncul lalu melemparnya dengan ember dan menendangnya tepat di wajah.
"Dia tidak akan selesai. Ayo kita kalahkan dia," ajak Black lalu mereka bertiga maju serentak.
Righty mengeluarkan pedangnya lalu balas menyerang. Terjadi pertarungan sengit di antara mereka. Righty cukup kesulitan karena mereka yang berkelompok. Di tambah dengan Black dan Blue yang tahu bagaimana agar senjata mereka tidak terpotong oleh pedang Righty.
"Mereka boleh juga," batinnya lalu langsung melakukan tembakan laser.
"Awas!" Seru Black.
DUAR!
Tembakan laser itu melewati mereka dan berhasil membuat kerusakan pada atap pesawat. Lime sampai ternganga melihat atap pesawat yang berlubang dan beberapa puingnya yang jatuh.
"Beraninya kau!" Pekik Lime marah lalu menyerang Righty dengan membabi buta.
"Jangan gegabah," kata Black lalu berusaha menenangkan Lime. Dia tidak mau Lime termakan oleh emosinya sendiri. Sedangkan Blue memberi mereka ruang untuk tenang dengan menyerang Righty menggantikan Lime.
"Grrr..." Lime menggeram marah seperti seekor anjing yang melihat anjing lain melewati wilayahnya.
"Aku tahu kau marah. Tapi itu jangan sampai dibawa saat bertarung. Lawan bisa saja menggunakan itu untuk menjatuhkan mu," kata Black sambil mengusap punggung Lime.
Lime sudah berhenti menggeram. Tapi ekspresi wajahnya masih masam. Black membiarkan dia sendiri lalu bergabung dengan Blue yang mulai kewalahan.
Blue mengangkat sikatnya lalu berniat untuk memukul wajah Righty. Tapi Righty menangkap nya lalu mematahkan nya.
"Uaaahhh!" Pekik Blue kaget lalu melemparnya ke wajah Righty dan segera mundur. Black muncul dan langsung menggantikan nya.
"Kenapa kau mundur?" Tanya Black, protes pada tingkah Blue.
"Dia mematahkan sikat ku. Dia keras sekali, jujur kaki ku masih terasa sakit setelah menendangnya," jawab Blue.
"Aku kembali," kata Lime lalu berdiri di samping Black.
"Sudah merasa baikan?" Tanya Black.
"Lebih baik," jawab Lime, "Kau pergilah! Cari senjata baru lalu bergabung dengan kami."
Blue mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Mereka tetap diam di posisi masing-masing.
"Kita harus cari cara untuk melumpuhkannya," bisik Black.
"Kenapa tidak langsung membunuhnya saja? Dia ini sangat berbahaya," kata Lime.
Tiba-tiba kaki Righty berubah menjadi seperti peluncur roket. Itu membuat dia semakin cepat saat menyerang Black dan Lime. Seketika mereka berdua dibuat babak belur oleh Righty.
Mereka berdua tumbang karena kelelahan dan terluka karena serangan. Righty berdiri di depan Black lalu mengangkat pedangnya untuk memenggal kepala Black.
DOR!
Tubuh Righty rubuh. Mereka berdua terkejut lalu melihat ke depan. Terlihat Red yang berdiri dengan tubuh terluka dan tangan memegang pistol.
"Red!" Seru Black senang sekaligus khawatir.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Red.
"Harusnya kami yang bertanya seperti itu. Luka mu lebih parah dari kami berdua," kata Lime.
"Aku baik-baik saja," jawab Red tapi tiba-tiba tubuhnya lunglai.
Black langsung menghampiri Red dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh, "Tidak apa-apa, apanya? Kau mau tumbang ini. Duduklah dulu."
Red duduk perlahan di lantai. Lime berdiri lalu memperhatikan Righty, "Apa dia sudah mati?"
"Entahlah," jawab Red.
"Darimana kau dapat pistol?" Tanya Black.
"Di armory kan ada banyak. Katana dan senapan juga ada," jawab Red sambil menunjuk ke belakangnya.
"Oh iya, disana kan memang tempat penyimpanan senjata. Bisa-bisanya aku lupa," kata Lime sambil menepuk jidatnya.
"Blue tidak memeriksa ruangan itu. Dia justru memberikan ku penyapu, memang dasar aneh," gerutu Black.
Tiba-tiba, tubuh Righty kembali bergerak. Mereka menyadari hal itu lalu Lime langsung melompat ke atas tubuh Righty untuk menahannya. Tapi dengan cepat Righty terbang menjauh dari mereka dan membuat Lime jatuh.
"Jangan biarkan dia lari!" Seru Black lalu berlari mengejar Righty bersama Lime.
Red berniat ikut bersama mereka. Tapi tubuhnya sudah terlalu lemah sehingga dia hanya bisa terduduk. Dia bersyukur karena masih hidup sekarang setelah di siksa oleh Righty.
"Aku harus membantu mereka," gumam Red.
Sementara itu, Righty terbang dan dengan gesit menghindari dinding-dinding pesawat itu. Sedangkan mereka berdua mulai tertinggal jauh.
Mereka berpapasan dengan Blue yang hendak ke arah mereka. Blue terkejut melihat benda mirip roket bergerak ke arahnya. Sontak dia melempar ember dan benda itu tepat menutupi wajah Righty, membuatnya tidak bisa melihat dan alhasil menabrak dinding hingga hancur.
"Kerja bagus Blue," puji Lime.
"Kau sudah dapat senjata?" Tanya Black.
"Sudah," jawab Blue lalu mengacungkan sikat kloset. Membuat Black tidak bisa berkomentar apa-apa lagi.
Lime mendekati Righty, tapi orang itu bangun dan langsung memukul Lime hingga terlempar. Mereka berdua terkejut.
Righty berdiri tegak dan bersiap untuk melakukan serangan laser. Tapi tiba-tiba sebuah tembakan muncul dan mengenai mata Cyborg Righty. Membuatnya tidak bisa menyerang lagi.
"White!" Seru Black.
"Akhirnya aku punya kesempatan juga untuk menyerang," kata White lalu berjalan maju, "Kau sudah kalah, Righty."
"Kalah?" Righty langsung mengeluarkan pedangnya dan bergerak menyerang White.
Tapi Blue melempar sikat kloset nya ke wajah Righty dan Black memukul kepalanya hingga pingsan.
Setelah semua itu, para Crewmate berkumpul di medical. Righty sudah diikat oleh Black, jadi sekarang mereka sedang berdiskusi untuk hukuman yang akan mereka berikan kepada Righty.
Black, Lime dan Blue sudah di obati. Sedangkan Red masih dibalut luka-lukanya oleh Brown.
"Ouch!" Erang Red.
"Kau lemah sekali," komentar Blue.
"Lemah apanya? Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika dia menghempas tubuhmu ke dinding. Bisa hidup sekarang saja rasanya benar-benar beruntung," balas Red.
"Memangnya kau dimana sebelum kejadian itu?" Tanya Black.
"Ya..." Red mulai menceritakan kejadian sebelumnya.
FLASHBACK ON
Red berdiri dan segera menjauh dari Righty. Tapi orang itu menangkapnya dan langsung melemparnya ke dinding hingga Red merasa punggungnya seperti akan patah.
Righty mencekik leher Red dan mengangkat tubuhnya hingga kaki Red tidak lagi menyentuh lantai. Tangannya terangkat dan langsung merobek kulit wajahnya di bagian kening bagian kiri lalu turun hingga leher.
Mata Red terbelalak melihat mesin yang tersembunyi di balik kulit wajah Righty. Persis seperti yang tertulis di dokumen. Kakinya menendang perut Righty, tapi justru kakinya yang kesakitan.
Righty memegang kaki Red lalu melemparnya ke dinding hingga tubuh Red lemas. Lalu dia menendang perut Red dan menghajarnya tanpa ampun.
Pukulan dan tendangan diterima tubuh Red berulang kali. Hingga dia merasa ada dorongan dari dalam dirinya. Red mendorong Righty hingga jatuh dan mendapatkan kunci pintu. Dia membuka pintu dan segera berlari dari tempat itu. Tapi tubuhnya yang lemah membuat Red tidak bisa berlari jauh, sehingga dia memutuskan untuk bersembunyi.
FLASHBACK END
"Kau benar-benar beruntung," komentar Yellow dan dibalas gonggongan Rugel.
"Begitulah," jawab Red dan Brown selesai mengobatinya.
"Jadi Kapten, apa yang akan kita lakukan terhadap orang itu?" Tanya Pink.
"Kita akan membunuhnya," jawab White.
"Kita buang saja dia di jurang. Di dekat sini ada jurang yang sangat dalam, harusnya dia bisa langsung mati," saran Lime.
"Ayo, sebelum dia sadar," ajak White lalu pergi diikuti kru yang lainnya.
Red juga hendak pergi, tapi Black menahannya, "Kau jangan ikut. Istirahatlah!"
"Tapi aku mau lihat," kata Red.
"Kau masih lemah. Jangan terlalu banyak bergerak," kata Brown pula.
Mendengar itu, Red menunduk sedih. Wajahnya persis seperti anjing yang diabaikan oleh majikannya. Membuat mereka berdua merasa iba lalu akhirnya luluh.
"Ya sudah, kau boleh ikut. Tapi tetap bersama kami," kata Black membuat wajah Red bersinar kembali.
"Dia lucu sekali," batin Brown.
Black dan Brown membantu Red berdiri. Lalu mereka berjalan ke luar bersama. Sesampainya di luar, White langsung menggantikan Brown untuk memapah Red.
Lime dan Blue yang memegang Righty pun langsung saja membuang Righty ke dalam jurang itu. Terdengar suara yang sangat keras ketika tubuh Righty menghantam bebatuan di dasar jurang.
"Tidak ada tulisan," kata Lime.
"Dia bukan Impostor, dia Cyborg," jawab Black.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋