
Red dan Brown tiba di cafetaria. Setibanya di ruangan itu, Brown menekan tombol emergency meeting untuk mengumpulkan mereka semua.
Para Crewmate berkumpul lalu memperhatikan Brown yang telah menekan tombol itu.
"Kenapa?" Tanya Black.
"Aku ingin bertanya, siapa yang menyalakan lampu tadi?" Tanya Brown.
"Aku, memangnya kenapa?" Lime balas bertanya.
"Sekarang ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan, apa kalian merasakan hal aneh selama mati lampu?" Brown bertanya lagi.
"Maksudmu mati lampu kali ini sangat lama? Aku sangat yakin kita semua juga merasakannya," kata Blue.
"Tidak bukan itu. Hal lain, seperti ada sesuatu yang mengganggu kalian," kata Brown lagi.
"Kalau itu, sepertinya aku punya," jawab Yellow. Mereka semua menatapnya.
"Ceritakan lah!" Perintah Black.
"Saat mati lampu, aku berada di luar hendak ke storage. Tapi entah kenapa rasanya jarak storage dan comunication menjadi jauh. Aku sudah berjalan beberapa menit, tapi tidak juga tiba di storage. Keanehan lainnya juga saat tiba-tiba Rugel menggonggong. Dia menggonggong di sampingku. Aku tidak tahu apa yang mengganggu nya. Tapi saat itu juga lampu menyala dan aku terkejut karena aku sudah berdiri di samping storage. Ada jejak kaki ku dibelakang yang artinya dari tadi aku berputar-putar," jelas Yellow.
"Wah, itu seperti ada sesuatu yang menutupi pandangan mu," komentar Pink.
"Iya, aku juga berpikir begitu. Yang anehnya lagi, aku melihat ada jejak kaki lain di sampingku. Tapi itu bukan punyaku karena ukurannya lebih besar dari punyaku. Di dekat jejak kaki itu ada tetesan darah, padahal kami berdua tidak terluka. Pemilik jejak kaki itu seperti mengikuti kami berkeliling dan sepertinya dia juga lah yang membuat Rugel menggonggong," kata Yellow sambil berpikir.
"Sekarang aku merinding," komentar Blue sambil memeluk dirinya sendiri.
"Yang lain bagaimana?" Tanya Brown.
"Aku juga," kata Black. Para Crewmate gantian melihat ke arahnya.
"Saat itu aku sedang menembak asteroid di weapon. Ketika sedang sibuk, aku merasa seperti ada yang berdiri di belakangku dan sedang ikut memperhatikan. Aku tidak tahu apa itu karena ketika menoleh, hanya kegelapan yang kulihat. Tapi saat itu yang kurasakan kalau yang berdiri di belakangku itu sangat besar," jelas Black.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Tanya Lime.
"Karena aku sudah sering bertemu banyak orang dan aku tahu seperti apa rasanya di dekat orang yang berbeda tinggi badan denganku. Saat itu aku merasakan tekanan yang sangat kuat dan itu benar-benar membuatku tidak tenang," jawab Black.
"Baik, jadi sekarang kita punya dua hal. Jejak kaki yang besar dan sesuatu yang besar. Apa ada lagi?" Brown masih ingin mengorek lagi.
"Aku tidak punya sesuatu yang besar itu, tapi punya ku ini juga cukup aneh," kata Blue.
"Saat mati lampu, aku sedang berada di O2. Lebih tepatnya di ruangan yang ada pohon itu. Karena mati lampu, aku terkejut dan tidak sengaja menyentuh layar tablet ku sehingga download ku ulang dari awal lagi.''
"Aku tahu persis itu rasanya," komentar Red diikuti anggukan kepala dari Blue.
"Ketika aku agak lama di situ, aku mencium bau terbakar. Padahal disitu biasanya sangat segar karena ada pohon yang rimbun. Tapi saat itu benar-benar terasa panas dan bau terbakar itu sangat menggangguku."
"Kau panas? Padahal aku kedinginan sekali saat itu," komentar Red lagi.
"Memangnya kau dimana saat itu?" Tanya Blue.
Red hendak bercerita, tapi Brown menahannya. Dia masih ingin membuktikan kecurigaan nya.
"Nanti dulu, Red. Sekarang ada lagi?"
"Aku dan kali ini juga berhubungan dengan sesuatu yang besar," kata Pink.
"Saat itu, aku sedang di O2 juga. Tapi di tempat pengisian air. Saat sedang mengisi air, aku mendengar suara orang yang berlari ke arah electrical melewati O2. Awalnya kupikir itu pasti salah satu dari kalian. Tapi aku sadar kalau suara langkah kakinya sangat keras, seperti BUM BUM gitu. Padahal kita berlari pun suaranya tidak sekeras itu. Aku keluar dan melihat sebuah darah yang berbentuk tapak kaki di lantai. Ukuran tapak kaki itu sangat besar."
"Maaf memotong kalimat mu, Pink. Tapi kalau aku jujur sesuatu, aku berada di O2 sampai lampu menyala dan aku tidak melihatmu diluar. Bahkan saat itu aku menyoroti senter ku ke luar dan tidak ada kau ataupun suara langkah kaki yang besar itu," kata Blue.
"Aku juga belum mengatakan ini. Saat aku keluar, aku mengecek satu persatu ruangan yang ada di O2 dan aku tidak menemukan mu," balas Pink.
"Sepertinya kalian juga mengalami yang Yellow alami. Seperti ada sesuatu yang menghalangi pandangan kalian sehingga tidak bertemu satu sama lain," kata Lime.
"Kalau kau sendiri bagaimana, Lime? Aku sangat yakin kalau sirkuit nya tidak rusak," kata Black.
"Sirkuit nya tidak rusak, tapi ada sesuatu yang mengganggu ku," jawab Lime sambil melepaskan topinya lalu mengusap rambutnya.
"Saat itu aku sedang berada di security. Lalu mati lampu dan aku memutuskan untuk pergi ke tempat sirkuit nya karena aku yang paling dekat. Tapi ketika aku membuka tutup sirkuit itu, aku melihat semua tombolnya bergerak sendiri, seperti ada yang memainkannya."
"Sepertinya yang ini lebih seram," komentar Blue.
"Jangan memotong kalimat orang, Blue," tegur Black.
"Aku menahan dua tombol, tapi itu tidak berguna. Mereka terus-menerus bergerak dan bahkan lebih kuat dari penahanan ku. Ketika aku sudah mulai kelelahan dengan itu semua, tiba-tiba muncul tangan yang memainkan salah satu tombol. Sontak ku pukul tangan itu sehingga dia berhenti memainkannya. Tapi ketika aku melihat ke sekeliling ku, tidak ada siapa pun di sekitar ku. Padahal itu setelah aku memukul tangan itu."
"Entah kenapa, ini seram sekaligus lucu. Apa kau ingat ciri-ciri tangan itu?" Tanya Black.
"Aku ingat. Dia mengenakan baju dan lengan bajunya berwarna hijau. Dia juga punya kuku yang sangat panjang dan tangannya keriput," jawab Lime.
Red terkejut. Dia tahu itu siapa, tapi dia juga mulai memikirkan pertemuannya dengan pria itu. Bagaimana jika dia tetap tinggal? Atau bagaimana jika dia membawa orang itu ke laboratorium? Tapi bagaimana dia bisa seperti itu?
Begitu banyak pertanyaan yang memenuhi kepala Red. Brown tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Red dan dia sudah mendapatkan tebakan baru.
"Kau sendiri Brown, bagaimana? Aku sangat yakin kau mengalami hal yang sama dengan kami sehingga mengumpulkan kami semua disini," kata Black.
"Aku melihat alat scan sedang men scan tapi tidak ada siapapun di atasnya," jawab Brown.
"Apa ada hasilnya?" Tanya Lime.
"Ya dan ku jamin akan membuat kalian terkejut," jawab Brown lalu mengeluarkan tabletnya. Di dalam tablet itu terdata anatomi tubuh yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Rusuknya panjang sekali," komentar Blue.
"Apa itu gigi di dalam tubuhnya?" Tanya Pink.
"Entah kenapa ini mengingatkan ku pada Impostor," sambung Yellow.
"Apa mungkin ini Impostor? Tapi Impostor seperti apa yang men scan tapi tidak ada wujudnya?" Tanya Lime.
"Sepertinya itu benar-benar Impostor. Tapi soal kemampuan, aku juga tidak tahu," kata Black sambil mengusap dagunya.
"Tunggu, kita semua sudah memberitahu keanehan yang kita alami. Berarti sekarang tinggal Red yang belum," kata Blue.
"Red, kau ceritakan semua yang kau alami. Mulai dari kedatangan mu ke specimen room," pinta Brown.
Red mengangguk lalu menceritakan semuanya. Mulai dari saat dia melihat satu orang di specimen room melalui meja admin, sampai ketika dia melihat sosok bermata hijau sebelum pintu decontamination tertutup.
Mereka semua terkejut dan mulai merasa tegang. Terutama Lime yang langsung menyadari sesuatu. Tapi wajah beberapa Crewmate berubah ketika Red menyebut nama Paciente 0.
"Red, apa kau tidak berpikir kalau yang kau lihat itu hanya khayalan mu?" Tanya Black tidak percaya.
"Awalnya aku berpikir begitu. Tapi aku pernah menyentuh tangannya, memang dingin tapi sangat nyata," jawab Red.
"Aku mulai berpikir kalau makhluk bermata hijau dan hal-hal yang mengganggu kita adalah si Paciente 0 ini," kata Blue.
"Lebih tepatnya Paciente 0 itu bukan nama," jawab Brown lalu menunjukkan foto yang sebelumnya ditunjukkan pada Red.
"Red bilang ini adalah wajah orang itu," kata Brown.
Para Crewmate mendekat dan seketika itu juga mereka terkejut. Terkecuali Blue dan Red yang hanya bingung.
"Kenapa kalian terlihat terkejut? Apa kalian kenal dia?" Tanya Red.
"Tentu saja kami kenal dia dan kalian berdua juga harusnya tahu siapa dia," jawab Yellow.
"Ayolah, katakan saja. Aku tidak suka basa-basi," paksa Blue.
"Orang itu adalah Profesor Zero," jawab Black.
"Sedangkan Paciente itu adalah kode untuk pasien di Mira HQ. Biasanya setelah Paciente adalah nama dari pasien," sambung Brown.
Red mulai memahami sesuatu, "Paciente 0. 0 dieja dalam bahasa Inggris artinya Zero. Berarti Paciente 0 itu adalah Profesor Zero."
"Betul, kau pintar juga," puji Lime.
"Ini juga cukup mengejutkan karena ternyata Profesor Zero adalah Paciente. Tapi saat ini belum diketahui apa yang membuat dia menjadi Paciente," kata Brown.
"Sepertinya ini ada hubungannya pada tangan yang ku pukul itu," balas Lime.
"Dan juga pada makhluk yang bersama dengan Black, Yellow dan yang suara langkahnya didengar oleh Pink itu," sambung Blue.
"Tapi bagaimana cara dia melakukannya sedangkan dia sendiri bersama Red?" Tanya Yellow.
"Ataupun yang scan itu," sambung Pink.
"Seketika aku membayangkan bagaimana jika Red tetap tinggal bersama orang itu. Tapi sepertinya dia juga tidak menginginkan ini terjadi," kata Lime.
"Maksudmu dia terinfeksi seperti Cyan dan Orange?" Tanya Blue memastikan.
"Bisa saja, dia menyuruh Red pergi yang artinya dia tahu kalau dirinya akan segera berubah menjadi makhluk itu. Yang artinya dia peduli dengan keselamatan Red," jawab Yellow.
"Tapi, bagaimana caranya dia muncul di tempat Lime? Sedangkan dia ada di belakangku?" Tanya Red.
Para Crewmate sibuk berdiskusi, kecuali Black yang terus diam. Mereka tidak sadar kalau dia tidak berbicara dari tadi.
Black diam karena sebenarnya dia tahu apa yang telah terjadi pada Profesor Zero. Tapi dia tidak menyangka kalau sampai seburuk ini.
Bersambung
.
.
.
.
Selamat hari natal semuanya 🥳. Terima kasih untuk dukungannya selama ini.
Salam damai dulu ye kan. Thanks untuk doanya.
Sampai jumpa 👋