
Red dan Tan masih memperebutkan kemudi pesawat. Karena sudah kehabisan kesabaran, Tan langsung memukul wajah Red sampai dia terlempar agak jauh. Tentakel yang melilit tubuh Brown dan Rugel ikut terlepas ketika Red terlempar.
Setelah berhasil menjauhkan Red, Tan langsung mempercepat laju pesawat untuk menjauh dari situ. Tapi ternyata Red belum selesai.
Red mengibaskan tentakelnya ke arah Tan sampai orang itu menghantam dinding dengan keras. Tubuh Tan langsung lemas ketika jatuh ke tanah.
Red langsung mengambil alih kemudi pesawat dan segera berbalik untuk menyelamatkan Black.
Para Crewmate di The Skeld terkejut ketika melihat perubahan arah pesawat yang harusnya dikemudikan oleh Tan. Coral langsung gelagapan menembak Impostor dan tentakel yang berusaha menyerang pesawat itu.
"Tan, kenapa kau berbalik? Itu berbahaya!" Seru Banana. Tapi tidak ada jawaban dari Tan.
"Sepertinya salah satu Crewmate itu ada yang mengambil alih kemudi," gumam Gray.
Tiba-tiba muncul suara panggilan yang cukup mengagetkan mereka berdua. Bukan dari Tan atau Maroon, melainkan dari Black. Banana langsung mengangkat panggilan itu, dia ingin tahu apa yang terjadi di pesawat itu.
"Halo Black, aku ingin tahu apa yang terjadi di sana, bisa kau beritahu?" Pinta Gray.
"Gr...ay," terdengar suara Black yang serak dan berat.
Gray dan Banana mengernyitkan dahinya lalu saling tatap, "Black, kau baik-baik saja?" Tanya Gray khawatir.
"Ti...dak," Gray dan Banana mulai panik. Mereka menyadari kenapa pesawat awak itu berbalik lagi ke Polus.
"Black, apa yang bisa kami lakukan untuk mu? Kru mu mengkhawatirkan mu sekarang," Tanya Gray.
"Tolong sam...bung...kan ke me...re...ka," pinta Black dengan kesusahan.
"Baik!" Jawab Banana lalu mulai menyambungkan sambungan komunikasi Black ke pesawat awak itu.
Sementara itu di pesawat awak, Red mulai mempercepat pesawat itu untuk kembali ke Polus. Sebuah panggilan masuk dan terdengar suara yang membuat Red berhenti.
"Red," panggil Black.
Red, Brown dan Rugel terkejut. Sedangkan Tan tetap berbaring di lantai. Tubuhnya sudah pulih, tapi dia akan membiarkan Black sendiri untuk menghentikan Red.
"Black, kau baik-baik saja?" Tanya Red khawatir. Brown dan Rugel mendekat untuk mendengar lebih jelas.
Tidak ada jawaban dari Black. Hanya terdengar nafasnya yang tersengal-sengal. Black menarik nafas panjang.
"Jangan... kembali," jawab Black membuat Red membelalakkan matanya.
"Apa maksudmu?" Tanya Red tidak percaya.
"Per...gilah!" Perintah Black.
"Tidak! Aku tidak akan pergi! Aku akan menyelamatkan!" Jawab Red.
"Red!" Seru Black membuat Red dan Brown terkejut.
"Ku mohon padamu, Tinggalkan saja aku. Aku tidak mau ada yang mati lagi," kata Black. Matanya mulai berkaca-kaca.
Red mengepalkan tangannya keras. Air mata mulai mengalir di pipinya, "Tapi... aku juga tidak mau kau mati," jawab Red.
Black terdiam. Perlahan-lahan air matanya mengalir dan matanya mulai buram. Dia memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam, lalu membukanya lagi. Saat itulah dia terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Black melihat White dengan sayap putihnya, kini berdiri di hadapannya. White tersenyum lembut padanya, membuat Black tahu apa yang harus dia katakan pada Red.
"Red," panggil Black, kali ini dengan nada yang lembut.
Red, Brown dan Rugel mengangkat kepala. Sedangkan Tan masih memperhatikan mereka bertiga.
"Aku melihat White," kata Black membuat Brown terkejut.
"Dia punya sayap putih yang besar dan sangat cantik. Dia tersenyum pada ku," kata Black lagi. Brown dan Red mulai merasa sesak. Air mata mengalir deras di pipi mereka.
"Aku ingin bertemu dan berbicara dengannya. Aku ingin memberitahu padanya kalau aku sudah menjalankan perintahnya dengan baik. Jadi..." Black menarik nafas, "Ku mohon, biarkan aku pergi."
Red menunduk dengan air mata terus mengalir. Agak lama dia menunduk, lalu Red mengangkat kepalanya dengan tekad yang terlihat di kedua bola matanya.
"Terima kasih untuk segalanya, Black," kata Red.
Black tersenyum, "Sama-sama, Red."
Red mengeluarkan benda yang diberikan oleh Black sebelumnya. Dengan satu tarikan nafas panjang, Red menekan tombol benda itu.
DUAR!
Peledak yang dipasang oleh Lime pun aktif dan menghancurkan permukaan Polus. Para Impostor yang terkena ledakan itu menggeliat lalu mundur.
Pesawat mereka ikut terkena efek ledakan yang membuat pesawat terguncang. Dengan sigap, Tan bangkit lalu mengambil kemudi pesawat dan kembali ke The Skeld dengan selamat.
Tidak lama setelah pesawat yang dikemudikan oleh Tan masuk, muncul pesawat yang dikemudikan oleh Maroon dengan Riot di belakangnya, menuju The Skeld.
Pesawat itu langsung masuk dan pintu The Skeld tertutup. Tapi karena Maroon tidak tahu bagaimana caranya mendarat, dia pun menabrak pesawat Tan sebelumnya. Untungnya semua penumpang sudah keluar.
Setelah Maroon masuk, The Skeld langsung tancap gas menjauh dari situ. Riot mengejar mereka, tapi pada akhirnya kalah cepat dengan mereka. Kini The Skeld terbang kembali ke Bumi.
"Dasar bodoh!" Bentak Tan sambil menjitak kepala Maroon.
"Tenang Tan," kata Coral sambil menahan Tan. Dia datang ke situ bersama Rose. Perempuan itu langsung membawa Brown, Red, dan Rugel ke Medbay.
"Sudah ku bilang, kau harusnya menarik tuas kiri setelah menarik kemudinya. Bukan malah sebaliknya!" Seru Tan lagi.
Maroon mengusap kepalanya yang dijitak sambil nyengir, "Maaf."
Tan masih ingin mengomeli Maroon, tapi Coral langsung menyenggol tulang rusuknya yang dimana itu bekas pukulan tentakel Red. Senggolan Coral berhasil membuat Tan mengurungkan niatnya.
"Apa yang kau lakukan, Coral?" Tanya Tan sambil menyentuh bekas senggolan Coral.
Tan diam lalu berjalan mengikuti rombongan Rose ke Medbay. Maroon mendekati Coral.
"Bagaimana kau kalau Tan terluka?" Tanya Maroon.
"Dari posisi tubuhnya yang kaku," jawab Coral sambil berjalan pergi. Maroon manggut-manggut lalu mengikuti Coral.
Rose, Tan dan para Crewmate The Skeld 385 langsung ke Medbay. Sedangkan Coral dan Maroon bergabung dengan Gray dan Banana di Cafetaria.
Rose mengambil kotak P3K nya untuk mengobati Brown, Tan dan Rugel. Red adalah Impostor, jadi dia bisa menyembuhkan luka-lukanya sendiri.
Brown hanya mendapat luka gores dan lebam yang tidak terlalu parah, jadi mengobati nya tidak memakan waktu lama. Rose hendak lanjut mengobati Rugel, tapi Brown menahannya.
"Biar aku saja, aku juga petugas medis," kata Brown.
Rose tersenyum kecil, "Baiklah, terima kasih kalau begitu."
Kotak P3K itu diberikannya kepada Brown. Sedangkan Rose langsung mengurus Tan. Pria itu melepaskan pakaiannya dan menampakkan lebam berwarna biru keunguan yang cukup besar di sekitar tulang rusuk bagian kanan.
Rose terkejut dan langsung memeriksa nya dengan scan, "Dua tulang rusuk mu sudah patah," kata Rose lalu berdiri tegak dan menatap Tan, "Darimana kau mendapatkan lebam ini?"
"Terbentur," jawab Tan singkat.
Red menatap pria itu. Dia ingat kalau dirinya lah yang menyebabkan lebam itu. Tidak disangkanya kalau itu membuat dua tulang rusuk Tan patah.
"Maaf," kata Red membuat Rose dan Tan menoleh ke arahnya.
"Kau bilang apa?" Tanya Tan karena suara Red yang tidak terdengar jelas.
"Maaf karena sudah menyerang mu," jawab Red sambil menunduk.
Tan tersenyum ramah, "Tidak apa-apa. Aku mengerti perasaanmu."
Setelah selesai membalut lebam di tubuh Tan, mereka semua segera berkumpul di Cafetaria. Red dan Brown duduk berdekatan. Rugel berbaring di pangkuan Red.
"Apa yang ingin kalian ketahui?" Tanya Brown.
"Bisa kalian beritahu apa yang terjadi di pesawat Tan sebelumnya?" Pinta Gray.
Tan menoleh ke arah Gray, "Um Kapten, bisakah kita tidak membicarakan hal itu? Saya baik-baik saja," kata Tan.
Gray menatap Tan, "Kau adalah kru ku, jadi aku berhak tahu apa yang terjadi pada mu."
Tiba-tiba Red berdiri, membuat semua orang melihat ke arahnya.
"Kapten Gray, itu salah saya. Saya menyerang Tan untuk mendapatkan kemudinya agar bisa kembali menyelamatkan Black," jelas Red.
"Kau menyerang Tan dengan menggunakan apa?" Tanya Gray. Membuat Tan dan Brown mulai merasa khawatir.
"Dengan ini," jawab Red sambil mengeluarkan tentakelnya dan menaruhnya di hadapan Gray.
Gray dan kru nya menatap tentakel itu. Sedangkan Brown mulai merasa tegang. Dia sudah menyiapkan kalimat-kalimat untuk melindungi Red, jika Gray ingin melemparnya keluar dari pesawat.
Agak lama terdiam, sebuah senyum kecil muncul di wajah Gray. Dia menatap kru nya bergantian lalu menatap Brown.
"Kau tidak perlu merasa tegang, Brown," kata Gray membuat Brown merasa lebih tenang.
"Huh?" Brown dan Red bingung.
Gray menarik nafas panjang, "Sebelum kalian tiba di sini, kami semua sudah sepakat untuk merahasiakan kondisi Red dari Mira HQ," jawab Gray.
"Apa?" Tanya Red tidak percaya.
"Kau bersungguh-sungguh? Tapi kenapa? Tidakkah kalian berpikir Impostor itu berbahaya jika di biarkan hidup di dekat manusia?" Tanya Brown bertubi-tubi.
Gray terkekeh, "Tenanglah. Bagaimana mungkin kami membuangnya, sedangkan bukti nya sudah di depan mata. Dia membantu kalian. Jika misalnya aku berpikir, mungkin saja itu semua adalah tipuan. Tapi untuk apa? Meskipun dia sudah menyerang kru ku, aku tahu itu murni untuk menyelamatkan Black."
"Ya meskipun aku tidak bersama mereka beberapa saat sebelumnya, tapi aku sudah mendengar cerita keseluruhan nya dari Kapten dan aku percaya itu," sambung Maroon.
Brown dan Red langsung terduduk lega. Mereka tidak menyangka kalau ternyata ada yang mau menerimanya. Gray berdiri lalu menepuk pundak mereka berdua.
"Ayo kita pulang," ajak Gray lalu memberi isyarat pada Banana untuk mempercepat laju pesawat.
Pesan itu terbang semakin cepat kembali ke bumi. Meninggalkan semua tragedi yang telah terjadi beberapa jam lalu dan mengakhiri petualangan mereka di Polus.
Bersambung
.
.
.
.
PENGUMUMAN!!!
Halo semuanya ini author. Aku minta maaf karena sudah lama sekali tidak update, meski ini bukan yg pertama kali sih.
Aku pengen kasi tau kalian kalo aku udah lulus SMA dan juga udah keterima di universitas 🥳🥳🥳 makasih banyak untuk yang sudah ikuti novel ini dari saat bab nya dikit sampai udah mau tamat.
Novel ini bentar lagi tamat. Sisa 1 bab dan mungkin akan lumayan panjang. Btw aku ada buat 1 novel lagi, tapi belum ku upload soalnya mood ini masih naik turun. Aku mau fokus yang ini dulu.
Hanya ini aja pengumuman ku, jaga diri baik-baik. Semoga gak bosan dengan author ini.
Sampai jumpa 👋