
Hari itu selesai mengerjakan task, semua kru bersantai dan sibuk dengan urusannya masing-masing.
Green, Black dan Red bermain kartu di cafetaria. Red sudah sembuh jadi dia bisa beraktivitas seperti biasa. Purple juga bersama mereka. Dia sudah minta maaf kepada Red jadi semuanya baik-baik saja. Dia sibuk membuat rumah kartu dengan kartu bekas mereka bertiga. Pink dan Yellow duduk di meja sebelah, mereka asyik mengobrol dan bercanda. Orange di dapur seperti biasa, memikirkan resep baru yang ingin dia coba.
Sementara yang lainnya bekerja dan bersantai. White di navigation, Brown di medbay, Cyan bersih-bersih di lorong, Lime di electrical, dan Blue dikamar nya.
Tapi semua ketenangan itu berubah. Ketika Purple akan meletakkan dua kartu terakhir di atas rumah kartunya, seseorang muncul di pintu dan mengagetkan mereka semua.
"GREEN!!!" Panggil Lime dengan marah. Membuat mereka semua terkejut. Alhasil rumah kartu yang dibuat Purple pun roboh.
"Rumah kartu ku," kata Purple meratapi hasil kerja keras nya yang sekarang sudah hancur.
"Kenapa Lime? Kau mengagetkan kami semua," tanya Green sambil mengelus dada.
"Mengagetkan? Aku justru lebih kaget pada yang peliharaan mu lakukan di electrical," jawab Lime sambil marah-marah.
"Peliharaan?" Green bingung lalu dia melihat ke lantai, "Astaga, Rugel di mana?" Green panik menyadari pet nya sudah hilang.
"Kau baru sadar? Peliharaan mu itu sudah menggigit banyak kabel di electrical. Aku harusnya sudah istirahat sekarang, tapi peliharaan mu itu membuat ku harus bekerja ekstra," keluh Lime.
Tiba-tiba lampu di ruangan itu meredup Green segera berlari ke electrical, diikuti dengan yang lainnya. Sesampainya di electrical, terlihat Rugel yang menggigit sebuah kabel berwarna biru. Ada beberapa juga yang sudah dia gigit sampai putus.
"Rugel, hentikan!" Perintah Green panik lalu berusaha melepaskan gigitan Rugel.
Lime mematikan sirkuit listrik lalu mereka semua menyalakan senter masing-masing. Green masih berusaha melepaskan Rugel, tapi itu sulit sekali. Rugel tetap berkeras pada gigitannya.
"Apa Rugel kekurangan zat besi sampai-sampai menggigit besi beneran?" Tanya Black bingung.
"Candaan mu tidak lucu, Black," komentar Lime
"Aku tidak bercanda padamu," balas Black dengan ketus. Membuat Red terkekeh geli.
"Nah aku bercanda padanya," sambung Black lagi dengan bangga.
"Terserah kau saja," jawab Lime malas.
Akhirnya, Green berhasil melepaskan gigitan Rugel dari kabel lalu menjepit tengkuk lehernya Rugel seperti kucing.
"Dasar kau anak nakal Rugel," kata Green pada Rugel seolah-olah pet nya itu mengerti. Dia meletakkan Rugel di lantai.
Tapi sepertinya Rugel memang mengerti dengan perkataan Green. Dia langsung memasang wajah bersalah dan memelas saat majikannya itu menasehatinya.
Green pun tidak tega, "Huft baiklah, aku memaafkan mu. Lain kali jangan diulangi ya," kata Green menyerah lalu menggendong Rugel dan membawanya pergi dari situ.
"Heh jangan main pergi aja. Ganti kabel-kabel itu," kata Lime marah.
"Maaf Lime, tapi aku tidak tahu cara memperbaiki nya. Kau saja ya," kata Green tanpa berbalik.
"Tapi kau ah sudahlah," Lime akhirnya menyerah. Toh dia sendiri juga tidak percaya jika orang lain yang memperbaiki kabel itu.
Lime masuk ke electrical dan mulai mengeluarkan peralatan nya. Sementara yang lainnya juga kembali ke aktivitas biasa meski harus gelap-gelapan.
"Yok Red, kita pergi juga," ajak Black lalu berjalan duluan.
Red berniat meninggalkan tempat itu. Tapi baru satu langkah, seseorang memanggilnya.
"Red," Red menoleh dan melihat Cyan berdiri tidak jauh dari nya.
"Kenapa?"
"Aku mau kau membantuku membawa barang-barang ini ke ruang pesawat awak," kata Cyan saat dia sudah dekat.
"Oh kau masih di sini rupanya," Lime keluar dari electrical dan berdiri di dekat Red, "Bantu aku mengganti kabel-kabel itu," kata Lime.
"Hei aku yang duluan jadi Red harus ikut dengan ku," protes Cyan.
"Hah? Aku tidak tahu kau disitu. Lagipula Red disini dari tadi, jadi siapa cepat dia dapat. bukankah begitu Red?" Tanya Lime meminta pendapat dari Red. Sebenarnya Lime tidak pernah berdebat dengan orang lain, tapi jika sedang masuk mode marah bahkan Cyan sendiri berani dilawannya.
"Err maaf tapi aku," Red tidak berani melanjutkan kalimatnya karena mereka berdua langsung menatap ke arahnya.
"Kau siapa hah? Berani sekali melawan ku," Cyan semakin kesal.
"Huh? Aku tidak takut padamu. Kau kan hanya tukang bersih-bersih," Lime semakin menambah kekesalan Cyan.
Tiba-tiba mereka serentak memegang tangan Red. Cyan di tangan kiri dan Lime di kanan.
"Dia harus ikut dengan ku," kata mereka berdua dengan nada menyeramkan.
"Apa-apaan ini, tentu saja Red harus ikut dengan ku," kata Black yang muncul lalu memegang kedua bahu Red dari belakang.
Dua monster itu lalu menatap Black dengan tatapan mengerikan. Red bisa merasakan tangan Black gemetaran. Tapi getaran itu hilang. Black menutup matanya, menghela nafas lalu dia membuka matanya.
"Kalian pikir kalian bisa berbuat seenaknya?" Tanya Black dengan nada yang tidak kalah menyeramkan. Mereka semakin memanas.
"Tuhan tolong aku," batin Red ketakutan.
Sekarang Red seperti seorang wanita yang diperebutkan oleh 3 orang pria. Tapi yang ini 3 monster.
"Kalian hentikan!" Red berteriak lalu melepaskan pegangan mereka bertiga dan sedikit menjauh.
"Begini saja. Pertama aku membantu Cyan membawa barang-barang itu, harusnya itu tidak lama. Setelah itu, aku membantu Lime. Jika sudah selesai, aku ikut kau Black. Bagaimana? Ide bagus kan?" Usul Red. Dia harus memisahkan mereka sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.
Mereka serentak menatap Red. Red terkejut, hampir saja dia melempar senter yang dipegangnya. Tapi tidak lama kemudian sorot mata mereka berubah.
Black menghela nafas, "Baiklah aku mengalah," katanya sambil berjalan pergi, "Tapi jangan lama-lama memakainya," katanya lagi lalu menghilang dalam kegelapan.
"Memakainya? Memangnya aku barang?" Batin Red kesal.
"Aku tunggu di electrical," Lime juga mengalah. Dia masuk kembali ke electrical.
"Ayo kita mulai bekerja," ajak Cyan.
Ternyata Cyan meminta bantuan Red untuk membantunya membawa 5 kotak besar. Awalnya Red merasa heran, dia berpikir bahwa Cyan harusnya bisa membawa kotak-kotak itu sendiri. Tapi ternyata kotak itu lebih berat dari dugaannya. Mereka bahkan sampai ngos-ngosan hanya karena membawa satu kotak saja.
Mereka berdua langsung tepar di lantai. padahal baru satu kotak.
"Berat sekali. Hah hah, apa isinya?" Tanya Red sambil terengah-engah.
"Barang-barang penting untuk pesawat dan bahan pangan kita. Harusnya ini sudah dikemas saat hari kedua kita disini. Tapi sepertinya Kapten lupa," jawab Cyan lalu berdiri, "Dia kan sudah tua," gumamnya tapi Red bisa mendengar nya dengan jelas.
Kalau tidak salah, umurnya White sudah 30 lebih. Red mengetahuinya dari Black. Tapi karena White albino jadi tidak terlihat jelas bahwa dia sudah berumur.
"Biasanya siapa yang memindahkan barang-barang ini?" Red bertanya lagi lalu berdiri.
"Lime dan Green," jawab Cyan lalu berjalan lebih dahulu.
"Lime benar. Aku hanya lah tukang bersih-bersih," batin Cyan lalu mereka melanjutkan lagi pekerjaan nya.
Akhirnya semua kotak selesai dipindahkan. Red bergegas ke electrical, menemui Lime. Lime terlihat duduk menunggu Red sambil menatap kabel-kabel putus yang sudah dilepaskan.
"Aku tiba, Lime. Apa yang harus kulakukan?" Tanya Red ketika baru sampai di electrical.
"Aku mau kau memegang kabel ini selagi aku mengganti nya. Tangan ku hanya dua, jadi itu sangat sulit untuk memastikan kabel itu tetap di posisinya," jelas Lime lalu memberikan sebuah kabel baru kepada Red.
Lime memberi instruksi agar Red menempel kan kabel itu ke lubang sumber listrik itu akan tersalur. Selagi Red menempelkan nya, Lime mulai melakukan kegiatannya. Ternyata itu cukup membuat tangan Red pegal, tapi untung saja tidak banyak kabel yang putus jadi tidak perlu berlama-lama di situ.
Setelah mereka selesai, Red duduk mengistirahatkan tangannya yang sudah pegal. Sekarang dia mengerti kenapa Lime selalu marah-marah saat ada yang mengganggunya bekerja. Karena selain membuat tangan pegal, pekerjaan ini juga menguras pikiran. Red sendiri sampai sakit kepala hanya karena untuk memastikan posisi kabelnya tidak berpindah. Ditambah mereka juga hanya menggunakan senter.
Jika diperhatikan, sepertinya Rugel sudah pernah menggigit kabel sebelumnya. Ini terbukti dari White dan Brown yang tidak datang untuk mengecek yang artinya mereka sudah tahu inti permasalahannya. Terkecuali Blue yang dikamar nya. Entah apa yang dilakukan orang itu, mungkin dia mematikan lampu kamarnya jadi tidak tahu lampu di luar juga mati.
"Selesai," kata Lime setelah mengemaskan peralatan nya.
"Terima kasih Red. Jika bukan karena kau membantuku, aku pasti belum selesai sekarang," kata Lime lalu mereka berdua berdiri.
"Sama-sama," jawab Red sambil tersenyum.
Lime terdiam sejenak. Dia menatap wajah Red hingga yang ditatap pun bingung.
"Kenapa?"
"Tidak ada," jawab Lime lalu menyalakan sirkuit listrik.
Lampu pun menyala kembali. Mereka berdua keluar dari electrical lalu berpisah di storage. Red ke comunication dan Lime ke cafetaria.
"Sekarang aku mengerti kenapa Cyan sangat mengandalkan orang itu," batin Lime.
Keesokan harinya, setelah mengerjakan task. Red mengobrol dengan White di navigation. Dia bertanya banyak hal pada Kaptennya itu. Bahkan dia juga menceritakan kejadian saat mati lampu itu. White yang mendengar nya pun hanya tertawa.
"Ternyata kau berani juga untuk memisahkan tiga monster itu," puji White.
"Ah itu bukan apa-apa," kata Red malu. Dia tidak biasa dipuji seperti itu.
"Tapi aku serius. Aku sendiri bahkan tidak berani melerai jika mereka bertiga sudah berdebat. Melihat pihak Mira HQ yang memilih mereka, menunjukkan kalau ini bukan misi main-main," jelas White.
"Apa semua Crewmate di sini sudah pernah bertemu sebelumnya?"
"Ya tapi ini pertama kalinya mereka bekerja sama. Sebelumnya mereka berada di kru pesawat yang berbeda-beda," jawab White lalu fokus ke depan.
"Kapten, saya ingin melapor," kata Lime yang muncul dari balik pintu.
"Silahkan," jawab White lalu dia dan Red berbalik.
"Begini, tablet saya mendapat sebuah sinyal kerusakan dari salah satu dinding pesawat. Kerusakan nya di dinding luar. Saya hendak memperbaiki nya. Apakah tidak masalah?" Tanya Lime meminta persetujuan.
"Kau boleh memperbaiki nya hanya saja," White melihat ke depan lalu berbalik lagi, "Sebentar lagi kita akan melewati zona arus luar angkasa. Kau bisa terpental jauh jika nekat," jawab White.
"Hm begitu ya, tapi bukankah jika dibiarkan begitu saja justru akan lebih berbahaya. Arus luar angkasa ini bisa saja membawa asteroid yang dapat membuat kerusakan semakin besar. Bukankah Shield sendiri juga tidak mampu melindungi nya," kata Lime memberi pendapat.
White menghela nafas. Dia akhirnya menyerah dengan keputusan Lime, "Kau boleh pergi tapi harus ada satu orang yang membantumu."
"Kalau untuk yang itu, saya akan membawa Red," jawab Lime.
Red dan White terkejut, "Apa kau yakin? Apa kau bisa percaya pada Red?" Tanya White ragu mengingat Red adalah orang baru.
"Kedengarannya memang meragukan. Tapi, kalau Cyan saja bisa percaya padanya kenapa saya tidak? Lagipula dia juga pernah membantu saya di electrical," jelas Lime.
"Huft baiklah, tapi hati-hati. Kita akan melewati zona arus luar angkasa dalam waktu 1 jam lagi. Aku harap kau tidak membahayakan Crewmate baru," kata White lalu kembali fokus ke kemudinya.
Lime mengangguk lalu dia dan Red pergi ke airlock (pintu kecil tempat untuk keluar masuk dari luar angkasa. Biasanya dalam animasi Among us, airlock ini digunakan untuk membuang Impostor.)
Lime memasang perlengkapan astronot nya lalu mengikat sebuah tali di pinggangnya.
"Jika kerusakan nya tidak terlalu besar, aku bisa menyelesaikan nya sebelum 1 jam. Tapi semoga saja tidak. Ngomong-ngomong tugas mu di sini adalah untuk menahan tali ini agar tidak putus jika aku terkena arus itu. Aku tahu ini tali tambang, tapi yang namanya tali pasti bisa putus. Jadi aku percaya padamu," jelas Lime. Red mengangguk.
Dia berdiri di dekat pintu airlock yang terbuka. Ada sejenis pelindung yang membuat isi pesawat tidak tersedot keluar.
"Jika aku sudah memberi kode, baru kau tarik aku ke dalam," kata Lime lagi lalu keluar.
Lime melayang ke luar angkasa, tapi dengan cepat dia berpegangan pada dinding pesawat. White sudah mengurangi kecepatan pesawat, jadi Lime bisa bergerak bebas. Setelah berpegangan, Lime naik ke atas pesawat lalu berjalan ke arah kerusakan. Sesampainya di sana, Lime hanya bisa menghela nafas kecewa.
Kerusakan nya ternyata cukup besar. Butuh waktu lebih dari satu jam untuk memperbaiki nya. Lime menyalakan alat komunikasi yang di telinganya.
"Hey Red, ini cukup buruk. Kerusakan nya cukup besar dan ini butuh lebih dari satu jam untuk memperbaiki nya. Bersiaplah di situ, aku akan memberitahu Kapten agar dia memberimu kode," kata Lime lalu memutuskan sambungan komunikasi dengan Red dan menyambungkan nya ke White.
Setelah tersambung, Lime memberitahu yang sebenarnya.
"Baiklah, aku akan memberinya kode saat zona itu sudah dekat. Lakukan secepat yang kau bisa," kata White lalu mereka memutuskan komunikasi.
Lime mengeluarkan peralatan nya lalu mulai bekerja. Ternyata ini sangat sulit, mengingat dia juga harus berpacu dengan waktu. Seandainya ada Red, pasti ini tidak akan lama. Tapi dia tidak mungkin membahayakan keselamatan Crewmate baru.
"Ayo Lime, kau pasti bisa," batin Lime.
Tidak perlu waktu lama, Lime berhasil mengecilkan kerusakan itu. Tapi itu belum selesai dan masalah dimulai.
White mengirim kode tanda zona itu sudah dekat pada Lime dan Red. Red mulai bersiap. Sementara Lime semakin mempercepat kerjanya dan menyalakan perekat di sepatunya agar tidak terbawa arus.
Benar saja, tidak lama kemudian sebuah gelombang besar mirip arus muncul dari depan pesawat dan bergerak seolah hendak membawa pesawat mereka. Red mengencangkan pegangan nya pada tali, Lime semakin kuat berpegangan pada pesawat. Satu tangannya berpegangan dan satunya melanjutkan pekerjaannya. White menaikkan kecepatan pesawat hingga penuh, tapi pesawat tetap bergerak lambat.
Tiba-tiba beberapa pecahan asteroid muncul dan mengenai Lime, membuat nya terlempar dari pesawat. Tapi tali yang di pinggangnya menahannya. Red nyaris tertarik keluar, tapi dengan cepat dia berhasil menahannya. Telapak tangannya mulai terkikis karena tali itu, tapi Red tidak memperdulikan nya.
Lime mendekat kembali ke pesawat dan melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak mau menyerah begitu saja.
"Selesai," kata Lime senang lalu memberikan kode pada Red agar menariknya masuk.
Red yang mendapat kode itu, segera bergerak mundur sambil menarik tali. Tapi hal yang tidak diinginkan terjadi, tali itu putus dan bergerak cepat keluar. Red mengejar nya dan berusaha meraihnya. Tapi tali itu jauh dari jangkauan nya, sehingga Red benar-benar putus asa.
Tapi saat tali itu akan keluar, seseorang muncul lalu memegang tali itu dan menariknya. Red terbelalak sekaligus lega.
"Black?" Red benar-benar tidak menyangka temannya itu akan datang.
Tidak hanya Black, Green juga datang lalu membantu Black menarik tali itu. Red tidak tinggal diam, dia pun membantu juga. Akhirnya Lime berhasil ditarik masuk. Mereka menutup pintu airlock dan White semakin memacu kecepatan. Akhirnya pesawat The Skeld berhasil melewati zona itu.
Setelah selesai, mereka berempat beristirahat di cafetaria. Cyan juga ikut bergabung dengan mereka. Tangan Red sudah diperban. mereka duduk sambil bernafas lega.
"Aku tidak menyangka aku benar-benar melakukannya," kata Lime tidak percaya sekaligus bangga pada dirinya sendiri.
"Bagaimana kalian tahu kami di sana?" Tanya Red bingung karena yang tahu hal itu kan hanya dia, Lime dan White.
"Aku yang memberitahu mereka untuk berjaga-jaga," jawab White yang baru muncul lalu bergabung.
"Oh terima kasih banyak," kata Red senang.
"Terima kasih Kapten dan kalian berdua," sambung Lime.
Lalu Lime mendekat ke Red lalu merangkulnya untuk membuat Black dan Cyan kesal, "Ternyata kau benar-benar bisa dipercaya. Lain kali bekerja sama denganku lagi, ok?" Katanya sambil mendekatkan wajahnya pada Red.
Red yang dirangkul pun merasa risih dan takut jika Lime tiba-tiba menciumnya karena wajah mereka benar-benar dekat sekarang.
"Woi apa yang kau lakukan? Red hanya boleh bekerja sama denganku," protes Cyan lalu berdiri.
"Apa kau bilang? Jelas-jelas Red itu teman ku, jadi dia hanya boleh dengan ku," sambung Black tidak mau kalah.
"Mulai lagi," keluh Green lalu menahan mereka.
Red menahan Cyan, White menahan Black, dan Green menahan Lime. Purple dan Yellow yang kebetulan lewat memperhatikan mereka.
"Dasar aneh," kata Purple sedangkan Yellow hanya tertawa geli.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋