
"Black," panggil Red.
Black menoleh. Mereka sudah selesai meeting dan melanjutkan kegiatan masing-masing. Black hendak ke comunication saat itu.
"Kenapa?" Tanya Black.
"Saat meeting tadi, kenapa kau diam? Apa ada sesuatu yang mengganggu mu dari cerita ku barusan?" Red bertanya balik.
"Dia memperhatikan ku ternyata," batin Black. Dia menghela nafas panjang lalu menatap Red.
"Ayo ikut aku. Akan kukatakan kenapa aku diam tadi," ajak Black lalu berjalan diikuti Red.
Dia memutar arah pergi ke atas electrical. Di sebuah tower yang berfungsi untuk menghentikan sabotase. Black duduk di atas lantai tower itu, diikuti Red.
"Ini akan jadi rahasia kita berdua, jadi kuharap kau bisa menjaga rahasia ini dengan baik," pesan Black. Red mengangguk.
FLASHBACK ON
Kembali saat Black masih di Mira HQ
Sudah tengah malam, tapi Black masih bertahan di kantornya. Dengan ditemani segelas kopi, dia memperhatikan doorlog. Matanya sudah lelah, tapi ada sesuatu yang membuatnya harus berjaga malam ini.
"Hooaam..." Black menguap lebar.
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari Polus. Black duduk tegak lalu mengangkat panggilan itu. Di layar monitor nya muncul Profesor Andromeda yang terlihat ketakutan.
"Black, ini gawat," kata Profesor Andromeda dengan resah.
"Kenapa? Kau terlihat ketakutan," komentar Black.
"Zero, dia akan membunuhku," jawab Andromeda membuat Black terkejut.
"Tenanglah, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi," pinta Black. Dia tahu kalau kedua Profesor itu tidak pernah memberikan laporan yang sesungguhnya kepada Mira HQ. Sehingga hal seperti itu juga tidak diketahui olehnya.
"Dia terinfeksi makhluk yang kami teliti itu. Aku sudah mengisolasinya dan berusaha mengeluarkan makhluk itu, tapi tidak bisa. Dia seperti dikendalikan oleh makhluk itu dan sekarang dia ingin membunuhku," jelas Andromeda dengan panik.
Black membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu. Tapi tiba-tiba...
JLEB!
Black terkejut. Darah keluar dari kening Andromeda hingga terciprat ke layar monitor. Profesor Andromeda membeku lalu tumbang. Di belakangnya terlihat Profesor Zero yang sudah mengenakan pakaian lengan panjang berwarna hijau.
Perut Profesor Zero terbuka dan membentuk mulut yang dipenuhi gigi-gigi yang tajam. Dia juga menggunakan sesuatu yang memanjang dari perutnya untuk menusuk kepala Andromeda hingga tembus. Benda itu seperti lidah yang tipis tapi tajam.
Dia menarik lidah itu masuk dan perutnya tertutup kembali. Matanya berwarna hijau dan tubuhnya terlihat pucat. Dia tersenyum sinis pada Black lalu mendekati komputer.
Dia menempelkan tangannya yang kurus dan berkuku tajam pada darah yang menempel di layar monitor sehingga terbentuk cap tangannya.
Black cepat-cepat mematikan komunikasi dengan Polus. Jantungnya berdegup kencang karena ketakutan. Tubuhnya gemetaran. Dia terkejut lagi ketika melihat kode SOS dari The Skeld 301.
Black menghubungi The Skeld, tapi panggilannya tidak tersambung karena sinyal. Dia terus mencoba sampai lima kali, tapi tidak hasilnya nihil.
Dia berdiri lalu berlari ke admin. Black mengecek radar dan nafasnya tertahan. The Skeld 301 hilang dari pantauan radar.
FLASHBACK OFF
Red terkejut. Dia tidak bisa berkomentar apa-apa. Mereka berdua diam dan hanya terdengar suara salju yang melintasi daerah itu.
"Jadi, dari awal kau sudah tahu ini semua?" Tanya Red setelah agak lama terdiam.
"Iya," jawab Black singkat tanpa menoleh.
"Tapi kenapa kau tidak melaporkan itu kepada Mira HQ?" Tanya Red dengan nada kecewa. Dia berpikir seandainya Black melaporkan itu, pasti semua ini tidak akan terjadi.
"Hasilnya tetap akan sama. Tapi yang berbeda, kita tidak akan bertemu," jawab Black lalu menatap Red.
"Apa maksudmu?" Tanya Red tidak mengerti.
"Bertahun-tahun yang lalu, aku berhasil masuk ke ruang arsip Mira HQ. Itu adalah tempat yang dijaga ketat oleh mereka. Di sana aku menemukan banyak data mengejutkan Mira HQ yang berhubungan dengan misi ini," jelas Black. Dia berhenti sejenak untuk meraup salju yang lalu dia padatkan hingga berbentuk bola.
"Di salah satu dokumen, aku menemukan ada banyak kasus orang hilang di Mira HQ. Ilmuwan, penjaga, dan petugas komunikasi seperti aku ini. Mereka tiba-tiba hilang dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Parahnya lagi, mereka tidak meneruskan pencarian itu dan langsung berhenti setelah satu Minggu. Seolah-olah ada yang memaksa mereka berhenti."
"Itu memang kedengarannya sangat aneh. Tapi bukankah itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan misi ini?"
"Aku belum selesai cerita. Sebelum aku berhasil masuk ke tempat itu, aku bertemu dengan salah seorang dari mereka yang hilang itu. Tapi dia dalam kondisi sakit-sakitan dan sedang dirawat oleh Nevi. Dia memberitahu penyebab kenapa dia bisa seperti itu. Tapi sayangnya setelah itu, dia meninggal karena luka-lukanya."
Black melempar bola salju itu ke dinding hingga hancur. Red masih menatapnya.
"Dia mengatakan kalau dirinya disiksa oleh sekelompok orang yang sepertinya masih berhubungan dengan Mira HQ. Mereka menyiksanya setelah dia memberitahu tentang kematian para Ilmuwan yang dikirim ke sini. Dari ini lah aku tahu tentang rahasia mereka," Red terkejut mendengar itu.
"Tunggu, mereka sudah pernah mengirimkan Ilmuwan kesini?" Tanya Red.
"Bukankah aku sudah mengatakannya? Atau belum ya? (Author yang lupa) Tapi sekarang aku yakin kau tahu ini ke arah mana," jawab Black.
"Apakah itu ada hubungannya dengan penglihatan ku?" Tanya Red.
"Aku rasa juga begitu. Tapi aku masih bertanya-tanya tentang kau yang merasa pernah disana," kata Black.
"Rasanya seperti ada yang memberikan ingatan ini padaku," sambung Red sambil memperhatikan kedua tangannya.
"Ok, kembali lagi ke penjelasan awal ku. Aku yakin kau mengerti dengan alasan ku."
"Ya, aku sangat mengerti," jawab Red lalu memalingkan wajahnya. Dia mulai membayangkan jika hal itu terjadi.
Red mulai merasa kecewa dengan keputusan Mira HQ. Dia juga merasa kasihan pada para Ilmuwan dan Crewmate yang menjadi korban.
"Tapi kenapa hanya aku yang kau beritahu?" Tanya Red. Dia tahu persis seperti apa Black itu.
Black berdiri, "Aku hanya percaya padamu," jawabnya lalu berjalan pergi meninggalkan Red.
Red mengernyitkan dahinya lalu pergi juga dan berpisah di persimpangan. Mereka kembali ke kamarnya masing-masing.
Black kembali melanjutkan penyelidikannya. Sedangkan Red berbaring dan mulai memikirkan perkataan Black. Sekarang dia menyadari betapa misterius nya orang itu.
DUG!
"Akh!" Red duduk lalu mencengkeram kepalanya sendiri. Rasa sakit kembali menyerangnya.
Kali ini muncul penglihatan lain. Red melihat dirinya yang terduduk di ranjang dari sudut kamarnya bagian bawah. Red terkejut dan membuka matanya lalu menatap lubang kecil yang ada di sudut kamarnya.
Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya tersengal-sengal. Dia mulai berkeringat dingin dan merasa tidak nyaman. Dia merasa sedikit trauma dengan apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu.
Tanpa basa-basi, Red keluar dari kamarnya lalu menguncinya. Setelah itu dia berlari ke kamar Black dan mengetuk pintunya.
Black yang sedang berpikir keras, terkejut mendengar ketukan itu. Dia menyembunyikan barang-barangnya lalu membuka pintu. Terlihat wajah Red yang pucat pasi berdiri di hadapannya.
"Kau kenapa?" Tanya Black khawatir melihat wajah temannya yang seperti tidak dialiri darah itu.
"Black, bisakah aku menginap di kamarmu? Aku mendapat penglihatan lagi," kata Red.
Black terkejut, "Boleh," lalu mempersilahkan Red masuk.
Hari itu, Red menginap di kamar Black sampai dirinya merasa tenang. Dia mulai merasa aneh dengan tempat itu.
Bersambung
.
.
.
.
Selamat tahun baru 2023 semuanya 🥳🥳🥳
Sampai jumpa 👋