Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 13: Ketemu



3 hari setelah kejadian itu, semuanya kembali berjalan seperti biasa. Tapi bukan berarti Black dan White bisa santai begitu saja. Mereka masih giat mencari.


White seperti biasa berada di navigation. Selain mengawasi, dia juga memantau Lime yang sedang memperbaiki kerusakan pesawat.


"Semua kerusakan sudah selesai diperbaiki Kapten," lapor Lime.


"Kerja bagus Lime," puji White lalu dia mematikan komunikasi karena Lime akan masuk kembali ke pesawat.


Brown datang ke navigation. Dia berjalan dengan lambat dan tubuhnya juga terlihat lemah. Dia datang lalu duduk di sebelah White.


"Bagaimana kondisi mu, Brown?" Tanya White.


"Sudah lebih baik. Tapi aku masih merasa sedikit lelah," jawab Brown.


"Kalau begitu kau istirahat saja," saran White.


"Kalau hanya istirahat, itu tidak akan membuat ku cepat sembuh. Aku juga harus berkeringat," kata Brown lagi.


"Bagaimana kalau kau bergabung dengan Green untuk mengejar Rugel? Barusan dia lewat sini tadi. Lagipula, sulit untuk mendapatkan keringat di pesawat luar angkasa," jelas White.


"Tapi itu melelahkan," jawab Brown masih beralasan.


"Jadi mau mu apa? Apa kau mau kita 'begitu' lagi?" Tanya White meminta saran.


Brown terkejut dan wajahnya memerah, "Jangan, tadi malam kita baru saja melakukan nya."


"Iya, tapi tidak ada salahnya kan?" White tersenyum nakal lalu mendekati istrinya.


Jantung Brown berdebar kencang. Dia sedikit mundur berusaha menghindari suaminya yang mulai kumat itu. Tapi White dengan cepat menahannya dan memojokkannya. Tapi belum sempat dia memulai kegiatannya tiba-tiba...


"Hey White, aku baru saja menemukan sesuaTUU!!"


BUK!


Black yang baru saja muncul dari balik dinding malah mendapat lemparan botol yang mengenai kepalanya. Dia terkejut sehingga tidak sempat menghindar. Sepertinya ini karma dari bab sebelumnya -author


White yang melempar botol, masih di posisinya dan menatap tajam Black. Sementara Brown bernafas lega. Dia sangat berterima kasih pada kedatangan Black, meski jujur sedikit kasihan pada temannya itu.


"Kenapa kau melempar..." Black tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat posisi mereka berdua, "Oh astaga! Ini navigation, orang-orang bebas lalu lalang disini," tegur Black tidak habis pikir.


"White pelakunya. Terima kasih karena sudah datang, Black. Aku pergi dulu," kata Brown singkat lalu berjalan meninggalkan mereka.


Black berdiri dan White menghampirinya. Terlihat wajah kecewa White karena kegiatan nya dikacaukan oleh Black. Black yang melihatnya menjadi gemas lalu mengusap wajah White.


"Jangan pasang muka seperti itu. Apa kau kekurangan kamar, sampai-sampai mau melakukan nya di navigation? Aku bisa menyewakan kamarku. Kebetulan kamarku dingin sekali, jadi mungkin saja kalau ada kalian itu akan membuatnya hangat," kata Black panjang lebar.


"Si*lan kau," umpat White sambil meninju pelan bahu Black. Jujur dia tidak suka jika Black mulai mengatakan hal-hal ngawur.


"Tapi aku tidak salah kan?" Black meminta pendapat dan memasang wajah polos.


White diam. Dia tidak bisa menyalahkan Black karena temannya itu memang tidak salah. Tapi, dia sendiri sebenarnya juga tidak mau mengakuinya.


"Kalau kau datang kesini hanya untuk itu, lebih baik kau kembali saja ke ruangan mu," kata White sedikit mengusir.


Black terkejut, "Wah jangan begitu. Aku baru ingat kalau ada sesuatu yang mau kukatakan."


"Apa itu?" Tanya White tertarik.


"Aku menemukan lokasi pesawat The Skeld 301," jawab Black sambil sedikit kegirangan.


White terkejut dan merasa senang. Dia tidak menyangka usaha mereka selama 2 tahun ini telah membuahkan hasil.


"Sungguh? Kalau begitu tunjukkan," kata White sambil menunjukkan radarnya.


Black mendekat lalu memperhatikan radar itu sambil mengingat-ingat.


"Dia ada disini," kata Black sambil menunjuk salah satu titik yang cukup dekat dengan mereka.


White memperhatikan radar itu lalu melihat ke depan secara bergantian. Titik yang ditunjuk Black itu posisinya di depan pesawat mereka. Tapi White sama sekali tidak melihat apapun.


"Tidak ada apa-apa," jawab White.


"Dia ada dibawah kita. Kurasa pesawat mereka mengalami kerusakan sehingga jatuh ke tempat gelap," jelas Black.


Mereka berdua serentak melihat kebawah. Radar mereka memang tidak mampu menangkap objek yang berada dalam kegelapan. Mungkin jika White hanya mengandalkan dirinya sendiri, dia pasti tidak akan menyadarinya.


Pesawat menukik turun secara perlahan. White tidak mau mengagetkan kru nya. Sementara Black masih memberikan arahan. Akhirnya ketika pesawat berada di posisi yang diminta oleh Black, mereka bisa melihat sebuah pesawat yang terdampar di sebuah asteroid besar. Asteroid itu gerakannya lambat sekali, jadi pesawat itu tidak akan berpindah tempat.


"Hey Black, apa kau yakin itu The Skeld 301? Ada banyak pesawat The Skeld yang pernah dikirim oleh Mira HQ dan tidak sedikit dari mereka yang hilang. Tidak kah menurut mu itu salah satu dari mereka?" Tanya White ragu.


"Aku sangat percaya kalau itu adalah The Skeld 301. Sinyal kode yang kupakai mengarah ke pesawat itu. Lagipula, hanya pesawat itu saja yang hilang di jalur ini," jelas Black berusaha untuk meyakinkan White.


Perasaan White menjadi sedikit tenang setelah mendengarkan penjelasan Black. Dia melihat ke arah The Skeld 301 dan mulai memikirkan sesuatu.


"Pesawat itu gelap sekali. Bagaimana kalau kau coba hubungi mereka? Aku ingin memastikan apakah didalam sana ada orang," pinta White.


Black mengangguk lalu mereka berdua berlari ke comunication. Sesampainya di sana, Black segera menyalakan komputer nya dan mencoba menghubungi para Crewmate The Skeld 301.


Tapi sampai beberapa kali dihubungi, tidak ada yang menjawab panggilan dari Black. Mereka berdua saling bertatapan. Timbul tanda tanya besar di kepala mereka.


"White, kita tidak sedang berada di ruang hampa kan sekarang? Aku sudah mencoba menghubungi mereka, tapi tidak ada satupun yang menjawab," kata Black sambil tetap menatap White.


Ruang hampa yang dimaksud Black adalah bagian dari luar angkasa yang paling gelap. Bagian itu tidak memiliki cahaya dari bintang-bintang sedikit pun. Jika ada pesawat yang masuk ke sana, mereka tidak akan bisa menghubungi satu sama lain dan mesin pesawat mereka juga akan bergerak dengan tidak normal.


"Aku sudah memastikan pesawat kita tidak masuk ke sana. Sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres terjadi di The Skeld 301," jawab White.


"Jadi apa yang akan kita lakukan?" Tanya Black meminta pendapat.


"Kita harus ke sana. Kita tidak mungkin kembali dengan tangan kosong. Paling tidak kita menemukan informasi valid tentang kondisi mereka, atau juga bisa saja kita menemukan penemuan yang mereka bawa," kata White.


"Aku ikut dengan mu," kata Black.


Lalu mereka berdua bergegas ke cafetaria. White menekan tombol emergency meeting untuk mengumpulkan para Crewmate. White memberitahu apa yang dia dan Black temukan.


Semua Crewmate terkejut dan penasaran. Mereka ingin melihatnya dari jendela, tapi tidak sopan rasanya karena ada Kapten mereka yang sedang berbicara didepan.


"Jadi aku ingin menyelidiki pesawat itu. Red, Blue, Green, Lime dan Black. Kalian ikut aku ke sana," perintah White. Sementara yang namanya disebut hanya mengangguk.


"Orange dan Cyan, kalian tetap disini. Aku akan menghubungi kalian jika terjadi sesuatu," kata White lagi.


Mereka berdua hanya mengangguk. Mereka akan memantau kelompok kecil itu dari navigation. Sementara yang perempuan juga tetap di pesawat.


Mereka berenam meninggalkan The Skeld dengan menggunakan pesawat awak. Para Crewmate perempuan memperhatikan mereka dari jendela.


"Di sana gelap sekali, apakah ada yang bisa bertahan di situasi seperti itu?" Tanya Purple kepada teman-temannya.


"Do'akan saja semoga mereka selamat," jawab Yellow berusaha untuk yakin.


"Semoga mereka baik-baik saja," batin Brown.


Sementara di pesawat awak, Red terlihat tidak tenang. Dia beberapa kali bergerak tidak wajar yang membuat Black terganggu.


"Kau kenapa dari tadi grasak-grusuk, Red? Apa kau mau ke toilet?" Tanya Black.


"Aku sedang tidak ingin ke toilet, Black. Lagipula sekarang bukan saat yang tepat," jawab Red.


"Oh kau takutkan karena kita akan pergi ke pesawat yang gelap?" Blue mulai meledek.


Red tersinggung, "Aku tidak takut," lalu melihat ke arah berlawanan.


"Aku merasa ada yang sedang menunggu kita di sana," bisik Red kepada Black.


Black yang mendengar bisikan Red menjadi bingung lalu melihat ke The Skeld 301 yang gelap dan terlihat seperti tidak berpenghuni. Dia sebenarnya merasakan hal yang sama, tapi dia berusaha tenang.


"Kita akan baik-baik saja," bisik Black sambil menepuk pundak Red. Berusaha menenangkan temannya itu.


Red tersenyum tipis. Kalimat Black sama sekali tidak bisa menghilangkan perasaan buruknya. Malah itu semakin membuatnya tidak tenang.


"Sayangnya Black. Setiap kali aku merasa seperti ini, firasat ku selalu benar," batinnya.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋