
Black turun dari bangunan itu dan langsung bergabung dengan Brown. Mereka berdua kembali sibuk dengan tentakel-tentakel itu.
"Black, dimana Red?" Tanya Brown.
Black tidak menjawab bahkan dia juga tidak menoleh. Merasa di abaikan, Brown bertanya sambil berteriak.
"BLACK! DIMANA-
"JANGAN TANYA!!!" Brown terkejut mendengar suara Black.
Sambil bertarung, dia melirik ke arah Black yang membelakanginya. Punggung Black bergetar dan bahunya naik turun. Dari situ Brown sudah bisa menebak kalau Red juga tidak selamat.
"Maaf," kata Black sambil menoleh ke arah Brown. Terlihat air matanya yang membasahi pipinya.
Brown melompat ke sampingnya sambil memotong tentakel yang hendak menyerang Black. Lalu dia menepuk pundak Black sambil tersenyum lembut.
"Tidak apa," jawab Brown.
"Guk!" Gonggongan Rugel menyadarkan mereka berdua. Terlihat Rugel yang sedang sibuk berhadapan dengan tentakel-tentakel itu sendirian.
Black terkekeh, "Maaf membiarkan mu berurusan dengan mereka sendirian, Rugel."
Mereka berdua kembali bertarung dengan tentakel-tentakel itu. Sementara di atas, The Skeld masih berusaha menghindar dari Riot. Mereka berdua memutuskan untuk bertahan sampai The Skeld bisa mengirimkan pesawat awak mereka.
Tapi tiba-tiba, tanah kembali bergetar dan Impostor yang menelan Red muncul lagi di permukaan. Black menatap Impostor itu dengan penuh kebencian dan benar-benar ingin membunuhnya.
Tubuh Impostor itu kejang-kejang dan mulutnya terbuka lebar. Dia memuntahkan sesuatu yang jatuh tidak jauh di depan kedua Crewmate itu.
Kumpulan tentakel yang ada di depan mereka menyingkir, menampakkan benda yang dimuntahkan oleh Impostor itu.
Black dan Brown terkejut. Meski tertutup oleh lendir, mereka tahu kalau itu adalah Red. Tapi satupun dari mereka tidak ada yang mendekatinya. Mereka khawatir jika Red sudah terinfeksi. Meski sebenarnya mereka senang karena Red masih hidup.
Tubuh Red bergerak, membuat mereka berdua waspada. Red berdiri dengan susah payah, seperti zombie yang bangkit dari kuburan. Dia menatap mereka.
Tentakel-tentakel muncul dari punggungnya, membuat tubuh mereka berdua lemah karena tahu Red sudah terinfeksi. Bahkan Rugel sampai memasukkan ekornya di antara kedua kakinya.
Perut Red terbuka dan menampakkan lidah tajam yang bergerak cepat ke arah Black. Black terkejut dan bergerak hendak memotong lidah itu.
Tapi tiba-tiba lidah itu berbelok dan menembus kepala Impostor yang muncul di belakang Black. Lalu Impostor itu ditarik oleh Red dan dia langsung melahapnya tanpa sisa.
Black dan Brown terkejut. Mereka sama sekali tidak menyadari kehadiran Impostor itu sebelumnya. Melihat hal itu, Black mulai merasa kalau Red masih sadar.
Tentakel yang di punggung Red bergerak lalu menangkap mereka bertiga. Kedua Crewmate termasuk Rugel, tidak melawan saat tentakel itu melilit tubuh mereka. Lalu Red melompat tinggi membawa mereka jauh dari tempat itu. Dan tiba-tiba muncul Impostor lain dari dalam tanah bekas mereka sebelumnya berpijak.
Red membawa mereka ke tempat yang aman. Dia menatap mereka, sedangkan tentakel di punggungnya bergerak cepat menepis semua serangan yang dilancarkan kepada mereka.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Red.
Tubuh Black dan Brown lega. Sedangkan Rugel menggoyangkan ekornya gembira lalu menjilati kaki Red. Red tersenyum lalu menggendong Rugel dan anjing itu menjilat wajahnya.
"Red, kau masih sadar?" Tanya Black tidak percaya sekaligus bahagia.
"Aku masih sadar," jawab Red.
"Tapi bagaimana bisa?" Tanya Brown heran.
"Ini cerita yang cukup panjang, tapi akan kupersingkat. Jadi sebenarnya aku adalah Impostor. Tapi tidak 100% melainkan setengah Impostor dan setengah manusia. Ketika aku masuk ke dalam cairan yang ada di perut Impostor itu, aku mulai mengingat semuanya. Selama ini ingatan yang datang padaku itu sebenarnya adalah ingatan masa lalu ku. Alasan kenapa aku masih sadar, itu karena aku bukan manusia yang terinfeksi. Aku punya kesadaran ku sendiri, berbeda dengan yang terinfeksi dimana mereka di kendalikan oleh parasit itu sendiri," jelas Red.
Mereka berdua manggut-manggut. Black maju mendekati Red lalu memeluknya erat. Dia tidak peduli dengan cairan kental menjijikkan yang ada di tubuh Red. Rugel langsung turun agar mereka lebih leluasa. Red membalas pelukan Black.
"Di mata ku, kau tetaplah Crewmate," kata Black.
Red tersenyum lega. Agak lama mereka berpelukan sampai akhirnya Brown menyadarkan mereka berdua.
"Guk!" Sambung Rugel.
"Kau mengganggu sekali, tapi kau benar juga," kata Black sambil melepaskan pelukannya.
Tentakel yang di punggung Red mengibas tentakel lain sehingga di sekitar mereka tercipta ruang kosong. Mereka semua maju serentak sambil memegang senjata masing-masing.
"Bertahanlah sampai bantuan kita!" Perintah Black.
"Siap!" Jawab Red dan Brown.
"Guk!" Jawab Rugel.
Sementara itu di atas, Sebuah pesawat awak keluar dari The Skeld dan menarik perhatian Riot.
Beberapa saat sebelumnya...
"Kapten, biar aku saja yang menjadi umpan," tawar orang yang menghubungi Black sebelumnya.
"Maroon? Apa kau yakin?" Tanya Gray tidak percaya.
"Aku sangat yakin, Kapten. Lagipula Tan sudah pernah mengajari ku bagaimana caranya mengemudi pesawat. Dan juga, kita tidak bisa membiarkan mereka menunggu lama," jelas Maroon.
Gray berpikir sambil menatap Riot yang masih berusaha memakan mereka. Jika dipikir-pikir lagi, makhluk itu tidak gesit. Dia harus berhenti dulu untuk memutar arah. Tapi dia cukup cepat jika bergerak lurus.
"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi ingat! Jangan terlalu lama terbang lurus. Dia sangat cepat jika lurus. Kau harus berbelok-belok tapi tetap dengan tujuan menjauhkan dia dari kita," kata Gray.
"Siap Kapten!" Jawab Maroon tegas lalu pergi ke ruang pesawat.
Gray menatap orang yang memegang kemudi, "Banana, panggil Tan kesini!"
Banana mengangguk lalu menghubungi Tan yang sedang duduk di cafetaria. Mendengar namanya di panggil, dia segera bergegas ke navigation.
Gray menjelaskan rencananya. Tan mengangguk paham lalu pergi juga ke ruang pesawat. Banana menggerakkan pesawat itu, berusaha mencari momentum yang tepat untuk melepaskan Maroon.
Setelah agak lama terbang ke sana kemari, akhirnya dia berhasil melepaskan Maroon untuk memancing Riot.
Sekarang...
Riot yang melihat pesawat awak terbang di dekatnya, langsung bergerak cepat hendak memakan pesawat itu.
Tapi Maroon langsung berbelok tajam sehingga Riot tidak berhasil memakannya. Benar yang dikatakan oleh Gray, Riot memang cepat jika terbang lurus.
Sebelumnya Maroon sudah mengisi tangki bahan bakar pesawat itu sampai penuh, jadi dia tidak perlu khawatir kehabisan bahan bakar. Dia terbang dengan gerakan zig-zag, membuat Riot kesulitan menangkap nya.
Setelah Riot menjauh, Pesawat yang dikemudikan oleh Tan pun keluar dan terbang ke arah Polus. Tapi Raksasa-raksasa itu menghalangi nya sehingga dia kesulitan mendekat.
"Sepertinya ini tidak mudah," gumam Tan.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋