
1 bulan kemudian...
Di sebuah minimarket, seorang pria berambut merah berdiri di dekat salah satu etalase sambil memandang 2 kotak sereal.
"Aku ingin membeli yang ini, tapi yang rasa ini sepertinya enak," batin pria itu. Dia membalikkan salah satu kotak, "Ini mahal. Aku ingin membeli yang ini saja," batinnya lagi sedikit kecewa lalu memasukkan kotak itu ke dalam keranjang belanjanya. Dia segera berjalan menuju kasir.
Sesampainya di kasir, dia meletakkan semua belanjaannya di meja.
"Kau tidak membela sereal rasa coklat itu Red?" Tanya kasir kepada pria rambut merah.
"Uang ku tidak cukup," jawab Red.
"Baiklah, tapi lain kali kau harus beli," canda kasir itu sambil menghitung semua belanjaan Red lalu memberikannya.
Red tersenyum dan membayar semuanya lalu keluar. Dia mengeluarkan headset nya, memasangnya di telinga lalu mencari berita terbaru. Dia berjalan menuju halte.
Kondisi kota saat itu ramai seperti biasa. Mobil pribadi dan angkutan umum bertenaga Surya berlalu-lalang di jalanan. Sekelompok pemuda berteriak-teriak menggunakan toa, menyuarakan tentang pentingnya pohon. Salah satu dari mereka memberikan sebuah pamflet kepada orang-orang yang lewat tapi pamflet itu selalu di buang begitu saja atau di lempar kembali ke arah mereka.
Sebuah mobil polisi lewat di dekat Red. Dia terus menatap mobil itu sampai mobil itu berada di belakangnya. Tiba-tiba mobil itu berhenti mendadak, Seseorang dengan tangan terborgol melompat keluar lalu melarikan diri melalui gang kecil yang didepannya. Mobil itu bergerak lagi, melaju mengejar orang itu.
Selain itu, ada juga beberapa pedagang keliling yang menjual kerajinan tangan dari barang bekas, anak-anak kecil yang berlarian, dan masih banyak lagi.
Red terus berjalan sampai ke halte. Tepat setelah sampai, bis berhenti di depan halte itu. Red berlari lalu masuk dengan sedikit menyenggol orang-orang yang ada di sana.
Bis mulai bergerak menuju pemberhentian berikutnya. Red duduk, menatap keluar jendela dan headset masih terpasang di telinganya.
Berita tentang bencana alam terus terdengar di telinganya. Setiap membuka ponselnya, hanya itu yang ada.
Memang saat ini alam sudah tidak lagi bersahabat dengan manusia. Bencana terjadi di mana-mana. Seolah-olah ini merupakan hukuman dari apa yang telah dilakukan manusia.
Red merupakan seorang astronot. Dia sering bolak-balik ke stasiun luar angkasa untuk mengambil beberapa data tentang kondisi bumi. Hasilnya? Selalu membuat Red prihatin. Kondisi bumi sudah begitu menyedihkan. Antartika yang duluan berwarna putih, kini sudah berwarna coklat. Hanya sedikit lapisan es yang tersisa. Luas laut semakin bertambah, berbanding terbalik dengan daratan yang semakin sedikit.
Sudahlah, Red tidak ingin memikirkan itu lagi. Yang ingin dilakukan nya saat ini hanya menikmati waktu liburnya yang sisa sedikit. Dia menyandarkan tubuhnya lalu menutup mata.
Setelah agak lama kemudian, bis pun berhenti. Beberapa penumpang ada yang tetap di bis dan ada juga yang keluar, termasuk Red. Setelah itu, dia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki lalu berbelok ke sebuah kawasan perumahan.
Rumah-rumah di sana tidak terlalu padat dan tidak berdempetan. Masih ada jarak di antara rumah satu dan yang lain. Biasanya bagian yang kosong itu di penuhi semak belukar.
Kawasan ini jauh dari hiruk pikuk kota jadi tempat ini sangat nyaman untuk orang yang ingin menjauh dari keramaian.
Setelah berjalan, Red berbelok lagi masuk ke halaman rumahnya yang bercat putih. Tapi sebelum itu, dia menyapa tetangganya yang saat itu sedang menata tanaman.
"Hey Flo, terima kasih karena sudah menjaga tanaman ku," ucap Red kepada tetangganya yang bernama Flo.
"Sama-sama Red," jawab Flo sambil berdiri dan mengangkat pot bunga berwarna merah sampai sejajar dengan wajahnya.
Flo adalah tetangga Red. Rumah mereka saling bersebelahan. Biasanya Red selalu meminta bantuan Flo untuk menjaga atau merawat tanamannya selagi dia pergi berkerja atau berbelanja. Flo selalu mengenakan topi kebun (author nyebut nya gitu, entah bagaimana dengan kalian) berwarna kuning saat dia di luar.
(Catatan: Flo itu perempuan.)
Dia tinggal sendiri. Flo menafkahi hidupnya dengan membuka toko bunga di depan rumahnya. Selain itu, dia juga sering di sewa untuk menjadi penata dekorasi ruangan ketika ada acara.
Flo kembali melakukan kegiatannya dan Red masuk ke rumahnya. Setelah menyimpan barang-barangnya, dia mulai melakukan aktivitas seperti biasa.
Sementara itu di tempat lain...
Seorang pria berseragam penjaga masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang sedikit berantakan. Tampak temannya yang duduk di kursi dan dikelilingi berkas-berkas yang berserakan.
"Kau terlihat kacau," komennya lalu ikut duduk di depan temannya.
"Jelas," jawab temannya sambil bersandar lalu menghela nafas berat. Dia memijit pelipisnya.
Pria itu mengambil random salah satu berkas berisi data-data tentang astronot yang ada di dekatnya lalu memandang temannya itu.
"Sebegitu sulitkah untuk menemukan orang-orang yang sesuai dalam misi ini?" Tanya pria itu.
"Kau tidak tahu. Aku sudah menemukan sebagian besar, tapi masih kurang 2," jawab temannya sambil melempar berkas yang selesai dibacanya.
"Memangnya berapa target mu?"
"12 orang."
"Bagaimana dengan 2 orang ini?" Tanya si pria lalu memberikan berkas yang tadi dilihatnya.
"Tapi mereka astronot. Bagaimana kalau kau berbicara dengan atasan untuk 'meminjam' mereka?" Saran si pria.
Temannya pun mulai berpikir, "Sepertinya itu ide bagus. Aku akan berbicara dengan atasan tentang itu dan kau," sambil menunjuk temannya, "Jika ini diterima maka kau yang pergi ke rumah mereka berdua untuk memberitahu hal ini."
"Tunggu kenapa aku? Apa gunanya teknologi semakin canggih jika masih harus pergi langsung?" Protes pria itu.
"Aku ingin kau mengamati mereka untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar orang yang tepat. Lagipula beberapa menit yang lalu kudengar bahwa ada yang menjual martabak kacang di jalan menuju rumah salah satu dari mereka. Kau tentu tidak ingin melewatkan kesempatan ini bukan?"
"Ck baiklah. Demi martabak kacang, aku akan melakukannya," jawab pria itu pasrah lalu pergi diikuti temannya yang terkekeh geli.
Ternyata saran pria itu diterima. Pria itu segera bersiap lalu pergi ke rumah kedua orang itu.
Kembali di tempat Red...
Hari sudah malam. Setelah selesai makan malam, Red duduk Lalu menonton TV. Tangannya sibuk memencet remote, mencari siaran yang menarik.
Saat sedang sibuk, perhatiannya teralih ke sebuah pesan singkat dari tempat dia bekerja. Dia mengambil ponselnya lalu membaca pesan singkat itu.
"Tunggu dulu, apa ini?" Gumam Red lalu membaca pesan itu berulang-ulang.
Di sana tertulis bahwa Red telah dipindah tugaskan ke sebuah markas besar bernama Mira HQ. Red belum pernah mendengar nama itu, jadi dia berniat mengirim pesan balasan. Tapi saat sedang mengetik, kegiatannya terhenti karena suara ketukan pintu.
"Aku datang," kata Red sedikit berteriak lalu membuka pintu.
Dihadapan Red saat ini, berdiri 3 orang pria berpakaian biasa-biasa saja. 2 orang berdiri di kanan kiri pintu sementara yang ditengah tepat berdiri di depannya.
Tatapan Red tertuju pada kantong plastik hitam di tangan orang yang ditengah. Tercium aroma manis dari kantong itu. Sementara pria itu terus menatap wajah Red dengan sedikit terpana. Saat Red mengangkat kepalanya, tatapan mereka pun bertemu yang membuatnya sedikit risih karena ditatap terus menerus.
"Maaf, kalian ini siapa?" Tanya Red sopan.
Pria itu masih diam. Sementara yang lain saling bertatapan lalu berusaha menyadarkan pria itu dari lamunannya.
"Heh, dia tanya tuh," tegur pria yang di kanan dengan sedikit menyenggol membuat orang itu tersadar.
"Eh iya maaf," kata pria itu tersadar. Dia membuka mulutnya lagi, ingin mengatakan sesuatu tapi...
"Errr barusan aku mau bilang apa ya?" Tanyanya sambil menatap kedua temannya yang membuat mereka berdua menepuk jidat.
"Itu loh yang rekrut-rekrut itu," jawab salah satu temannya sambil berbisik.
"Oh iya," ucapnya lalu kembali menatap Red.
"Begini, kau pasti baru saja menerima pesan bahwa kau telah dipindah tugaskan. Bukankah begitu Red?" Tanya pria itu.
Red terkejut karena orang itu tahu namanya, "Bagaimana kau tahu?" Tanya Red lalu memasang posisi berjaga karena khawatir orang yang didepannya ini jahat.
"Tenanglah Red, kami bukan orang jahat. Kami dari Mira HQ," kata pria itu.
Mendengar nama "Mira HQ" Red mulai sedikit tenang, "Kalian dari Mira HQ? Kalau begitu Mira HQ itu apa?"
Pria itu mengerutkan keningnya, "Sudah jelas itu markas besar kan?"
"Aku tahu, hanya saja kenapa aku dipindah tugaskan ke sana?"
Pria itu menghela nafas, "Jika kau ingin tahu kau bisa datang ke tempat ini besok. Kau pasti tahu ini dimana," sambil memberikan selembar kertas pada Red, "Waktu sudah tertera. Kau akan bertemu dengan mereka berdua saat di sana nanti. Mereka inilah yang nanti akan membawa mu ke Mira HQ," jelasnya.
Red mengangguk mengerti lalu membaca kertas berisi nama tempat dan jam tersebut.
"Urusanku sudah selesai. Sampai jumpa di Mira HQ, Red. Semoga malam mu menyenangkan," ucap pria itu lalu pergi diikuti teman-temannya.
Setelah itu, Red masuk kembali ke rumah lalu bergegas tidur karena di kertas itu tertulis bahwa besok dia harus bangun subuh jadi dia berharap agar besok dia tidak mengantuk.
Bersambung
.
.
.
.
Sampai jumpa 👋