Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 16: Analisis



Mereka akhirnya sampai di The Skeld 385. Para Crewmate perempuan menyambut kepulangan mereka. Sementara Red dan Black langsung dibawa ke medbay.


"Kerja bagus Orange," puji White.


Orange tersenyum malu, "Terima kasih, Kapten."


"Kukira aku akan mati tadi," ujar Blue.


White menyuruh mereka untuk bubar. Besok mereka akan mendiskusikan hal yang baru saja mereka alami. Mereka tidak bisa melakukannya sekarang karena dua orang yang merupakan korban sekaligus saksi sedang sakit.


Keesokan harinya, kondisi mereka berdua sudah lebih baik. Tapi Red tidak bisa ikut karena efek sengatan listrik itu membuat tubuh Red menjadi lemah. Jadi hanya Black saja yang akan memberikan kesaksian.


Mereka semua berkumpul di cafetaria. Suasana saat itu benar-benar tegang. Itu karena baru pertama kali ini mereka menghadapi situasi seperti itu.


"Kita akan membicarakan kejadian yang terjadi kemarin. Dimana saat ini William, Kapten dari The Skeld 301 dinyatakan sebagai pembunuh para kru nya," kata White memulai rapat.


"Tidak, itu bukan dia."


"Tidak, itu bukan dia."


Black dan Green saling bertatapan karena menyadari kalimat mereka yang mirip. White dan kru lain menjadi bingung.


"Kenapa bukan dia? Bukankah kita semua sudah melihat dia yang mencoba menarik Red ke The Skeld 301 yang akan meledak?" Protes Lime.


Black meminta Green yang menyatakan kesaksian nya terlebih dahulu.


"Aku dan Blue menemukan mayat Kapten William di medbay dalam kondisi terbungkus kantung jenazah. Jadi menurut ku dia pasti sudah meninggal duluan sebelum para kru nya," jelas Green membuat mereka semua terkejut.


"Kalau kau sendiri bagaimana, Black? Lengan mu berdarah, kau pasti diserang kan?" Tanya White.


"Kami berdua memang diserang. Tapi sebelum itu, kami menemukan rekaman ini," jawab Black sambil menyerahkan tablet itu kepada White.


Mereka memutar video dari tablet itu. Reaksi mereka kurang lebih sama dengan reaksi Black dan Red saat menemukan video itu, kaget dan bingung. Yellow dan Pink sampai merinding.


"Dia tidak berbohong," komentar Orange setelah video itu dimatikan.


"Memang tidak," balas Green.


"Memangnya seperti apa makhluk yang menyerang kalian itu? Aku hanya melihat tentakel besar yang menahan pesawat kalian agar tidak pergi," tanya Pink.


"Aku sendiri juga tidak tahu dia itu makhluk seperti apa. Tapi yang pasti, dia bukan manusia dan dia punya mulut diperutnya," jawab Black.


"Mulut?!" Semua Crewmate bingung. Yellow dan beberapa kru lainnya langsung melihat perut masing-masing.


"Iya, mulut diperutnya. Bahkan ada gigi-gigi runcing di mulutnya itu. Lidahnya juga bisa dijadikan senjata," jawab Black lagi santai.


Lime menelan ludah, "Aku rasa itulah alasan mengapa mayat para kru yang kami temukan, tubuhnya dalam kondisi tidak utuh."


"Ya kami juga," balas Blue.


"Tapi Fred tidak mati seperti itu. Ada lubang di kepalanya yang sepertinya karena serangan lidah makhluk itu. Hah, mengingat Red yang sempat diserang makhluk itu membuatku bersyukur dia tidak dimakan," ujar Black.


"Itu pasti mengerikan," komentar Purple.


Green hanya mengangguk. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.


"Oh ya Black. Kalau tidak salah saat kembali ke pesawat, kau membawa sebuah kotak putih. Dimana kotak itu?" Tanya Green.


Black menepuk jidatnya, "Oh iya aku lupa, sebentar akan aku bawa kotaknya," kata Black lalu pergi ke kamarnya.


Beberapa saat kemudian, Black kembali sambil menenteng kotak putih ditangan kanannya. Karena lengan kirinya diperban. Dia memberikan kotak itu kepada White. White memperhatikan kotak itu lalu membukanya.


Isinya sama dengan yang dilihat Red. Beberapa artefak, tengkorak, kristal dan beberapa tabung silinder yang dibekukan. Didalam kotak itu juga ada sebuah tablet hologram yang memuat informasi temuan itu. Mereka semua bersorak kegirangan karena misi mereka telah berhasil.


Brown mengambil tablet hologram itu lalu membukanya. Dia melihat-lihat semua informasi itu hingga menemukan sesuatu yang aneh.


"Disini tidak ada data tentang benda yang didalam tabung silinder itu," kata Brown.


White mengambil benda itu lalu memperhatikannya. Isi dalamnya tertutup kabut efek pembekuan itu, "Aku sendiri juga tidak tahu benda apa yang ada didalamnya. Tapi kau bawa saja semua itu ke medbay. Ilmuwan di Mira HQ pasti tahu apa itu."


Brown mengangguk lalu membawa benda itu ke medbay. White mengakhiri rapat itu, sedangkan Black segera ke medbay untuk menjenguk Red.


"Hey Red, bagaimana keadaanmu?" Tanya Black saat baru sampai di medbay.


"Aku sudah merasa lebih baik. Tapi tubuh ku masih terasa lemah," jawab Red. Lalu Black duduk di kursi samping ranjang.


"Bagaimana dengan rapatnya?" Tanya Red.


"Berjalan dengan baik. Aku sudah memberitahu semua yang kita alami," jawab Black lalu memainkan ujung selimut nya Red.


Black menceritakan semua yang dia ketahui saat rapat tadi. Sementara Red hanya mendengarkan. Dia benar-benar menyimak semua kalimat Black.


"Hey Black, bisa kau ceritakan kejadian saat aku pingsan kemarin?" Pinta Red.


Black bingung tapi akhirnya menceritakannya juga. Terlihat ekspresi Red yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tidakkah menurut mu ada yang aneh?" Red meminta pendapat.


Black bingung, "Aneh bagaimana?"


"Saat kau diserang oleh tentakel-tentakel itu, bukankah kau sempat hampir mendekati orang itu melalui celah-celah? Bukankah bisa saja tentakel itu bergerak menutup seperti yang kau ceritakan sebelumnya. Tapi tentakel itu tetap bergerak lurus menyerang mu," jelas Red.


Tiba-tiba Black merasa kalau dirinya mulai bisa menangkap arah pembicaraan Red. Tapi dia masih ingin menguji temannya itu terlebih dahulu.


"Bisa kau berikan penjelasan yang lebih rinci?" Pinta Black.


"Begini, orang dan tentakelnya itu diibaratkan seperti pohon dan ranting. Ranting perlu pohon untuk berbuah. Begitu juga dengan tentakel itu yang butuh orang itu untuk menyerang mu. Tapi dia tidak bisa bergerak kemana-mana, hanya lurus sesuai kehendak orang itu. Tapi untuk 3 tentakel yang besar itu, dia bisa bergerak menghindari tembakan Orange, yang artinya dia makhluk hidup," jelas Red lagi.


"Tentakel itu putus di bagian tengahnya kan? Berarti bagian yang melilit pesawat kita harusnya masih ada kan? Apa kau melihatnya?" Tanya Red bertubi-tubi.


Black terdiam karena dia mengingat sesuatu. Tatapan matanya kosong lalu dia berdiri.


"Aku akan kembali," jawabnya lalu pergi.


Red hanya menghela nafas lalu melihat ke arah lain sambil memegang dadanya.


"**P**erasaan ini tidak mau hilang," batinnya gelisah.


Sementara itu di ruang pesawat awak...


Cyan saat itu sedang menyapu lantai di ruang pesawat awak. Tapi kegiatannya terhenti ketika melihat Black yang menaiki badan pesawat seperti sedang mencari sesuatu.


"Apa yang kau lakukan disitu, Black?" Tanya Cyan heran.


Black tidak menjawab, tapi dia langsung turun dan mendekati Cyan.


"Hey Cyan, kau bersih-bersih disini kemarin kan? Apa kau melihat sesuatu di dinding pesawat?" Black bertanya balik.


"Aku tidak melihat apapun, memangnya apa yang kau cari?" Tanya Cyan lagi.


Black menghela nafas. Terlihat ekspresi khawatir terukir di wajahnya, "Tidak ada," jawabnya lalu pergi meninggalkan Cyan.


"*A*neh," batin Cyan lalu kembali melakukan aktivitasnya.


Sementara itu didalam salah satu vent, terlihat Lime yang sedang memperbaiki kerusakan dalam vent itu. Dia benar-benar fokus pada pekerjaan nya hingga akhirnya menyadari ada yang aneh.


Lime merasa seperti sedang diawasi. Itu membuatnya tidak tenang hingga akhirnya mengangkat wajahnya. Dia terkejut ketika melihat benda seperti gumpalan berada agak jauh dari posisinya.


Dia ingat benda itu tidak ada di sana sebelumnya. Apalagi jaraknya yang jauh membuat Lime tidak bisa memastikan benda apa itu. Tapi dia yakin tidak pernah melihat benda seperti itu.


Tiba-tiba gumpalan itu bergerak cepat ke arah Lime. Lime yang terkejut refleks merangkak menjauh dari gumpalan itu. Dia semakin mempercepat gerakannya, tapi gumpalan itu juga semakin dekat.


Lime sudah tidak memperdulikan sikutnya yang sakit karena merangkak dengan cepat. Nafasnya juga semakin berat karena tidak bernafas dengan baik. Mengingat dirinya yang jauh dari penutup vent membuatnya takut.


Gumpalan itu mempercepat gerakannya dan berhasil menjangkau kaki Lime. Lime yang terkejut langsung berdiri dan ternyata kepalanya menghantam penutup vent hingga terbuka. Lime yang sadar segera keluar lalu menutup vent itu.


Lime terduduk di lantai. Nafasnya tersengal-sengal. Matanya masih menatap vent itu, takut jika benda itu ikut keluar.


"Lime."


"AAAHHH!" Lime berteriak ketakutan lalu mengesot mundur.


Tapi ternyata yang memanggilnya itu adalah Cyan. Dia sedang memegang kantong sampah. Dia bingung kenapa Lime terlihat begitu takut.


Lime merasa lega. Dia berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdetak keras. Cyan berjongkok disampingnya.


"Kau kenapa?" Tanya Cyan.


Lime mengatur nafasnya sebelum bercerita, "A-aku melihat benda aneh didalam vent dan dia mengejar ku," jelas Lime terbata-bata.


Cyan tidak berkata apa-apa. Dia menatap vent itu lalu berniat untuk membukanya.


"Jangan! Nanti dia melompat keluar," larang Lime ketakutan.


Gerakan Cyan terhenti. Dia berdiri lalu pergi, dia kembali lagi sambil membawa kemoceng. Dia berdiri lagi didepan vent.


"Kotak peralatan mu tertinggal kan? Dimana kau meninggalkannya?" Tanya Cyan.


"Di arah sana," jawab Lime sambil menunjuk dari arah mana dia datang tadi.


"Aku akan kembali," kata Cyan lalu membuka vent dan masuk kedalamnya.


Lime terkejut dan panik, "Cyan, apa yang kau lakukan? Kembali lah!" Pekiknya.


Tapi tidak ada jawaban dan Cyan juga tidak muncul dari dalam vent. Lime berdiri lalu mondar-mandir. Dia bingung harus melakukan apa. Apakah dia harus menyusul Cyan? Tapi dia masih terlalu takut.


Sudah agak lama Cyan didalam vent dan tidak muncul. Lime khawatir jika benda itu melakukan sesuatu pada Cyan.


Tiba-tiba Cyan muncul dari dalam vent lalu keluar sambil memegang kotak peralatan Lime. Lime yang melihatnya muncul merasa senang dan lega.


"Ini punyamu," kata Cyan sambil memberikan kotak itu. Lime pun menerimanya.


"Aku tidak melihat apapun didalam vent," kata Cyan lagi.


Lime terkejut, "Kau sungguh-sungguh tidak melihatnya?"


"Tidak," jawab Cyan.


Mereka berdua terdiam. Lalu Cyan menyarankan agar Lime melaporkan kejadian itu kepada White karena menurutnya itu sesuatu yang harus ditanggapi serius.


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋