Among Us: Origin Story

Among Us: Origin Story
Bab 17: Penyerangan Pertama



Setelah menyelesaikan misi dan memberitahukan semua kejadian yang mereka alami kepada pihak Mira HQ, akhirnya kru The Skeld 385 diijinkan pulang. Misi mereka dinyatakan selesai.


Tapi meski begitu, beberapa dari mereka tidak bisa merayakan euforia itu. Terutama Red, Black, Cyan, Lime dan White.


Lime sudah melaporkan kejadian yang dialaminya kepada White. Sulit dipercaya tapi White yakin kru nya ini tidak main-main. Sedangkan Red dan Black sama sekali tidak tahu, tapi mengetahui tentang bagian tentakel yang hilang di pesawat mereka membuatnya tidak tenang.


Sudah lewat beberapa hari ini dan kondisi Red sudah semakin membaik. Dia sudah bisa mengerjakan task nya sendiri. Tapi yang namanya trauma listrik jelas tidak bisa disembuhkan. Gara-gara kesetrum waktu itu membuatnya gemetar saat fix wiring.


Hari ini saatnya mengerjakan task. White seperti biasa membagi-bagikan kertas berisi task mereka.


"Saatnya mengerjakan task. Selesaikan itu dan kalian bisa santai," kata White.


Kali ini White juga ikut mengerjakan task. Karena mereka sudah lewat jalur ini sebelumnya, jadi tidak perlu dipantau lagi. Terkecuali Brown yang tetap di medbay, dia akan berjaga disana jika ada kru yang terluka.


Red membaca list task nya. Dia bersyukur karena tidak ada fix wiring di task nya. Sedangkan Black menggerutu karena harus mengerjakan task.


"Ugh aku benci mengerjakan task. Hey Red, aku akan mulai dari weapons. Sampai jumpa," pamit Black lalu pergi.


Sementara itu, Red memulai dari admin karena dia punya swipe card. Sesampainya di admin, dia menoleh ke samping pintu dan teringat dengan mayat Fred. Tapi kali ini dia tidak melihat apapun.


Red mengeluarkan kartu ID nya dari dompet, tapi tiba-tiba seseorang mengejutkan nya.


"DAR!" Kata Blue mengejutkan Red.


"Eh ayam," latah Red dan tidak sengaja melemparkan kartunya hingga masuk ke dalam vent.


Mereka berdua terkejut. Red tidak terima lalu berbalik berniat meminta pertanggung jawaban dari Blue.


"Blue, tanggung jawab kartu ku masuk... Eh? Dia kemana?" Tanya Red lalu keluar dari admin mencari Blue yang tiba-tiba lenyap.


"Maaf Red atas kartu mu. Kau ambil sendiri ya, aku masih banyak task. Sampai jumpa," kata Blue sebelum akhirnya menghilang bak kilat.


"Ck dasar tidak bertanggung jawab," decak Red sambil bergumam kesal.


Red kembali lagi ke admin lalu mendekati vent itu. Dia mengangkat penutup vent itu lalu mengulurkan tangannya untuk meraba bagian dalam vent.


Tangannya menyentuh sesuatu yang tipis dan keras. Red menarik tangannya dan mendapatkan kartu nya kembali. Tapi ketika ditarik lebih jauh lagi, ada tentakel kecil yang melilit tangannya. Sontak membuatnya terkejut.


Tiba-tiba tentakel itu menarik tangan Red dengan keras hingga Red masuk ke dalam vent. Red berteriak, tapi sudah terlambat. Seluruh tubuhnya masuk ke dalam vent dan hanya meninggalkan topi dan kertas task nya. Tidak ada yang mengetahui kejadian itu.


Sementara itu, semua Crewmate hampir selesai mengerjakan task. Black juga hampir selesai dan dia merasa senang karena sebentar lagi dia bisa beristirahat.


Tapi ada sesuatu yang dirasa janggal di hatinya. Dari waktu dia berpisah dengan Red di cafetaria, dia tidak melihat temannya itu dimana pun.


Pesawat ini memang luas. Tapi lingkup untuk mengerjakan task masih terbilang kecil, jadi tidak mungkin dia tidak berpapasan dengan Red. Itu membuatnya penasaran.


Ketika Black hendak masuk ke admin untuk upload data, dia teringat dengan mayat Fred. Oleh sebab itulah dia mencoba untuk melihat ke samping pintu. Tapi, yang dilihatnya kali ini lebih membuatnya terkejut.


Dia melihat topi dan selembar kertas didekat vent. Black ingat itu topi yang sama dikenakan Red. Dia mendekati kedua benda itu. Ketika dia melihat kertas yang berisi task itu membuatnya heran.


Disitu belum ada satu task pun yang diselesaikan Red. Itu bukan kebiasaan Red yang dijuluki sebagai Crewmate rajin. Tapi yang membuatnya lebih terkejut adalah dia melihat setitik bercak darah didekat kedua benda itu.


Sementara itu di posisi Green...


Green masuk ke electrical bersama Rugel. Electrical sedang kosong saat itu.


"Aku harap kau tidak memakan kabel lagi, Rugel," nasihat Green.


"Guk!" Jawab Rugel.


Tapi tiba-tiba Rugel bertingkah aneh. Kedua telinganya terangkat dan dia memandang sekeliling nya. Hidungnya juga mengendus-endus tempat itu.


"Hey Rugel, kau kenapa?" Tapi pertanyaan Green tidak dijawab. Rugel justru berlari keluar meninggalkan majikannya.


Green terkejut, "Rugel, kau mau kemana? Jangan lari!" Pekik Green lalu mengejar Rugel.


Rugel berlari menuju ke bagian kosong. Bagian yang berisi ruangan-ruangan kosong yang tidak terpakai. Bagian itu sudah kotor tapi Cyan sudah diminta untuk membersihkan tempat itu.


Tapi Green sama sekali tidak bertemu dengan Cyan, mungkin dia ditempat yang lain. Tidak ada satupun orang disitu yang bisa dimintai tolong untuk membantunya. Tapi untung saja dia bertemu dengan Lime yang kebetulan datang dari depan.


"Lime, hentikan Rugel!" Pekik Green.


Lime terkejut tapi segera memasang kuda-kuda untuk menahan Rugel. Tapi Rugel dengan lincah menghindari Lime dan berlari terus. Green melewati Lime dan terus mengejar peliharaan nya itu.


"Woi! Jangan kesana!" Larang Lime lalu menyusul mereka.


Sementara itu di tempat lain...


Didalam salah satu ruangan kosong. Tiba-tiba sebuah vent terbuka dan Red terlempar keluar dari dalamnya. Tapi Red berhasil mendarat dengan mulus. Dia memegang tangannya yang terluka karena serangan makhluk itu.


Red mulai bersiap-siap. Dari dalam vent muncul sesosok makhluk dengan tentakel dipunggung nya. Dia merangkak keluar lalu berdiri tegak menatap Red dengan tatapan marah.


"Bagaimana caranya kau bisa bertahan dari ledakan itu?" Tanya Red tidak percaya dan tetap waspada.


Tiba-tiba tubuh makhluk itu bertambah besar dua kali lipat dari ukuran pertama. Gigi taring di mulut yang ada di perutnya bertambah panjang. Matanya berubah merah menyala, lebih merah dari mata Red.


Red terkejut dan gemetaran. Dia mengambil sebatang besi untuk melawan monster itu. Meski sedikit takut, tapi dia harus bertahan.


Monster itu menyerang Red dengan tentakel nya. Red dengan lincah menghindar dan memukul tentakel itu agar tidak mengenainya. Red mengeluarkan semua kemampuan nya.


Monster itu semakin gencar menyerangnya. Tapi Red tetap berhasil menghindar, meski sempat tergores beberapa kali. Tapi dia tidak memperdulikannya. Itu membuat si monster marah.


Tiba-tiba tentakel itu semakin banyak, bahkan hampir menutupi lantai. Red berusaha untuk menghindari nya, tapi pada akhirnya itu sia-sia.


Salah satu tentakel menyerang Red sebagai umpan. Red yang sudah termakan umpan itu, menghindar dan berhasil tertangkap karena menginjak tentakel itu.


Red tidak bisa bergerak. Tentakel itu merambat ke tubuhnya dan melilitnya. Red semakin meronta-ronta. Monster itu mendekati Red lalu mencekik lehernya.


"A**khirnya aku mendapatkan mu**," kata monster itu dengan suara yang mengerikan.


Red tidak bisa bernafas, tangan nya berusaha melepaskan tangan monster itu. Tapi itu sama sekali tidak berguna. Tenaga monster itu begitu kuat.


Tubuh Red pun akhirnya lemas, dia tidak mampu bergerak lagi. Setelah itu, monster itu menghempas tubuh Red ke lantai hingga tersungkur lalu menginjak dan menendangnya sampai Red mengeluarkan darah.


Tubuhnya semakin lemah, penglihatannya buram. Red sudah pasrah dengan keadaan nya. Apakah teman-temannya akan datang?


Bersambung


.


.


.


.


Sampai jumpa 👋