Allea

Allea
Chapter 9. Serpihan Hati



Setelah habis menghajar Rangga, Iqbal datang ke rumah Allea. Ia ingin tahu bagaimana keadaan saudara tirinya itu. Sayangnya, Allea memutuskan untuk mengurung diri di dalam kamar. Ia benar-benar tersiksa atas kehilangan cinta yang sudah ia jaga sejauh ini.


"Allea tidak mau ketemu sama siapa-siapa, Iqbal," ucap Vena setelah mencoba mengetuk pintu kamarnya.


"Mama tahu masalah ini, tapi kenapa enggak cerita sama aku? Allea itu adik aku, Ma, meskipun dia enggak satu darah sama aku." Raut wajah Iqbal terlihat kecewa pada Vena yang merahasiakan semua darinya.


Kalau saja Vena cerita, Iqbal akan segera terbang dari Paris menuju Jakarta.


"Maafin Mama, Bal. Bukan Mama yang tidak mau cerita sama kamu, tapi Allea yang melarang Mama cerita sama kamu. Dia masih mencintai Rangga dan tidak mau persahabat kamu dengan orang yang di cintainya hancur karenanya," terang Vena.


"Papa tahu masalah ini, Ma?" Vena mengangguk.


Sejak Iqbal mengantar pulang Allea, sejak itu ia hanya di dalam kamar. Ia belum keluar kamar dan belum juga memakan sesuatu. Vena hanya takut Allea akan sakit hanya karena pemuda seperti Rangga.


Iqbal mencoba membujuk Allea sekali lagi, ia ingin memastikan saudara tirinya itu makan walau hanya sedikit nasi.


"Allea, aku mohon kamu keluar. Kasihan Mama dan Papa kalau kamu begini terus. Mereka khawatir sama kamu, dan aku juga khawatir sama kamu. Ayolah, All, keluar dan makan sedikit saja. Setidaknya perut kamu tidak kosong," bujuk Iqbal seusaha mungkin dari depan kamarnya.


Allea tidak juga membuka kamarnya. Untuk sekedar memberi jawaban pada Iqbal saja pun tidak. Ia benar-benar terluka oleh Rangga dan Rhea.


"Sepertinya, aku pulang saja, Ma. Besok aku ke sini lagi coba bujuk Allea lagi," pamit Iqbal.


"Kenapa kamu tidak bermalam di sini saja? Papa Andre juga papa kamu, meskipun cuma papa sambung."


"Aku tahu, Ma, tapi aku masih merasa canggung. Aku harap Mama mengerti, ya." Vena tidak bisa memaksa Iqbal, ia mengerti perasaannya. "Kalau ada apa-apa sama Allea, Mama kabari aku secepat mungkin.


Iqbal pun berlalu dari sana, ia kembali ke rumah peninggalan papa kandungnya. Di tengah Andre dan Vena sedang duduk di ruang tengah, Allea keluar dari kamarnya.


Entah apa yang ada dalam pikirannya, hingga membuatnya lagi-lagi harus melakukan untuk mengakhiri hidupnya. Ia melangkah menuju balkon dengan mata sembab dan pandangan kosong.


Allea menaiki satu kakinya sekali lagi di tempat yang berbeda. Vena yang sejenak melihat seseorang yang ada di balkon, memastikan kalau orang itu Allea. Dan, kenyataannya itu memang Allea.


"Papa!" Suara teriakan Vena membuat Andre spontan berjalan cepat ke arahnya.


"Ada apa, Ma? Kamu teriak-teriak malam-malam begini."


"Allea, Pa." Vena menunjukan ke arah Allea. Andre pun langsung menghampirinya, berusaha merayu agar Allea tidak menghabiskan nyawanya.


"Allea Sayang, Papa dan Mama mohon jangan lakukan itu. Masih banyak cowok yang lebih baik dari Rangga, dan kamu jangan lakukan hal bodoh ini."


"Aku memang bodoh karena Rangga, Pa, tapi aku mencintainya. Kalau aku enggak bisa miliki Rangga, buat apa aku hidup, Pa? Lantas, sahabat kecil aku sendiri membuat aku hancur berantakan." Allea menangis tersedu, masih sangat terluka di dalamnya.


"Harusnya Papa dan Mama biarin saja aku mati terjun ke bawah. Bagaimana bisa aku hidup tanpa ada Rangga ..." Akhirnya, Allea mulai melemah. Tenaganya habis akibat berontak keras yang dilakukannya.


Andre tidak sanggup melihat keadaan anaknya yang hancur karena cinta. Sejenak, membuatnya ikut nangis dan bisa merasakan sakit yang dirasakan Allea, sama seperti Vena.


"Papa mohon, Sayang, jangan tinggali Papa. Papa enggak akan bisa sanggup kehilangan kamu." Dalam tangisnya, lelaki paruh baya itu memeluk erat Allea.


"Pa, apa kita perlu nelepon Iqbal dan memintanya datang malam ini? Tadi Iqbal sempat pesan sama Mama kalau ada apa-apa sama Allea, aku jangan lupa langsung ngubungi dia," seru Vena.


"Jangan, Ma. Ini sudah malam, Iqbal pasti sudah istirahat. Kita jangan ganggu istirahatnya."


Setelah Allea mulai tenang, Andre mengangkat Allea hingga kamarnya. Ia merebahkan tubuh Allea yang begitu lemah di atas kasur, kemudian menutupinya dengan selimut.


"Ma, kamu tidur di sini sama Allea, ya. Biar aku tidur di kamar sendirian. Jagain Allea, jangan sampai dia melakukan perbuatan konyol lagi cuma gara-gara laki-laki itu." Andre juga tidak terima kalau Allea menjadi tidak waras hanya karena Rangga.


Vena mengangguk dan dengan segenap hati ia menjaga Allea. Vena begitu menyayangi Allea, sama persis seperti ia menyayangi Iqbal. Tidak heran kalau rasa sakit yang dirasakan Allea juga rasa sakit yang ia rasakan.


Sepeninggalan Andre ke kamar, tinggallah Vena bersama Allea yang sudah tertidur. Pasti Allea sangat lelah selepas dirinya menangis seharian. Vena menatap wajah gadis itu yang peduh kepedihan sambil memperbaiki helaian rambut yang menutupi pipinya.


"Kamu harus bahagia, Allea. Tidak boleh patah hati cuma karena mereka yang sudah menyakiti kamu," batin Vena masih menatapnya.


Saat itu, Allea pergi ke dekat jendela kamar Allea membawa ponselnya. Ia menelpon Iqbal sekedar memberi kabar apa yang sempat terjadi barusan.


"Jadi, bagaimana sekarang keadaan Allea, Ma?" Suara Iqbal terdengar khawatir dari seberang sana.


"Dia sudah mereda, sekarang lagi tidur. Maafin Mama, ya, Sayang tidak memberi kamu kabar langsung karena kata Papa takut mengganggu jam istirahat kamu."


"Iya, enggak apa-apa, Ma. Yang penting sekarang Allea sudah baik-baik saja. Besok aku jemput Allea mau ke kampus. Kalau Allea pergi sendiri, aku takutnya dia malah nekat lagi."


"Papa pasti bangga punya anak seperti kamu, Sayang, meskipun kamu dan Papa Andre tidak memiliki hubungan darah. Karena sebagai saudara tiri, kamu berusaha menjaga baik Allea."


"Ma, aku sudah berjanji sama Papa Andre sejak pertama ia meminta aku untuk menjaga Allea. Dan, aku akan menepatinya."


Setelah itu, Vena dan Iqbal mengakhiri telepon mereka. Dari jarak, ia memperhatikan Allea yang masih tertidur lelap. Ia melangkah mendekatinya, merapikan selimut yang menutupi tubuh Allea. Kemudian, ia mengambil posisi tidur di samping Allea.


Lantas, Iqbal mengingat kejadian Allea yang akan menghabisi hidupnya, membuat Iqbal ingin sekali menghabisi Rangga. Tidak peduli ia sahabatnya.


Iqbal juga sangat ingat janji Rangga padanya yang tidak akan menyakiti Allea. Namun, kenyataannya ia malah ingkar. Sialnya, berbarengan dengan Rhea menyakiti Allea.


"Lo enggak akan pernah bahagia, Ngga, karena lo sudah nyakiti Allea."