Allea

Allea
Chapter 29. Adu Domba



Allea pulang dalam keadaan kesal. Raut wajahnya mewakilkan semua amarah yang tersulut di dalam dirinya.


"Tumben lo cepat ..." Bukan merespon pertanyaan Iqbal, tapi sebelum lelaki itu sampai di akhir pertanyaannya, Allea malah melewatinya begitu saja. Iqbal hanya membisu memandangi Allea sampai ia masuk ke dalam kamar.


Pintu kamar Allea terlihat tidak tertutup rapat. Kebetulan sekali, dalam kepenasarannya membuat Iqbal menghampirinya karena ingin bertanya. "All, lo kenapa? Pulang-pulang kok malah masang muka enggak enak?"


"Tadi gue ketemu Ryan, tapi ternyata ada Syarla di sana. Dia berusaha mengadu domba antara gue dan Ryan. Gue cerita sama Iqbal, tapi dia malah enggak percaya sama sekali sama gue. Padahal gue ini pacarnya ..."


"Coba lo bayangkan gimana jadi gue? Atau enggak anggap saja kalau lo jadi gue terus digituin. Gimana coba kesalnya?"


"Tunggu ... Tunggu ... Dari tadi lo nyebutin nama Syarla terus. Emang Syarla itu siapa? Soalnya lo enggak ada ngasih tahu gue sama sekali tentang itu cewek. Dan, si Syarla itu hubungannya sama Ryan apa?" tanya Iqbal heran bercampur penasaran.


"Syarla itu mantan Ryan yang sudah lama putus. Jadi, Syarla itu pernah ninggalin Ryan ke Korea Selatan demi impiannya. Sama kayak gue yang pergi ke Jerman."


"Tapi, si Syarla ini pergi tanpa pamit sama Ryan. Makanya dari situ Ryan nganggap mereka sudah bubar. Dan, sekarang cewek aneh itu balik lagi ke Jakarta. Terus dengan enaknya dia mau dekati Ryan.


" Lo enggak lihat saja tadi, gimana sikap dia ke Ryan. Agresif banget, kayak minta jatah!" Allea terus bercerita panjang lebar dengan nada kesal, cepat dan ada remnya. Semakin kesalnya, sampai-sampai membuat Iqbal yang mau bicara tidak diberi kesempatan.


Iqbal mengangguk mengerti dengan semua penjelasannya. "Jadi, Ryan ada nelepon lo sekarang?" Allea menggeleng dengan wajah murung tak bersemangat.


"Apa mungkin itu cewek memang masih suka sama Ryan dan mau coba ngerebut Ryan dari lo?" Seketika membuat detak jantung Allea semakin mengencang. Ucapan Iqbal membuat perempuan itu jadi bahan pikiran.


Ia teringat kembali tentang bagaimana Rangga mengkhianatinya. Dan, kini apa semua harus terulang kembali ketika ia bersama Ryan?


Ryan memang tidak ada kelihatan bertampang tukang selingkuh, namun enggak semua sikap seseorang kita ketahui, meskipun ia adalah kekasih Allea.


"Lo kenapa, All?" Pandangan Allea tiba-tiba saja kosong. Pikirannya berkelana hingga ke mana-mana, sampai-sampai ia tidak menyadari pertanyaan Iqbal sedari tadi.


"Allea!" Suara besar Iqbal membuat Allea tersentak. Ia menatap Iqbal dengan tatapan yang seakan baru saja bangun dari tidur. Rohnya seakan tidak di tubuhnya, meskipun ia menatap wajah Iqbal.


Sekali lagi lelaki itu memanggil Allea untuk yang ketiga kalinya. Dan, saat itulah membuat Allea benar-benar sadar. "Lo ngomong apa, Bal?"


Iqbal menghela napas panjang sembari menggeleng-geleng kepalanya lantaran ngelihat saudara tirinya itu tidak fokus. "Lo kenapa sih, All? Kepikiran sama Ryan dan cewek itu?"


"Gue tahu kalau lo pasti trauma karena pernah dikhianati sama Rangga, tapi menurut gue lebih baik lo omongin semuanya baik-baik sama Rangga. Karena yang gue lihat, Ryan bukan tipe orang yang suka menyeleweng kayak Ryan."


"Bukan gue sok tahu atau apalah yang ada di pikiran lo sekarang ini. Tapu, dari sejak gue ketemu dia dijaman kuliah. Bagaimana dia memperhatikan lo, gue rasa Ryan cowok yang baik dan sayang sama lo."


Allea belum bisa menebak bagaimana baiknya Ryan, meskipun mereka sudah pacaran bertahun-tahun lamanya. Karena selama itu mereka LDR. Bahkan dalam jarak itu antara Allea dan Ryan jarang sekali berkomunikasi.


Iqbal benar kalau memang lebih baik Allea bertemu dengan Ryan dan bicara empat mata, tapi bagaimana kalau seandainya Ryan bersikeras tetap membela Syarla? Apa Allea bisa terima dan memasang hati yang kebal?


Allea duduk termenung seorang diri di rooftof rumahnya. Waktu bersama dengan Ryan juga sudah berkurang, tak sama lagi seperti dulu semenjak adanya kehadiran Syarla. Padahal Allea sangat ingin semua kembali seperti dulu kala.


Namun, yang ada di pikiran Ryan hanya kerja, kerja, dan kerja. Itu atas dasar perbuatan Syarla yang tidak memberikan mereka ruang untuk bersama.


Memang itu yang dimau perempuan itu, perlahan membuat mereka berjarak. Renggang dengan perlahan, sampai akhirnya tidak bersama lagi selamanya.


"Lo pikir, lo bisa misahin gue sama Ryan? Gue enggak bakal lagi biarin orang ketiga bermain api sama gue, karena gue yang bakal orang itu nantinya," gumam Allea membayangkan wajah Syarla.


Satu notifikasi pesan dari handphone Allea terdengar. Ia langsung membukanya.


"All, kamu di mana? Aku mau ketemu sama kamu." Ryan mengirimkan pesan whatssup kepadanya. Beberapa menit setelah Allea membalas pesan Ryan, memberi tahu keberadaannya. Allea pun duduk ditemani oleh Ryan.


Mereka menatap fokus lampu-lampu kota yang terlihat dari ketinggian itu. Membisu sesaat membiarkan keadaan menjadi lebih tenang. Tapi, sepertinya percuma kalau tidak ada suara yang memulai obrolan.


"Maafin aku masalah tadi karena sudah bentak kamu," ucap Ryan sembari menolehkan pandangannya ke perempuan itu. Allea juga menatap Ryan tak enak.


"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Aku salah karena sudah curiga sama kamu, tapi aku serius, Ryan ... Kalau aku enggak ada ngeluarkan ucapan ke Syarla dengan maksud menuduh dia sebagai perusak hubungan orang lain."


"Sudah, All, jangan dibahas lagi soal itu. Memang harusnya aku yang jaga jarak dengan Syarla karena dia mantan pacar aku. Tapi, jujur kalau aku membutuhkan dia sekali dalam bisnis yang aku jalani dan kami saling membutuhkan sebenarnya."


Alle sangat berat menerima, tapi apalah daya kalau Allea harus memberinya ijin demi suksesnya perusahaan yang dibangun Ryan susah payah dari nol.


Lagi pula, Allea enggak mau menghalangi Ryan untuk meraih yang ia mau, meskipun sebagai pacar. Dulu Ryan juga tidak sama sekali menghalangi Allea untuk pergi Jerman.


Keduanya masalah yang sangat rumit dan tidak bisa dibandingi sama sekali. "Masalah kerja sama kamu dengan Syarla, aku bakal ngijini kamu untuk kerja sama dengannya. Dan, setelah ini aku berharap tidak ada lagi yang namanya perdebatan antara aku dan kamu," terang Allea yakin.


"Satu lagi, aku harap juga tidak ada perdebatan antara kamu dan Syarla," ucap Ryan.


Allea terdiam sebentar memikirkan ucapan Ryan. Ia pun tidak ingin cemburu buta atas apa yang dilakukan Ryan, terlebih lagi yang dilakukannya menyangkut dalam kesuksesan bisnis sang kekasih. Namun, pada nyatanya Syarla benar ingin sekali mendekati dan merebut Ryan kembali.


Percuma jika Allea menjelaskannya kalau Ryan tetap tidak bisa percaya dengan semua penjelasan yang keluar dari bibirnya. Yang ada Ryan malah menuduh kalau ia cemburu buta.


Akhirnya, mau tidak mau Allea pun mengangguk. Dengan sangat berat hati ia menyetujui sementara apa yang diinginkan Ryan.