Allea

Allea
Chapter 31. Konflik Silih Berganti



"Aku enggak nyangka kalau Ryan seperti itu, Cle. Aku mau nerima dia karena aku yakin kalau dia enggak sama seperti mantan aku dan laki-laki lain." Isak tangis Allea semakin terdengar menyakitkan.


"Aku enggak nyangka karena untuk kali kedua harus merasakan sakitnya dikhianati begini. Dua kali dikhianati sama pacar dan sekali dikhianati sama sahabat sendiri," lanjut Allea bercerita.


"Kamu yakin kalau Ryan nyeleweng dengan perempuan itu?"


"Mau enggak yakin gimana? Kamu sendiri pun jelas ngelihat kalau mereka dengan sengaja pegangan tangan. Ryan juga enggak ada penolakan. Aku yakin Ryan masih punya perasaan sama perempuan itu."


"Masih punya perasaan sama perempuan itu?" Cleo kurang mengerti apa yang dimaksud dengan kata 'masih'.


"Perempuan itu mantan pacar Ryan. Dia pernah meninggalkan Ryan ke Korea Selatan tanpa kabar, sehingga Ryan nganggap hubungan mereka sudah berakhir."


"Jadi, di antara mereka ini masih ada cinta belum kelar? Enggak heran kalau begitu, tapi saran aku sepertinya yang bersikeras mau rujuk lagi itu perempuan itu, All." Meski belum mengenal, tapi entah mengapa Cleo merasa ada yang aneh dengan gerak tubuh Syarla.


Cleo bisa merasakan kalau Syarla memang ingin merebut Ryan dari Allea. Kenapa Cleo bisa berpikir demikian? Karena hubungan Cleo yang sempat berakhir karena adanya orang ketiga. Dan, orang ketiga itu adalah mantan kekasih dari pacar Cleo dulu.


Selesai membersihkan pakaiannya, Ryan langsung mengantar Syarla. Sesampainya di kantor Syarla, perempuan itu tidak langsung turun. "Ada apa lagi, Syar?" tanya Ryan bingung karena melihat Syarla masih duduk di tempatnya.


Sepertinya Syarla tahu kalau Ryan setelah ini akan pergi menemui Allea. Bisa saja ia susah menghalangi Ryan kalau saja di antaranya dan Allea sudah ada hubungan dan lebih tepatnya menikah.


Namun, keterikatan di antara mereka berdua hanyalah sepasang kekasih. Tentunya akan sangat mudah untuknya menghalangi Ryan menemui Allea. "An, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama kamu."


Jujur saja Syarla bingung harus beralasan apa, tapi mungkin dengan cara begini bisa memperlambat Ryan pergi kepada Allea. "Apa rupanya yang mau kamu bicarakan?"


"Gimana kalau kita masuk ke kantor aku dulu, biar kita ngobrol di dalam ruangan aku?" Syarla memang tidak berputus asa. Ia berusaha membujuk lelaki itu. Bodohnya, Ryan percaya kalau apa yang mau dibilang Syarla itu sangat penting.


Ryan mampir sebentar di kantor Syarla. Tidak berniat meminta office boy untuk membuatkan minum Ryan, justru malah ia yang membuatnya sendiri. Entah rencana apa lagi yang akan dibuatnya.


"Kenapa kamu enggak minta office boy saja yang buatkan?" tanya Ryan ketika melihat Syarla melangkah mendekatinya.


Ternyata, ini tujuannya. Dengan sengaja Syarla menjatuhkan minumannya ke jas Ryan. Untuk kedua kali Ryan harus kotor. "Ryan, aku minta maaf, ya. Lagi-lagi aku ceroboh. Padahal tadi juga karena aku, kamu jadi kotor.


Syarla memanggil office boy untuk mencuci kering jas yang dikenakan Ryan. Awalnya lelaki itu menolak, namun aku Syarla memaksa sampai akhirnya Ryan bersedia.


Liciknya Syarla dengan sengaja melakukan itu agar Ryan berada lebih lama di kantornya, bersamanya. Syarla tidak pernah sudi melihat lelaki itu datang menemui Allea.


"Ryan, aku mau ngasih kamu ini." Syarla mengambil sebuah map merah dari meja kerjanya dan dibawakannya kepada Ryan.


Liciknya lagi ia mengulang semua rekayasa yang sudah dirancangnya sejak awal. Syarla berpura-pura jatuh di atas pangkuan Ryan. Dengan refleks lelaki itu menangkap tubuh Syarla seolah memeluknya.


Allea membuka satu notifikasi yang didapatinya dari ponselnya. Manik matanya membulat besar ketika ia melihat Syarla berada di atas pangkuan Ryan, sedangkan Ryan malah menangkapnya seakan memeluk tubuh Syarla.


Ternyata, Syarla sengaja menyuruh salah satu office boy yang ada di kantornya untuk mengambil fotonya berdua dengan Ryan. Dengan nomor office boy tersebut sendiri, orang itu langsung mengirim foto itu ke Allea.


"Allea, kamu kenapa?" Cleo langsung mengambil handphone Allea yang ada dipegangannya. Betapa terkejutnya Cleo, apa lagi Allea sebagai kekasih Ryan. Jadi, wajar saja kalau Allea sangat marah pada lelaki itu.


Cleo prihatin melihat Allea. Ia langsung membawa Allea ke dalam dekapannya. Sudah pasti Allea sangat hancur melihatnya setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kejadian tadi di restoran.


Allea benar-benar marah, ia tidak bisa meredam amarahnya ketika itu. Baginya ini tidak bisa didiamkan karena jika begitu hanya dirinya yang terluka. Allea segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi Ryan.


"Kamu mau ngapain, All?"


"Aku mau nelepon Ryan. Aku mau tanya kejujuran dia. Kalau memang dia nganggap aku pacarnya, dia pasti akan jujur di mana dia berada dan sama siapa."


Syarla masih berada di atas pangkuan Ryan. Ketika ponsel Ryan berdering, keduanya tersentak dan Syarla berpindah tempat. "Maafin aku, An. Aku enggak sengaja dan ceroboh."


Ryan tidak mempermasalahkannya, ia langsung mengangkat telepon dari Allea. "Halo, Sayang. All, aku mau bertemu sama kamu. Ada yang mau aku bicarakan, tapi sebentar lagi. Aku ada urusan sebentar, nanti aku mampir ke rumah kamu."


"Urusan apa? Aku cuma mau kejujuran kamu, kamu lagi di mana sekarang dan sama siapa?" Dari balik telepon kedengaran intonasi suara Allea begitu marah tak terkontrol.


"Aku lagi di kantor Syarla dan pastinya sama Syarla. Emang ada apa?"


"Kalian dua ngapain di sana?" Ryan benar-benar tidak mengerti maksud dari kalimat yang keluar dari bibir Allea.


"Jawab aku, Ryan, kalian berdua ngapain di sana?"


"Aku dan Syarla tidak ngapa-ngapain, All. Apa sih maksud kamu?"


"Enggak! Kamu bohong dan aku minta kamu jujur dengan sejujur-jujurnya! Jawab aku dengan jujur, An ..." Nada yang kedengarannya marah, kini berubah lirih. Ryan tahu kalau ia bersalah soal di restoran tadi, tapi sungguh ia tidak tahu apa yang dimaksud Allea barusan.


Lantas, tanpa disadari oleh Ryan, Syarla memperhatikannya dengan tersenyum puas. Ia berhasil melabui Ryan dan membuat sepasang kekasih itu berselisih paham dengan hebat.


Memang Syarla tidak melihat langsung bagaimana Allea marahnya di sana, namun semua itu sudah cukup membuatnya puas.


"Terus saja berdebat hal yang enggak penting, Ryan. Dan kamu All, terus saja menuduh Ryan seolah Ryan bersalah agar keributan kalian berdua semakin meledak besar. Sebab, memang ini yang mau aku lihat agar Ryan jatuh kembali ke dalam pelukan aku," batinnya.


"Kenapa, An?" tanya Syarla berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi saat Ryan mendapati teleponnya dimatikan Allea begitu saja tanpa memberi kesempatan Ryan menjelaskan.


"Allea, Syar. Dia marah besar dengan aku, tapi aku enggak tahu apa alasannya. Yang lebih bingungnya lagi, kenapa dia nuduh aku melakukan hal yang bukan-bukan sama kamu?"


Akhirnya, rencana Syarla berhasil. Foto itu sudah terkirim kepada sasarannya. Dan ternyata Allea tipe yang mudah juga untuk dilabui. Itulah yang ada dalam pikiran Syarla.