
Iqbal dan Cleo mengitari beberapa jalan mencari-cari Allea, tapi tidak kunjung mendapatinya. Mereka sangat khawatir terjadi sesuatu pada wanita itu karena pergi dalam kondisi yang sangat tidak baik.
"Kita harus cari Allea ke mana lagi? Apa kamu enggak tahu di mana biasanya Allea pergi? Allea 'kan adik kamu," kata Cleo.
"Gue dan Allea memang saudara, tapi gue enggak tahu banyak tentang Allea. Allea enggak pernah cerita banyak sama gue." Dalam hidup Iqbal yang paking disesalinya ketika tidak sama sekali tahu keberadaan wanita itu.
Tidak berputus asa, Iqbal dan Cleo masih terus berkeliling. Sesekali mereka turun sembari membawa foto Allea dan menanyakannya pada salah satu warga, dengan harap kalau Allea ada mampir ke lokasi tersebut.
Sayangnya, di antara mereka yang banyak di sana tidak ada satu orang pun melihat wajah Allea. Itu yang membuat Cleo putus asa, namun tidak dengan Iqbal. Ia yakin akan menemui Allea secepatnya.
"Apa lo mau gue antar pulang? Gue takut lo capek karena lama di jalan. Enggak apa-apa biar gue yang cari Allea." Cleo menolak, ia tidak mau membiarkan Iqbal mencari Allea sendiri. Bagaimanapun, Allea sahabatnya dan baik padanya.
Iqbal dan Cleo kembali masuk ke mobil dan melanjutkan mencari Allea. Cleo juga sudah berulang kali menghubungi Allea, tapi hanya tersambung dan tidak ada jawaban darinya.
"Kamu tega sama aku, Ryan. Di sini kamu menolong aku, meminta untuk enggak lompat ke sana. Ternyata, permintaan itu membuat aku kembali terluka setelah kamu mengobatinya. Luka lebih parah dari yang pernah diperbuat oleh Rangga dulu."
Di tempat Allea pernah mau menghabiskan hidupnya, lalu dengan cepat Ryan menghadang. Di sanalah Allea berdiri mengingat kalau saja waktu itu Ryan tidak hadir, mungkin tidak akan pernah dirinya merasakan hal lebih sakit dari dulu saatnya bersama Rangga.
"Harusnya kamu tidak perlu datang dalam hidup aku, Ryan! Kamu terlalu munafik untuk mencintai aku dan berkata cinta padaku, kenyataannya kamu masih belum bisa move dari mantan kekasih kamu!" Tidak perlu saat ia jadi pusat perhatian banyak orang, ia tetap berteriak menghilangkan sesak dibatinnya.
Ternyata, takdir masih mempertemukan mereka dengan Allea. Cleo melihat wanita itu berdiri tegak di sana dengan emosi yang meluap. "Iqbal, itu Allea."
"Mana?" Iqbal melihat ke arah jari telunjuk Cleo menunjuk Allea. Benar, Allea berdiri di sana seorang diri. Tampak ia begitu terpuruk atas luka yang membuatnya benar-benar hancur. Kali ini Allea merasakan hancur yang sebenarnya.
"Allea!" panggil Cleo setelah mereka mendekat pada wanita itu. Allea menoleh dan menatap sendu ke arah Cleo. Kedua matanya sembab dan memerah akibat air mata yang mengalir tiada henti.
Cleo memeluk Allea, menenangkan wanita itu juga. Dalam dekapan Cleo, isak tangis Allea begitu kuat. "Apa salah aku, Cle? Dua kali aku jatuh cinta dan punya pacar, tapi dua kali juga aku ngerasain patah hati. Malah kali ini lebih berat dan aku enggak tahu apakah aku bisa ngelewatinya seperti dulu?" keluh Allea masih dalam dekapan Cleo.
"Aku yakin kalau kamu bisa melewati semuanya, All. Aku tahu kalau kamu perempuan yang kuat."
Dari jarak, Iqbal memperhatikan Allea. Meski bukan Iqbal yang rasakan luka itu, tapi ia tidak suka melihat Allea seperti ini.
Dijebak ataupun tidak, harusnya Ryan bisa menjaga diri agar akhirnya tidak berada dalam jebakan yang membuatnya keliru dan bisa membuat Allea lah yang merasakan luka. Tidak peduli seberapa besar kekecewaan dalam diri Ryan, Allea lah yang lebih hancur dan terluka.
"All, jangan ditahan ya nangisnya. Keluarin saja air mata lo sampai lo berada diketenangan dalam diri lo," kata Iqbal.
Kalau saja ada kesempatan Iqbal jadi kekasihnya, Iqbal tidak akan melukai Allea seperti mereka lakukan. Sebab, ketika Allea bersamanya, maka Iqbal akan melindunginya.
"Aku minta kamu nikahi aku, Ryan. Tidak peduli kamu senang atau tidak senang, tidak peduli kamu suka atau tidak suka. Yang aku mau kamu nikahi aku dan akui anak yang aku kandung ini adalah anak kamu."
Ryan terintimidasi dengan paksaan Syarla. Tapi, melihat video tadi Ryan sadar kalau dirinya benar harus bertanggung jawab dan menikahi Syarla dalam keadaannya yang sedang hancur-hancuran.
"Kalau memang anak itu anak aku, aku akan bertanggung jawab dan menikahi kamu."
Bukan jalan pernikahan seperti ini yang diinginkan Ryan. Ia memang niat menikah, tapi bukan dengan mantan kekasihnya yang pernah meninggalkannya begitu saja.
Ryan sudah memimpi-mimpikan pernikahan bahagia bersama Allea. Hidup bersamanya dan meraup bersama dalam bahtera rumah tangga suatu hari nanti, tapi takdir memilih jalan ini untuk Ryan.
Pria itu hanya duduk termenung di dalam kamar, mengurung diri sembari melihat fotonya bersama Allea.
Tidak sangka pernikahannya dengan Syarla akan berlangsung beberapa minggu lagi sebelum hamilnya membesar dan membuat malu keluarga wanita itu.
Berbeda dengan Ryan yang hidup sebatang kara setelah kepergian kedua orang tuanya, ia tidak perlu merasakan malu jika tidak menikah dengan Syarla.
Meskipun sakit, tapi sebagai seorang pria yang baik Ryan ingin menikahi Syarla. Bukan karena masih mencintai, tapi justru karena anak itu darah daging Ryan.
Berbeda dengan Syarla, di tengah pernikahan itu bagaikan musibah dan masalah besar untuk Ryan, justru bagi Syarla ini kebahagiaannya. Mendapati hak untuk memiliki Ryan memang keinginannya dan sudah diaturnya dengan baik.
"Ryan Sayang, sebentar lagi kamu akan jadi milik aku. Kamu bakal jadi suami aku dan kita akan hidup bersama dengan anak kita," gumam Syarla semringah.
Syarla menghubungi Allea dan tidak menduga kalau wanita itu mengangkat telepon Syarla. Syarla semakin kuat dan senang membuatnya menderita.
"Ada apa, Syar?" tanya Allea dari balik telepon itu.
"Aku cuma mau bilang turut berduka cita atas luka yang kamu alami, Allea. Kamu ingat tidak, kalau aku pernah bilang bakal ngerebut Ryan dari kamu dan dari siapa pun karena Ryan cuma milik aku? Sekarang, aku buktikan ke kamu, 'kan?" ucap Syarla.
"Harusnya sejak awal aku memberi peringatan, kamu bisa paham dan pilih mundur dari hubungan kalian. Kalau begini yang kasihan kamu karena harus terluka."
Di sana Allea bungkam sesaat, ia meneteskan air matanya. Menarik napas dalam-dalam, lalu menghelakannya. "Kalau memang kamu mau sama Ryan, silakan. Mungkin memang kamu dan Ryan sudah jadi takdir dalam rancangan Tuhan ..."