Allea

Allea
Chapter 10. Pemuda Tanpa Nama



Pagi itu, Iqbal datang ke rumah Allea untuk memastikan keadaannya. Allea masih berada di dalam kamarnya, melamun tanpa nafsu makan. Iqbal membuka pintu kamarnya, kemudian masuk mendekatinya saat melihat Allea duduk melamun di atas kasur.


"All, lo baik-baik saja?"


"Gimana gue mau baik-baik saja, sedangkan cowok yang gue cintai lebih milih sahabat gue ketimbang gue. Padahal dua tahun bukan waktu yang sebentar buat gue." Allea menjawab pertanyaan Iqbal dengan menatap fokus hanya ke depan.


"Masa depan lo masih panjang, All. Lo cantik, baik, pastinya bisa dapati yang lebih baik dari Rangga. Bodoh kalau lo fokus dengan masalah yang cuma buat lo tambah sakit hati." Allea menatap wajah iqbal dengan sorot mata seperti elang.


"Lo gampang ngomong gitu karena lo enggak ngerasain apa yang gue rasain. Lo enggak punya pacar, lo enggak pernah jatuh cinta sama seseorang. Jadi, lo bisa ngomong gitu ke gue ..." Lirih suara Allea terdengar saat ia mencoba membantah ucapan Iqbal.


Iqbal terdiam membisu, ia hanya menundukan pandangannya ke bawah sambil menghela napas.


"Gue memang enggak pernah punya pacar seperti yang lo lihat, All, tapi gue pernah merasakan luka cinta bertepuk sebelah tangan dan menurut gue itu lebih sakit. Dan, lo cewek yang gue cintai itu, Allea," batin Iqbal sambil kembali menatap gadis itu.


"Maafin gue, All, gue bukan bermaksud merendahkan. Gue hanya enggak mau lo sedih terus-menerus, sama seperti Mama dan Papa Andre yang enggak pernah rela ngelihat lo yang kita sayang seperti ini."


Iqbal mencoba memberi nasehat, namun Allea tidak menyaringnya. Ia hanya memasukan ke kuping kanan, lalu keluar dari kuping kiri. Buatnya, hanya diri sendiri yang tahu bagaimana keadaan hatinya.


"Terserah, All, kalau lo bilang gue sok tahu atau apapun itu. Tapi, yang gue mau lo kuliah dan pergi sama gue. Gue bakal ada buat lo, ngejagain lo karena lo adik gue."


Iqbal berhasil membujuk Allea. Ia menunggu gadis itu di depan meja makan bersama Vena dan Andre.


"Iqbal, Papa mau berterima kasih sama kamu. Berkat kamu, Allea mau keluar kamar. Terima kasih, Iqbal, kamu sudah menepati janji menjaga Allea," ucap Andre haru.


"Sudah wajibnya seorang kakak untuk menjaga adiknya, Pa."


Tidak lama kemudian, Allea selesai. Ia sudah menampakan dirinya di hadapan Iqbal, Andre, dan Vena.


Iqbal langsung membawa Allea pergi ke kampus sebelum gadis itu berubah pikiran lagi. Di sepanjang jalan, Allea hanya diam tanpa kata. Pandangannya fokus ke depan jalan. Hanya terdengar suara mesin mobil setelah terjadi keheningan.


Iqbal sengaja menyetel lagu agar tidak terikat dalam suasana hening. Setidaknya lumayan bersuara, meskipun Allea masih membisu.


Allea benar-benar seperti orang yang kehilangan gairah. Ia hanya diam tanpa kata. Ceria yang pernah dilihatnya dulu, kini sudah tiada lagi.


Setelah sampai di area parkir kampus, Allea turun bersamaan dengan Iqbal. Pria yang kemarin menolong Allea pun menghentikan langkahnya menatap Allea yang melihatnya saja, orang-orang bisa menebak kalau ia sedang tidak baik-baik saja.


"All, gue ke kelas, ya. Lo masuk ke kelas, ya. Kalau ada apa-apa, datang saja ke kelas gue." Allea mengangguk. Saat ia mau masuk ke kelas, ia melihat Rangga dan Rhea yang berjalan berbarengan sambil berpegang tangan dengan ceria.


Melihat itu membuatnya hilang kendali. Ia menghampiri Rangga dan Rhea, seketika tangannya melayang mengenai pipi Rhea. Bukan hanya Rangga yang terkejut atas tindakan Allea, tapi semua mata memandang ke arah mereka.


"All, sudah. Jangan lakuin ini," ucap Iqbal setelah menghampirinya.


"Apa-apaan sih, lo! Dasar cewek sinting!" cecar Rhea.


"Lo yang sinting. Lo sahabat gue, tapi lo ngerebut pacar gue!" Allea juga tidak mau kalah dengan Rhea. Namun, tanpa tahu malu justru Rhea malah mau membalas tamparan Allea padanya. Dengan cepat, Iqbal pun menangkap tangan Rhea agar tak mengenai pipi Allea.


"Harusnya lo minta maaf sama Allea, bukan malah sok benar dan mau nampar dia. Gue enggak biarin siapa pun yang nyakiti Allea, termasuk kalian berdua," ancam Iqbal lalu membuang kasar tangan Rhea dari genggamannya.


"Lo lebih kenal gue dari pada Allea. Sekarang, lo lebih milih dia dari pada berpihak sama gue?" Rangga menyambung tidak senang dengan sikap sahabatnya itu.


"Allea saudara gue, jelas gue akan milih Allea ketimbang lo berdua." Iqbal mengantar Allea ke kelasnya, sedangkan pemuda yang belum diketahui namanya itu menyusul Allea ke kelas. Ternyata, ia satu kelas dengan Allea dan Rhea.


Kepergian Iqbal, membuat pemuda itu memberanikan diri duduk di hadapan Allea dan mendekatkan diri pada gadis itu.


"Hai, gue anak baru di kelas ini. Nama gue Ryan." Allea menatap wajah Ryan. Sepertinya gadis itu tidak menandai wajah Ryan yang pernah menolongnya.


"Gue Allea." Allea membalas sekedar saja.


"Maaf, lo yang kemarin lusa hampir mau lompat di jembatan perempat jalan, 'kan?"


"Jadi, lo yang nolongi gue waktu itu?" tebak Allea cepat tanpa ragu. Ia mendapati jawaban berupa anggukan. Ketika itu membuat Allea marah.


"Apa sih tujuan lo nolongi gue? Kalau lo enggak ikut campur, gue enggak akan semenderita ini!"


"Kalau gue enggak nolong lo, orang-orang yang sayang sama lo enggak akan pernah bisa lihat lo lagi di dunia ini. Apa lo enggak sayang sama masa depan lo yang masih panjang? Sory, gue memang eggak tahu masalah lo. Tapi, apapun masalah lo, saran gue bunuh diri bukan jalannya."


Tidak mau membuat Allea semakin murka, Ryan kembali ke kursinya. Ia hanya diam dan memperhatikan Allea dalam diam, dan itu sudah membuatnya bisa tahu masalah gadis itu apa. Namun, memilih diam dan berpura-pura tidak tahu akan menjadi sesuatu yang lebih baik ketimbang ikut campur tanpa diminta.


Allea menolehkan pandangannya ke belakang, ke arah Ryan. Kemudian, ia mengalihkan kembali pandangan itu darinya. Lantas, dari depan kelas Allea melihat Rhea masuk di antar Rangga.


Saat itu Allea melihat Rangga memperlakukan Rhea dengan sangat baik. Mengantar Rhea sampai depan kelas dan membelai lembut rambutnya hingga pipi Rhea. Semua yang dilakukan Rangga pada Rhea sama persis seperti apa yang dilakukannya pada Allea.


Bagaimana bisa Allea melupakan moment bersama Rangga? Karena ketika bersama Rangga, ia merasa nyaman dan diperlakukan seperti tuan putri.


Semua sungguh begitu indah dirasakan olehnya. Dan, sekarang ia harus menerima sebuah pengkhianatan. Bahkan, diminta untuk rela melepaskan Rangga demi gadis yang disebutnya sahabat, tapi ternyata pengkhianat.