Allea

Allea
Chapter 14. Sudah Waktunya



"Kata Mama, lo mau lanjut pendidikan ke Jerman. Apa semua ada kaitannya dengan Rangga dan Rhea?" tanya Iqbal.


Allea dan Iqbal terlihat sedang duduk berdua di taman tengah kota. Pandangan Allea fokus menatap ke depan tanpa sekalipun menoleh ke pemuda itu. Sejenak, gadis itu menundukan pandangannya, ia menghela napas panjang. Lalu, mengembalikan padangannya.


"Apapun itu, aku tetap harus lupain Rangga. Kalau aja aku menetap di Jakarta, mau sampai kapan aku move on? Sedangkan aku setiap hari bertemu dengan mereka di kampus," kata Allea sambil menoleh ke arah Iqbal.


"Kalau lo mau ngelupain Rangga, lo bisa pindah kampus. Enggak perlu sampai pindah ke Jerman, 'kan?" protes Iqbal.


"Gue butuh suasana baru, Iqbal. Lagian, melupakan sesuatu atau seseorang yang kita cintai bakal sulit dan enggak segampang membalikan telapak tangan. Gue cuma sementara kok di sana, setelah kuliah gue selesai, gue balik ke Jakarta," cerita Allea.


"Gue harap, setelah gue balik ke Jakarta semua akan berubah. Tidak akan sama lagi seperti saat ini. Gue cuma butuh support Mama, Papa, dan lo. Jadi, kalau lo peduli sama gue, tolong support gue," lanjut gadis itu.


Iqbal tidak bisa membuat Allea berubah pikiran. Kedengarannya, gadis itu memang tidak main-main. Seperti yang sudah-sudah, Allea selalu mengambil keputusan dengan seyakinnya setelah perasaannya merasa pasti.


"Kalau memang itu sudah keputusan lo, gue sebagai kakak tiri lo cuma bisa berdoa yang terbaik. Berharap ke depannya semua akan lebih baik dari hari ini."


***


Ryan melihat Allea yang sedang duduk di bangku kantin sambil menikmati mie sop kampung kesukaannya. Segera Ryan menghampirinya dan duduk di depannya.


"All, nanti malam lo ada acara enggak?" tanya Ryan langsung ke tujuannya.


"Enggak. Gue di rumah aja, kenapa?"


"Nanti malam gue jemput jam tujuh, ya. Gue mau ajak lo ke suatu tempat." Allea mengerutkan dahinya sambil tersenyum. Pertama kali melihat Allea hancur dan bersedih, baru ini Ryan melihat senyum manis terlukis indah di bibirnya.


"Emang lo mau ngajak gue ke mana?"


"Pokoknya, lo ikut aja. Nanti malam gue jemput lo di rumah."


Tidak terasa waktu berubah ke malam hari. Ryan berdiri di depan cermin panjangnya. Dengan pakaian yang dikenakannya, ia terlihat yakin menjalani dinner malam ini bersama Allea.


Ryan mengambil kunci mobilnya, kemudian ia keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan cepat.


"Ryan, kamu mau ke mana?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru aja dari dapur.


"Aku mau ketemu kawan mam. Aku pergi dulu, ya." Setelah mendapat ijin dari maminya, Ryan melanjutkan kepergiannya.


Setelah sampai di depan rumah Allea, pemuda itu melihat gadis yang begitu cantik dengan dress hitam yang melekat pada tubuhnya. Wajah natural Allea memang tidak pernah gagal, ia selalu terlihat cantik.


"Ada yang salah dari gue?" tanya Allea saat melihat Ryan yang memperhatikannya serius tanpa berkedip sekalipun.


Seketika itu, Ryan yang sempat terpelongo pun sadar setelah mendengar suara gadis itu. "Eng ... Enggak ada yang salah kok," serunya. "Malam ini lo tampil beda banget dari biasanya," puji Ryan secara tidak langsung.


Tidak menunggu lama, Allea dan Ryan pun pergi. Ryan membawa gadis itu ke sebuah tempat yang sangat romantis. Cafe Rumah Pohon menjadi tujuan pemuda itu.


"Wah, Ryan ini tempatnya bangus banget." Allea terkesima melihat lokasi tersebut begitu indah. Suasana romantis pun begitu terasa di sana. Bahkan, bersama Rangga aja Allea tidak pernah ke tempat seperti itu.


"Suka banget. Tapi, lo kenapa ngajak gue ke sini?" Allea penasaran, karena tempat itu menjadi tempat umumnya orang pacaran. Untungnya, Ryan mampu membuat alibi agar gadis itu tidak membulinya.


Kini, Allea dan Ryan sudah naik dan duduk di rumah pohon itu. Ryan berhasil membuat suasana hening menjadi ramai, membuat suasana sedih menjadi ceria. Sampai akhirnya, ia berhasil membuat keceriaan dalam diri Allea.


Siapa sangka kalau gadis yang begitu jutek pada Ryan, akhirnya bisa tersenyum tulus pada pemuda yang dijutekinya.


"Ryan, makasih banget karena lo sudah bawa gue ke sini. Gue benar-benar senang sama tempat dan suasananya. Semua membuat gue terasa lebih tenang."


"Syukurlah kalau lo senang, berarti lo enggak sedih lagi. Dan, gue berhasil buat lo tersenyum."


Iya, malam itu Allea tersenyum dan tertawa begitu lepas, seakan tidak ada lagi beban dalam dirinya. Namun, bukan berarti semua bisa dilupakan dengan sempurna begitu aja.


Malam itu menjadi malam yang cukup indah buat Allea, meskipun di balik itu sebenarnya masih ada luka yang tersimpan. Namun, ia melupakan semuanya sesaat karena ia berhak merasakan bahagia sejenak.


"Sekali lagi makasih, ya, Ryan. Berkat kamu, sejenak membuat aku lupa sama rasa sakit aku."


"Aku harap tidak hanya sejenak, tapi selamanya. Dan aku harap, aku bisa membuat kamu tersenyum terus seperti ini."


Siapa sangka, kalau di balik ucapan itu tersimpan perasaan luar biasa dari diri Ryan. Namun, Ryan menutup rapat semua rahasia hatinya untuk sementara di balik Allea belum menyadari sikap yang ditunjukan pemuda itu padanya.


Setelah Ryan pulang, Allea masuk ke rumah dengan senyum yang berseri. Sambil berjalan menuju kamar, wajah semringahnya masih jelas terlihat.


"All, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Vena yang ketika itu memperhatikannya.


"Tidak kenapa-napa, Ma," elak gadis itu.


"Apa karena pergi sama Ryan?" Demi menghiburnya agar tidak kembali sedih, Vena mencoba sedikit menggoda Allea.


"Enggak ada apa-apa kok, Ma. Allea masuk ke kamar dulu, ya." Vena mengangguk dan ia terus memandang gadis itu yang berjalan hingga ke kamarnya.


"Syukurlah, sepertinya mulai ada perubahan dalam diri Allea," gumam Vena sambil tersenyum.


Allea merubuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan senyum yang masih sama seperti tadi.


Setelah beberapa menit, Allea mendudukan dirinya. Tidak sengaja ia masih menyimpan foto-foto bersama Rangga. Kenangan yang bersangkutan dengan Rangga pun masih tersimpan begitu rapi.


Allea mengumpulkan semua barang yang ada sangkut pautnya dengan Rangga. Kemudian, ia memasukannya menjadi satu ke dalam kotak besar berwarna merah hati.


Allea sadar, meskipun ia belum bisa move on dari mantan kekasihnya. Namun, cepat atau lambat ia sadar akan melupakan pemuda itu.


Tidak ada salahnya jikalau mulai malam ini Allea membuang jauh semua barang tentang Rangga darinya agar dengan mudah lukanya menjadi kering tanpa ada bayang-banyangnya lagi.


Allea membawa kotak itu ke tempat pembuangan sampah. Lalu, ia membakar semuanya begitu aja tanpa ragu lagi.


"Mungkin memang sudah saatnya aku belajar move on dari kamu yang sudah tidak menganggap aku ada."