Allea

Allea
Chapter 51. Akhir Cerita Allea



Allea tersadar dari permasalahannya selama ini. Pengkhianatan yang ia alami adalah hal yang memang tidak bisa dihindari. Seiring waktu berjalan semua harus diterima dengan suka rela.


Allea mengalami lagi luka hati yang pernah terjadi pada dirinya, setelah sekian lama sembuh dari pria bernama Rangga dan kini ia terluka lagi karena pria bernama Ryan. Pria yang hampir saja nyaris bertunangan dengannya.


Semua hanya mimpi belaka, hingga akhirnya harus berhenti di tengah jalan. Allea pun menjalani hidupnya seorang diri lagi kini.


Wanita itu sadar kalau kehidupannya terus berjalan dan tidak akan berhenti hanya karena seseorang yang sudah melukainya. Kini ia kembali seperti dulu lagi menjalani kehidupan biasa dan bahagia tanpa kekasih.


Pagi itu Vena, Andre, Iqbal, dan Cleo kaget tapi bahagia melihat Allea yang pagi-pagi sekali sudah berada di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk dilahap bersama.


"Pagi semuanya," sapa Allea sembari menatap semua makanan di atas meja makan.


"All, ini kamu siapin sendiri semua? Bukan beli?" Vena sempat ragu karena selama ini ia jarang sekali melihat wanita itu berada di dapur. Ia juga tidak menyangka karena sejak kemarin terpuruk, kini sudah membaik.


"Iya, Ma. Ini semua aku yang masak dan enggak ada yang beli. Tapi, maafin kalau sarapan paginya cuma seadannya, ya."


"Ini sudah enak banget kelihatannya. Tidak masalah dong, meskipun cuma nasi goreng, nugget, dan sosis," puji Andre. Mereka semua mengambil posisi duduknya masing-masing.


"Gini dong, All. Kamu harus bisa move on dan jalani aktifitas seperti dulu lagi," seru Iqbal.


"Aku bisa kayak gini semuanya karena Cleo. Cleo yang selalu ada buat aku, nenangi aku setelah kalian. Dan, dia juga yang menyadarkan aku kalau orang-orang yang meninggalkan aku memang tidak pantas mendapati aku karena mereka bukan orang baik."


Pandangan mereka mengarah Cleo seakan sorot mata mereka mengartikan sebuah terima kasih karena sudah membuat anak dan adik kesayangan mereka bisa pulih dari luka yang sedang dialaminya.


"Cleo, terima kasih karena berkat bantuan kamu, Allea jadi seperti ini lagi." Andre sangat berterima kasih pada wanita itu. Tidak salah kalau Vena dan Andre menginginkannya menjadi kekasih anak mereka, Iqbal.


Selesai menyantap sarapan, Iqbal melihat Cleo yang sedang duduk menikmati mentari pagi. Sebenarnya, itu kebiasaan Cleo saat ia masih tinggal di Jerman.


Pria itu menapakan kakinya mendekati Cleo yang ada dan duduk di sana, dikelilingi bunga taman. "Dari tadi kamu sendirian saja di sini?" Wanita itu menoleh ke arah Iqbal ketika mendengar suara pria itu.


"Kamu?" Wanita itu bertanya dalam hati karena biasanya Iqbal tidak pernah memanggilnya dengan sebutan 'kamu'. Mengalihkan pertanyaannya, ia mengangguk mengiyakan pertanyaan pria itu.


"Boleh aku duduk?" tanya Iqbal hati-hati.


"Boleh dong, Bal. Ini 'kan rumah kamu, kenapa harus merasa tidak enak?"


"Aku cuma takut ganggu kamu. Mungkin saja kamu lagi mau sendirian." Cleo tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Kemudian, pria itu duduk tepat di sebelah kirinya menghadap rumahnya di atas kursi panjang taman berbahan besi.


"Cleo, sekali lagi terima kasih, ya, karena kamu sudah bersedia selalu ada buat Allea. Kamu juga sudah bantu dia buat tenang, sampai akhirnya dia kembali seperti dulu lagi," ucap pria itu.


"Aku, Mama, dan Papa enggak tahu harus bilang apa kalau enggak ada kamu yang bantuin kita," lanjut pria itu.


Mendadak Iqbal panas dingin, sekujur tubuhnya pun berkeringat. Ia tampak gugup, seperti ada yang mau dibicarakan tapi tidak tahu mau memulai dari mana. "Kamu kenapa, Bal?" Cleo pun mulai bertanya karena melihat pria itu aneh.


Iqbal menarik napas dalam-dalam, kemudian ia menghelakannya sebelum memulai obrolan yang mau ia katakan. Kemudian, setelah itu pelan-pelan Iqbal membuka suara dan mengatakan bahwa dirinya nyaman dan menyukai wanita yang duduk di hadapannya.


Cleo pun membisu, ia gugup mau menjawab apa dengan pernyataan dan pertanyaan yang diberikan oleh Iqbal.


Sudah lama sekali rasanya tidak pernah merasakan perasaan ketika seorang pria menyatakan perasaan padanya. Sudah lama sekali rasanya tidak pernah menjalankan suatu hubungan serius dengan seorang pria setelah ia dikhianati dulu.


Mungkin perhitungan lama yang dijalani Cleo sudah selama tujuh tahun. Iya, selama tujuh tahun itu Cleo seorang diri tanpa kekasih lagi setelah tiadanya kedua orang tua dan mirisnya ia disakiti oleh pria yang di cintainya.


"Kalau kamu tidak bisa jawab sekarang, jangan dipaksa. Aku bakal nunggu sampai nanti kamu siap dan bersedia," seru Iqbal.


Iqbal bangkit dari duduknya, akan meninggalkan Cleo sendiri. Dengan cepat wanita itu memanggilnya, menahan agar pria itu tetap bersamanya di satu tempat yang sama. "Enggak perlu nanti untuk jawab pertanyaan kamu karena sekarang, besok, atau lusa, jawaban aku tetap sama. Jadi, aku akan jawab sekarang."


Iqbal kembali duduk di kursinya, ia menatap kedua mata indah Cleo sembari menunggu jawaban apa yang akan diberikan wanita itu.


"Jawabannya, aku mau jadi pacar kamu." Bahagianya Iqbal mendapati jawaban demikian dari wanita itu. Kali ini Iqbal membuang jauh perasaannya yang sempat ada untuk Allea. Ia memberanikan diri membuka hati untuk wanita lain yang baiknya sama persis seperti Allea.


Di tengah bahagianya Iqbal dan Cleo yang baru saja menjalin hubungan mereka, Allea juga menjalani kesehariannya dengan bahagia walaupun tidak ada kekasih dalam dirinya.


Seperti biasa, Allea bekerja dan melakukan hal-hal lain. Diam-diam Allea menulis kisah cinta dalam hidupnya menjadi sebuah novel yang berjudul 'Dirgan Cinta' lalu dijualnya ke toko-toko buku terbaik di Jakarta.


Penjualan bukunya sangat banyak, hingga mereka meminta bukunya ditanda tangani oleh Allea sebagai penulis buku Dirgam Cinta tersebut.


"Alhamdulillah, ya, semua novel kamu laku banyak banget," kata Cleo. Cleo dan Iqbal menemani Allea di galery buku yang membuat acara pameran buku-buku dari para penulis terkenal.


Beruntungnya, Allea yang masih menjadi penulis awal dan baru terjun menerbitkan novel sendiri diperbolehkan memasukan novelnya di sana.


Di tengah keramaian banyak orang meminta tanda tangan Allea, tidak disadari seorang pria asing yang membawa novel ciptaan Allea sudah sejak tadi memperhatikannya dari jauh. Pria asing itu memperhatikan Allea dengan sangat lekat. Ia begitu mengagumi Allea.


Pria itu menghampiri Allea untuk meminta tanda tangan Allea. Ternyata, diam-diam sudah sejak lama pria itu memperhatikan Allea dan menaruh perasaan padanya.


Sempat mendekatkan diri disaat itu dan bicara sejenak dengan Allea. Bercerita dari mana ia mengetahui Allea dan tertarik padanya. Hingga singkat cerita ternyata pria itu adalah Rio, teman kecilnya dan Rhea yang sudah berpisah lama akibat Rio harus ikut dengan kedua orang tuanya ke Amerika. Dan, sejak itulah kehidupan baru Allea diulang kembali.


TAMAT


Terima kasih buat para reader yang sudah mampir ke cerita saya. Ikuti dan baca terus novel-novel dari Sena Halim. Semoga kita semua diberi kesehatan. Salam sayang dari Sena.