
"Allea, ini paspor kamu dan semua berkas keberangkatan kamu ke Jerman," kata Vena sambil memberikan sebuah map hijau ke tangan anak gadisnya.
Allea memeriksa ulang, ia tersenyum lebar melihat semua persiapan berkasnya sudah diurus rapi oleh mama dan papanya. "Makasih, ya, Ma, Pa. Allea janji, sampai di sana bakal belajar serius dan mendalami jurusan yang Allea ambil."
"All, kamu benar-benar yakin 'kan mau pergi ke Jerman? Pokoknya, jangan sampai kamu berubah pikiran dan berhenti di tengah jalan. Papa dan Mama tidak mau sampai itu terjadi," ucap Andre menasehati.
"Papa sama Mama enggak usah takut, ya. Keputusan Allea sudah bulat. Semoga setelah itu semua juga berubah jadi baik-baik saja. Lagi pula tujuan Allea ke Jerman bukan cuma mau ngelupain rasa sakit Allea dari Rangga dan Rhea, tapi di Jerman ada masa depan yang harus Allea kejar."
Andre tidak bisa menolak keinginan Allea. Meskipun begitu berat, tapi sebagai orang tua tentunya Andre akan mendukung Allea dengan sebaik-baiknya. Ia akan melakukan dan memberika apa saja untuk anak semata wayangnya, asal Allea bahagia dan benar-benar menjalaninya.
Allea membawa map hijau itu ke dalam kamarnya. Lalu, ia keluar lagi untuk pergi ke kampus. Waktunya mengurus semua penyelesaian di kampus lama tinggal dua hari lagi, karena setelah itu ia harus terbang menuju negara yang akan ia tuju.
Bruukkk
Tidak sengaja Rangga menabrak Allea saat ia berjalan sendiri menelusuri koridor kampus. Isu tentang kepindahan Allea ke Jerman sudah tersebar di satu kampus. Saat itu, Rangga menatap mantan kekasihnya dengan sangat lekat. Ia tidak menyangka kalau tinggal beberapa hari lagi melihat Allea di Jakarta.
"Gue dengar, lo mau pindah kuliah ke Jerman?" tanya Rangga sebelum Allea pergi meninggalkannya. "Apa semua karena gue?"
Allea tertawa lucu di depan Rangga. Meskipun terluka, namun ia tak ingin menampakan dirinya masih terpuruk dalam luka itu. Yang Allea mau, Rangga sadar kalau mantan kekasihnya baik-baik saja.
"Lebih baik lo jangan kegeeran deh, Ngga. Gue pindah ke Jerman bukan karena lo. Tanpa gue ke sana, gue bisa move on dari lo. Tapi, kepergian gue ke Jerman karena ada masa depan gue di sana."
"All, gue mau minta maaf karena sudah ..."
"Cukup, Rangga. Lo enggak perlu mengingatkan apa yang sudah terjadi. Apa yang terjadi adalah pilihan lo. Seperti yang lo bilang, kalau lo lebih nyaman sama Rhea ketimbang sama gue dan itu sudah keinginan lo. Ya sudah, jalani saja."
Ternyata, dari jauh Rhea sedang memperhatikan dirinya bersama Rangga. Allea menatap keberadaan Rhea yang berdiri tegak di ujung sana. "Itu pacar lo datang. Sudah kayak singa mau nerkam orang saja. Lebih baik lo jelasin, sebelum dia salah paham dan nuduh gue mau rebut lo balik dari dia!"
Allea melanjutkan jalannya menuju kelas melewati Rhea yang sedang berjalan menghampiri Rangga. Allea ngerasa ia boleh sedih dan terluka, namun tidak ditampakan di depan Rangga dan Rhea. Jelas wajar saja di depan mereka, Allea merasa baik-baik saja setelah itu.
Rangga merasa terlalu cepat untuk Allea yang sangat mencintainya melupakan dirinya begitu saja. Tapi, Rangga juga lupa kalau dirinya lah yang bisa secepat itu berkhianat dan berpaling dari Allea.
"Rangga, kamu sama Allea bicara apa tadi? Serius banget?" tanya Rhea penuh penasaran.
"Kamu enggak nutupin apa-apa dari aku, 'kan?"
"Apa-apaan sih kamu, Rhe? Kamu curiga sama aku? Kalau gitu buat apa kita pacaran?"
"Maksud kamu apa, Rangga? Buat apa kita pacaran? Jadi, kamu mau kita mengakhiri hubungan kita supaya kamu balik lagi sama Allea, gitu?" Keadaan semakin memanas, sepasang kekasih itu semakin berdebat dan berselisih paham.
"Kenapa setiap keributan kita, kamu selalu sangkut pautkan semuanya dengan Allea? Ini enggak ada hubungannya dengan Allea. Jadi, berhenti menyalahkan orang laim dan bijak dalam menyelesaikan masalah kita."
"Jadi, kamu merasa kalau aku enggak bijak dalam menyelesaikan masalah? Terus, menurut kamu yang bijak itu siapa? Allea, mantan kekasih kamu itu?"
Lagi dan lagi Rhea menyebut nama Allea. Ia terus menyangkutpautkan Allea dalam perkelahian mereka, membuat Rangga hampir hilang kesabaran dan akhirnya meninggalkannya begitu saja.
"Rangga, aku belum siap bicara sama kamu! Kamu harusnya enggak gini aku, Ngga ... Rangga, dengerin aku!" Pemuda itu tidak menggubris sama sekali panggilan Rhea. Lantas, teriakan Rhea malah menjadi sorotan bagi mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang.
Rhea benar-benar marah dengan Rangga, terlebih lagi kepada Allea yang menyebabkan semua ini terjadi. Apa sebenarnya Rhea lupa, kalau sebenarnya ia yang sudah menjadi benalu dalam hubungan Allea dan Rangga sebelum itu?
Lantas, kenapa sekarang Rhea malah justru merasa paling tersakiti dan takut Rangga direbut kembali oleh Allea. Padahal Allea tidak berminat sama sekali.
"All, gue mau ngomong sama lo!" Ketidaksenangan Rhea membuatnya menghampiri Allea.
"Kalau lo mau ngomong, silakan. Gue dengar kok. Lagian, yang lo omongi pasti enggak jauh-jauh dari hubungan lo sama Rangga, 'kan? Lo ngerasa gue ngerusak dan berusaha ngerebut Rangga lagi dari lo?"
"Itu kenyataannya, 'kan? Bahkan, gue tahu pindahnya lo ke Jerman karena lo belum bisa terima Rangga sama gue sekarang." Allea ingin marah, tapi ia menahan diri. Sebab, kalau ia menampakan amarahnya pada Rhea, yang ada gadis itu berpikir apa yang dikatakannya benar.
Sayangnya, Ryan tidak tinggal diam mendengar ucapan Rhea. Ia tidak tinggal diam melihat Allea diserang. "Siapa bilang kalau Allea belum bisa move on dari Rangga?" Seketika, pemuda itu merangkul mesra Allea di depan Rhea.
"Justru, karena Allea sudah move on dari Rangga makanya dia nerima cinta gue." Allea sangat kaget mendengar ucapan Ryan, namun ia mencoba tenang agar Rhea tidak merasa curiga. Ia tidak akan membiarkan dirinya dicecar setelah kebahagiaannya direnggut oleh mantan sahabatnya itu."
"Rhe, lebih baik lo urusin saja hubungan lo sama Rangga. Dari pada lo sibuk mengusik hidup pacar gue yang enggak pernah ngusik kehidupan lo yang sudah ngancurin kebahagiaannya."
Peringatan Ryan kepada Rhea membuatnya begitu kesal. Rasanya, ingin sekali ia mencabik-cabik bibir pemuda itu. Lantas, Ryan yang bisa membaca gerak-gerik Rhea begitu kesal padanya malah tersenyum sinis dicampurin perasaan puas menatap kepergian gadis itu.