Allea

Allea
Chapter 26. Perempuan di Masa Lalu



"Syarla ..." Ryan menyebut nama itu, nama perempuan yang ada di hadapannya. Perempuan itu juga terlihat kaget bertemu dengannya setelah lama tidak bertemu. Kalau dihitung mungkin ada lima tahun tak bertemu.


"Ryan ..." Perempuan itu kembali menyapa. Ia masih tanda jelas lelaki yang ada di hadapannya adalah kekasih yang ditinggalnya dulu tanpa kata, tanpa kata perpisahan terakhir karena ingin mengejar mimpinya ke Korea Selatan.


Ternyata, perjalanan mimpinya sama persis dengan Allea, hanya saja Allea berniat pergi sejak awal sebelum ia bertemu dengan Ryan.


Pertemuan itu seketika membuat Ryan mati kata. Perempuan yang dulu ia cintai, berharap bisa bersamanya ternyata pergi meninggalkannya begitu saja tanpa kabar. Dan, kini ia melihat sendiri kalau perempuan itu ada di hadapannya.


"Ryan, kamu apa kabar? Enggak nyangka kalau kita bertemu lagi," seru Syarla.


"Maafin gue, gue tidak sengaja nabrak lo." Ryan malah mengalihkan pembicaraan. "Apa yang rusak, ya? Biar nanti gue telepon bengkel langganan gue buat memperbaikinya."


"Sekarang sudah bilang gue dan lo saja, nih?" sindir Syarla. Kemudian, ia tertawa kecil melihat reaksi dari wajah Ryan. "Aku bercanda, Ryan. Mobil aku enggak parah kok. Cuma badan mobilnya saja yang lecet. Lagian, kamu jangan terlalu tegang. Sudah lama kita tidak bertemu. Gimana kalau kita ngopi bareng?" ajak Syarla.


Ryan dan Syarla duduk berdua di coffe shop yang tidak jauh dari sana. Mereka terlihat kaku dengan suasana dan keadaan yang sudah lama tak bertemu dan kini tiba-tiba bertemu kembali.


"Maafin aku karena waktu itu pergi tanpa kabar," ucap Syarla penuh sesal karena sudah meninggalkan lelaki sebaik Ryan.


"Itu semua sudah masa lalu dan sekarang gue tidak mempermasalahkannya lagi." Syarla memperhatikan wajah Ryan yang tidak lagi mempunyai ketertarikan bertemu dengannya seperti dulu. Sayangnya, perasaan Syarla masih sama seperti dulu pada Ryan. Perlahan Syarla menggapai tangan Ryan, sehingga refleks membuat Ryan menepisnya.


"Maafin gue, Syarla. Gue enggak bermaksud, gue refleks," kata Ryan ketika melihat wajah Syarla yang kaget akibat tepisan darinya.


"Tidak apa-apa, Ryan." Dari dulu Syarla memang tidak bisa marah padanya. Bagaimana mungkin? Sedangkan Ryan tidak sekalipun pernah membuatnya marah dan tidak pernah menyakitinya. "Ryan, sejak kepergian aku, apa perasaan itu masih ada buat aku sampai sekarang?" Syarla bertanya tanpa rasa takut. Ia lebih mengutamakan perasaannya demi mengetahui isi hati mantan kekasihnya.


"Buat gue, lo adalah masa lalu. Setelah lo menutuskan pergi tanpa kabar dan tidak memberi gue kepastian, sejak itu juga lo sudah jadi masa lalu gue," ucapnya dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Tapi, aku masih mempunyai perasaan yang sama untuk kamu. Tidak pernah berubah dan berkurang sedikitpun walau dimakan oleh waktu," jelas Syarla serius dan ingin mengulang semua kisah mereka kembali seperti sedia kala.


Tampaknya di balik Ryan tidak ingin mengulang lagi semuanya, Syarla berusaha menarik perhatian Ryan. Namun, tidak bisa karena di hati lelaki itu hanya ada Allea dan tidak ada yang lain.


"Ryan, kamu yakin tidak menyimpan perasaan itu lagi?" Perempuan itu memastikan perasaan Ryan yang pada akhirnya ia tidak bisa menerima kenyataan yang tersimpan di dalam lubuk hati Ryan paling dalam. Bagaimana bisa Ryan tidak memiliki rasa itu lagi padanya, sedangkan dulu Ryan begitu cinta mati dengan Syarla.


Kepergian Ryan tidak membuat Syarla rela. Ia sadar kalau dirinya salah, namun ia tidak bisa juga melepaskan begitu saja Ryan. Bahkan, ketika berada di Korea Selatan saja, Syarla sering teringat Ryan. Pikirannya selalu tentang Ryan. Namun, ia bertahan demi impian yang diimpikannya, sampai akhirnya ia kembali ke Jakarta. Cerita antara Allea dan Syarla sungguh tidak ada bedanya.


"Sekarang banyak yang berubah dari diri kamu, Ryan. Sampai aku lupa dan pangling dengan kamu. Kamu lebih sukses dan tampak berkarir hebat, hanya saja cinta kamu ke aku yang sudah berubah total. Tapi, kamu harus tahu kalau cinta aku tidak pernah goyah dan berubah. Aku akan mendapati hati dan cinta kamu kembali," gumam Syarla yakin dengan dirinya.


Ketika kepulangannya, Syarla memang mempunyai harapan penuh untuk kembali bertemu Ryan. Nyatanya, Tuhan menjawab doa dan isi hatinya, hingga ia dipertemukan lagi dengan lelaki itu.


Syarla pun pergi dari sana setelah tidak lama Ryan pergi meninggalkannya. Ia pergi menuju perusahaan yang juga akan bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh Syarla juga. Iya, Syarla memang membangun bisnis sendiri dengan bimbingan papanya yang sejak muda sudah mulai berbisnis.


"Permisi, saya ingin bertemu dengan pimpinan di sini untuk membicarakan kerja sama dengan perusahaan saya." Costumer service itu langsung menghubungi sekretaris pimpinan perusahaan untuk membawa Syarla ke ruangan pimpinan mereka.


"Ibu Syarla, mari kita ke ruangan Bapak. Kebetulan Ibu Syarla sudah ditunggu dari tadi." Syarla mengangguk, lalu ia mengikuti langkah perempuan itu menuju pemilik perusahaan.


Perempuan itu mengetuk pintu pimpinannya, lalu ia membuka handle pintu tersebut. "Permisi, Pak, tamu yang Bapak tunggu sudah datang."


Syarla melangkah masuk dan di sana ia melihat Ryan yang duduk di depan meja kerjanya. Begitu juga dengan Ryan yang melihat Syarla lah yang ternyata menjadi tamu dan klien di perusahaannya.


"Ternyata, dunia sesempit ini. Dan, bisa saja takdir menginginkan kita bersama karena setelah tadi kita dipertemukan lagi," kata Syarla.


"Maaf, Syarla, kita tidak punya waktu cukup lama buat membahas hal tadi. Perasaan lo ataupun perasaan gue itu tidak penting karena pertemuan kita untuk membahas pekerjaan." Dengan tegas Ryan bersikap di depan Syarla agar ia tidak salah paham. Namun, meskipun demikian tetap saja buat Syarla perasaannya penting.


Ryan membuang jauh masa lalu itu. Ia tidak mengingat lagi apa yang sudah berlalu. Beralih, Ryan langsung membahas ke dasar dan tujuan pertemuan mereka tanpa lelaki itu sadari kalau sejak tadi ia sudah menjadi pusat perhatian Syarla.


Pandangan perempuan itu tidak luput dari lelaki itu. Syarla menatapnya terus tanpa henti. Ryan seakan mengalihkan dunia Syarla. "Bagaimana, Syar, apa kamu setuju?"


"I ... Iya, aku setuju dengan apa yang kamu rencanain. Aku ngikut saja dan mempercayai semuanya dengan ide kamu," jawab Syarla yang sempat tertatih. Lantas, Ryan baru menyadari kalau sejak tadi perempuan itu tidak fokus. Justru, ia malah fokus memperhatikan dirinya.


"Syarla, gue minta tolong supaya lo fokus sama kerjaan kita ini. Jangan sampai cuma gue yang fokus menjelaskannya, tapi lo malah ke mana-mana."