Allea

Allea
Chapter 27. Antara Kekasih dan Mantan



Allea sedang menerima telepon dari Ryan saat ia sedang berada di Sun Day's Coffe. Kelihatannya Ryan akan menjemputnya dari sana. Ia pun bangkit dari duduknya, lalu melangkah ke out door Sun Day's Coffe.


Namun, ketika akan keluar pintu, tidak sengaja ia berpapasan dan bertabrakan oleh seorang perempuan. Dan, peremuan itu bernama Syarla. "Ya ampun, maafin gue, ya. Gue enggak sengaja karena terburu-buru," kata Allea.


"Aku yang harusnya minta maaf karena jalan enggak lihat-lihat." Syarla justru menyalahkan dirinya.


Setelah pertemuan tidak sengaja itu, Syarla melangkah menuju kasir memesan minuman. Lantas, mobil Ryan pun terparkir di depan Sun Day's Coffe. Allea langsung masuk ke dalam mobil hitam itu ketika melihat mobil kekasihnya.


"Maaf, ya, gue jadi ninggalin lo sendirian. Padahal harusnya kita sama-sama me time," kata Ryan.


"Enggak apa-apa dong, Ryan. Lagian lo 'kan lagi ngurusin perusahaan. Jadi, gue harus ngertiin pacar gue ini," ucap Allea sembari memakai seat bell.


Ryan melajukan mobilnya dan tidak lama setelah itu Syarla menoleh ke arah belakang, tepatnya matanya menoleh ke arah luar Sun Day's Coffe. Ia tidak lagi melihat Allea ada di luar sana.


Syarla pun mengambil posisi duduk di pojok kiri, namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata, Ryan memintanya ke kantor Ryan untuk mengambil berkas kerja sama antara ia dan Syarla.


Syarla tahu kalau Ryan memintanya datang hanya karena masalah pekerjaan, tapi baginya memiliki kesempatan bertemu dengan Ryan saja sudah mendapat kesempatan untuk dekat lagi dengan lelaki itu.


Syarla pun meninggalkan Sun Day's Coffe, lalu pergi ke kantor tempat Ryan.


"All, gue mau ke kantor dulu karena mau ngasih berkas kerja sama dengan klien. Lo enggak buru-buru mau pulang, 'kan? Kalau kita ke kantor dulu, gimana?" tanya Ryan memastikan.


"Enggak apa-apa, Ryan. Gue enggak buru-buru karena setelah ini sudah enggak ada kerjaan." Ryan pun membelah jalan menuju kantor setelah Allea mengiyakan.


Sesampai di tempat, Allea juga ikut masuk ke dalam gedung besar itu. Ia sempat terkagum-kagum karena memiliki pacar yang sukses. Tidak menyangka kalau gedung yang ia pijak adalah perusahaan yang pernah Ryan bangun dari nol.


"Gue enggak nyangka kalau gue punya pacar sesukses ini," goda Allea.


"Semua juga berkat support lo, All. Siapa lagi yang support gue kalau bukan lo? Sedangkan bokap dan nyokap gue sudah tidak ada sejak lama.


"Gue selalu jadi orang yang bersedia dengan suka rela menyupport lo. Jadi, lo jangan ngerasa sendiri, ya, karena lo punya gue."


"Makasih, ya, Sayang." Ryan menggenggam tangan Allea, lalu menggandengnya ke dalam. Saat Ryan sampai, ia belum melihat Syarla ada di sana. Ryan pun memutuskan menunggu Syarla di ruang kerjanya agar Allea bisa beristirahat.


"Ini ruangan lo?" Allea juga terkagum melihat ruang kerja Ryan yang mewah dan bersih.


"Iya, ini ruang kerja aku. Kita duduk di sofa, ya, biar kamu juga bisa istirahat. Klien aku hampir sampai, nanti selesai ini aku antar kamu pulang," seru Ryan.


"Kamu? Aku? Gue enggak salah dengar?" Mendadak saja Ryan memanggil dirinya aku dan memanggil Allea dengan sebutan kamu. Itu membuat Allea kaget.


"Kita 'kan pacaran, jadi sepertinya panggilan yang cocok seperti itu. Kamu enggak apa-apa, 'kan?"


"Enggak apa-apa dong, Ryan. Malah aku sependapat sama kamu," seru Allea.


"Lho, kamu?" ucap Syarla, begitu juga dengan Allea.


"Kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Ryan ingin tahu.


"Kebetulan tadi tidak sengaja ketemu di Sun Day's Coffe waktu aku nunggu kamu jemput. Ternyata, ini klien kamu?"


"Iya, Syarla ini klien aku dan juga teman lama aku semasa SMA dulu." Syarla hanya tersenyum getir saat ia diakui hanya sebagai teman lama.


Ketika mengetahui Allea adalah kekasih Ryan, ia berniat ingin merebutnya dari Allea karena bagi Syarla, Ryan harusnya bersama dirinya. "Jadi, kalian ini pacaran?" tanya Syarla bukan hanya sekedar basa-basi, tapi juga ingin memastikan.


"Iya. Aku dan Ryan ketemu waktu kuliah, tapi sempat LDR karena aku pergi ke Jerman dan melanjutkan pendidikan di sana," cerita Allea.


"Jadi, kamu sempat pergi ke Jerman dan kalian LDR selama kamu di sana?" tanya Syarla pada Allea memastikan.


"Iya, dan untungnya Ryan sabar banget nunggu aku." Mendengar cerita Allea, membuat Syarla menoleh ke arah Ryan. Seketika berpikir kalau Ryan tidak adil padanya. Padahal Allea juga pergi ke Jerman meninggalkannya demi keinginannya.


Kalau saja Syarla tidak mendapat kesempatan darinya, bukankah harusnya Allea juga mendapatkan hal yang sama seperti Syarla? Hati Syarla berkata-kata demikian tentang ketidakadilan Ryan yang menurutnya tidak seharusnya demikian.


"Aku tidak sangka kalau ternyata Ryan bisa ngasih kamu kesempatan itu. Padahal setahu aku, Ryan paling tidak bisa menerima lagi perempuan yang sudah pergi meninggalkannya. Padahal tujuannya untuk mencari impiannya.


Seketika membuat Ryan menundukan pandangannya. Lantas, Allea menoleh sembari merekahkan senyum pada Ryan dan menggandeng tangannya. "Berarti aku termasuk menjadi perempuan beruntung yang mendapatkan cinta Ryan tanpa pertimbangan."


Di balik senyum Syarla yang merekah, tersimpan senyum terpaksa penuh kepalsuan. Manik matanya menatap ke arah tangan perempuan itu yang menggandeng tangan Ryan.


"Harusnya, tangan itu diganti dengan tangan aku yang menggandengnya," batin Syarla.


"Oia, kapan-kapan kita pergi makan bareng, ya. Aku senang banget bisa kenal sama teman lama Ryan," ucap Allea.


"Aku juga senang bertemu dan kenal kamu," balas Syarla ."Karena dengan begitu, aku akan merebut Ryan dari pelukan maupun dekapan kamu," lanjut Syarla dalam hati.


Di tengah Allea dan Syarla bicara, diam-diam ternyata Ryan sedang memperhatikan mereka. Terlebih lagi ia memperhatikan raut wajah Syarla yang tidak senang menerima ucapan Allea.


Ryan pun segera memberikan berkas kerja sama yang ada padanya ke Syarla. "Syar, ini berkas yang mau kamu tanda tangani. Kebetulan aku sudah tanda tangani, tinggal kamu. Kamu baca saja dulu, baru kamu tanda tangani." Ternyata, Ryan sengaja memotong pembicaraan mereka.


"Sepertinya tidak perlu aku baca lagi. Biar langsung aku tanda tangani saja," kata Syarla sembari menandatangani berkas kerja sama tersebut.


Syarla tidak peduli, ia mempercayai Ryan dan langsung mengiyakan apa yang dibuat Ryan. Di balik itu, ia juga menyimpan kelicikan untuk memisahkan Allea dan Ryan.


"Di tengah kerja sama ini, aku bakal dekati kamu, Ryan. Dan kamu, Allea, aku bakal merebut Ryan dari kamu karena Ryan harusnya milik aku."