
Pria itu benar-benar marah dengan sikap Syarla ke Allea dan Cleo tadi. Ia yang selama ini mengenal wanita itu sebagai wanita baik hati, sehingga pernah membuatnya tergila-gila. Ternyata, semua hanya topeng.
Ryan sangat tidak suka saat Syarla mengintimidasi mereka, terutama Allea. Bahkan juga membuat dirinya bagaikan bahan taruhan yang wajib diperebutkan sebagai menunjukan harga diri masing-masing.
Selain itu, pria itu sangat membenci ketika Syarla berlaku semena-mena mencecar dan menghina Allea. Seharusnya ia berhenti untuk cari gara-gara pada wanita itu.
"Aku tidak suka kalau kamu seperti tadi, Syar," tegas Ryan.
"Kenapa? Kenapa kamu marah aku seperti tadi?"
"Cukup, Syarla! Apa yang kamu mau cuma aku dan kamu sudah mendapatinya. Aku rasa semuanya sudah cukup dan tidak perlu mencari kesalahan Allea, seakan jadi bahan permainan atau tertawaan kamu!"
"Ryan, aku enggak suka kalau kamu masih ingat Allea. Aku juga enggak suka kalau perempuan itu menampakan dirinya di depan kamu untuk mencari perhatian kamu agar kamu balik lagi padanya."
"Tapi, kenyataannya tidak seperti itu. Kalau Allea memang punya sikap picik seperti yang kamu tuduhkan, sudah pasti sekarang ini aku sudah balik dengannya tapi aku kamu dan mau bertanggung jawab."
Iya, berkali-kali Ryan menjelaskannya pada wanita itu tapi Syarla tetap tidak mengerti. Entahlah, ketakutannya sungguh bergebu-gebu dan dirinya tidak mau kalah dari wanita bernama Allea.
Yang Syarla mau, dirinya tetap jadi nomor satu dan tak terkalahkan. Begitu juga ketika mendapati perhatian dari Ryan. Bahkan mendapati dirinya kembali, wanita itu tidak mau terkalahkan dari Allea yang menurutnya hanya wanita baru kemarin sore mengenal Ryan.
Syarla marah besar karena mendengar Ryan terus saja membela Allea. Yang keluar dari bibirnya hanya nama Allea dan terus Allea tiada henti.
"Cukup, Ryan! Jangan kamu pikir kalau cuma kamu yang bisa marah. Aku juga bisa marah kalau mendengar kamu terus-terus menyebut nama Allea. Bahkan dari tadi aku dengar kamu membelanya."
Ryan kaget mendengar amarah Syarla, namun ia tidak akan pernah takut oleh wanita itu. Sampai kapanpun, meskipun ia akan jadi suaminya, pria itu tidak akan membiarkannya membuat Allea sedih terus-menerus. Dalam hati, pria itu berjanji akan menjaga wanita yang masih di cintainya itu.
Menikah dengan Syarla mungkin caranya melindungi Allea. Dengan begitu, Ryan akan lebih dekat dan leluasa memantau gerak-gerik Syarla yang bisa saja terlepas dari perhatian Ryan, justru yang ada Syarla akan menyakiti Allea.
"Ingat, Syarla, aku menikahi kamu karena anak itu. Tapi, kalau kamu berani mengusik Allea lagi dan lagi, aku akan pergi jauh dari hidup kamu. Aku enggak akan nikahi kamu dan aku tidak pernah main-main dengan ucapan aku!"
Syarla melihat keseriusan pada diri pria itu. Amarah yang menggebu-gebu, tentu bukan hal yang main-main baginya. Membuat Syarla tidak bisa berkutik dan tidak mampu melakukan apa yang ingin dilakukannya.
Ryan pergi ke parkiran tanpa mengajak Syarla. Dengan cepat wanita itu juga menyusul pria itu. "Ryan, maafin aku soal yang tadi. Aku sadar kalau aku salah dan enggak seharusnya takut kehilangan kamu karena sekarang kamu adalah calon suami aku."
Mau tidak mau wanita itu menuruti apa yang dikatakan Ryan. Ia tidak tidak mau kehilangannya hanya karena masalah dengan wanita itu.
Masalah percintaan yang dialami Allea memang tidak bisa ditoleransi sakitnya, sehingga belanja saja tidak cukup menghilangkan semua kegalauan hatinya.
"Cle, kita pulang saja, ya. Kayaknya besok atau lusa saja kita ke sini lagi," pinta Allea. Cleo menuruti permintaan Allea. Memang lebih baik mereka pulang dulu agar Allea bisa istirahat menenangkan diri, sehingga lebih baik-baik saja.
Cleo yang menyetir mobil karena melihat kondisi Alleq tidak baik-baik saja, sedangkan Alleq duduk di kursi sebelah kemudian diam tanpa kata.
Sesampai di rumah pun, Allea hanya masuk ke kamar tanpa menyapa Iqbal dan dua temannya yang duduk di ruang tamu. Bukan hanya itu, ia juga tidak menyapa Vena dan Ryan.
"All, lo kenapa?" tanya Iqbal sembari bangkit dari duduknya. Ternyata, diam-diam salah satu dari teman Iqbal memperhatikan wajah lesu wanita itu yang dimakan oleh kepiluan. Pria itu melihat kesedihan dalam diri wanita itu.
Tidak lama dari itu, Cleo masuk menyusul Allea. Ia sudah coba lebih cepat, tapi tetap saja ketinggalan dari Allea. "Cleo, Allea kenapa?" tanya Iqbal.
"Tadi aku dan Allea tidak sengaja ketemu Ryan dan Syarla. Di sana Syarla mengolok-ngolok Allea," cerita Cleo. Wanita itu menceritakan semua yang terjadi tadi, membuat Iqbal marah mendengarnya.
Setelah itu, Cleo menghampiri Allea ke kamarnya. "All, aku masuk, ya." Cleo melihat Allea menelungkupkan tubuhnya di atas kasur sembari menangis sesenggukan.
Cleo masuk dan duduk di sebelahnya. Ia menenangkan Allea agar tidak menangis lagi, namun tidak berhasil karena perih yang dirasakan Allea terlalu berlebihan.
Allea memperbaiki posisi duduknya, ia menatap Cleo tajam. "Harusnya gue enggak boleh ketemu mereka lagi, 'kan, Cle? Tapi, kenapq justru gue malah ketemu mereka disaat gue mau melupakan semuanya?" keluh wanita itu.
Manik mata Cleo berkaca-kaca. Ia tidak tahan dan tidak bisa melihat sahabatnya dengan keadaan seperti ini. Baginya Allea terlalu baik untuk disakiti berkali-kali. Perasaan iba pun terus saja terbesit dalam diri Cleo untuk Allea.
"Gue salah apa sih, Cle? Sampai-sampai harus nerima ini semua? Semua cowok yang gue cintai malah nyakiti gue," lirih Allea berkata dengan isak tangisnya.
"Enggak, All, kamu enggak salah apa-apa. Yang salah mereka. Mereka yang enggak bersyukur miliki kamu, sehingga mereka main serong dan berkhianat dari kamu. Kamu terlalu baik untuk mereka."
Cleo sedih, ia langsung memeluk Allea dengan erat. Meskipun bukan dirinya yang disakiti, tapi ia sangat tidak rela melihat sahabatnya diperlakukan tidak adil.
"Kamu tidak boleh menangisi mereka karena air mata itu terlalu berharga dikeluarkan untuk mereka." Cleo melepaskan pelukannya dari Allea. Wanita itu menyeka air mata Allea. Selain menguatkan, memberi ketenangan, Cleo memberi pengertian kalau di luar sana banyak para lelaki yang bersedia dan bersyukur memilihnya menjadi kekasihnya.
"Cle, terima kasih karena kamu selalu ada buat aku. Lepas aku dikhianati dengan sahabat aku sendiri, sekarang aku ngerasain punya sahabat lagi karena ada kamu selalu buat aku."