
"Lo apa-apaan sih, bilang lo pacar gue? Gue tahu lo lagi menyatakan perasaan ke gue dan nunggu jawaban dari gue, tapi enggak gitu juga," gumam Allea kesal pada Ryan.
"Lo harusnya berterima kasih sama gue. Karena gue, lo enggak diganggu sama si Rhea."
"Terima kasih, Ryan yang baik hatinya. Puas lo?" Ryan tertawa geli melihat ekspresi wajah Allea yang terlihat lucu baginya, sedangkan Allea begitu kesal dengannya karena mengira Ryan mengejeknya.
"All, lo baik-baik di Jerman, ya." Mengingat kepergian Allea yang tinggal menghitung jam, membuat Ryan menjadi sedih karena waktunya berpisah dengan gadis itu semakin dekat.
"Gue masih lusa perginya, Ryan. Lo bisa puas-puasin lihat gue sesuai waktu yang lo mau selama gue masih di Jakarta." Wajah Allea memang terlihat bahagia menunggu kepergiannya, meskipun bisa dimengerti kalau hatinya tidak semudah itu sembuh dari luka yang sedang menghampirinya.
"Lo ikut ngantar gue ke bandara, 'kan?" Allea sangat berharap kalau Ryan ikut mengantar kepergiannya, namun Ryan terlihat bimbang. Ia tidak sanggup melihat kepergian Allea meninggalkan kota Jakarta. Kalau saja bisa meminta dan memohon, Ryan akan memohon agar Allea tetap berada di Jakarta.
Kenyataannya, Iqbal, Vena, maupun Andre saja tidak berhasil membuatnya tetap berada di Jakarta. Dan, gadis itu sudah memilih dan membuat keputusan sebaik-baiknya.
Allea turun dari sepeda motor Ryan ketika pemuda itu mengantarkan kepulangannya untuk terakhir kali. Sebab, besok gadis itu sudah memulai penerbangannya ke negara yang ia impikan.
Ryan menatap lekat sebelum meninggalkan Allea. "Gue harap besok lo ikut ngantar gue ke bandara. Besok gue berangkat dari rumah jam delapan pagi. Gue tunggu lo karena nanti gue maunya dibonceng sama lo sampai bandara." Itu permintaan Allea, tapi entahlah. Tidak tahu, apakah Ryan bisa berpisah langsung dengannya.
"Ya sudah, masuk sana." Ryan tidak menjawab apa-apa, ia malah meminta Allea masuk ke dalam rumahnya. Ryan menatap punggung Allea, hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.
Hubungan Allea dan Ryan semakin hari semakin dekat. Tidak bisa dipungkiri, ternyata bukan hanya Ryan tapi Allea sudah mulai memiliki perasaan nyaman jika dekat dengan Ryan.
Allea menatap fotonya bersama Ryan yang ada di atas nakas. Ia menatap lekat wajah Ryan. Entah ia berat meninggalkan Jakarta atau berat meninggalkan Ryan, tapi ia seakan tidak ingin pergi. Namun, semua berkas termasuk paspor sudah selesai. Uang sudah keluar banyak dan Allea tidak mau dianggap plin-plan dan menghabiskan uang Andre dengan cuma-cuma.
Allea mengambil koper merah mudanya. Ia menyusun semua baju dan perlengkapan lainnya yang akan dibawa besok ke Jerman. Tiba-tiba, suara handle pintu kamarnya terbuka. Dari balik pintu muncullah Vena.
"Sayang, boleh Mama masuk?"
"Boleh, Ma," jawab Allea mempersilakan. Wanita paruh baya itu pun duduk di samping Allea.
"Enggak terasa besok kamu sudah berangkat. Biasa rumah ramai dengan suara tawa kamu, tapi mulai besok rumah ini pasti begitu sepi. Mama dan Papa bakal kangen banget sama kamu," keluh Vena sambil menatap dan membelai lembut helaian rambut gadis itu yang panjang dan hitam pekat.
"Allea juga pasti bakal kangen banget sama Mama, Papa, dan Iqbal. Allea bakal belajar sungguh-sungguh supaya cepat sarjana dan kembali ke Jakarta. Doain Allea supaya tetap kuat dan baik-baik saja, ya, Ma."
Rasanya, Allea sangat bersyukur memiliki Vena. Ia bersyukur kalau wanita yang ia peluk kinilah yang menjadi ibu sambungnya. Tidak tahu, apakah semua akan baik-baik saja jika bukan Vena yang menjadi ibu sambungnya.
Perasaan Allea tidak bisa dibohongi, ia begitu mencintai Vena, meskipun sampai kapanpun ibu kandungnya akan selalu ada di dalam lubuk hatinya paling dalam.
Vena juga terlihat begitu tulus menyayangi Allea. Wanita itu bukan hanya mencintai Andre, tapi ia juga mencintai Allea sebagai anak dari lelaki yang ia cintai dan hidup bersamanya kini.
Vena meninggalkan Allea sendirian, sedangkan Allea melanjutkan mengemas semua barang bawaannya besok.
***
"Aku cuma ngucapin salam perpisahan sama Allea karena besok dia sudah pergi ke Jerman. Apa salahnya sih, Rhe?" Rangga dan Rhea kelihatan sedang berdebat hebat. Rhea tidak terima jika Rangga masih dekat-dekat dengan Allea, sedangkan Allea adalah mantan kekasihnya.
"Jelas salah, Ngga. Kamu dan Allea sudah putus, harusnya kalian enggak perlu saling tegur sapa lagi, apalagi kamu harus ngasih salam perpisahan dengannya. Kamu harus sadar, kalau antara cewek dan cowok saling dekat itu membuat mereka gampang saling nyaman dan dekat. Apalagi kamu dan Allea adalah mantan kekasih!"
"Apa bedanya dengan kita dulu yang dekat di belakang Allea dengan diam-diam, Rhe? Tapi, Allea enggak seribet kamu yang terus-terusan mempermasalahkan hal yang dianggapnya tidak perlu. Dia malah percaya sama aku, sampai akhirnya aku yang mengkhianati kepercayaannya dan berkhianat dengan sahabatnya sendiri," ucap Rangga mengingatkan Rhea.
"Beda sama kamu, Rhe. Kamu selalu memperburuk keadaan. Bahkan, masalah sepele pun kamu anggap besar dan kamu perbesar," lanjut pemuda itu.
"Jadi, kamu nyesal karena sudah pacaran sama aku? Dan, sekarang setelah kamu nyakiti Allea, kamu ngebanding-bandingi aku dan Allea. Ke mana saja kamu selama ini? Kalau kamu tahu Allea lebih baik dari aku, harusnya kamu enggak selingkuh sama aku dan milih aku!"
Semakin hari rasa kesal dan rasa bosan Rangga semakin bertambah kepada Rhea. Padahal selama ini ia sudah berusaha bersikap baik atas pikiran buruknya yang semakin hari justru semakin tidak wajar.
"Rhe, kalau kamu seperti ini terus nuduh aku tidak wajar, aku bisa bosan dan aku bisa pergi dari kamu. Kalau kamu seperti ini terus, bisa saja aku menyusul kepergian Allea ke Jerman untuk mendapati maaf darinya dan mendapati hatinya kembali," tegas Rangga memperingati.
Rhea tidak mau hal itu terjadi. Ia tidak mau kalau benar Rangga meninggalkannya dan malah pergi menyusul Allea untuk kembali padanya. Rasanya, Rhea tidak ikhlas karena ia sudah susah payah untuk mendapati perhatian Rangga, hingga bisa memilikinya.
Rhea tidak bisa kehilangan pemuda yang ia cintai, karena baginya Rangga merupakan hal terpenting dalam hidup. Iya, pemuda itu adalah kebahagiaan Rhea yang sampai kapanpun tidak akan berubah dan akan tetap demikian.
"Rangga, maafin aku. Aku khilaf dan aku takut kalau kamu balikan lagi sama Allea. Aku sayang kamu, Ngga. Maafin aku sekali lagi, aku janji akan berubah demi hubungan kita asal kamu janji enggak akan tinggali aku."
Seketika itu Rangga menatap wajah Rhea. Meskipun kesal, tapi ia tahu kalau gadis yang berdiri di hadapannya adalah kekasihnya.