Allea

Allea
Chapter 35. Niat Keseriusan Sang Kekasih



"Cukup, An! Kamu enggak bisa ngelabui aku lagi. Sudah jelas aku ngelihat dengan mata kepala aku."


Ryan mencoba menjelaskannya lagi pada Allea. Ia merasa tidak bersalah dan Allea harus tahu itu, karena Ryan tidak akan pernah mau mengkhianatinya.


"All, yang kamu lihat cuma foto. Dan, kamu enggak tahu pasti kejadiannya bagaimana."


"Jadi, maksud kamu foto itu nipu?" tanya Allea sembari tertawa lucu. "Aku bukan perempuan bodoh. Foto itu sudah nunjukan semuanya. Dan, sampai kapanpun aku akan tetap percaya sama apa yang aku lihat!"


Padahal Ryan berencana akan bertunangan dengan Allea. Ia sudah menyiapkan sebuah cincin berlian yang akan diberikannya pada Allea sebagai bukti keseriusan. Tapi, bagaimana Ryan akan memberitahu semua pada Allea kalau kejadiannya seperti ini?


Ryan benar-benar tidak ingin rencananya gagal. Namun, harusnya Allea bisa mempercayainya ketimbang percaya dengan foto itu.


Setelah perdebatan itu, tampak Ryan sedang duduk sendiri di ruang tengah. Iqbal datang menemuinya karena ia sempat menerka-nerka masalah di antara Allea dan Ryan ketika melihat perempuan itu tidak sedang baik-baik saja.


"Kenapa? Lo masih ribut sama adik gue?" tanya Iqbal.


"Entahlah, aku enggak tahu. Bal, jujur aku enggak ngerti maunya Allea apa? Dia minta aku buat jujur dan aku sudah jujur, tapi kenapa dia masih enggak percaya sama aku?"


"Lo harus sabar. Harap maklum saja karena mungkin Allea masih trauma pernah diselingkuhin dulu."


"Aku sudah coba ngerti, tapi kalau gini terus mau sampai kapan?" Ryan menunjukan kotak perhiasan yang ada dipegangannya. "Rencana aku mau ngelamar Allea, tapi tunangan dulu. Kalau kayak gini jadinya, aku juga bingung harus gimana?" keluh Ryan.


Iqbal prihatin melihatnya. Ditambah ketika mendengat Ryan akan membuat acara pertunangannya dengan Allea. Menurut Iqbal pasti Ryan seserius itu sama Allea. Sayangnya, Allea termakan jebakan Syarla.


"Nanti bakal gue bilang sama Allea biar dia tahu kalau lo enggak main-main sama dia."


"Makasih, Bal ... Kamu selalu bantu aku kalau tentang Allea, karena aku tahu kalau dia hanya dekat sama kamu sebagai saudaranya."


Ryan masih duduk di tempatnya sembari menatap cincin berlian itu. Ia menghela napas dan berpikir harusnya hari ini ia bersama perempuan itu membahas apa saja yang menjadi acara pertunangan mereka nanti.


"All, kenapa kamu selalu percaya dengan hal yang enggak mungkin aku lakukan di belakang kamu?" gumam Ryan.


Allea tampak sedang duduk di depan meja rias sembari menatap pantulan bayangannya dari cermin. "Apa kurangnya aku, Ryan, sampai-sampai kamu tega mau berpaling dari aku?" Allea bergumam dengan dirinya sendiri.


Setelah itu mendadak Allea bangkit dari duduknya. Ia histeris dan berteriak, lalu mengacak-ngacak kasur miliknya.


Allea sudah tidak sadar, ia sudah kehilangan kendali. Iqbal yang baru saja pulang mendengar suara Allea yang sudah bisa ditebaknya kalau perempuan itu tidak baik-baik.


"All, lo harus kontrol emosi. Jangan kayak gini. Mama dan Papa bentar lagi pulang, emang lo mau mereka tahu anak perempuan kesayangan mereka histeris kayak gini?" Sejenak Allea yang hampir melemparkan benda ke meja riasnya, berhenti.


Allea terduduk di samping tempat tidurnya meratapi dirinya yang sedemikian rupa tidak baik-baik saja dengan kisah percintaannya.


"All, gue tahu kalau lo kesal sama Ryan tapi lo harus tahu kalau lo salah paham sama apa yang lo lihat. Gue percaya kalau Ryan enggak ngelakuin itu di belakang lo, karena tadi dia bilang sama gue kalau dia berniat buat ngelamar lo."


Allea membuka pintunya dan kedua orang itu saling tatap. Allea dan Iqbal duduk berdua di samping kasur Allea. "Ryan beli cincin berlian dan itu buat lo. Dia mau tunangan sama lo untuk nunjukin tanda keseriusannya sama lo," cerita Iqbal agar Allea tahu maksud tujuan Ryan.


"Lo salah karena sudah ngira Ryan selingkuh. Cinta dia cuma buat lo dan buat dia, Syarla hanya masa lalu. Ryan cerita sama gue semuanya. All, kalau gue saja bisa percaya sama Ryan, harusnya lo juga bisa percaya sama dia," nasehat Iqbal.


Allea mulai bimbang, apa hatinya harus mempercayai kekasihnya itu? Apa ia harus mengikuti apa kata Iqbal, sedangkan kata hatinya tidak demikian?


"Gue enggak tahu, Bal. Gue enggak ngerti, gue harus percaya Ryan atau enggak. Tapi, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri kejadian itu. Bahkan gue dapati kiriman foto itu." Sepertinya Allea masih kurang yakin pada Ryan, namun sebisanya Iqbal membantu Ryan bicara dengan Allea seperti yang ia janjikan.


"Lo yakin sama foto itu? Bisa saja Ryan dijebak dan akhirnya mau buat hubungan kalian hancur berantakan karena enggak suka sama hubungan kalian. Coba lo ingat lagi, siapa yang enggak senang dengan hubungan lo dan Ryan?"


Seketika Allea diam, ia memikirkan pertanyaan Iqbal sampai akhirnya ia mengingat apa yang pernah dikatakan Syarla kalau ia akan merebut Ryan darinya.


"Kalau memang Syarla pernah bilang gitu sama lo, berarti jelas kalau dia memang mau hubungan lo dan Ryan hancur supaya dia bisa ngerebut Ryan balik dari lo, All!"


"Jadi, gue salah cemburu enggak jelas sama Ryan?"


"Buat apa lo nanya lagi? Jelas lo salah karena lo buta akan kecemburuan lo selama ini. Dan, sikap lo yang kayak gini malah bakal buat Syarla merasa menang karena dia berhasil memprokator lo. Otomatis akan lebih mudah buat dia ngerebut Ryan dari lo."


Mendengar ucapan Iqbal memang ada benarnya menurut Allea. Ia langsung bangkit dari duduknya merampas handphone, dompet, dan kunci mobilnya di atas meja rias.


"Lo mau ke mana, All?" tanya Iqbal bengong melihat ketiba-tibaan Allea pergi. Lantas, perempuan itu tidak menjawab sama sekali dan membuat Iqbal geleng-geleng kepala.


"Allea ... Allea ... Masih sama saja tingkah lo dari dulu, enggak pernah berubah. Sama kayak perasaan gue yang enggak pernah berubah dari lo, All. Tapi, gue janji bakal berusaha buang jauh perasaan ini dari lo," gumam Iqbal.


Kepergian Allea membuat Cleo yang baru saja pulang bingung ketika melihatnya sangat terburu-buru. Bahkan pertanyaan Cleo saja tidak digubris sama sekali oleh Allea. Ia pergi begitu saja tanpa memperdulikan kedatangan Cleo.


Cleo hanya menghela napas panjang, kemudian ia memasuki rumah Allea dan menuju kamarnya. Ketika itu matanya membulat dengan mata yang melotot besar dan suara teriakan yang ngelengking saat melihat Iqbal ada di atas kasur Allea. Membuat Iqbal refleks lompat dari atas kasur Allea.