Allea

Allea
Chapter 47. Pertemuan yang Menyakitkan



Allea dan Cleo pergi ke sebuah supermarket untuk membeli keperluan bulanan mereka. Di tengah candaan mereka, ketika Allea sudah mulai tersenyum kembali, tanpa sengaja mereka bertemua Syarla dan Ryan.


Allea tidak sengaja menabrak tubuh Syarla, hingga membuat wanita itu merintih kesakitan. "Maaf, gue enggak sengaja," kata Allea. Namun, ucapannya terhenti saat yang dilihatnya Syarla bersama pria yang masih ia cintai.


"Jadi lo yang nabrak gue? Lain kali kalau lo jalan lihat-lihat pakai mata. Jangan asal jalan pecicilan enggak jelas," cecar Syarla. Cleo yang melihat Allea diperlakukan tidak enak, tidak tinggal diam.


"He, kamu juga harusnya jalan lihat-lihat. Oh iya, aku lupa. Kamu saja cari pacar saja enggak lihat pakai mata, apalagi jalan. Jadi, menurut aku wajar, sih." Cleo meledek habis-habisan wanita yang sudah merusak kebahagiaan Allea.


"Maksud lo apa?" tanya Syarla tidak senang.


"Kamu mau tahu maksud aku apa? Kamu saja cari pacar dari hasil ngerebut pacar orang. Jadi, menurut aku gimana kamu mau bisa jalan dengan benar?"


Syarla begitu panas dengan ucapan wanita itu, ia langsung melayangkan tangannya ke Cleo. Tapi dengan cepat Cleo menangkap tangan wanita itu. Tidak dibiarkannya siapa pun yang menginjak harga dirinya dan orang-orang terdekatnya.


"Jangan pernah main tangan sama aku, apalagi sama Allea. Karena kalau tidak tangan kamu bakal patah!" ancam Cleo sembari meremas dan hampir mempelintir tangan Syarla. Membuatnya kesakitan dan merintih.


Dengan cepat Allea menyudahi Cleo agar tidak menyakitinya lagi. Allea tidak mau Cleo terikut dengan masalah percintaannya itu. Namun, Cleo tidak akan biarkan Allea terus disakiti sama Syarla.


"Berani lo buat tangan gue kayak gini?"


"Emang kenapa? Aku peringati kamu kalau aku enggak punya siapa-siapa lagi. Jadi, sekalipun kamu anak orang kaya di dunia ini, aku enggak akan takut selama aku enggak bersalah! Jadi, aku minta kamu jangan macam-macam."


Wanita itu tidak main-main mengancam Syarla, sampai ia berani menunjuk wajahnya. Cleo tidak tinggal diam, ia akan melindungi Allea dari ingin menyakitinya.


"Lo yakin kalau lo akan selalu ada buat Allea?"


"Cukup, Syarla!" bentak Ryan. Ryan yang sedari tadi hanya diam memperhatikan dan melihat perdebatan mereka, akhirnya meluapkan amarahnya mendengar Syarla terus membuat onar pada Allea dan Cleo.


"Kamu bentak aku, An?" tanya Syarla tidak percaya karena dibentak di depan kedua wanita itu.


"Cukup kamu selalu membuat onar. Apa kamu belum puas aku dan Allea sudah putus? Sekarang ini aku sudah sama kamu dan akan menikahi kamu, dan aku rasa sudah cukup buat kamu dapati apa yang kamu mau. Jadi, tidak ada urusan lagi sama Allea."


Syarla tersenyum sinis sembari tertawa tipis, lalu menoleh melihat Allea. "Puas kamu karena Ryan lebih membela kamu ketimbang aku calon istrinya!"


"Maaf, Syarla ... Kalau Ryan bela gue dan bukan bela lo, itu artinya lo memang salah. Tidak ada sangkut pautnya sama gue. Lagian, benar kata Ryan kalau di antara gue dan Ryan enggak ada apa-apa lagi. Dan, lo jangan takut karena Ryan akan bertanggung jawab dengan anak yang lo kandung."


Allea pergi meninggalkan mereka, sedangkan Ryan hanya terpaku dengan ucapan mantan kekasihnya itu. Rasanya hal ini tidak mungkin karena semua seolah mimpi buruk, sedangkan satu langkah lagi harusnya Ryan dan Allea akan menyelenggarakan acara pertunangan mereka.


Wanita itu juga merasa semua masih seperti mimpi buruk, tapi kenyataannya itulah yang terjadi. Seperti ditusuk berkali-kali mendengar pria yang di cintainya melakukan hal di luar akal sehatnya. Itu bagi Allea yang belum mengetahui cerita sebenarnya.


"Aku harap hidup kamu tidak seperti Allea yang akhirnya sengsara di ujung kebahagiaan kamu," kata Cleo pada Syarla. "Dan kamu, Ryan, aku harap kamu enggak pernah nyesal karena sudah membuat Allea seperti ini," lanjutnya bicara pada pria itu.


"Kamu salah, Cle. Aku begitu menyesal karena sudah ngebuat air mata menetes dari pipi Allea. Dan, sekarang aku ngerasa seperti orang tolol," batin Ryan.


Cleo menyusul Allea pergi, ia takut sahabatnya itu akan kenapa-napa. Cleo mencari-cari Allea di sekitar supermarker, sampai akhirnya ia mendapati wanita itu di dalam toilet supermarket dalam kondisi menangis.


"All, kamu ..."


"Aku enggak apa-apa, Cle," ucap Allea memotong obrolan Cleo. Meskipun begitu, wanita itu tidak bisa membohongi perasaannya. Mulutnya dapat berkata bahwa dirinya dalam keadaan baik-baik saja, namun tidak dengan perasaannya.


Matanya berkaca-kaca, sampai akhirnya ia menitikan air mata. Cleo tahu kalau perasaan menyakitkan itu tidak bisa ditutupi oleh apapun, sekalipun harus berpura-pura baik.


Untuk menenangkannya, Cleo memeluk Allea. Ia juga ikut sedih. Iya, sahabat mana yang tidak sedih melihat sahabatnya sendiri sedih? "Nangis, All, enggak apa-apa. Kamu bebas nangis selagi itu bisa ngebuat kamu tenang dan lega."


Isak tangis Allea semakin terdengar kuat. Ia tidak menyangka takdir cintanya bisa serumit dan sesakit untuk kedua kali.


Berniat pergi dengan Cleo untuk menghibur diri sendiri akibat kesedihan yang dialaminya, tapi justru malah bertemu dengan Ryan dan Syarla saat sedang berjuang kembali melupakan dengan orang yang berbeda.


"Aku enggak pernah sangka kalau ini bakal terjadi lagi, Cle ..." Lagi-lagi Allea mengucapkan ucapan yang sama seperti kemarin-kemarin. Sepertinya wanita itu belum bisa menerima kepahitan yang terjadi di hidupnya.


Ia tidak rela jika berpisah dengan Ryan dengan cara seperti ini, tapi bagaimana lagi? Semua terjadi karena Ryan tidak bisa menjaga diri dan terlalu mempercayai Syarla. Padahal waktu itu hubungan di antara mereka sudah sebatas mantan kekasih.


"Sabar, All, aku yakin kamu lagi diuji. Enggak semua masalah percintaan yang kita inginkan selalu berjalan sesuai yang kita mau," nasehat Cleo. "Allea, kamu orang baik. Aku yakin kalau kamu bakal dapat pengganti Ryan yang lebih baik." Cleo menyeka air mata Allea.


"Makasih, Cle, kamu benar-benar jadi sahabat aku dan selalu nenangi aku."


Bagaimana tidak? Bagi Cleo, Allea bukan hanya cuma sebagai sahabat tapi ia saudara. Kebaikannya yang sudah menganggapnya seperti kakak sendiri, sungguh membuatnya merasa mempunyai keluarga. Sebagai seorang kakak yang baik dan sayang pada adiknya, tentu wanita itu harus bisa menjaga dan melindunginya.


Bagi wanita itu, bukan Allea yang merasa beruntung mempunyainya tapi dirinya lah yang beruntung memiliki Allea beserta keluarga yang menerimanya masuk dalam kehidupan mereka.


Cleo langsung membawa Allea dalam dekapannya dan ia sudah merasakan ketenangan dalam dirinya.