
Pagi itu Allea terlihat tampak lebih tenang, namun lebih sering menyendiri setelah hubungannya kandas dengan Rangga. Allea memang berusaha menerima, namun ia tidak bisa melupakan kenangan yang pernah dilewati bersama pemuda itu.
Setiap kali Allea melihat Rangga bersama Rhea, ia terlihat sedih dan semakin rapuh. Melihat mereka adalah hal yang membuatnya rapuh berkali lipat.
Sesuai dengan janjinya pada Iqbal, ia akan mencoba bertahan setelah banyak hal yang terjadi. Bahkan, bunuh diri pun pernah menjadi pilihan terkhirnya.
Namun, yang dikatakan Iqbal dan Ryan benar. Vena dan Andre adalah orang yang paling berputus asa ketika melihatnya tersakiti dan rapuh seperti pengemis cinta.
Kali ini, gadis itu memilih diam di rumah tanpa pergi ke kampus. Hatinya sangat terluka parah, ia tidak bisa menepis rasa sakit yang terjadi pada dirinya. Sungguh, ia sangat lemah buat saat ini jika ada di depan Rangga.
Ryan mengelilingi setiap sudut kampus mencari-cari Allea. Ia juga mencoba mencari gadis itu di rooftof, namun tidak mendapatinya. Bahkan, di atas sana tidak ada siapa-siapa.
Ryan merogoh saku celananya, mengambil handphone. Baru saja mau menelepon Allea, ia sadar tidak menyimpan nomor Allea. Kampus terasa sepi tiada Allea, karena hanya gadis itu yang menjadi teman bicara Ryan di kampus.
"Kalian ada yang tahu rumah Allea, enggak?" tanya Ryan pada salah satu teman sekelas. Intan yang cukup dekat dengan Allea setelah Rhea, memberikan alamat gadis itu.
Dengan cepat pemuda itu langsung pergi mengemudi mobilnya menuju alamat yang didapatinya. Ini hal yang salah, tapi Ryan rela membolos demi bertemu Allea.
"Pasti itu anak masih sedih banget," gumam Ryan.
Sebelum pergi menginjakan kaki di rumah Allea, Ryan sengaja mampir ke toko buah membeli buah kesukaannya. Ryan pernah dengar ketika Allea bicara dengan Iqbal kalau ia menyukai buah stroberi.
Pemuda itu melanjutkan kemudinya, sampai akhirnya ia sampai di rumah yang beralamatkan di atas selembar kertas putih dengan tulisan Intan. Ia memberanikan diri menekan bel rumah itu, nyatanya Vena yang membuka pintu.
"Permisi, Tante, apa benar ini rumah Allea?" tanya Ryan.
"Benar. Dengan siapa?"
"Saya Ryan, teman kampus Allea. Alleanya ada, Tante?" Ketika itu Vena mempersilakan pemuda itu masuk dan duduk. Sebentar, ia memanggil Allea yang masih terkurung di dalam kamarnya.
Allea sempat acuh dan menahan diri membukakan pintu kamarnya, namun ketika mendengar nama Ryan membuatnya keluar kamar dan menemuinya. Padahal Allea sedang tidak mau diganggu, ia ingin sendiri tanpa ada orang lain.
"Ngapain lo ke sini? Tahu dari mana alamat rumah gue?" tanya Allea sambil mendudukan bokongnya. Suara Allea terdengar ketus kepada Ryan.
"Gue nanya sama Intan. Gue ke sini cuma mau mastiin keadaan lo aja."
"Enggak usah sok care, gue enggak butuh!" Mendengar Allea, membuat Ryan merespon Allea dengan tawa kecil. Sejenak, membuat Allea menatapnya sambil mengerutkan dahi.
"Gue terpaksa. Lo 'kan habis putus cinta sama cowok lo yang namanya Rangga itu, 'kan? Terus, lo enggak masuk kampus. Ya, kali aja gue pikir lo bakal bunuh diri lagi kayak waktu itu. Makanya gue ke sini mau mastiin kalau lo masih bernyawa di atas bumi ini."
"Enggak lucu candaan lo. Gue juga enggak perlu argumentasi lo tentang diri gue. Lebih baik lo pulang, dari pada buet gue sumpek!"
Sulit sekali rasanya membuat Allea bisa seceria dulu lagi. Membuka hati kembali dengan orang lain, adalah satu hal yang tidak bisa dengan mudah Allea terima. Luka hatinya tidak main-main, ia begitu mencintai Rangga.
"Allea, teman kamu mana?" tanya Vena sambil membawakan gelas berisi orange juice di atas nampan.
"Allea suruh pulang, Ma."
"Kenapa disuruh pulang, Sayang?"
"Allea enggak pengen diganggu, mau sendiri." Allea pun kembali ke kamarnya, ia juga mengunci lagi pintu kamarnya. Ternyata, luka yang dirasakan Allea bukan luka yang main-main.
Malam itu tepat di meja makan terasa hening. Hanya suara dentingan piring dan jarum jam berdetak yang terdengar.
Sekalipun, Allea belum menyulangi nasi ke dalam mulutnya. Ia hanya mengaduk-ngaduk nasi di atas piring dengan tatapan kosong tak bergairah.
Andre dan Vena memperhatikannya dengan serius, namun Allea tak menyadari itu. Sampai pada akhirnya, Allea membuka suara dengan sendirinya.
"Ma, Pa, Allea mau pindah kampus." Vena dan Andre saling tatap, mereka tidak menyangka patah hati yang dialami gadis itu berdampak sangat parah, hingga memutuskannya pindah kampus.
"Apa kamu yakin mau pindah kampus?" tanya Andre. Gadis itu mengangguk yakin. "Emang mau pindah ke mana?" lanjut Andre bertanya.
"Allea mau pindah kuliah ke Jerman, Pa."
Jawaban itu membuat Andre maupun Vena tercengang. Bukankah itu terlalu jauh untuk lari dari rasa sakit soal percintaan anak muda? Namun, seperti itu yang Allea inginkan.
Ia sudah berpikir matang dan memutuskan tanpa bisa diganggu gugat lagi. Bahkan, rasa yakin dalam dirinya sudah begitu sangat yakin. Selain itu, Jerman memang negara yang ingin sekali Allea kunjungi setelah ia tamat kuliah nanti.
Tapi, mungkin aja ini saatnya dan rezekinya dengan cepat Allea bisa ke sana menikmati suasana Jerman dan menenangkan diri. Melupakan semua yang menyakitkan di kota Jakarta.
"Kamu serius mau pindah kuliah di Jerman? Papa yakin, kalau semua ini hanya emosi kamu sesaat karena melihat laki-laki tidak tahu diri itu menyakiti kamu," ucap Andre sekali lagi memastikan.
"Papa kamu benar, All. Kalau menurut Papa dan Mama, coba kamu pikirkan baik-baik. Jangan cepat mengambil keputusan di balik rasa sakit dan emosi kamu yang memuncak, All," sambung Vena memberi saran.
Sayangnya, Allea memang sudah sangat yakin atas keputusannya. Ia memang tidak ingin melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Apalagi harus melihat orang-orang yang sudah mengkhianatinya, ia sungguh tidak bisa.
Allea ingin sekali melupakan Rangga, karena jika terus mengingatnya akan membuatnya semakin terluka. Namun, jika ia terus melihat Rangga, pastinya akan lebih sulit bagi Allea bisa lupa dari pemuda itu.
Kepergiannya dari Jakarta, bisa membuatnya lupa oleh Rangga, Rhea, dan rasa sakitnya. Setelah pendidikannya selesai, Allea yakin semua akan dilupakannya dengan cepat setelah lama tidak bertemu dengan mantan kekasih dan mantan sahabatnya.
Setelah itu juga, Allea akan kembali ke Jakarta lagi dengan keadaan baik-baik aja dan kembali ke jati diri Allea yang seperti semula. Allea yang dikenal selalu ceria dan menaburkan setiap senyumnya kepada siapa aja.
"Ma, Pa, sesuai dengan keputusan Allea. Allea sudah yakin akan pindah kuliah ke Jerman dan menjalankan hidup sementara di sana."