Allea

Allea
Chapter 6. Sobeknya Sepenggal Hati



Yang aku sesali, mengapa dengan bodohnya aku harus mengenalkan dirimu padanya? Ternyata, dia telah menjadi duri yang berhasil membelah lautan hatiku terpecah dua. Menggantikan air lautnya yang biru bersih, menjadi merah berdarah.


...***...


Allea pulang dalam keadaan lesu. Tadinya ia sempat pergi dengan sangat ceria yang memancar di wajahnya, namun kepulangannya berakhir menjadi tidak baik-baik saja.


Ia berjalan gontai dengan pandangan kosong yang dimilikinya. Hatinya begitu hancur. Hati siapa yang tidak terluka jikalau dikhianati oleh sahabatnya sendiri? Bahkan, kekasih yang ia cintai pun malah memilih sahabatnya. Rasanya Allea benar-benar menyesal karena sempat mengenalkan Rangga pada Rhea.


Kalau saja perkenalan antara Rangga dan Rhea tidak pernah terjadi. Tidak pernah dilakukan Allea, bisa saja semua masih sangat baik-baik saja. Allea dan Rangga pun masih tetap bersama saat ini.


"Allea, kamu kenapa?" tanya Vena yang menghampirinya ketika ia baru saja keluar dari kamarnya.


Allea menatap lekat kepada Vena. Tidak bisa dibohongi, kalau sorot mata gadis itu begitu sedih. Ia tidak mampu berkata apa-apa, selain hanya diam membisu dan disertai tangisan. Tentunya, membuat Vena kembali bertanya. Tidak biasanya Allea seperti ini.


"Rangga dan Rhea, Ma."


Vena semakin bingung saat anaknya itu menyebut nama keduanya. Vena mengenal dekat Rangga karena pemuda itu adalah sahabat Iqbal, anak kandungnya. Iya, ternyata dirinya hanyalah ibu sambung Allea.


Mama kandung Allea sudah tiada sejak ia masih begitu dini, dan itu saat melahirkan Allea. Lantas, papanya Iqbal tiada akibat kecelakaan besar yang membuat nyawanya tak dapat tertolong lagi pada lima tahun silam.


Jujur saja, Iqbal yang satu kampus dengan Allea ternyata pernah menaruh hati pada gadis itu. Namun, tidak disangka kalau ternyata papa Allea bertemu, berkenalan, dan berniat mendekati Vena. Sampai pada akhirnya, keduanya saling jatuh hati dan bertekad menikah untuk menghindari fitnah banyak orang.


Pastinya, demi kebahagiaan Vena, Iqbal mencoba mengalah dan mengurungkan niat untuk menyatakan perasaannya kepada Allea. Melupakan perasaannya yang tumbuh bagaikan sekuntum bunga mekar. Tentunya perasaan Iqbal hanya dirinya saja yang tahu.


Iqbal juga membiarkan Rangga menyatakan perasaannya kepada Allea setelah ia tahu sahabatnya tertarik dengan gadis itu.


Dan betul sekali perasaan Iqbal, gadis itu juga mempunyai perasaan yang sama dengan Rangga. Sungguh itu tidak dapat dipungkiri dari sikap gadis itu yang begitu tersipu malu saat di depan Rangga dan dekat dengannya.


Vena juga mengenal Rhea cukup dekat sejak empat tahun silam. Semenjak Vena resmi menjadi ibu sambung Allea waktu itu, gadis itu juga mengenali Rhea kepada Vena sebagai sahabat kecilnya.


Malam itu Vena melihat Allea sesenggukan, membuatnya membawa Allea duduk di sofa ruang tengah. Vena juga mengambilkan segelas air putih untuk Allea. Sejenak, membuat Allea tenang.


Vena memang hanya ibu sambung Allea, namun kasih sayang dan cintanya persis seperti ibu kandungnya. Pantas saja membuat gadis itu selalu betah berada dekat dengan wanita paruh baya itu.


"Allea, cerita sama Mama pelan-pelan. Tadi kamu menyebut nama Rangga dan Rhea, kenapa dengan mereka?"


"Diam-diam, Rangga dan Rhea pacaran di belakang aku, Ma. Tanpa sepengetahuan aku, mereka sudah menyakiti dan mengkhianati aku."


Kagetnya Vena mendengar cerita Allea. Ia tidak menyangka kalau Rhea yang sering diceritakan menjadi sahabat baik dan sangat ia sayangi, bisa menyakiti gadis baik hati seperti Allea. Bahkan, Rangga yang dipikir baik, ternyata tega menyakiti Allea. Bagaimana kalau Iqbal tahu, kalau adik tirinya itu disakiti oleh sahabatnya sendiri?


"Ma, aku enggak mau sampai Iqbal tahu tentang ini."


"Kenapa?"


Meskipun Vena merasa Iqbal harus tahu masalah ini, tapi ia mencoba mengikuti permintaan Allea. Sesuai keinginan Allea, biar saja Iqbal tahu dengan sendirinya.


"Kenapa dunia tidak adil dengan aku, Ma? Kenapa Tuhan membiarkan Rangga diambil oleh Rhea? Padahal aku yang lebih dulu mengenalnya," kata Allea dengan isak tangisnya.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Allea. Karena Tuhan menyayangi kamu, makanya ia menunjukan sifat asli Rangga dan Rhea yang sebenarnya. Tuhan tidak mau melihat kamu semakin terluka lebih dalam lagi." Vena mencoba menjelaskan pada Allea.


"Tapi, kebahagiaan aku adalah Rangga. Saat aku bersama Rangga, Ma." Allea tidak terima Rhea bahagia di atas kesedihannya. Bagaimanapun, Rangga tetap miliknya dan sampai kapanpun akan dicobanya untuk direbutnya kembali.


Setelah mengalami sedih berkepanjangan, akhirnya Allea tertidur di atas kasurnya. Vena berhasil menenangkannya. Melihat Allea sudah lelap dalam tidurnya, Vena kembali ke kamarnya. Ia pun melihat Andre yang tidak sengaja terbangun akibat bunyi tutupan pintu kamar sedikit kuat.


"Ma, kamu kenapa belum tidur?"


"Tadi aku nungguin Allea pulang."


"Sekarang, Allea sudah pulang?" Vena mengangguk, tapi di balik anggukannya tersimpan kesedihan yang masih melanda wajahnya melihat Allea begitu hancur. Hal itu membuat Andre sangat bingung. "Ada apa, Ma?"


"Tadi pas pulang, Allea menangis."


"Nangis? Kenapa sama dia?"


"Rangga dan Rhea." Vena masih hanya menyebut nama keduanya saja, namun meskipun begitu pria paruh baya itu sudah tahu siapa mereka berdua untuk anak gadis kesayangannya itu.


Andre masih diam, tanpa mengeluarkan suara. Ia mencoba menunggu kelanjutan cerita dari Vena.


"Rangga dan Rhea selingkuh di belakang Allea. Tapi, Allea minta jangan bilang ke Iqbal. Nanti kalau pas Iqbal main ke sini, Papa jangan keceplosan, ya."


Meskipun Vena sudah menjadi istri sah Andre, tapi Iqbal tidak tinggal satu atap dengan mereka dan Allea. Sampai hari ini, ia masih begitu canggung dengan Andre yang sudah lama menjadi papa sambungnya.


Iqbal lebih memilih tinggal di rumah peninggalan papanya seorang diri. Jadi, tidak heran juga kalau ia sering mengajak Daren dan Rangga menginap.


"Jadi, gimana sekarang keadaan Allea?" Andre bertanya dengan nada yang cemas.


"Allea sudah tidur, Pa. Aku berhasil membuatnya tidur nyenyak."


Andre meraih tangan Vena yang masih mempunyai kulit kencang. Sungguh keriput di kulitnya belum menghampirinya akibat biaya perawatan yang dipenuhi oleh Andre. Kemudian, Andre menggenggam tangan Vena seeratnya sambil menatapnya lekat.


"Terima kasih, Ma, karena kamu sudah menjadi ibu sambung yang baik buat Allea. Pasti dia merasa beruntung karena mempunyai ibu sambung seperti kamu."


"Aku menyayangi Allea seperti aku menyayangi Iqbal, Pa. Dan, aku tidak akan pernah membeda-bedakan antara Allea dan Iqbal, meskipun Allea anak tiriku." Vena merespon dengan meyakinkan Andre.


Beruntungnya Andre memiliki istri sebaik Vena, selepas kepergian istri pertamanya yang telah memberikan Allea sebagai kado terindah darinya untuk terakhir kali.