Allea

Allea
Chapter 34. Dikira Berselingkuh



"Kamu bisa dengari penjelasan aku dulu, All. Aku dan Syarla tidak melakukan apa-apa di restoran saat itu." Ryan mencoba memberi penjelasan, meskipun Allea sulit untuk mempercayainya.


Apa lagi dengan apa yang sudah dilihatnya dari foto yang dikirim padanya. "Termasuk saat kamu berdua sama Syarla dan perempuan itu duduk di atas pangkuan kamu, sedangkan kamu dengan mesra menerima lalu memeluknya?"


"Itu buat kamu yang tidak ada apa-apa di antara kalian berdua?" Ryan bingung, tahu dari mana Allea tentang itu. Apa mungkin Syarla yang memberitahunya?


"Soal itu aku juga bisa jelaskan sama kamu, All. Syarla kesandung saat itu dan aku berusaha menolongnya. Berusaha menangkap Syarla supaya dia tidak jatuh. Karena kalau jatuh, bisa-bisa Syarla terluka."


Allea tertawa sinis, ia tidak menyangka kalau pacarnya begitu peduli dan perhatiannya pada mantan kekasihnya. Bukannya Ryan harus menjaga jarak dari Syarla? Kalau memang mau menolong, kenapa terlihat begitu romantis seakan mereka menikmati susana itu?


"Allea, kamu harus percaya sama aku. Kamu harus percaya kalau apa yang aku lakukan bukan sengaja. Aku cuma mau menolong."


"Iya, kamu berusaha menolong. Sampai akhirnya, kamu dan dia menikmati pangkuan itu. Sekalian saja kalian balikan, An ... Lantas, tinggalin aku seperti yang dilakukan Rangga dulu!"


"Kamu pengecut! Rangga memang enggak setia, tapi setidaknya dia punya keberanian untuk mengakui perselingkuhannya dengan Rhea. Enggak seperti kamu yang menyangkal. Padahal jelas-jelas aku sudah melihat dengan kedua mataku kalau kamu memang selingkuh!"


Ryan menarik napas dalam-dalam, lalu ia menghelakannya perlahan. Ia tidak tahu lagi harus menjelaskan apa pada Allea. Ia juga tidak merasa pernah berkhianat di belakang Allea, apa lagi harus berhubungan lebih dengan Syarla


"Biarin saja dulu Allea sendirian, An. Gue yakin kalau dia butuh waktu buat tenang." Iqbal menghampiri Ryan setelah Allea pergi meninggalkannya.


"Iqbal, aku berani sumpah kalau aku enggak melakukan apa-apa sama Syarla. Iya, memang benar kalau dia itu pacar aku tapi itu dulu. Sekarang, antara aku dan Syarla enggak ada apa-apa lagi. Buat aku, Syarla sudah masuk jadi masa lalu."


"Ryan, gue percaya kok sama apa yang lo ceritain. Gue percaya kalau lo dan cewek itu enggak ada hubungan apa-apa," kata Iqbal mempercayainya.


"Nanti gue bakal ngomong baik-baik sama Allea biar dia bisa ngertiin lo dan pekerjaan lo yang memang Syarla adalah klien kerja sama lo," lanjut Iqbal.


"Thank you, Bal. Aku berharap Allea bisa dengarin apa yang kamu bicarain." Selepas menemui Allea, Ryan mencoba menemui Syarla tapi kali ini di luar kantor. Ryan menunggu Syarla di Sun Day's Coffe.


"Hai, An ... Kamu sudah lama nunggu aku?" Syarla mencoba mendekati bibirnya ke pipi Ryan, namun Ryan menghindar.


Syarla menghela napas, lalu duduk perlahan di atas kursinya sembari tersenyum paksa pada Ryan. Sabarnya Syarla ingin mendapati kembali perhatian dan hati mantan kekasihnya itu.


"Kamu tumben banget ngajak aku ketemuan di luar keperluan kerja kita. Emang ada apa, Ryan?" tanya Syarla penasaran.


"Syar, masalah semalam kamu tersandung dan jatuh di atas pangkuan aku. Di ruangan itu cuma ada kita berdua. Aku dan kamu pun enggak melakukan apa-apa, tapi yang buat aneh kenapa Allea bisa tahu soal kejadian itu?"


"Maksudnya gimana, An? Apa kamu nuduh aku ngasih bocoran atau manas-manasin Allea, gitu?" Syarla pun memelas seakan tidak tahu apa-apa.


"An, lagian kamu yang paling kenal dan ngerti aku. Kamu yang paling tahu aku dari siapa pun setelah orang tuaku. Jadi, aku rasa kamu tahu kalau aku enggak mungkin ngelakuin hal itu."


Ryan diam sesaat dan kalau dipikir menurut Ryan, ada benarnya yang dikatakan oleh Syarla. Ryan lebih mengenal Syarla dari pada Allea mengenal Syarla.


Dari dulu Syarla tidak pernah berbuat seenaknya. Ryan mengenalnya sebagai perempuan baik hati, sama persis seperti ia mengenal Allea sekarang.


"Maafin aku, Syarla. Masalahnya Allea tahu kejadian itu dan ngebuat dia marah. Padahal kamu pun tahu kalau kejadian itu tidak sengaja dan kita enggak berbuar macam-macam," keluh lelaki itu.


"Aku enggak masalah kok, An. Tapi, kalau menurut aku, Alle terlalu berlebihan. Kelewatan karena dia enggak percaya sama kamu. Padahal dulu waktu kamu pacaran sama aku, aku selalu percaya sama apa yang kamu bilang dan kamu lakuin."


"Aku tahu kalau kamu laki-laki yang jujur, Ryan. Jadi, aku ngerasa kalau kamu enggak pantas buat diperlakukan dan dituduh begini," kata Syarla sembari menyentuh punggung tangan Ryan.


Syarla menceritakan kisah masa lalunya dulu bersama Ryan. Ia sengaja membuat Ryan mengingat semuanya agar nantinya Ryan berpikir kalau perempuan yang terbaik untuknya masih tetap Syarla.


Sayang sekali itu tidak berhasil membuat Syarla berhasil untuk menarik perhatian Ryan. Ryan menarik tangannya dari sentuhan tangan Syarla.


"Syar, aku ke toilet dulu, ya," pamit Ryan menghindari sesaat perempuan itu.


Tidak sengaja ternyata ada seseorang yang kenal dengan Ryan memperhatikannya dan Syarla. Ketika Ryan le toilet, seseorang itu menyusul Ryan dan menyapa.


"Jadi, lo selingkuh sama cewek itu di belakang Allea?" Ryan menoleh ke asal suara itu, ia melihat Rangga berada di belakangnya sembari bersandar di dinding toilet.


"Maaf, Rangga, aku bukan seperti kamu yang bakal ngambil kesempatan selingkuh jika ada."


"Jangan sok suci, Ryan. Kalau lo memang enggak mengkhianati Allea, mana mungkin lo pegangan tangan sama cewek tadi," bantah Rangga terus mencari kesalahan Ryan.


"Kalau kamu memang punya masa lalu yang buruk, menyakiti Allea dan berselingkuh dengan sahabat kecilnya. Itu urusan kamu, tapi jangan pernah nyamakan aku dengan kamu." Tidak banyak bicara lagi, justru Ryan meninggalkan Rangga.


Lantas, Rangga masih terpaku dalam diam di tempatnya berada. Ia tidak bisa berkutik dengan ucapan yang keluar dari bibir Ryan, kecuali hanya tertawa tipis yang mungkin saja menertawakan dirinya sendiri.


"Ryan, kamu mau ke mana?" Syarla melihat Ryan keluar dari Sun Day's Coffe. Ia segera mengejar kepergian lelaki itu. "Kamu mau ke mana, Ryan?" tanya Syarla sembari menahan Ryan.


"Maaf, Syarla, sepertinya aku enggak bisa lama-lama karena masih ada urusan." Dengan perasaan kesal akibat perkataan Rangga dan ditambah atas sikap Syarla lah Rangga bisa berkata tadi. Ryan membuat alasan agar ia bisa pergi menghindari Syarla.


Rasanya tidak pantas jika melanjutkan perbincangan sembari duduk bersama Syarla lagi.